E N A M

1167 Words
    'Bermimpilah sesuka hatimu walaupun orang lain menertawakan, karena mimpi adalah kenyataan yang tertunda'     **Reynand Putra Wijaya** ▪️▪️▪️     Pagi ini Reynand sangat bahagia, sejak ia membuka matanya hal pertama yang ia lihat adalah wajah kekasihnya.     Ia sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu karena merasa sangat lapar, semalam ia tidak sempat untuk makan malam dan di tambah terkena hujan.     Sebenarnya semalam Reynand sengaja mengunjungi cafe tempat Kanaya bekerja karena memang ia sangat menyukai masakan yang di buat olehnya dan berniat meminta Kanaya untuk menemaninya makan malam tetapi setelah melihat Kanaya ia melupakan rasa lapar yang sejak kemarin sore ia tahan.     "Lebih baik aku memasak." Gumamnya melepas pelukan Kanaya dengan hati-hati.     Semalam, tanpa Kanaya sadari ia memeluk tubuh Reynand dengan kepala berada di d**a pria itu. Dan perbuatan Kanaya seperti itu membuat Reynand menyunggingkan senyum bahagia.     Terakhir kali melihat pemandangan seperti itu  adalah saat dirinya bersenggama dengan Kanaya.     Setelah menyelimuti Kanaya, Reynand pun langsung menuju dapur dan membuka kulkas untuk melihat bahan makanan yang dapat ia masak pagi ini.     Namun, ia terkejut ketika melihat isi kulkas hanya berisi minuman kaleng dan beberapa snack.     Setelah ia memeriksa seluruh isi dapur ternyata ia pun tidak menemukan apapun disana. Sekedar mie instan dan telur pun tidak ada.     "Astaga Honey, kau benar-benar membuatku kesal!" Geram Reynand mengacak-acak rambutnya.     "Bagas." Gumam nya ketika mengingat pria yang selama ini membantu Kanaya.     Ia sangat yakin sudah menyuruh Bagas untuk selalu membelikan kebutuhan Kanaya setiap minggu atau bahkan setiap hari. Seperti keperluan dapur yang ia butuhkan saat ini.     "Jika begini aku masak apa." Ucap Reynand duduk di kursi meja makan. Ia memijat pelipis memikirkan nya.     Ia tak mungkin delivery fast food pagi hari seperti sekarang ini karena memang ia tidak terbiasa memakan fast food saat sarapan.     Tanpa ia disadari, Kanaya sudah berdiri di depan pintu dapur dan melihat pria itu sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan.     "Mas." Panggil Kanaya ketika jarak mereka hanya dua kursi dari tempat pria itu duduk.     "Ya, Honey. Kau sudah bangun. Hm?"     "Kamu sedang apa di dapur?" Tanya Kanaya tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari Reynand.     "Niatnya ingin memasak tapi ternyata tidak ada bahan apapun untuk di masak." Jawab Reynand tersenyum.     Sesungguhnya ia ingin marah karena wanita ini membeli minuman kaleng dan snack yang sesungguhnya tak baik untuk kesehatan. Namun ia lebih memilih tersenyum karena takut jika Kanaya akan pergi dari nya.     "Oh itu, aku lupa untuk berbelanja kemarin, sebenarnya Bagas sudah ingin mengantarku tapi aku menolaknya kar—"     "Kenapa menolak? Besok-besok jika Bagas ingin mengantar atau mengajak berbelanja, kau harus menyetujui nya." Potong Reynand cepat.     Sejak tadi ia sudah menyumpah serapahi Bagas yang tidak mampu mengurus Kanaya. Karena sejak awal hanya Bagas yang ia percaya untuk menjaga Kanaya selama ini, sebelum Reynand benar-benar mendapatkan dan menikahi Kanaya.     "Ak—"     "Tak menerima alasan apapun Honey." Ujar Reynand berdiri di depan Kanaya dan mengusap puncak kepalanya.     "Dengarkan dulu penjelasanku." Ucap Kanaya mendongakkan wajahnya keatas karena posisi Kanaya yang sedang duduk di kursi makan.     "Kamu ingin memberi alasan apa lagi, hm? Atau ingin melindungi Bagas agar aku tak memarahi nya?" Tanya nya tak suka.     "Karena aku bisa pergi sendiri dan Bagas tidak perlu mengantarkan ku kemanapun aku pergi. Karena Bagas sudah memiliki kekasih dan ia tidak bisa selalu pergi denganku." Kanaya berkata sembari menggenggam tangan Reynand.     Reynand hanya menghela nafas pelan sebelum menyelipkan rambut di telinga Kanaya. "Karena aku tidak ingin kamu terjadi sesuatu dengan mu jika pergi tanpa ada yang menemani." Ujar pria itu.     "Tap—"     Kruk kruk...     Reynand langsung terseyum memamerkan giginya yang putih ketika perutnya berbunyi. Dan ia pun hanya terkekeh menatap wajah Kanaya yang hendak tertawa, namun wanita itu urungkan karena takut Reynand akan berbuat seperti semalam. Menciumnya dengan sangat kasar.     Kanaya pun berdeham dan berjalan menuju laci paling bawah dan mengambil satu bungkus roti tawar yang berada disana. Ketika ia meraih plastik itu ternyata hanya tersisa satu lembar.     "Yah cuma satu." Gumamnya sedih.     "Kenapa?" Tanya Reynand menghampiri.     "Tinggal satu." Kanaya menunjukan satu lembar roti kehadapan pria itu.     "Makan diluar aja yuk. Sekalian belanja bulanan sebelum kita ke makam." Ajak Reynand tersenyum dan menaruh roti itu di ada meja makan.     "Ke ma— makam? Untuk apa?" Kanaya menatap Reynand dengan dahi mengerut.     "Menjenguk anak kita sayang." Reynand berkata dan mengecup kening Kanaya cukup lama sebelum akhirnya ia pergi menuju kamar.     Menjenguk?     "Sejak kapan ia menjenguk Arya." Batin nya.     "Mau mandi bersama?" Tawar Reynand menyeringai ketika ia sudah berada di depan pintu kamar hendak masuk.     "Gila!" Pekik Kanaya melempar bungkus roti yang berada di tangan nya namun Reynand langsung sigap menangkapnya.     Reynand pun hanya tertawa mendengar umpatan Kanaya terhadap dirinya.     Ia akui, ia memang gila. "Aku hanya tergila-gila padamu." Ucap Reynand disela tawanya.     Setelah dua puluh menit berlalu akhirnya Reynand pun sudah rapi dengan kemeja putih, celana bahan dan jas berwarna navy. Ditanganya sudah ada satu buah dasi berwarna biru dengan garis putih.     "Honey, tolong pakaikan." Pinta Reynand menaruh dasi di tangan Kanaya dan ikut duduk di sampingnya.     "Honey!"  panggil Reynand dan melambaikan tangan depan wajah Kanaya ketika melihat wanita itu tidak merespon ucapannya.     Kanaya masih memikirkan ucapan Reynand yang mengajaknya pergi ke makam Arya pagi ini.     "Ah, ya kenapa?"     "Tolong pakaikan, aku tak bisa." Ujar Reynand sekali lagi.     "Ck, begini saja tidak bisa." Ketus wanita itu lalu meraih dasi dan mulai memakaikan nya dileher Reynand.     "Menunduk." Ucap Kanaya menarik leher Reynand dengan dasi agar menunduk.     Kanaya sudah kesal sejak semalam atau bahkan sejak pria ini membantunya, jadi sekalian saja ia membuat Reynand kesal.     Reynand pun hanya meringis mendapat perlakuan seperti itu. Jika bukan Kanaya sudah ia pastikan orang yang berada di depan nya ini akan terluntang-lantung di jalanan.     Sama seperti beberapa bulan yang lalu saat seorang office boy membawakan dua cangkir kopi panas dan tanpa sengaja pria itu menumpahkan cangkir dan mengenai kemeja milik Reynand.     Beruntungnya Bagas berada disana dan office boy itu masih bisa bekerja kembali namun di perusahaan milik Bagas ke esokan hari nya.     "Untung sayang." Ujar Reynand mengecup bibir Kanaya sekilas.     "Mas!" Kanaya menatap Reynand dengan kesal.     "Pakai sendiri!" Kesal wanita itu hendak berdiri.     "Honey, kerja jangan setengah-setengah." Reynand menarik tangan Kanaya dan mendudukan nya di atas paha.     "Itu tinggal di masukin kaya gini terus tarik." Ujar Kanaya memasukan kepala dasi ke sela-sela lipatan dan menariknya.     "Jangan kencang-kencang." Pinta Reynand menatap wajah Kanaya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.     Kanaya hanya menyeringai menanggapi ucapan Reynand. Sesungguhnya ia sudah berniat menarik dasi itu agar leher Reynand tercekik saking kesalnya.     "Sudah selesai." Kata Kanaya merapihkan dasi itu dan hendak turun.     "Belum selesai...,"     Mata Reynand tertuju pada bibir Kanaya dan mengusap bibir itu dengan ibu jarinya, "morning kiss nya mana?" Tanya Reynand menyeringai.     "Minta sama Meysa sana, dia kan istri mu bukan aku." Desis Kanaya melompat dan menuju kamar untuk membersihkan dirinya.     "Lama-lama berbicara dengan nya bisa makin gila." Gumam Kanaya.     "Oh... Kalau kamu istriku, setiap pagi selalu ada morning kiss? Baiklah bagaimana jika kita men—"     Blum...     Ucapan Reynand terpotong ketika Kanaya menutup pintu dengan sangat kencang.     "Asal kau tahu aku tak pernah melakukan itu dengan Meysa, walaupun dia istriku." Gumam Reynand menatap pintu kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD