The Man With Scars

1886 Words
"Saya punya berita bagus untuk Anda, Nona," suara berat seorang pria terdengar di telinga Claudia. Gadis itu hanya menoleh dengan wajah datar. Tidak mau repot membalikkan badan hanya untuk berbicara dengan bawahannya ini. "Jangan mengecewakanku seperti terakhir kali." Pria itu menggeleng. "Tidak sama sekali, Nona." Claudia akhirnya bangkit dari sisi ranjangnya dan berjalan menuju kursi tempat di mana ia biasa duduk untuk bersantai. Ketika amplop cokelat di tangan si pria diterima oleh Claudia, tatapan gadis itu menggelap. Dia memperhatikan dengan seksama lembar demi lembar kertas dan membacanya dengan teliti. Saat lembar terakhir dibuka, dia tersenyum sinis. Melihat foto seorang gadis dengan seragam yang sama dengan miliknya membuat Claudia mendecih. "Jadi dia masih hidup? Bagaimana bisa?" tanyanya tajam. Pria yang memiliki luka goresan cukup panjang di pergelangan tangan kanannya itu mengangguk. "Neneknya benar-benar menyembunyikan dia dengan sempurna." "Ternyata mereka orang yang sama ..." Claudia benar-benar tak memikirkan hal ini. "Kerja bagus," Claudia tersenyum puas dan menatap pria yang masih setia berdiri di depannya. "Kita bisa melaksanakan rencana itu sekarang," pria itu mengangguk menanggapi ucapan Claudia. "Dan jangan kecewakan aku." Setelah mengangguk pasti, pria itu undur diri dari hadapan Claudia. Keluar kamar dengan sangat perlahan, tidak ingin menganggu waktu istirahat Nona Muda-nya. Beberapa saat Claudia dalam keheningan, ia memutuskan untuk menyimpan berkas itu dan memasukkannya ke dalam laci lemari. "Clau?" suara pemuda yang seumuran dengan Claudia terdengar samar di balik pintu kamar. "Kamu udah makan belum? Udah minum obat?" "Belum, Kak! Aku laper!" Claudia berlari kecil dan membuka pintu kamarnya hingga terlihat sosok lelaki yang seumuran dengannya tengah berdiri dengan seragam sekolah yang sama dengan miliknya. "Kakak pindah sekolah?" Dia mengangguk. "Bagus kan?" "Bagus! Cocok banget dipake sama Kakak!" Claudia melompat dan memeluk lengannya dengan sayang. Pemuda itu membalas dengan usapan lembut di puncak kepala Claudia. "Ayo, kita makan. Terus kamu minum obat, dan tidur." *** Sudah jam delapan malam dan langit semakin gelap. Di balkon kamar yang Selena tempati ini, tak terlihat apapun. Birunya laut lepas yang sejak siang memanjakan matanya kini tergantikan gelapnya malam. Hanya ada bintang yang terlihat di angkasa. Selena menghela napas, bersandar pada pagar balkon. Menikmati semilir angin malam yang menyapu wajah. "Nih, mumpung gue lagi baik." Selena menoleh, mendapati Audrey menyodorkan satu mug berisi teh manis hangat. Setelah mengucapkan terima kasih, Selena mengambil mug itu dan mulai menyesapnya. Cairan kecoklatan itu turun membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Lo berantem sama Rieki?" tanya Audrey memastikan. Mata Audrey tak lepas dari Selena yang hanya menunduk, jemarinya memainkan ujung gelas di genggamannya. Memutar gelas beberapa kali seraya menghembuskan napas panjang. "Aku bingung," Selena menoleh. "Kenapa saat tau yang sebenarnya, aku gak bisa bersatu sama Rieki?" Audrey diam menyimak. Dia berjalan mendekat hingga berdiri di sisi Selena setelah meletakkan gelas di meja kecil yang ada di balkon. Tatapan kosong Selena itu, sama persis dengan pandangan ketika ia baru pulang dari prom night. Resah yang diliputi kesedihan mendalam. "Kakek udah nyiapin pertunangan, dan aku ...," Selena menahan napas. "Aku gak bisa nolak, Rey. Dia, satu-satunya keluarga yang aku punya ...." Dadanya terasa sakit ketika sadar dirinya sudah memiliki seseorang untuk masa depannya. Gadis itu menunduk hingga setetes cairan bening itu kembali keluar dari mata, dan masuk ke dalam mug yang masih penuh dengan teh. Audrey tak tahu harus berkata apa. Yang dia lakukan hanyalah memeluk Selena dari samping, mengusap pundaknya yang bergetar hebat. Terlalu dini untuk memikirkan tentang pertunangan atau pernikahan. Mereka bahkan belum lulus SMA. Kenapa Selena harus merasakannya sekarang? Otak Audrey benar-benar tidak paham dengan pemikiran orangtua di kalangan orang kaya. Audrey curiga, jangan-jangan Kakek Selena ini membuat perjodohan karena bisnis? "Lo bisa nolak perjodohan itu, Sell. Gue yakin Kakek pasti bakalan ngerti. Lagian kan, lo masih kecil. Masih sekolah." Selena menggeleng. "Aku gak mau bikin Kakek sedih." Audrey menjauhkan diri dari Selena. "Memangnya nanti Kakek bakal seneng kalau liat lo terpaksa bahagia sama seseorang yang bahkan gak lo kenal? Kita masih muda, banyak pilihan dan jalan yang bisa diambil. Jangan sia-siain kesempatan itu, Sell!" "Apa Kakek bakalan ngerti?" Audrey mengangguk sambil menepuk pundak sahabatnya. "Pasti." Tanpa disadari keduanya, dari balik pintu kaca kamar sebelah Selena, ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan. Rieki. Sejak awal, dia ingin menyapa Selena yang sendirian berdiri di balkon. Namun sialnya dia keduluan Audrey. Tetapi tak apa, paling tidak ia bisa mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu. Baru saja ia akan beranjak untuk keluar kamar, ponselnya bergetar. "Halo?" "Keadaan Anna bagaimana?" "Baik, Kek. Dia lagi ngobrol sama Audrey." Rieki tersenyum, duduk di pinggiran ranjang. "Lalu, kamu udah bilang semuanya ke Anna?" "Tiap kali aku mau ngomong, dia gak mau dengerin." Rieki menatap langit-langit ruangan. Terdengar helaan napas panjang di ujung sana. "Harusnya kamu izinin Kakek buat jelasin semuanya ke Anna." "Rie masih mau ngerjain Anna, Kek," Rieki terkekeh. "Dasar." Kakek berdecak sebal, lalu mematikan sambungan telepon. Setelah berbicara singkat dengan Kakek, Rieki menghempaskan tubuhnya dengan asal. Dia memandang langit-langit ruangan. Tangannya bergerak menyusuri kalung di lehernya. Ia mengeluarkannya dan memandang leontin kotak yang tengahnya kosong berbentuk daun semanggi berdaun empat. *** Sudah tengah malam dan Selena sama sekali tidak bisa menutup matanya barang sekejap saja. Dia masih memperhatikan layar ponsel yang sejak tadi bergetar. Mendapatkan rentetan pesan dari Rieki, yang jelas-jelas kamarnya bersebelahan dengan miliknya. Rieki: Anna lagi ngapain? Rieki: Aku bosen. Main ke pantai, yuk. Tengah malam begini dia mengajak ke pantai? Rieki aneh. Rieki: Aku tau kamu belum tidur. Angkat dong. Rieki: Ayolah. Angkat telponku. Rieki: Jadi, kamu sekarang gak mau temenan sama aku? Selena menghela napas. Tidak tahan dengan ocehan Rieki dan memutuskan untuk membalas pesan singkat dari cowok itu. Ini menganggu, tetapi entah kenapa senyuman tak bisa lepas dari wajah Selena. Selena: Aku gak pernah nolak kamu buat jadi temen aku. Rieki: Jadi, aku punya kesempatan buat naik tingkatan, dong. Selena: Naik tingkatan gimana maksudnya? Rieki: Jadi pacar kamu. Atau mungkin, tunangan. Cukup sudah. Jangan membicarakan tunangan. Itu membuat Selena merasa mual. Dia datang ke pantai ini untuk melupakan sejenak masalah-masalahnya. Tetapi kenapa Rieki malah mengingatkannya dengan masalah yang dia miliki? Benar-benar membuat kesal. Selena akhirnya memutuskan untuk melepas baterai ponsel dan berbaring terlentang. Menatap langit-langit ruangan yang gelap. Tak ada apa pun yang terlihat. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk terlelap. Sudah malam, dan dia tidak mau menyia-nyiakan jam istirahatnya. Mengingat besok hari mereka akan kembali bermain ke pantai. *** Selena mengerjap satu kali. Dia bangun dari tidur lelapnya secara tiba-tiba karena merasakan pintu balkon yang ia yakini sudah tertutup rapat kini terbuka. Terpaan angin dari lautan terasa menyapu bagian tenguknya yang tak tertutupi. Dingin, bisiknya dalam hati. Namun saat dia berniat bangkit untuk menutup pintu, ada sekelebat bayangan yang bergerak dari arah balkon menuju pintu kamarnya. Selena mengerjap kaget saat mendengar suara pintu yang terkunci. Darahnya berdesir cepat, jantungnya berdetak melebihi kecepatan biasanya. 'Rie? Itu kamu?' Selena tak pernah mengharapkan Rieki masuk diam-diam ke dalam kamarnya di tengah malam seperti ini. namun membayangkan seseorang tak dikenal berada di sini benar-benar membuatnya ketakutan. Dalam sekejap, bayangan itu sudah berada di belakang Selena. Tenggorokannya tercekat, napasnya seakan berhenti ketika tangan besar itu menariknya mendekat dengan kasar. Deru napas orang di belakang punggung Selena terasa di telinga gadis itu. Bulu kuduknya mendadak meremang, dia merinding ketakutan. Kejadiannya begitu cepat hingga Selena tak sanggup menghindar. "Si-siapa?" bisiknya dengan bibir bergetar. "Jangan bergerak atau kau akan terluka." Selena hampir saja berteriak kalau si pria itu tidak membekap mulutnya. Pisau tajam mengkilat itu berjarak sangat dekat dengan kulit pipi Selena. Dia sama sekali tidak bergerak, mengikuti petunjuk pria itu. Dalam jarak sedekat ini, Selena bisa melihat adanya bekas luka memanjang di pergelangan tangan pria itu. "Harusnya kau tetap menjadi seseorang yang hilang ditelan bumi." 'Rieki, ada lelaki datang ke kamarku ... Rie ...' Kenapa di saat seperti ini Rieki tidak mendengar telepati Selena? Harusnya dia langsung datang saat gadis itu memanggilnya sekali! Atau paling tidak, merespon. "Kamu lihat luka ini?" Selena tau, dia membicarakan luka di pergelangan tangannya. Dengan ragu, dia mengangguk. "Luka ini aku dapatkan karena dia tanpa ampun melukaiku. Melukai harga diriku. Kalau para pelayan tidak menolong, mungkin aku sudah tak ada di sini." Selena menelan ludah dengan gugup. Dia bingung akan apa yang diceritakan oleh pria ini.  Apa hubungannya luka itu dengan Selena? Kenapa dia menceritakannya? Lalu, yang lebih penting lagi, kenapa mata belati yang tajam itu sudah bergesekan dengan pipi Selena? Benar-benar membuat aliran darah Selena semakin cepat. Detakan jantung gadis itu semakin tak karuan. Saat ini yang dipikirkannya adalah melarikan diri. Dia tak peduli dengan ocehan pria tentang lukanya itu. Selena mulai bergerak. Ia meronta keras, sikutnya ia gerakkan hingga menusuk perut si pria. "Jangan bergerak!" bentaknya. Tetapi Selena tak mau menurut. Bibirnya terbuka dan langsung menggigit tangan pria itu hingga ia memekik kesakitan. Kaget karena mendapatkan gigitan dari Selena, tangan kanannya yang memegang pisau bergerak, merobek kulit mulus Selena dari dekat mata sampai rahang gadis itu. Selena memang terlepas dari cengkraman si pria, namun mendapatkan luka menganga di pipinya. "Dasar gadis bodoh!" si pria mengibaskan tangannya yang berdarah karena gigitan Selena. "Harusnya kau bisa tenang," dia berbisik dengan seringaian. "Maka aku bisa menusukmu dengan cepat. Kematianmu tidak akan menyakitkan." "Rie ..." Selena mulai menangis. "RIEKI!!" "DIAM!" dia berjalan mendekati Selena yang meringsut mundur menjauhinya. Tangan Selena memegang lukanya yang mulai berdenyut-denyut. Nyeri. Sangat perih dan sakit. Apalagi air mata yang mengalir melewati luka menganga itu, membuat lukanya semakin pedih. Pergerakan Selena terhenti karena punggungnya bertabrakan dengan nakas. Jam alarm yang sengaja diletakkan untuk membangunkan si pengguna kamar terjatuh, menimbulkan suara nyaring. "Ka-kamu mau apa?" cicit Selena ketika pria itu sudah berdiri di hadapannya. Kepala Selena mendongak menatap pria itu dengan mata lembab dan tangan bergetar. Sorot ketakutan yang terpancar jelas membentuk seringaian jahat di wajah pria itu. "Kalau aku tak berhasil membawa jantungmu, maka jantungku lah yang akan menjadi penggantinya," pria itu menunduk hingga bertumpu pada satu kaki. Tangisan Selena semakin menjadi tatkala pisau yang sebelumnya melukai pipi kanan Selena kini sudah berada di pipi kirinya. "Kamu cantik," bisik pria itu. 'Rie ... Rieki! Tolong!' Selena berusaha konsentrasi diantara matanya yang terpejam ketakutan karena tangan pria itu sudah menyusuri tulang rahangnya. Tetesan darah Selena yang mengenai jemari tangannya tidak digubris. Tangannya terus naik menuju ke kepala lalu menyelusupkan jemarinya diantara helaian rambut Selena yang halus. Tetapi belaian lembut itu berubah menjadi jambakan. "Tapi kamu harus mati sekarang," desisnya. "RIEKI!!" Dhuakk! Suara hantaman keras membuat Selena membuka kedua belah kelopak matanya. Dia mendongak, mendapati bayangan seseorang yang membawa tongkat besar berada di belakang pria yang kini sudah tergeletak tak berdaya. Gorden kamar Selena melambai ditiup angin semilir dari laut. Selena yakin Rieki masuk melewati balkon. "b******k!" maki Rieki dengan wajah penuh amarah menatap pria itu. Ketika Rieki sibuk memukuli pria itu, pintu kamar yang terkunci didobrak paksa. Dari ekor mata, Selena bisa melihat Kei dan Satoki yang berlari masuk dengan mata terbelalak kaget karena melihat Rieki memukuli seseorang dengan membabi buta. Kei dengan panik berusaha menghentikan Rieki. Dia tidak mau sahabatnya menjadi pembunuh. Sementara itu, Satoki berjalan menuju balkon kamar Selena. Memperhatikan kalau-kalau ada seseorang yang membantu pria ini. Meski pandangan Selena memburam, dia masih bisa melihat Audrey serta Lily yang hanya berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Sepertinya mereka ragu untuk masuk ke dalam. Tetapi, ketika Lily melihat Selena yang sudah melemas dan terjatuh ke lantai, dia berteriak histeris. Kakinya melangkah lebar, berlari menghampiri Selena diikuti Audrey. Tepat diantara keributan kelima sahabatnya yang panik, pandangan Selena menggelap. Dia pingsan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD