E M P A T

1216 Words
                                                       I've never loved anyone like I love you.                                                                    Please never leave me.                                                                             I need you. ▪️▪️▪️     Kanaya terus berlari menembus dinginnya cuaca malam ini. Rintik hujan tak membuat Kanaya berhenti berlari. Ia semakin berlari kencang saat mendengar suara Reynand di belakangnya.     Hujan dan air mata yang mengalir di pipinya membuat pandangan Kanaya mengabur, dan-     BRUK!     Kanaya terjatuh dengan lutut dan telapak tangan yang menopang tubuhnya.     "Aw!" Ringis Kanaya menahan sakit di telapak tangan dan lututnya.     "Kanaya, kamu dimana?!"     Kanaya menatap ke belakang ketika suara itu semakin mendekat. Ia mengabaikan rasa sakit di lutut dan tangannya. Celana jin-nya pun ikut robek saat ia terjatuh.     Kanaya kembali memaksakan kakinya untuk berdiri, ketika ia berniat berlari sebuah tangan sudah melingkar di perutnya.     "Honey. Please." Bisik Reynand tepat di telinga Kanaya dan itu membuat tubuhnya menegang seketika. Degup jantung nya semakin cepat seakan berlomba untuk melarikan diri.     Reynand sudah memeluk tubuh Kanaya dengan cukup erat. Namun, tak membuatnya tersakiti. Ia pun menghirup aroma tubuh Kanaya yang selalu membuatnya rindu.     "Jangan pergi lagi. Kumohon." Pintanya dengan suara lirih.     Reynand membalikkan tubuh Kanaya agar mereka bisa berhadapan, "maaf" satu kata itu yang keluar dari bibir pria ini..     Ia tak tahu harus berkata apa lagi selain kata maaf. Karena tak ada kata lain selain kata maaf yang harus ia ucapkan.     Kanaya memalingkan wajahnya kearah lain, ia tak sanggup untuk melihat wajah Reynand yang sialnya semakin tampan dengan bulu halus di rahangnya. Kanaya takut, takut jika itu membuatnya semakin jatuh hati kepada pria yang telah mengisi hatinya dan menghasilkan anak beberapa tahun yang lalu, sebelum sebuah musibah membuat mereka harus berpisah.     Musibah yang seharusnya membuat mereka memilik keluarga yang bahagia dengan kehadiran buah hati mereka, walaupun kebahagiaan itu adalah kesalahan di masa lalu.     "Hei, look at me." Ucap Reynand meraih dagu Kanaya dan membawanya kehadapan wajahnya.     "Open your eyes!" Desis Reynand kesal, saat ini Kanaya sudah memejamkan matanya. Ia tetap enggan untuk melihat wajah Reynand.     "Seburuk itukah diriku dimatamu, Honey. Sampai tak ingin menatapku." Lirihnya.     "Okay! jika itu yang kau inginkan." Reynand pun melepas pelukan dan melangkah mundur.     Sakit, itu yang Kanaya rasakan saat ini. Di satu sisi ia masih mengharapkan Reynand, namun di sisi lainnya ia tak ingin membuat sahabatnya berpisah dari Reynand.     Kanaya sudah berjanji akan membuat Meysa bahagia, walaupun ia yang harus menderita.     "Maaf." Bisik Kanaya membuka matanya.     Reynand tahu cara itu adalah cara yang mampu membuat Kanaya mau menatap dan berbicara kepadanya.     Dengan senyum mengembang Reynand pun langsung menubrukan bibirnya dengan bibir Kanaya. Ia sudah sangat ingin melumat bibir itu, menyesapnya dengan rakus. Bibir yang sejak beberapa menit lalu memanggilnya untuk di sentuh.     Ini ciuman pertama yang Kanaya rasakan dibawah guyuran hujan saat malam hari. Dan ciuman keduanya dengan pria yang sama.     Mereka tak memperdulikan tubuh basahnya, karena hujan deras yang mengguyur kota Jakarta pada malam hari ini. Yang ia rasakan hanya hasrat dan rindu yang sudah terpendam sejak lama.     "I miss you." Ucap Reynand melepas tautan bibir mereka.     Ingin rasanya Kanaya mengatakan hal yang sama, namun lagi-lagi ia hanya terdiam. Ia hanya menatap wajah Reynand berharap pria ini mengetahui jawaban atas pernyataan nya tanpa ia harus bersuara.     "Sebaiknya kita pulang." Reynand meraih tangan Kanaya dan menggenggamnya.     Malam ini Kanaya maupun Reynand lebih memilih diam, hanya suara kendaraan yang menemani keterdiaman mereka. Saat ini keduanya berada di dalam mobil menuju apartemen Kanaya, karena Reynand tidak ingin membuat seisi rumah membicarakan mereka jika Reynand membawa Kanaya kerumahnya.     Kanaya lebih memilih memandangi jalanan ibukota dari pada berbicara dengan Reynand, bukan karena kesalahan mereka dimasalalu Kanaya mendiamkan pria itu. Kanaya hanya tak tahu harus berbicara apa.     Kanaya sangat berharap ia sampai secepatnya di apartemen miliknya, namun sialnya jalanan ibukota pada malam ini sangat ramai. Mungkin karena pertandingan sepak bola antara persija dan mitra kukar sudah selesai. Jadi seluruh suporter persija baru saja keluar dari dalam stadion GBK.     "Mas."     "Nay."     Ucap mereka bersamaan.     "Ladies first." Ucap Reynand mempersilakan Kanaya berbicara.     "Kenapa lewat jalan ini? Biasanya di titik ini selalu padat saat pertandingan bola," ujar Kanaya menatap Reynand sekilas.     Kanaya masih canggung berada satu mobil dengan kekasihnya, ralat, mantan kekasihnya. Walaupun tidak ada kata putus dan jadian dari keduanya.     Mantan terindah.     Terindah jika anak mereka masih berada di dunia ini.     "Aku tidak tahu jika ada pertandingan bola, jadi aku pikir jalanan ini yang cukup cepat untuk sampai di apartemen mu. Aku tidak ingin kamu sakit honey." Kata Reynand mengusap rambut Kanaya yang masih basah karena terkena hujan.     Kanaya hanya diam mematung mendapatkan perlakuan seperti itu. Dulu, saat mereka masih berpacaran Kanaya selalu senang jika Reynand mengusap dan memainkan rambutnya. Tapi saat ini Kanaya merasa risih namun ia hanya bisa diam saja karena takut melukai hati Reynand.     Reynand mencoba mencari alternatif lain untuk secepatnya sampai di apartemen Kanaya. Namun GPS yang ia gunakan menunjukan jalanan ibukota berwarna merah.     "Maaf." Reynand berucap ketika melihat jalanan semakin padat dan tidak bisa bergerak.     Kanaya hanya menggumam seraya memeluk tubuhnya sendiri, seluruh baju yang ia gunakan basah dan itu membuat dirinya kedinginan. Ditambah AC yang dinyalakan oleh Reynand membuatnya semakin dingin. Lagi pula sudah beberapa hari ini Kanaya selalu lembur dan meninggalkan makan malam jika bukan Bagas yang mengingatkan atau membelikan nya makan malam.     Kanaya bukannya tak sanggup untuk membeli makan tapi ia tidak sempat, karena semakin malam cafe akan semakin ramai.     Reynand yang menyadari Kanaya sudah kedinginan pun membuka pintu dan mengambil beberapa baju yang selalu ia sediakan di dalam mobilnya.     "Pakai." Titahnya.     "Mereka tidak akan menyadari jika kamu mengganti baju di mobil ini. Lagi pula aku membawa kain untuk membantu menutupi tubuhmu."     Dengan perasaan gelisah Kanaya pun mengganti bajunya di dalam mobil dengan kain yang menghalangi tubuhnya, walaupun kaca mobil cukup gelap, namun, ia tak yakin jika tidak ada yang melihat kegiatan Kanaya mengganti baju.     Setelah tujuh menit berlalu, akhirnya Kanaya sudah menggunakan kemeja navy milik Reynand. Karena hanya itu yang berada di dalam mobil dan itu cukup membuat tubuh Kanaya tertutup sampai paha.     Tak berselang lama Reynand pun sudah mengganti baju, ia menggunakan kaos berwarna hijau dan celana pendek berwarna krem.     "Sudah selesai." Ucap Reynand terkekeh, sejak ia membuka bajunya Kanaya langsung menutupi wajah dengan kedua tangannya.     "Lucu banget sih, dulu kan pernah lihat." Lanjutnya seraya tertawa dan mengacak-acak rambut Kanaya gemas.     "Iih nanti rusak rambutnya!" Geram Kanaya menepis tangan pria itu.     Apartemen, 00:21     Setelah sampai di apartemen Kanaya langsung memasuki kamar nya berniat mengganti baju lebih baik lagi. Piyama panjang satin berwarna biru, warna kesukaan nya.     Ia merasa risih menggunakan kemeja milik Reynand tanpa bawahan, ia tahu sejak ia mangganti baju di dalam mobil Reynand sudah  melirik kearah tubuh nya yang hanya tertutup sampai paha.     Bagaimana pun pria mana yang tak senang ketika mendapat pandangan yang membangkitkan hasrat mereka.     Seperti kucing, ketika mendapatkan makanan gratis ia langsung menyantapnya tanpa berpikir itu hanya sebuah tulang yang akan membuatnya kesakitan karena memakan tulang itu.     Setelah mengganti pakaiannya, Kanaya pun menuju dapur untuk membuatkan Reynand minuman hangat. Coklat panas dengan sedikit gula.     Setelah membuat dua gelas coklat hangat Kanaya memberikannya kehadapan Reynand dan langsung diterima dengan senang hati.     "Pas, thanks, Honey." Ucap Reynand tersenyum.     "Mas, aku boleh minta tolong?" Tanya Kanaya menundukan wajahnya. Ia takut mengatakan ini, karena ia yakin Reynand pasti akan menolak nya.     "Apapun akan aku lakukan untukmu, Honey." Ucap Reyanand tanpa mengalihkan pandangannya.     Duduk berdua dengan Kanaya menjadi hal terindah yang ingin ia lakukan setiap hari. Berbagi tawa, suka maupun duka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD