Red String of Destiny

2609 Words
Rieki masih saja memandangi wajah gadis yang terlelap di ranjang rumah sakit. Pipi kanannya yang malam tadi terluka kini sudah diobati. Terlapisi perban putih bersih. Rieki bersyukur, doker berkata luka Selena tidak akan berbekas jika diberi perawatan yang benar. 'Anna, bangun,' Rieki mengusap punggung tangan Selena dengan ibu jarinya. Rentetan kejadian tadi malam teringat lagi di benaknya.  Dia yang tengah tertidur pulas mendengar permintaan tolong Selena. Untuk beberapa saat, dia menganggap itu hanya mimpi. Tetapi anehnya, suara-suara ketakutan dalam pikiran Selena semakin jelas terdengar. Kemudian, dia terbangun dengan napas terengah-engah. Dia sadar bahwa itu bukanlah mimpi, karena telinganya mendengar teriakan lemah dari kamar di sebelahnya. Dengan cepat Rieki menyingkap selimut dan menuju balkon. Membawa tongkat baseball yang selalu ia simpan di bawah ranjang. Tiba di pintu balkon kamar Selena, ia terkesiap. Selena terpojok. Ketika tangan besar pria itu menjambak Selena, amarahnya memuncak. Tanpa pikir panjang ia menerjangnya, menghamtam kepala pria itu dengan keras hingga terjatuh tak sadarkan diri. Diikuti pukulan-pukulan beringas lainnya. 'Maaf,' Rieki meringis saat melihat wajah gadisnya yang terluka. 'Kalo aja aku lebih cepet dateng ...,' lalu mengecup punggung tangan Selena. 'Kamu gak akan kayak gini.' 'Rie ...' Rieki mengerjapkan mata sekali. Ketika matanya terbuka lebar, dia melihat Selena tengah memandangnya dengan tatapan sayu. Senyuman terukir di wajah Rieki. Mata kecokelatan yang ditunggunya kini sudah tampak. Meski masih lemahm namun Rieki bersyukur Selena sudah terjaga. 'Selamat pagi, Anna.' Selena mengernyitkan kening saat melihat ruangan putih bersih. Dia mengabaikan sapaan Rieki yang ramah. 'Bukannya kita lagi di pantai, ya?' Rieki menggeleng. 'Kita langsung ke rumah sakit tadi malam.' Dengan sigap Rieki membantu Selena untuk duduk nyaman dengan bantal sebagai penyangganya. Berapa lama ia tertidur? Matahari sepertinya sudah tinggi di luar sana. Selena menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering dan ia butuh minum sekarang. Baru saja mulutnya akan mengeluarkan suara untuk meminta minum, segelas air mineral sudah berada di hadapannya. "Makasih," Selena tersenyum dan mengambil gelas itu. Meneguk isinya satu kali sebelum menyerahkannya kembali pada Rieki. Wajah Selena menunduk, dia tersipu malu begitu menyadari Rieki yang sejak tadi memandanginya tanpa berkedip. 'Maaf,' Rieki tiba-tiba mengambil tangan Selena. Membuat Selena mendongak dengan kening berkerut dalam. Beberapa pikiran Rieki mampir di benak Selena, membuatnya sadar arti dari kata 'maaf' itu. Dalam sekejap, jemari gadis itu berbalik memeluk tangan Rieki. Ruas jemari mereka yang saling berkaitan semakin erat menyalurkan rasa hangat dalam hati Rieki. Pemuda yang sebelumnya menunduk lesu itu kini mengangkat wajah dan menatap lekat Selena. Meski tak ada kata-kata yang keluar dari bibir keduanya, mereka mengerti akan arti genggaman erat ini. "Kamu mau kan, ikut aku buat ketemu sama Kakek?" Rieki mengerutkan kening. "Ketemu Kakek?" "Aku mau Kakek tau kalo—" "SELLY!" teriakan Lily dan Audrey yang datang setelah pintu terbuka lebar membuat pembicaraan Rieki dan Selena terhenti. Rieki mendengus sebal karena Selena melepaskan tautan jemari mereka secara tiba-tiba. Gadis itu kaget karena kedatangan tamu tak diundang. Sedangkan Kei dan Satoki, berjalan santai dengan bungkusan buah di tangan mereka. "Kalian datengnya gak pas banget sih." Rieki menggerutu sebal karena tempatnya di sisi Selena diambil oleh Lily secara paksa. "Gue gak liat kalian lagi cipokan atau apa tuh," celetuk Kei. "Jadi kita dateng di waktu yang tepat dong." "Suka-suka deh," Rieki menghempaskan tubuhnya di sofa. Memandang empat orang yang mengerubungi Selena dan menanyakan hal terperinci tentang apa yang terjadi tadi malam. Rieki saja belum bertanya bagaimana keadaan malam itu pada Selena. 'Nanti aku ceritain ke kamu,' suara Selena membuat Rieki tersentak. Rieki melirik Selena yang masih sibuk menjelaskan banyak hal pada Audrey. 'Aku masih mau berduaan sama kamu, tau,' batinnya. Selena tak menjawab, namun wajahnya terasa panas meski tidak sampai merona merah. Menyadari pandangan Selena tak hanya tertuju pada lawan bicara membuat Kei menoleh pada Rieki. Pemuda itu tengah memonyongkan bibir. Cemberut seraya menatap Selena dengan sebal. Akhirnya Kei duduk di samping Rieki, memperhatikan mereka yang saling curi pandang. Kedua alisnya terangkat, menerka-nerka apa yang mereka bicarakan. "Kalian ngomongin apa sih?" saking penasarannya, Kei akhirnya menepuk pundak Rieki. Rieki mendelik. "Kepo." Kei memutar bola matanya dengan malas. Dia memutuskan untuk bersandar pada sofa dan memainkan ponsel. Baru saja ia bersantai, suara Rieki menganggu aktivitasnya. "Si b******k di mana?" "Masih koma." "Mati aja sekalian. Orang kayak dia gak pantes hidup." "Dan lo gak mau tau siapa dalang di balik semua ini?" Rieki menatap Kei tajam. "Gue udah tau siapa orangnya." Kei sepertinya tau ke mana arah pikiran pemuda berambut cokelat gelap ini. "Claudia?" pertanyaannya dihadiahi anggukan kepala. "Lo punya bukti?" "Gue udah kenal tu cowok sejak kecil. Dia bodyguard kepercayaannya Claudia," Rieki berjeda sebelum mengedikkan bahu. "Yah, bisa disebut kayak tangan kanan gitu deh." Kei mengangguk mengerti. Tetapi, sedetik kemudian dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Rieki. Satoki yang sebelumnya berdiri di samping Lily kini ikut duduk di samping dua cowok itu. Penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka. "Gue penasaran," tatapan Kei menajam. "Sebenernya lo tuh sama Claudia hubungannya gimana sih?" Yang ditanya menghela napas mendengar pertanyaan itu. Seringkali Kei bertanya hubungannya dengan Claudia, namun dia selalu berhasil mengelak. Malas saja menceritakan gadis itu. Rieki melirik Kei dan Satoki yang menatapnya dengan sorot penasaran. Mungkin ini memang saatnya harus menceritakan tentang Claudia. "Yakin mau denger? Mungkin bisa sampe malem kalo gue cerita selengkap-lengkapnya." "Singkat aja elah," Satoki menimpali ucapan Rieki, ikut masuk dalam pembicaraan. "Hmm, sebenernya, gue sama Claudia itu temen sejak kecil. Karena orangtua kita yang sahabatan, gue sama Claudia sering main bareng. Kalo gak salah sih, Claudia punya sodara, tapi gue gak pernah ketemu karena dia ikut sama neneknya di Inggris." Rieki menghirup napasnya dalam. "Dan gue gak yakin sejak kapan sikapnya berubah jadi berlebihan gitu. Kalo gak salah sih sejak SMP." Matanya melirik lawan bicaranya, dan kaget karena ternyata Lily dan Audrey juga ikut mendengarkan. "Sejak kapan kalian ikut dengerin?" tanya Rieki dengan wajah datar. Lily dan Audrey terkekeh lalu menunjuk Selena. "Sejak dia yang nyuruh." Rieki menaikkan kedua belah alisnya. Menatap Selena dengan pandangan menggoda. "Kamu penasaran ya? Apa jangan-jangan, cemburu?" Selena membuang pandangan. "Jangan kegeeran deh." "ANNA! KAMI DATANG!" Pintu ruangan terbuka lebar. Di sana, ada dua orang paruh baya berpakaian modis dan seseorang yang Selena kenal baik. Kakek Julian, kakeknya sendiri. Lalu, wanita berkacamata hitam yang kini berlari memeluk Selena itu siapa? Dan pria paruh baya berpakaian lengkap, dari tuksedo sampai sepatu pantofel itu, siapa pula? "Mama kangen Anna," wanita yang tengah memeluk manja Selena itu tampak begitu rindu dengan Selena. Sepertinya, dia sudah mengenal Selena. Tetapi, seperti Justin saat itu, Selena sama sekali tidak mengenal wanita ini. Rieki menghela napas. Menggelengkan kepala dengan gemas dan menatap kakek yang tersenyum ramah. Pria yang sebelumnya berdiri di samping Kakek kini berjalan mendekati Rieki. Memandang pemuda itu dengan tatapan tajam sebelum menariknya untuk bangkit. "Bagaimana bisa seorang pria membuat tunangannya terluka seperti itu?" Hening. Ucapan tajam dari pria itu membuat semua mata tertuju padanya. Hanya Rieki, Kakek, dan wanita yang menyebut dirinya 'Mama' yang tidak terpengaruh sama sekali. Selena sendiri sudah melotot. Kaget akan kenyataan dibalik ucapannya. "TUNANGAN?!" Selena memekik kaget. Wanita yang memeluk Selena mendadak melepaskan jeratan mautnya. Dia menatap Selena dengan wajah miring dan penuh sorot kebingungan. "Ya ampun, kamu belum dikasihtau Rieki, sayang? Kamu kan, tunangan dia. Kamu menantu Mama." *** Sekarang, di dalam ruang perawatan Selena ada lima orang yang duduk tenang. Orangtua Rieki duduk bersebelahan dengan senyuman tenang. Sedangkan Rieki duduk di samping Selena, berhadapan dengan Mama dan Papa-nya. Kakek sendiri duduk kursi tunggal, tepat di tengah mereka berempat. Mereka duduk mengelilingi meja berbentuk persegi panjang. Rieki melirik Selena yang masih mematung di tempatnya. 'Kamu bingung, ya?' Selena menoleh. 'Menurut kamu gimana?' 'Oke, aku jelasin sekarang.' Namun Selena sama sekali tidak menjawab. 'Jangan marah sama aku, oke?' 'Memangnya aku punya alasan buat gak marah sama orang yang udah bohong?' 'Duh,' Rieki menggaruk kepalanya yang tak gatal. 'Maaf. Aku bukannya mau bohongin kamu. Tapi, waktunya gak tepat. Dan aku juga gak mau kamu kenapa-kenapa. Yah ... meski sekarang udah kejadian sih.' Selena menghela napas, alisnya bertaut dengan sebal. 'Jadi, maksudnya apa dengan kata 'tunangan' itu?! Kenapa kamu gak bilang sama aku sebelumnya?!' "Untuk informasi, kita gak bisa telepati kayak kalian. Jadi, bisa komunikasi secara normal?" suara Kakek membuat orangtua Rieki tertawa kecil. Selena melotot. Kakek tahu tentang kemampuan mereka? Rieki berdeham, mencairkan suasana canggung. Tiga pasang mata yang sebelumnya menatap Selena dan Rieki secara bergantian kini terfokus pada pemuda itu. Namun Rieki sama sekali tidak membalas tatapan mereka. Justru pandangannya mengarah pada Selena. "Anna, kenalin. Mereka orangtua—" ucapan Rieki terpotomg. "Calon mertua kamu." Suara berat nan tegas yang memotong ucapannya itu membuat Rieki melotot gemas. Dia menghirup napas dalam lalu kembali menatap Selena. Gadis itu sempat menahan napas saat Papa Rieki berkata 'calon mertua'. Astaga, apa dia mimpi? Calon mertua? "Maaf, tapi benar, yang dibilang sama Papa. Dia—mereka, calon mertua kamu. Itu kalo kamu menerima pertunangan ini. Kalo enggak, artinya gak ada kata 'calon mertua atau menantu' diantara kalian. Dan kamu bisa menemukan seseorang yang bisa mengisi hari tuamu nanti." Selena menunduk dalam. Wajahnya terasa panas. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Rieki adalah tunangan yang dibicarakan Kakek selama ini. Sejak awal, Selena memang tidak pernah berniat untuk membatalkan pertunangan yang telah direncanakan Kakek. Tetapi, sehari setelah bertemu dengan Rieki membuat keyakinannya goyah. Dia bahkan hampir meminta Rieki untuk bertemu dengan Kakek, ingin meminta pembatalan pertunangan itu karena sudah memiliki Rieki. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka Selena pasti akan sangat merasa malu. Meminta memutuskan pertunangan karena telah jatuh cinta pada Rieki yang tak lain adalah tunangannya sendiri? Memikirkannya saja sudah membuatnya tertawa kecil. 'Aku gak akan biarin kamu melakukan hal yang bikin diri kamu malu,' Rieki mengambil tangan Selena dan menggenggamnya erat. Selena mengangkat wajahnya, menatap calon tunangannya ini. "Masa muda memang masa yang paling indah," celetuk Mama Rieki. "Masa tua kita juga indah kok," sambung Papa Rieki. "EHM." Deheman Kakek membuat empat orang yang sedang sibuk dengan obrolan mereka menoleh ke arahnya. Selena melepaskan tautan jemari ketika sadar Kakek menatap genggaman tangan mereka. Lagi-lagi, Rieki mendengus sebal. Kenapa harus dilepas lagi? Selena yang mendengar gerutuan Rieki hanya bisa tersenyum geli. "Anna, Kakek yakin banget, di kepala kamu udah banyak pertanyaan yang meminta pertanggungjawaban. Sekarang, Kakek mau menjelaskan beberapa hal. Semoga ini semua bisa menjawab pertanyaan kamu, ya." Selena mengangguk paham. "Pertama, kecelakaan yang menewaskan orangtuamu bukan kecelakaan tunggal. Ada campur tangan pihak lain, yang tidak suka melihat kebahagiaan keluarga kecil kalian. Nenek yang khawatir kamu akan mengalami hal serupa akhirnya menyembunyikan kamu dari dunia luar." Ucapan Kakek sukses membuat jantung Selena seperti berhenti berdetak. "Si-siapa pihak itu?" Kakek menghela napas. "Sebaiknya kamu tak perlu tahu, Anna. Lagipula kecelakaan itu sudah terjadi belasan tahun lalu dan pelakunya pun sudah meninggalkan dunia ini." "Ta-tapi, Kek ..." "Yang lalu biarlah berlalu," Rieki memotong ucapan Selena hingga gadis itu menunduk lesu. Memang sih itu sudah terjadi belasan tahun yang lalu, tetapi tetap saja kan, dia penasaran dengan kejadian sebenarnya. "Yang penting, saat ini, apa kamu menerima perjodohan ini, Anna?" Sepertinya itu memang hal yang harus dipikirkan Selena saat ini. Mengingat ucapan Kakek sebelumnya tentang keputusan terjadinya pertunangan atau tidak, semua tergantung pada gadis itu. Rieki sendiri, sudah tahu sejak awal dan dia menyetujuinya. Kalau Selena tidak menerima dirinya, maka Rieki pasrah. Mungkin berada di sisinya sebagai sahabat sudah lebih dari cukup. "Mana mungkin aku nolak, kalo sebelumnya aku mau minta persetujuan hubungan kita ke Kakek?" Selena bertanya seraya menggenggam tangan Rieki dengan lembut. Kakek tersenyum dan mengangguk menanggapi jawaban yang diberikan Selena. Orangtua Rieki pun yang sejak tadi hanya terdiam akhirnya angkat bicara, meskipun hanya ucapan terima kasih. Tetapi, Mama Rieki terlonjak kesenangan dan memeluk suaminya erat. Reaksi berlebihan dari Mama Rieki hanya ditanggapi elusan lembut di punggungnya dari sang suami. "Kemampuan kalian, sudah berkembang sejauh mana?" tanya Kakek tiba-tiba. Selena menoleh. "Kakek tau dari mana kita bisa melakukan hal kayak gitu?" Kedua sudut bibir Kakek tertarik, membentuk senyuman tipis. "Keluarga kita—dari garis keturunan Louis memang memiliki kemampuan ini, Anna. Kita diberikan anugerah untuk 'menemukan' jodoh dengan tanda-tanda yang ada. Kakek dan mendiang nenekmu bisa mengendalikan emosi masing-masing. Setiap keturunan—pasangan—memiliki kemampuan yang berbeda. Dan pastinya, anak cucu kalian juga akan mendapatkan anugerah ini." "Kupikir, perjodohan ini terjadi karena perjanjian antara sahabat atau hal lainnya kayak di film yang sering aku tonton," Selena melirik Kakek yang hanya tersenyum. "Kakek lebih senang menyebutnya dengan; pembuktian legenda benang merah pengikat takdir." Kedua remaja yang ditatap bergantian oleh Kakek itu hanya tersenyum geli. "Sekarang Kakek bisa membuktikan legenda itu. Meskipun benang merah tak kasat mata yang terikat di jari kelingking kalian berdua itu terlalu kusut atau merenggang, benang itu takkan terputus." Kakek membawa tangan Rieki untuk membungkus tangan Selena. "Karena pada akhirnya, jodoh akan dipertemukan kembali." *** Setelah menjalani tes tentang kemungkinan adanya trauma pada diri Selena, ia duduk manis di kursi penumpang, menuju Rainbow Rose Academy. Setelah seharian penuh memohon pada Kakek, Selena akhirnya diperbolehkan untuk kembali ke asrama. Kembali ke kamarnya yang nyaman, bersama Audrey. Dan tentunya saja, bisa bertemu lebih sering dengan Rieki. 'Aku juga seneng, kamu bisa balik lagi ke asrama,' Rieki menoleh, genggamannya semakin mengerat. Pemuda yang duduk di samping Selena ini sudah tidak tahan dengan segala pikiran-pikiran Selena yang terdengar di benaknya. Bibirnya sudah tak tahan menahan kedutan di bibir. Rasanya ia begitu bahagia, mengetahui Selena begitu ingin melihatnya setiap hari. Ah, kali ini pikiran Rieki dibatasi. Ia tak mau Selena mendengarnya. Kemampuan mereka yang berkembang membuat keduanya bisa mengatur kapan saja ingin memberitahukan pikiran mereka. Tiba-tiba, Selena menunduk. Membawa genggaman tangan mereka ke pangkuannya. 'Kenapa, Ann?' tanya Rieki dengan kening berkerut. 'Kenapa gak bilang dari awal kalo kamu tunangan aku?' 'Kenapa, ya ...,' Rieki tersenyum kecil. Karena tak mendapatkan jawaban darinya, Selena menggembungkan pipi. 'Mungkin karena susah banget jelasin sesuatu ke orang yang lagi cemburu?' Selena mengedip. 'Si-siapa yang cemburu?' 'Kamu,' Rieki mencubit hidung Selena dengan pelan. 'Aku nyoba buat jelasin, tapi kamu gak mau angkat telepon, chat aku aja gak dibales. Ya udah deh aku isengin aja sekalian. Pengen tau gimana reaksi kamu. Tetapi nyatanya, reaksi kamu bikin aku kecewa.' 'Kecewa?' kening Selena berkerut dalam. 'Harusnya kamu koar-koar sama Kakek kalo punya orang yang dicintai. Bukannya—aduh' Selena mencubit pinggang Rieki dengan gemas. Apa sih maksudnya? Bikin malu saja. "Kita sudah sampai, Nona Selena, Tuan Rieki." Komunikasi mereka terputus saat Rieki mengalihkan pandangannya pada pintu mobil untuk membukanya. Dengan gerakan cepat, ia turun mobil dan berputar ke belakang. Berniat ingin membawakan barang bawaan Selena namun ditahan oleh Arnold. "Ini pekerjaan saya, Tuan," ujarnya sopan. Awalnya Rieki bersikeras ingin membawakan barang milik Selena, namun Arnold menggeleng dan tetap saja membawa dua koper besar berisi pakaian dan perlengkapan pribadi. Agak kesal sebenarnya, tetapi Rieki sama sekali tidak bisa memaksa. Itu pekerjaannya. Mata Rieki menyisir sekitar, mengalihkan pandangan dari Arnold yang sudah memasukkan barang-barang ke dalam asrama puteri. Ah, para siswa dilarang masuk ke dalam asrama puteri, begitupula sebaliknya. Alhasil, saat ini Rieki hanya bersandar pada mobil dan memperhatikan Audrey, Lily serta Selena yang tengah berpelukan bahagia. Tanpa sadar, jika ada mobil mewah lainnya dengan penumpang sepasang gadis dan pemuda yang duduk nyaman di kursi belakang. Dari balik kaca jendela mobil yang gelap, mereka memperhatikan Rieki dan Selena dengan serius hingga pergerakan mobil memaksa mereka untuk mengalihkan pandangan. Mereka telah tiba di asrama putera. Mengingat senyum bahagia mereka tadi membuat si pemuda menyenderkan tubuh di jok mobil, merasakan penyesalan. Apalagi ketika ia tau kalau Hudson—bodyguard Claudia sengaja datang ke pantai itu untuk membunuh Selena. Dia marah besar pada Claudia, namun adiknya itu sama sekali tak ada rasa bersalah sedikitpun. Helaan napas yang hampir menyerupai dengusan itu membuat Claudia menoleh. "Kenapa, Kak?" Claudia berkedip-kedip, menatap kakak kembarnya yang menggeleng. "Cuma sedikit gugup karena kepindahan yang tiba-tiba." Claudia tersenyum pada kakak yang lahir lima menit lebih cepat darinya. "Kalo ada yang macem-macem, jangan lupa bilang sama aku ya, Kak Justin." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD