‘Hanya cinta yang dapat membutakan kelima indera di tubuh kita' itu lah yang saat ini Bagas tangkap dari seluruh cerita yang sudah Meysa jelaskan.
Cinta?
Atau
Obsesi?
Karena cinta dan obsesi tidak jauh berbeda jika dilihat dari segi perasaan. Cinta adalah perasaan ingin terus memberi, sedangkan obsesi adalah perasaan ingin terus memiliki.
"Kamu sudah terobsesi dengan suamimu." Jelas Bagas sembari meneguk jus yang berada di tangan.
"Tapi aku— ini cinta, karena aku selalu menerima Reynand apa adanya. Karena cinta itu selalu menerima!" Seru Meysa kesal.
"Menurutku itu tetap saja obsesi, kamu menerima keadaan Reynand apa pun itu karena kamu tidak ingin ia berpaling dari mu jika kamu melarang ini dan itu. Karena rasa takut yang membuat kamu seperti ini. Bukan begitu, Nyonya Wijaya?" tanya Bagas tersenyum.
Senyum sinis lebih tepatnya, entah kenapa sejak beberapa tahun lalu Bagas sudah memiliki perasaan tidak baik terhadap Meysa. Padahal selama ini Meysa tidak pernah memiliki masalah dengannya atau pun dengan sahabatnya.
Ia menatap wajah Meysa yang sudah memerah karena kesal bercampur malu, Bagas meraih ponsel hendak memberitahu masalah ini kepada sahabatnya. Namun sebelum ia melakukan itu ternyata sudah ada beberapa pesan masuk ke ponselnya sejak beberapa menit yang lalu.
Ragil : Gas, Kanaya pergi. Aku tak tahu dia pergi kemana yang aku tahu ada seseorang yang mengejarnya.
Ragil : Gas. Bagaimana dengan Kanaya? Diluar hujan deras.
Pesan dari Ragil yang Bagas baca terlebih dulu, karena ia sudah memintanya untuk menjaga Kanaya selama di kafe, agar ia merasa lebih aman. Setelah membaca pesan itu Bagas pun marah dan ingin menghantam tubuh Ragil saat ini juga. Namun, pesan yang dikirimkan oleh Reynand membuatnya merasa lebih baik.
Reynand : Gas, aku bersama Kanaya. Kamu tidak perlu menjemputnya. Kami akan pulang bersama. Jadi jangan khawatir.
Bagas pun menaruh ponsel itu di kantung celananya dan kembali menatap Meysa yang sudah mulai berkaca-kaca. Meysa sudah tak sanggup lagi jika harus memikul beban yang ia perbuatan selama ini.
"Aku— Aku minta maaf, aku hanya tak ingin membuat kedua orang tua ku kecewa. Lagi pula, aku memang sudah menyukai Reynand sejak SMP."
"Siapa orang yang berada dibalik semua ini?" Tanya Kimberly menatap cemas wajah Meysa.
Bagas mengerut kan dahi nya mendengar pertanyaan Kimberly, ia tak menyangka jika semua permasalahan ini melibatkan orang luar.
"Mey, Jawab pertanyaanku! Siapa dalang dari semua ini?!" Ucap Kim kesal.
"M—"
"Aku tak ingin mendengar kata maaf mu!" Desis Kimberly pergi meninggalkan Meysa bersama Bagas. Ia sudah sangat lelah membujuk Meysa untuk berkata jujur.
"Jadi, ada orang lain dibalik semua ini?" Tanya Bagas menaikan satu alisnya.
Sepuluh menit sudah Meysa tetap mengunci rapat mulut nya. Ia tetap pada pendirian nya tak ingin orang yang sangat ia sayangi terlibat.
"Baiklah jika kamu tidak ingin bercerita. Aku pasti bisa menemukan orang itu dengan sangat mudah. Oh ya, suami mu sedang bersama kekasihnya dan mungkin tidak akan pulang malam ini, jadi lebih baik kamu pulang dan tidur bersama anakmu."
Bagas berdiri hendak melangkah menuju pintu namun sebelum melangkah ia meraih ponselnya dan mengetik pesan yang ia tunjukan kepada kekasihnya.
I miss you. I wanna kiss your lips until I lose my breath.
Send.
Setelah mengirim pesan itu ia pun bergegas pergi meninggalkan Meysa seorang diri. Sesampainya di pintu apartement, Bagas menoleh dan, "Sudah ku pesankan taxi, lebih baik kamu pulang sekarang."
Meysa hanya berdeham menanggapi ucapan Bagas, ia tak berniat pulang malam ini. Ia harus menuntaskan hasratnya. Dan ia tahu siapa orang yang bisa membantunya.
Meysa pun keluar apartemen Kimberly sembari menghubungi seseorang. "Aku kerumah mu ya. Aku sangat butuhkanmu saat ini." Ucap Meysa dan langsung mematikan ponselnya.
Tanpa mendengar perkataan seseorang di seberang sana pun Meysa sudah tahu jika orang itu akan menerima nya dengan senang hati.
Saat sampai di lobi apartemen ia langsung menemukan taxi yang sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu.
"Mbak Meysa?" Tanya pria paruh baya.
Tanpa banyak bicara Meysa pun langsung duduk di kursi penumpang dan menyebutkan alamat tempat tujuan nya.
"Maaf mbak, saya disuruh mas Bagas mengantar Mbak Meysa ke kalibata."
"Ya sudah saya berhenti disini saja." Ujar Meysa mencoba membuka pintu mobil yang sedang berjalan.
Akhirnya pria paruh baya itu melajukan mobilnya ke alamat yang Meysa sebutkan. Ia tak ingin terlibat masalah dengan Bagas.
Setengah jam berlalu, akhirnya Meysa sampai di salah satu rumah sederhana dengan cat berwarna putih.
Meysa pun langsung bergegas menuju pintu dan menekan bel yang berada disana. Setelah menekan bel untuk kedua kali nya akhirnya pria yang ia butuhkan membuka pintu itu dengan bertelanjang d**a.
"Aku menginginkanmu." Ucap Meysa mengusap d**a bidang pria itu.
Ia selalu tahu sisi sensitif dari pria yang berada di hadapannya. Dan d**a adalah salah satunya. Tanpa pikir panjang pria itu pun langsung membawa Meysa di depan tubuhnya dan mengecup sekilas bibir milik Meysa.
"Kenapa hanya kecupan!" Meysa berakata sembari merajuk.
Pria itu pun hanya terkekeh mendengar ucapan kekasihnya ini. "Itu hanya pembuka sayang, nanti dikamar... aku lakukan apapun yang kau inginkan. Termasuk memasukimu dengan keras." Ucapnya menyeringai.
Pria itu pun menaruh Meysa di tengah ranjang dan langsung nenindih tubuh kecil milik wanita itu.
"Buka." Pinta Meysa menuntut tangan pria itu untuk membuka pakaian yang ia pakai.
Pria itu semakin gemas melihat perilaku Meysa saat ini, "kamu nggak sabar banget sih sayang." Gemasnya mengecup ujung bibir Meysa.
Ia sengaja menggoda kekasihnya saat ini, karena ia ingin wanita in-lah yang memegang kendali malam yang panjang ini.
"Kamu sengaja ya menggodaku?!" Kesal Meysa menjatuhkan tubuh pria itu dan duduk tepat di atas kejantanan pria itu.
`"Kamu tahu juga ternyata," ujar pria itu tertawa.
Meysa pun mulai menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa terkecuali. Dan semua kegiatan Meysa tak luput dari pandangan pria itu. Mata hitamnya semakin di liputi gairah ketika melihat kedua buah d**a milik Meysa sedikit lebih besar. Dan ia menyukai itu.
"p******a kamu lebih besar. Aku menyukainya," ungkap pria itu mulai menyentuhnya dengan lembut.
Perlahan tapi pasti.
Meysa pun tak malu untuk mendesah ketika tangan pria itu memainkan p******a dengan lembut.
Selama pria itu memijat p******a Meysa, ia pun mencoba membuka celana pria itu yang beruntungnya hanya menggunakan boxer dan itu membuat Meysa lebih mudah untuk menanggalkannya.
"Aku mau kamu yang memegang kendali malam ini." Meysa berucap sembari menuntut tangan pria itu untuk lebih meremas kedua p******a miliknya.
"Kenapa?" Tanya pria itu seraya menaikan satu alisnya. "Bukan kamu lebih suka kalau diatas?"
"Kar—"
Ucapan Meysa terpotong karena Pria itu mulai mencium bibir ranum wanita itu, ciumannya pun turun ke leher putih milik Meysa dan mengecup cukup lama hingga meninggalkan warna kemerahan disana.
Menyambut ciuman itu dengan suka rela, menyesapnya dengan rasa sama yang selalu ia rindukan. "Beb," desahnya menikmati setiap perilaku yang pria itu lakukan. Memeluk erat lehernya ketika kepuasan itu ia rasakan.
Setelah dua jam menikmati kebersamaannya, akhirnya Meysa pun pulang dengan diantar oleh pria itu. "Kamu yakin pulang malam ini juga?" Tanya pria itu ketika mereka sudah sampai di depan rumah milik Reynand.
"Ralat, pagi honey. Dan ya, aku tak ingin Kevin terlambat sekolah," ujarnya membuka pintu. Sebelum keluar ia pun mengecup bibir pria itu sekilas.
"Ck, kamu lebih memilih anak sialan itu dari pada aku?! Iya?" Desisnya tak terima.
"Honey, ayolah aku tak ingin disebut wanita jahat karena menelantarkan seorang anak." Mohon Meysa menggenggam tangan pria itu.
"Sebelum ini kamu sudah jahat." Ucap pria itu mengingatkan kembali kejadian beberapa tahun yang lalu.