"Pagi ma pa."sapa Sam kepada kedua orang tuanya .
"Maaf ya ma, Hana gak bantuin mama siapin sarapan."
"Gak apa-apa kok sayang. Mama tau kalian pasti capek apalagi kamu juga lagi hamil. Ayo kalian duduk kita makan bareng."
Mereka pun duduk di meja makan. Hana merasa merindukan mamanya. Sudah cukup lama Hana tidak pernah makan sama-sama di meja makan rumahnya. Pagi itu sangat istimewa untuk Hana karna sudah lama sekali dia tidak mendapatkan kehangatan keluarga.
"Hana, kamu makannya bagaimana? Soalnya kalau orang hamil itu terkadang nafsu makannya justru berkurang."
"Alhamdullilah kalau untuk makan Hana masih mau kok ma. Justru malah semakin membesar nafsu makan Hana."
"Ya syukur deh kalau begitu. Kamu harus makan banyak biar bayinya juga sehat. Dulu waktu mama masih hamil Sam haduh mama itu susah sekali makannya. Berkali-kali opname karna mama sering mual atau muntah. Tiap kali ada makanan yang masuk langsung mama keluarkan."
"Oiya ma?"tanya Hana
"Iya makanya mama agak trauma kalau mau hamil lagi, Soalnya parah banget dulu mama waktu hamil Sam."
"Tadi pagi Hana juga mual-mual ma. Kira-kira minum apa ma yang bisa mengurangi mualnya?'tanya Sam pada mamanya
"Coba minum teh jahe. Bangun tidur itu minum kan teh jahe Sam atau gak sekarang kan ada s**u yang khusus ibu yang mengalami mual-mual begitu. Apa ya namanya? Mama lupa. Coba nanti kalau kalian belanja sekalian tanyakan s**u ibu hamil khusus yang mual-mual gitu."
"Iya ma. Nanti coba Sam carikan."
"Udah gk usah ganti s**u. s**u yang semalam aja baru diminum masak mau ganti susu."ucap Hana pada Sam.
"Iya coba aja minumkan teh jahe Sam. Oiya sekalian Sam sementara jangan dulu kalian berhubungan masih trisemester pertama biasanya masih rawan."ucap mama Sam tanpa memfilter omongannya.
Sam yang mendengan penuturan langsung tersedak air minum. Sam tau ucapan mamanya barusan menjurus ke hubungan apa. Sedangkan Hana yang mendengarnya juga langsung menundukkan wajahnya menahan malu.
"Mama apa-apaan sih?"ucap Sam.
"Loh kenapa? Bener kan omongan mama. Soalnya biasanya pengantin baru justru lebih sering kan."
" Udah ma. Jangan malu-maluin. Kamu gak lihat itu mereka berdua udah kayak kepiting rebus menahan malu."ucap papanya Sam. Mamanya Hana yang melihat kedua pengantin baru itu lantas tersenyum. Dia merasa tidak seharusnya berbicara seperti itu pada mereka. Karne pernikahan mereka juga diawali oleh hubungan yang salah.
"Maaf ya Hana."
"Gak apa-apa kok ma."
"Udah lanjut makan aja Han. Gak usah dengerin omongan mama."ujar Sam.
Mereka pun kembali melanjutkan sarapan pagi itu dengan keheningan. Setelah selesai sarapan papa dan mama Sam pun berpamitan untuk pulang. Sekarang hanya tinggal Hana dan Sam yang berada di rumah itu. Berhubung mereka akan tinggal di sana selama seminggu mereka pun pergi berbelanja bahan makanan untuk seminggu ke depan.
"Sam anterin ke pasar yuk."ajak Hana yang melihat cuaca cukup terik siang itu.
"Ngapain ke pasar?"
"Jalan-jalan.."ucap Hana asal. "Ya belanja lah Sam. Masak ke pasar masih tanya mau ngapain."lanjutnya.
"Maksud aku kalau cuma belanja kenapa gak ke supermarket aja."
"Mahal Sam. Murahan di pasar dan lagi kita cuma seminggu di sini jadi aku maunya belanja sekedarnya aj yang bisa buat seminggu ini."
"Hmmm...Udah ke supermarket aja Han. Lagian panas gini kasihan kamu nya kalau panas panas ke pasar."
"Aku pengennya ke pasar Sam. Lagian aku lama gak ke pasar. Pasarnya deket juga. Ya ya..."ucap Hana dengan tatapan penuh harap. Entahlah hari ini dia ingin ke pasar. Dia merindukan beberapa jajanan pasar.
"Ya sudah. Tunggu aku ganti celana dulu."
Mobil Sam pun keluar meninggalkan rumah itu menuju pasar. Suasana pasar siang itu tidak terlalu ramai mungkin karna sudah siang tapi masih ada beberapa penjual jajanan pasar yang masih berjualan.
Sam mengandeng tangan Hana dengan erat. Mereka berjalan membeli beberapa keperluan untuk makan malam dan untuk beberapa hari ke depan. Setelah selesai berbelanja mereka lanjut pulang ke rumah.
Sam membantu Hana memasukkan barang belanjaan mereka ke rumah. Mereka membagi tugas Sam yang bagian memasukkan sayuran dan daging ke kulkas sedangkan Hana mulai menyiapkan sayuran untuk makan malam mereka.
Sam yang melihat Hana sedang menyiapkan sayuran pun mendekatinya dari belakang.
"Ada yang bisa aku bantu lagi Han?"bisik Sam tepat di telinga Hana. Hana yang mendengarnya reflek menoleh kearah Sam sambil memegang sayur pakcoy di tangannya.
"Astaga Sam, ngagetin aja kamu itu"
"Hahahaha... habisnya kamu fokus banget. Emang mau masak apa?" ucap Hana sambil tersenyum. Melihat Sam yang tersenyum dan posisi tubuh Sam sangat dekat dengan tubuh Hana tiba-tiba membuat jantung Hana berdegup kencang.
"Ma...mau buat ayam kecap, sayur pakcoy sama goreng tempe. Kamu mau kan?"ucap Hana gugup. Dia pun memutar badannya agar tidak melihat senyuman Sam.
"Hmmm...ya mau dong. Kamu kan tau aku gak pilih-pilih soal makanan"
"Kamu emang gak pilih-pilih makanan tapi kamu pilih-pilih tempat. Jarang mau kalau diajak ke warung pinggir jalan."ucap Hana sambil mulai mengiris bawang merah.
"Ya kan nyari yang higienis Hana. Kita kan gak tau itu warungnya higienis apa enggak. Nanti kalau sakit kita juga ya kesusahan kan" jawab Sam sambil terus memperhatikan wajah istrinya itu.
"Ya misal aku ngajak kamu ke warung pinggir jalan juga aku pasti lihat dulu warungnya kayak gimana. Gak asal masuk warung aja."
"Iya iya... ya udah deh aku liat TV aja dulu ya sambil nunggu kamu masak."ucap Sam sambil mengacak-acak rambut Hana. Hana yang di perlakukan seperti itu hanya mampu berdiam diri. Jantungnya berdegup kencang dan dia kesulitan bernafas. Wajah Hana memerah karna malu. Hana pun mengibaskan tangannya ke wajahnya.
'Haduh lama-lama kalau gini bisa jantungan aku'batin Hana.
Sam yang melihat tingkah laku Hana yang mengibaskan tangan di wajahnya tersenyum senang.
'Imut banget sih kamu Han.'batin Sam.
Setelah cukup lama berkutat di dapur semua masakan Hana pun selesai. Hana segera membawa makanannya ke meja makan. Tidak terlalu banyak paling tidak cukup lah untuk dimakan mereka berdua.
"Sam makanannya udah siap, makan yuk."
"Oke. wait"
Sam menghampiri meja makan yang sudah tersaji makanan yang mengiurkan. Simpel tapi sepertinya enak. Sam segera duduk di sebelah Hana. Hana mulai mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Sam dan dirinya.
"Emmhh... enak banget Han. Masakan kamu emang selalu enak ya Han."puji Sam pada istrinya itu.
"Emang kamu pernah ngerasain masakan aku?"
"Pernah dulu waktu kita SMA kamu pernah bawa bekal ke sekolah nasi goreng tapi justru aku yang makan.Jadi pengen makan nasi goreng buatanmu jadinya aku" ucap Sam yang mengenang masa SMA nya bersama Hana.
"Kamu masih ingat? Itu kan udah lama? Aku aja udah lupa."
"Ingat lah ingat. Waktu putus sama kamu aku benar-benar menyesal Han. Aku dulu benar-benar bodoh bisa melakukan taruhan itu sama mereka semua. Maafkan aku ya Han."ucap Sam sambil memegang tangan Hana.
"Hmmm iya udah lama juga Sam. Aku udah maafin kamu kok."ucap Hana sembari melepas pegangan tangan Sam. Dia masih belum nyaman berdekatan dengan Sam. Sam yang melihat itu pun hanya bisa mendesah.
"Mau sampai kapan sih Han kamu gak mau aku pegang? Aku itu suami kamu masak pegang tangan kamu aja aku gak boleh."
"Aku cuma belum terbiasa Sam."
"Ya biasakan dong. Aku itu bukan orang asing Han. Aku suami kamu dan kita sudah sah jadi suami istri. Masak sama aku aja kamu masih canggung."
Hana mulai berfikir. Memang dirinya yang salah gak seharusnya dia menjauh dari Sam. Bagaimanapun mereka sudah sah suami istri jadi wajar seandainya Sam ingin memegang tangannya.
"Baiklah aku akan coba biasakan diri."
"Makasih ya Han." ucap Sam tersenyum. "Ayo lanjut makan"
"Iya." Mereka melanjutkan makan malam mereka dengan nikmat.