Hana duduk dengan gelisah di pinggir tempat tidur. Sedangkan Sam sedang mandi di kamar mandi. Jantung Hana berdegup kencang sekali. Baru kali ini Hana berduaan dengan laki-laki di kamarnya.
Pintu kamar mandi pun terbuka, Sam keluar dengan bertelanjang d**a dan hanya menggunakan handuk menutupi bagian bawahnya. Hana yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya.
"Sam cepetan pakai bajunya. Kamu itu gak malu apa"
"Emang kenapa Han? Lagian juga kita udah sah jadi suami istri."ucap Sam sambil mulai mengenakan bajunya.
"Pakai nanya lagi kenapa."ucap Hana sambil menggerutu.
"Ini aku udah selesai pakai bajunya."
Hana mulai perlahan menoleh lagi menghadap Sam. Hana pun berdiri mengambil bajunya dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Setelah mengunci pintu, Hana memegang dadanya yabg berdegup kencang sekali.
"Kok aku jadi deg-degan gini sih."ucap Hana sambil memperhatikan wajahnya di depan cermin.
Setelah selesai mandi Hana keluar kamar mandi dan melihat sekitar. Sam tidak ada di kamar itu. Entah kemana perginya suaminya itu.
Pintu kamar tidur terbuka dan muncullah Sam sambil membawa s**u.
"Ini susunya minum."
"s**u apa ini?"
"s**u hamil. Tadi aku minta tolong Vian belikan susunya sebelum pulang."
"Oh..." Hana pun menerima s**u itu dan meminumnya. Setelah habis Hana memberikan gelas itu pada Sam.
Hana mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Sam pun merebahkan diri di sebelah Hana setelah meletakan gelas s**u di meja rias.
"Mau ngapain kamu Sam?" tanya Hana yang kaget tiba-tiba Sam mau tidur di sebelahnya.
"Ya tidur lah Han."
"Maksud aku ngapain tidur di sini."
"Terus aku tidur di mana? Kan aku suami kamu Han. Namanya suami istri itu ya tidurnya di tempat yang sama."
"Kan kamu bisa tidur di sofa atau di kamar lain."
"Ya gak enak lah Han kalau sampai orang tua ku tau aku tidur di tempat lain. Nanti dikiranya aku sama kamu berantem lagi."
"Ya tapi aku yang gak enak kalau kamu tidur disini."
"Ya harus di biasakan Han. Kamu harus membiasakan dengan kehadiran aku karna aku sekarang suami kamu."
"Tapi Sam,,"
"Udah gak usah tapi-tapian. Mending tidur aja lagian kamu pasti capek kan seharian ini mengurus semuanya."ucap Sam sambil menarik tubuh istrinya untuk kembali tidur.
Hana hanya bisa terdiam. Mungkin benar apa kata Sam. Saat ini dia cukup lelah.
"Tenang aja malam ini aku gak minta jatah kok." ucap Sam sambil tersenyum menggoda Hana.
"Apaan sih." Hana pun memukul d**a suaminya itu dan membalikan badanya. Sam pun tertawa melihat tingkah laku istrinya itu. Tak lama pun Hana mulai tertidur karna kelelahan mengurus pernikahan mereka.
Sam tampak gelisah. Jantungnya masih berdegup kencang. Bagaimana tidak ini adalah kedua kalinya dia tidur satu ranjang dengan seorang wanita yang sama. Meskipun Sam sudah berkali-kali berpacaran tapi Sam tidak pernah tidur dengan mantan pacarnya. Mereka hanya sekedar bergandengan tangan, memeluk, dan berciuman.
Sisi liar Sam pun bergejolak saat melihat wajah istrinya yang sedang tertidur. Sam hanya laki-laki normal biasa yang pastinya tergoda saat harus tidur berdua dengan seorang wanita apalagi wanita itu istrinya. Tapi Sam sadar saat ini dia tidak mungkin meminta haknya sebagai suami karna Hana terlihat masih enggan bila bersentuhan dengan dia.
Sam jadi teringat saat malam dimana dengan liarnya dia merenggut paksa kehormatan Hana. Tanpa dia menyadari kesakitan yang Hana rasakan. Yang dia ingat saat itu dia hanya ingin memuaskan hasratnya saja.
Saat mengingat malam panas mereka dulu tanpa disadari membuat bagian bawah Sam pun mengeras.
"Aaarrrgghhh... Sial."ucap Sam frustasi dan mengacak-acak rambutnya
Dia pun duduk di tempat tidur dan mencoba menetralkan debaran di jantungnya.
Sam memperhatikan wajah istrinya yang sedang tertidur lelap. Perlahan dia belai pipi, lalu ke hidung dan berakhir di bibir istrinya itu. Melihat bibir Hana yang tipis sangat menggoda Sam untuk sekedar menyicipinya walau cuma sebentar. Sam yang sudah tidak bisa menahan diri saat melihat bibir Hana yang menggodanya. Pelan-pelan Sam mengecup bibir istrinya itu sebentar karna takut istrinya itu bangun dan memarahinya.
Cup..
"Bibirmu seksi banget sih Han."ucap Sam dengan mata seperti serigala yang hendak memakan mangsanya.
Cup..
Sam mencium lagi bibir Hana. Bibir Hana sangat menggoda imannya.
"Sabar ya dek belum saatnya."ucap Sam pada bagian bawahnya yang terlihat menegang.
'Aku janji Han akan menghilangkan trauma kamu padaku.'batin Sam.
Tidak ingin berlama-lama melihat bibir Hana yang menggodanya. Sam segera bangkit ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.
Pagi pun tiba, Hana yang terbangun kaget melihat Sam tidur di sampingnya.
"Aaarrrgghhhh..."teriak Hana.
"Apa Han?" Sam yang mendengar teriakan Hana langsung terbangun.
"Kamu ngapain disini?"tanya Hana sambil mengecek bajunya apa masih utuh atau tidak.
"Han kita kan udah menikah wajar dong aku ada disini."
"Hah,, menikah? Oh iya ya. Maaf aku lupa."ucap Hana. Hana benar-benar lupa kalau dia sudah menikah dengan Sam.
Terdengar pintu kamar Hana yang di ketuk dari luar. Sam pun bangun dan membuka pintu. Terlihat wajah mamanya yang penuh kekhawatiran
"Hana, kenapa Sam?"tanya mama Hana.
"Gak apa-apa kok ma. Cuma lupa aja kalau kita sudah menikah jadi kaget pas liad Sam tidur di sebelahnya."
"Oalah mama pikir ada apa."
"Ya udah kalau begitu. Mama turun dulu mau siapin sarapan."
"Iya ma. Maaf ya ma."
Sam pun kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Hana sudah tidak ada di tempat tidur.
Huek... Huekk..
Terdengar suara orang muntah di kamar mandi. Segara Sam menghampirinya. Dan teryata Hana yang sedang muntah-muntah itu. Sam segera mengambil rambut Hana yang jatuh-jatuh agar tidak terkena muntahan Hana dan menepuk punggung Hana.
"Kamu gak apa-apa Han?"
"Gak apa-apa kok. Udah biasa kayak gini."ucap Hana yang sudah selesai mengeluarkan isi perutnya.
Sam dan Hana keluar dari kamar mandi. Sam menyuruh Hana untuk istirahat di tempat tidur.
"Mau aku buatkan teh hangat?"
"Gak usah. Aku istirahat aja bentar nanti hilang sendiri kok."
"Apa tiap pagi kamu seperti ini?"
"Ya begitulah."
Sam yang melihat wajah pucat Hana merasa bersalah padanya. Kalau bukan karna dia Hana tidak akan mengalami ini semua.
"Aku gak apa-apa kok. Cuma butuh istirahat aja bentar. Lagian yang aku baca mual muntah gini wajar dialami saat trisemester pertama nanti kalau udah lewat trisemester pertama akan hilang."ucap Hana yang melihat Sam hanya terdiam.
"Maaf ya Han. Kalau bukan karna aku kamu gak akan jadi seperti ini." Sam terlihat sangat menyesal perbuatannya itu.
"Udah lah semua juga udah terjadi gak bisa di balikin lagi kan."
"Kamu mau apa? Biar aku ambil kan?"
"Gak usah gak apa-apa kok. Bentar lagi aku juga turun kalau perutku sudah enakkan."
"Ya sudah aku tunggu kamu aja. Kita bareng-bareng turunnya."
Pagi itu pertama kalinya Sam melihat perjuangan Hana yang harus mengalami mual dan muntah di kehamilannya. Dia mencoba mengelus perut Hana yang masih rata.
"Adek, adek jangan nakal ya. Jangan buat mama mual-mual gitu. Kan kasihan mama harus bolak-balik kamar mandi."ucap Sam mencoba berbicara pada anak yang sedang di kandung Hana.
Mendengar Sam menyebut dirinya mama sontak membuat jantung Hana tiba-tiba berdegup kencang. Tanpa disadari pipi Hana merona merah.
"Apaan sih Sam."ucap Hana malu.
"Aku kan cuma mau ngobrol sama adek. Biar gak nakal di dalam sana."
"Udah ah,, mending kita keluar aja. Udah lapar aku." Hana mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Udah lapar? Ya udah ayo kita keluar." Sam mengandeng tangan Hana. Sebenarnya Hana ingin melepaskan genggaman tangan Sam tapi Sam menggenggam tangannya dengan erat.
"Gak usah minta di lepas Han. Aku udah sah jadi suami kamu. Kalau cuma gandengan masak kamu larang juga. Ingat aku itu berhak atas diri kamu seutuhnya Han." ucap Sam sekali lagi mengingatkan Hana statusnya sekarang.
"Iya tapi aku malu Sam."
"Malu sama siapa? Kan yang ada di luar cuma mama sama papa."
"Ya karna itu aku malu."
"Biarin aja lagian udah sah kan."
Hana pun terpaksa membiarkan Sam mengandeng tangannya keluar kamar mereka.