'Rasa sayang dan cinta ku ke kamu seperti segelas coklat panas menghangatkan dan manis'
**Reynand Putra Wijaya**
▪️▪️▪️
"Ak— Aku minta tolong untuk tidak memanggilku, Honey." Kanaya berkata seraya mengenggam gelas hot chocolate nya dengan sangat erat.
"Kenapa?" Tanya nya meraih tangan Kanaya dan menggenggamnya.
"Karena... Karena kita sudah—" ucapan Kanaya terpotong ketika Reynand memeluk tubuh Kanaya cukup erat.
"Kamu tetap Honey-ku sampai kapan pun! Walaupun kita— aku sudah mempunyai istri tapi dihati dan pikiranku kamu tetap milikku dan akan menjadi milikku." Tegasnya.
"Tapi—"
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari bibir manis mu ini," ujarnya mengecup bibir Kanaya sekilas sebelum ia berjalan menuju kamar Kanaya untuk beristirahat.
Merasa tidak ada pergerakan dari Kanaya, Reynand pun membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan kearah Kanaya, menyuruhnya untuk ikut beristirahat bersama.
"Honey, ayolah aku sudah mengantuk." Ucapnya dengan wajah memohon.
"Kamu duluan saja, aku ingin membersihkan gelas ini." Ucap Kanaya seraya membawa dua buah gelas yang sudah ia genggam.
Akhirnya Kanaya memberanikan diri menuju kamar setelah dua puluh menit ia berada di dapur. Ia menunggu Reynand tertidur lebih dulu dan ia akan tidur di sofa ruang TV.
"Kenapa lama sekali?"
Pertanyaan Reynand membuat tubuh Kanaya langsung mematung seketika, ia mengerjapkan matanya berulang kali sebelum melangkah menuju ranjang.
"Oh itu tadi abis.... Abis lihat isi kulkas buat besok sarapan." Dustanya.
Mata Reynand masih memandang wajah Kanaya dan memicingkan matanya.
"Kau berbohong." Kata Reynand tak suka.
"Aku tahu, kamu mencoba menghindar dari ku lagi 'kan? Oh c'mon Honey, kau tak pandai berbohong." Desah Reynand menarik tangan Kanaya agar ikut berbaring di samping dan memeluknya.
Dengan berat hati Kanaya menuruti Reynand dan ikut membaringkan tubuhnya di samping pria ini.
"Tubuh dan napas ini yang selalu aku impikan setiap malam." Gumam Reynand membenamkan wajahnya di ceruk leher Kanaya.
Tidak tahukah, Reynand. Bahwa perlakuannya membuat degup jantung Kanaya meningkat. Namun, seulas senyum menghiasi bibirnya. Ia pun sama, selalu memimpikan hal seperti ini. Akan tetapi, ketika ia teringat kenyataan bahwa itu tidak mungkin terjadi membuat Kanaya membuang jauh-jauh pemikiran itu.
Seintens ini dengan pria yang berstatus suami orang membuat Kanaya merasa bersalah, bersalah karena telah mengkhianati sahabatnya.
"Ck! Apakah Bagas tidak memberimu makan, sampai kau kurus seperti ini?" Kesal Reynand ketika merasakan tubuh Kanaya yang semakin mengecil.
"Atau kamu sengaja melakukan ini?" Tanyanya seraya mendengkus kesal.
"Bukan, aku hanya tak sempat makan karena pekerjaan yang membuatku bekerja sampai malam." Sergah Kanaya.
Ia tak ingin Bagas yang terkena amarah Reynand karena memang dirinyalah yang tidak sempat untuk makan.
"Aku sudah memberimu semua fasilitas yang kamu butuhkan. Jadi, tidak perlu bekerja lagi. Karena aku tak ingin melihatmu seperti ini, ujar Reynand semakin menenggelamkan wajahnya.
"Seperti ini bagaimana maksudnya?!" Kesal Kanaya menghempas tangan Reynand yang sejak tadi berada di perutnya.
Dengan posisi saling berhadapan membuat Kanaya leluasa menatap wajah Reynand yang semakin tampan.
"Kamu pikir aku p*****r yang—"
Ucapan Kanaya terpotong ketika Reynand mencium bibirnya dengan brutal. Ia tak suka ketika wanita nya mengatakan bahwa dirinya p*****r.
Tidak ... tidak ada yang boleh mengatakan wanitanya seperti itu walaupun itu diucapkan oleh Kanaya sendiri.
"Kau bukan p*****r! Kau wanita ku." Gumam Reynand di sela ciumannya.
Ia semakin memperdalam ciuman tanpa memperdulikan pukulan Kanaya di dadanya. Sampai cairan hangat mengenai wajahnya dan isakan yang membuat ia merutuki dirinya sendiri.
Ia pun melepasnya dan menatap wajah sembab dan bibir bengkak milik Kanaya, "Honey maafkan aku— aku... Oh sial!" Umpatnya ketika melihat Kanaya semakin terisak.
"Sssttt... Please jangan menangis. Maafkan aku, aku hanya tak ingin mendengar kata laknat itu apa lagi itu keluar dari bibirmu—"
Reynand menghela napas kasar ketika mendengar Kanaya semakin menangis.
"Bodoh! Reynand bodoh. Kenapa kau melakukan ini. Lihat wanita mu menjadi takut akan dirimu." Rutuknya kesal.
Kanaya pun semakin memberontak di dalam dekapan tubuh Reynand, "lepaskan aku. Aku memang p*****r!" Pekik Kanaya semakin memukul tubuh Reynand. Sesekali pun ia menggigit pundak Reynand sampai pria itu meringis kesakitan.
Namun, Reynand mengabaikan sakit itu, karena rasa sakit di pundaknya tak sebanding dengan perjuangan Kanaya saat melahirkan dulu tanpa dirinya.
Satu tangan Reynand ia gunakan untuk memeluk tubuh wanita nya dengan erat dan satu tangan yang lain ia gunakan untuk meraih satu buah suntikan yang sudah berada didalam laci.
Obat tidur. Itulah yang akan ia suntikan kepada Kanaya. Awalnya ia tak ingin menggunakan itu, ia hanya ingin tidur dengan Kanaya yang tertidur dengan sendirinya bukan dengan Kanaya karena pengaruh obat tidur.
"Maafkan aku, untuk kesekian kalinya aku melakukan ini." Lirihnya mengecup lengan bagian atas Kanaya yang tadi ia suntik.
Setelah menyuntikan obat tidur akhirnya Kanaya pun tertidur dengan nafas teratur. Sesungguhnya ia tak tega melakukan ini karena esok pagi sudah di pastikan Kanaya akan terlambat bangun dan bertemu dengan anaknya.
Karena memang itu kegiatan Kanaya sejak beberapa tahun belakangan ini, dan itu semua tak luput dari pantauan Reynand tanpa Kanaya sadari.
Dan selama itu pula Reynand berusaha menghindar dari Kanaya, karena semuanya akan semakin rumit jika itu terjadi. Karena pertentangan dari keluarga Reynand yang tak ingin memiliki keluarga misqueen seperti Kanaya.
'Miskin hati lebih hina dari pada miskin harta', begitulah orang tua Kanaya membalas ucapan keluarga Reynand ketika mereka merendahkannya di depan seluruh keluarga Reynand dan Meysa saat mereka melangsungkan pernikahan.
Sakit, itulah yang Reynand rasakan ketika melihat wanita nya mengandung dan mendapat hinaan dari semua orang.
Ingin rasanya Reynand merengkuh tubuh wanita itu dan membisikan kata-kata yang dapat membuat nya lebih tenang. Namun saat mata milik Reynand menatap mata sang ayah ia tak berani.
Karena jika ia melakukan itu ia akan langsung dihilangkan dari silsilah keluarga dan tidak mendapat warisan. Dan itu membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Demi Kanaya! Begitulah pikir Reynand saat itu.
Namun ia menyesal telah menelantarkan Kanaya jika harus seperti ini. Kehilangan anak nya dan juga Kanaya.
Walaupun Kanaya berada disisinya saat ini tapi ia yakin hati Kanaya untuk nya sudah pergi terkubur bersama Arya.
"Maafkan, Ayah Nak, sudah menelantarkan kamu dan bunda." Gumam Reynand.
Akhirnya ia pun ikut terlelap bersama Kanaya, berharap esok hari akan menjadi hari baik untuk mereka.
Karena Reynand sudah berniat untuk mengunjungi makam anaknya bersama Kanaya besok pagi sebelum ia mengantar Kanaya bekerja.