Setelah tiga hari penuh terus merengek pada kakek, akhirnya Selena mendapatkan izin pergi ke pantai selama sehari semalam tanpa pengawasan Arnold. Dengan beberapa syarat yang menurutnya begitu aneh. Tidak berbicara dengan orang asing. Selalu mengabari tiap dua jam sekali. Jangan pernah mengikuti orang yang belum dikenal. Jangan memasukkan orang yang tak dikenal ke dalam penginapan.
Cukup sudah. Peringatan itu membuat Selena seperti terlempar ke masa kecil. Dia bukanlah balita yang mudah dibohongi. Dia sudah cukup besar untuk mengerti mana yang baik dan buruk. Mana hal yang membahayakan dan tidak. Selena benar-benar tak mengerti, kenapa kakek begitu menjaganya? Seperti ada sesuatu yang mengintai atau membahayakannya saja.
"Ingat pesan yang tadi malam Kakek jelaskan, kan?"
Kakek mengingatkan begitu Selena keluar dari kamar. Bersamaan dengan tangannya yang membenarkan letak tas ranselnya di punggung, kepala gadis itu mengangguk mengerti. Setelahnya, tangan gadis itu terjulur dan memeluk kakeknya singkat.
"Anna berangkat dulu ya Kek," ujarnya sebelum melepaskan pelukan dan menatap kakeknya lekat. "Anna inget semua pesan Kakek. Jadi, Kakek gak perlu khawatir."
Setelah mendapatkan anggukan dari Kakek, Selena berjalan perlahan menjauhi kamar. Menuruni tangga dengan perlahan dan memandang sekitar seakan tidak akan pernah kembali ke rumah megah ini. Dari kejauhan ia bisa melihat perawakan tinggi tegap yang tengah memandangnya ramah. Selena tersenyum tatkala Arnold membukakan pintu utama untuknya.
"Tidak ada yang tertinggal, Nona?" Selena menggeleng menanggapi pertanyaan itu.
Arnold, kepala keamanan yang ditugaskan untuk menjaga Selena. Setiap hari, orang kepercayaan kakek itu selalu saja berada di mana pun Selena berada. Saat Selena berada di halaman depan atau belakang saja, Arnold akan terlihat tengah memperhatikan gerak-geriknya. Tentu saja, kamar tidur dan kamar mandi terkecuali.
"Hati-hati, Nona. Kalau ada orang mencurigakan, tolong beritahu -"
"Iya, Arnold," Selena terkekeh dan menepuk lengan pelindungnya itu dengan ramah. "Aku ngerti kok, gak usah diulang-ulang kayak gitu. Bosen tau dengernya."
"Selly!" Audrey berteriak begitu Selena keluar dari pintu besar.
Selena lantas menoleh, dan senyuman lebar itu tampak begitu berseri saat melihat teman-temannya berada di jarak pandangnya. Kaki gadis itu melangkah lebar, berlari kecil dan berpelukan dengan Audrey sambil berloncatan seperti anak kecil.
"Gue kangen!"
"Aku juga!"
Lily yang sebelumnya berada di dalam mobil lantas keluar dan ikut memeluk Selena. Mereka saling berpelukan beberapa saat hingga suara klakson mobil Kei membuat acara peluk-pelukan mereka terlepas.
"Ayo berangkat, nanti kesorean!" teriak Kei dari balik kemudi.
"Yang ikut siapa aja?" Selena bertanya setelah melambaikan tangan pada Kei yang memakai kacamata hitam. Ke mana kacamata yang selalu ia gunakan? Kalau nanti mereka kecelakaan, mungkin Selena takkan bisa keluar rumah seumur hidup.
"Yah kita-kita aja," Lily melirik Audrey ketika menyebutkan kata 'kita-kita'.
Tetapi sayang sekali, Selena sama sekali tidak menyadari kedua sahabatnya yang saling lirik penuh arti. Bahkan ketika tas ranselnya dimasukkan ke dalam bagasi oleh Satoki yang tiba-tiba keluar dari dalam mobil, Selena sama sekali tidak curiga. Tunggu. Kalau Satoki dan Kei ikut, lantas nanti Selena sendirian? Maksudnya, jika mereka ingin bersenang-senang dengan pacar, Selena pasti akan ditinggal.
Tiba-tiba dia cemberut. "Kenapa kalian bawa pacar sih? Kupikir kita bertiga aja."
Satoki yang baru saja duduk di jok sebelah pengemudi lantas tertawa. Audrey dan Lily saling pandang dengan geli sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil. Mereka berdua sama sekali tidak menjawab gerutuan Selena.
"Kalo gak ada mereka, nanti yang jaga kita siapa?" tanya Audrey.
"Ya kita kan bukan anak kecil lagi yang harus dijaga," jawab Selena ketus.
Entah kenapa Selena agak sensitif untuk topik seperti itu. Mungkin karena dia terlalu dikekang oleh Kakek, Selena menjadi sebal kalau ada orang lain yang terasa seperti ingin melindungi. Dia ingin bebas, seperti dulu. Tetapi di sisi hatinya yang lain, ia tidak mau membuat Kakek khawatir. Jadi, gadis itu menurut saja dengan apa yang dikatakan Kakek.
"Ya udah sih," Satoki menyambar pemibicaraan para gadis dari depan. "Lagian Kakek lo gak bakal kasih izin kalo kita gak ikut."
Selena mengerutkan kening. "Kakek?"
"Nanti kita jelasin," tambah Kei yang langsung membuat Selena terdiam.
Jelasin apa? Tentang Kakek yang menghubungi salah satu temannya untuk membawa laki-laki yang bertugas menjaga keselamatan? Kakek tak salah sih, hanya saja, mungkin terlalu berlebihan. Dan juga, bukan berarti Selena tak suka dengan kehadiran dua lelaki ini. Namun entah mengapa, ia merasa bahwa Rieki sudah berada di tempat tujuan mereka. Karena Kei dan Rieki itu satu paket. Di mana ada Kei, di situ ada Rieki. Masalahnya, saat ini Selena tidak ingin bertemu dengan Rieki.
***
"Kita sampai!"
Lily merenggangkan otot-ototnya yang sudah menegang sejak tadi. Perjalanan yang memakan waktu hampir lima jam itu cukup membuat pinggang mereka terasa kaku. Tetapi, perjuangan mereka menghadapi macet dan jalan bebatuan terbayarkan sudah. Pemandangan indah dengan laut terbentang di hadapan mereka membuat senyuman puas terlihat di wajah mereka berlima.
"Ini pantai pribadi," suara Kei membuat Selena yang tengah menikmati terpaan angin laut menoleh. "Jarang ada orang dateng ke sini. Jadi kita bisa bebas mau ngapain aja."
"Punya siapa? Kita harus terima kasih dong karena udah diizinin main ke sni."
"Punya ... seseorang," jawab Kei misterius lalu pergi meninggalkan Selena yang mengerutkan kening. Benar-benar bikin orang lain penasaran. Kalau ingin memberitahu, jangan setengah-setengah seperti itu. Menyebalkan.
"Selena! Kamar lo di sini ya! Lantai dua, nomer 3!"
Teriakan Satoki membuat Selena mendongak. Mendapati pemuda itu tengah melambaikan tangan dengan tas yang ditunjukkan pada Selena. Itu tas ransel gadis itu. Sejak kapan Satoki membawanya masuk? Selena menoleh ke belakang, dan benar saja, teman-temannya sudah tak ada. Kenapa tak ada yang mengajaknya masuk ke dalam? Menyebalkan sekali.
Setelah memberikan isyarat 'oke' pada Satoki, Selena berjalan perlahan memasuki pondok yang keseluruhannya terbuat dari kayu. Keren. Hanya itu kata pertama yang terlintas di benaknya. Dan ketika ia masuk ke dalam, Selena pikir dia akan menemukan perabotan yang berdebu karena jarang ditinggali pemilik. Tetapi nyatanya, di sini sangat bersih. Ditambah dengan perabotan yang modern, benar-benar mengundang decakan kagum.
"Ada berapa kamar deh di sini?" tanya Selena ketika melihat Lily tengah berjalan menuruni tangga.
"Enam. Semua kamar ada di lantai atas."
"Kamu di kamar berapa?"
"Dua. Kamar nomer satu ditempatin Audrey. Tiga sisanya ditempatin sama para cowok."
Selena mengangguk mengerti mendapati penjelasan singkat dari Lily. Setelah Lily berjalan santai ke arah luar, Selena mulai meniti anak tangga satu persatu. Telapak tangannya mengusap pegangan tangga yang dicat kecoklatan. Bau khas segar kayu tercium. Ketika sampai di lantai atas, ia bergerak perlahan, memperhatikan enam kamar yang saling berhadapan. Masing-masing kamar dipisahkan oleh sekat kaca yang terdapat hiasan air terjun. Selena mendekat, mengusap kaca yang memisahkannya dengan air terjun mini itu.
"Ini asli? Gila keren banget," gadis itu bergumam, mengagumi kekreatifan arsitek yang membangun rumah ini.
"Asli dong."
Suara yang menyambut gumamam Selena membuat gadis itu terkesiap. Inilah yang ia takutkan. Ah, dia tidak takut. Hanya saja merasa tidak ingin bertemu dengan sosok itu. Otaknya juga baru terpikirkan akan ucapan Lily sebelumnya, 'tiga sisanya ditempatin para cowok'. Jadi, benar kan apa yang diperkirakannya sejak tadi. Tak mungkin kalau dia tidak ikut.
"Apa kabar, Selena?" tanya Rieki setelah gadis itu membalikkan tubuhnya.
Selena menghela napas, tersenyum canggung. "Baik. Kamu gimana?"
"Yah, kamu bisa lihat sekarang gimana keadaannku," ucap Rieki seraya merentangkan kedua tangannya. Mungkin niat Rieki hanyalah ingin memberitahu bahwa dirinya baik-baik saja. Namun yang terlintas di pikiran Selena adalah Rieki ingin memeluknya.
'Kamu bener, aku memang pengen meluk kamu. Banget.'
'Jangan bercanda.'
'Aku gak bercanda. Aku serius.'
Selena mendengus. 'Jangan bilang serius pada seorang gadis kalo nyatanya kamu udah memiliki hubungan serius dengan yang lain,' ucapnya ketus lalu mengalihkan pandangan dari Rieki.
Selena tak mengizinkan Rieki untuk membalas telepatinya. Ia memasuki kamar nomer 3 yang sudah diberitahukan oleh Satoki tadi. Tidak sengaja tangannya membanting pintu dengan keras. Mungkin karena kaget telah bertemu dengan Rieki. Apalagi ucapan Rieki tentang dia yang ingin memeluknya, membuat rona merah tercetak jelas di wajah Selena.
***
"Ini bukan akal-akalan kalian kan, biar aku ketemu sama Rieki?" tanya Selena begitu mereka tiba di pantai. Meski matahari sedang berada di puncaknya saat ini, mereka tak menghiraukannya. Bahkan mereka semakin semangat bermain dengan air laut.
"Gue tau kalian gak butuh bantuan kita buat baikan," Audrey mengedikkan bahu. "Tapi, pantai ini punya keluarga Rieki." Kenyataan itu sukses membuat mata Selena melebar. Audrey tahu Selena pasti akan kaget. "Awalnya, rencana kita gak ke pantai ini. Lebih jauh lagi. Pas gue ketemu Kakek -"
"Tunggu. Kamu ketemu Kakek? Kapan?"
"Kemarin. Dia dateng ke sekolah gitu."
"Bohong."
"Buat apaan gue bohong?" Audrey mendelik sebal.
Selena hanya bisa menghela napas. "Jadi itu alasannya kenapa Rieki di sini ..."
Audrey melirik Selena yang memainkan pasir putih dengan telunjuknya. Ada perasaan mengganjal yang ingin ditanyakan langsung pada Selena. Hari itu, Kakek berkata lebih baik mereka pergi ke pantai pribadi milik seseorang yang dikenalnya. Dan tanpa disangka, pantai pribadi yang dimaksudkan olehnya adalah milik keluarga Rieki. Persyaratan lainnya yang diberikan oleh Kakek adalah, Rieki harus ikut. Jika dia ikut, otomatis dua lelaki lainnya juga ikut. Padahal ia ingin hanya ada mereka bertiga. Para gadis. Tanpa lelaki.
Jadi, kenapa Rieki harus ikut? Ada hubungan apa sebenarnya diantara Kakek dan Rieki? Ah, Audrey benar-benar penasaran. Tetapi dia tak bisa bertanya. Kakek bilang untuk merahasiakan hal itu.
"Audreeey! Selly! Ayo nyebur!" teriakan Lily dari arah laut membuat keduanya mendongak. Gadis itu benar-benar terlihat sangat menikmati pantai. Dia melambaikan tangan dengan bola karet yang ia jepit diantara pinggang dan lengannya.
"Ayo ke laut!" Audrey menarik paksa Selena hingga gadis itu memekik sebal.
Jujur saja, Selena tidak mahir berenang. Dia hanya bisa sedikit-sedikit, dan untung sekali di sekolah mata pelajaran olahraga tidak memasukkan renang sebagai nilai untuk salah satu ujian praktek. Kalau ya, Selena benar-benar harus berjuang dua kali lipat dari yang lainnya.
Pasir pantai di kaki Selena terasa sangat lembut. Bahkan rasanya ingin sekali berbaring di atasnya dan menikmati sengatan matahari yang akhir-akhir ini tertutup karena awan mendung. Oleh karena itu, mereka sangat beruntung karena hari ini cerah. Mereka tak mau membayangkan kalau perjalanan jauh mereka menjadi sia-sia karena hujan.
Satoki dan Lily yang sudah berada di dalam air lantas mencipratkan air kepada Selena dan Audrey. Seperti tak mau kalah, Audrey mengeluarkan pistol air dan mulai mengisinya. Selena yang ternyata juga membawa senjata langsung menembakkan air pada keduanya. Mereka tertawa, berbahagia. Berbeda dengan Rieki yang hanya bisa memandang keempatnya dengan tatapan hampa.
Bukannya dia tidak bahagia bertemu dengan Selena. Hanya saja, gadis itu masih menjaga jarak padanya. Bahkan ia sama sekali tidak mengerti kenapa sikapnya seperti itu. Apa jangan-jangan Selena benar-benar mendengar ucapan Claudia saat prom night itu? Kalau ya, artinya dia salah paham. Dan Rieki harus meluruskan segalanya. Dia tidak bertunangan dengan Claudia.
Ah, memikirkan sikap Claudia benar-benar membuatnya kesal. Sejak kapan teman masa kecilnya berubah menjadi menyebalkan seperti itu? Sangat egois. Hanya memikirkan kebahagiaan sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan orang-orang di sekitarnya.
"Jangan diliatin aja, samperin dong."
Suara Kei sama sekali tidak membuat Rieki menoleh atau menanggapinya. Bibirnya terkatup rapat, dengan tatapan lurus memandang Selena.
"Keras kepala," Kei menggelengkan kepala. "Dia nunggu lo buat jelasin semuanya. Selena memang gak bilang apa-apa sama Audrey. Tapi cewek itu sering nangis, hampir tiap malam."
"Jadi lo pikir, dia nangis karena gue?"
"Apa hati lo gak akan hancur kalau denger Selena sudah punya tunangan?"
"Maksud-lo?"
Kei menghela napas. "Gue ada di halaman belakang saat itu."
"Jadi bener, Selena ..."
"Yap. Dia dengar semuanya." Kei mengangguk. "Semua yang diucapin sama Claudia. Dia bertahan di situ sampai lo dicium sama Claudia."
***
Selena dengar apa yang dibicarakan oleh Claudia. Kalau begitu, apa dia dengar tentang seseorang yang masih ditunggu oleh Rieki selama ini? Apa itu juga adalah termasuk dalam daftar yang menjadikan Selena menjauh? Dia tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini. Bibirnya sangat gatal untuk menjelaskan segalanya pada Selena.
Tapi gadis itu selalu kabur saat Rieki mendekat. Lihat saja, saat acara barbeque sore ini, gadis itu berdiri di pojokan tanpa mau memandang Rieki yang jelas-jelas berada tepat di lurusan jarak pandangnya. Dia fokus pada makanan.
"Anna," panggilan Rieki sama sekali tidak diindahkan oleh pemilik nama.
Selena bahkan sudah bergegas untuk pergi. Namun tangan gadis itu ditahan Rieki.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Tentang tanggal peresmian pertunangan kalian? Enggak, makasih."
"Bisa berenti buat menyimpulkan sendiri?"
"Sikap dia memang jelek. Tapi lebih buruk orang yang gak mau mengakui kenyataan."
"Itu gak kayak yang kamu pikirin."
Tangan Rieki kini beralih mencengkram pergelangan tangan Selena. Tatapan tajam Rieki tak lepas dari mata Selena. Dia tidak mau melewatkan kesempatan ini. Yang dia mau, Selena harus mendengarkannya kali ini.
"Selama ini kamu udah mengabaikan segala macam telpon dan pesan dariku. Jadi aku harap, kamu bisa dengerin penjelasan aku sekarang -"
"Ciuman waktu itu ... adalah yang pertama buat aku," Selena memotong. "Aku pikir, kamu memang punya rasa sama aku. Gosip tentang kalian yang pacaran juga, gak aku dengerin. Karena aku pikir, kamu gak bener-bener pacaran sama dia. Karena ... yah, kamu selalu sama aku," matanya menatap manik Rieki. "Tetapi, aku salah. Kalian memang gak pacaran, tapi kalian tunangan."
"Udah aku bilang kan, jangan menyimpulkan sendiri!" suara tinggi Rieki membuat Audrey, Lily, Satoki dan Kei menoleh kaget. Keempat sahabat itu kaget bukan main melihat adanya pancaran kemarahan di mata Rieki.
"Itu kenyataan yang aku liat," Selena membuang pandangannya.
"Gak semua kenyataan bisa kamu liat."
Selena menghela napas saat melihat teman-temannya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Tidak mau mencampuri urusan mereka berdua.
"Kalo pun kita punya perasaan yang sama," Selena mengambil jeda sebelum benar-benar melepaskan cengkraman Rieki. "Kita gak bisa bersama. Karena aku udah punya tunangan."
"Aku gak peduli." Rieki menajamkan pandangannya.
Selena mundur beberapa langkah. "Tapi aku peduli," dia menarik napasnya dalam. "Kakek adalah satu-satunya keluarga yang aku punya, dan aku gak bisa nolak permintaannya."
"Claudia bukan tunangan aku."
"Dia tunangan kamu atau bukan, sekarang bukan urusan aku lagi."
"Tapi perasaan yang kamu punya, itu jadi urusanku."
Selena menepis genggaman Rieki untuk yang kedua kalinya. "Ini hatiku. Kamu gak perlu mencampuri. Tolong hargai keputusan aku yang ingin bahagiain Kakek."
Rieki menghela napas. Ia mengusap wajah dengan gusar setelah melihat Selena yang berjalan memunggunginya. Air mata yang sejak tadi ditahan gadis itu perlahan turun dengan sendirinya. Mengalir seperti air sungai yang tenang. Setelah menguatkan hati, ia menegakkan punggung. Berjalan menaiki tangga diikuti tatapan hampa dari sahabatnya yang sejak tadi memandangi keduanya dengan tatapan khawatir.
"Hubungan mereka berakhir?" Audrey bertanya dengan raut cemas.
Lily mengedikkan bahu, disusul tatapan tak berdaya Satoki. Kei sendiri hanya bisa menghela napas dan bangkit dari duduk. Menghampiri Rieki yang saat ini berjalan ke arah pantai di mana matahari sudah mulai tenggelam. Saat Audrey akan bangkit untuk mengikuti Kei, Lily menahannya. Memberikan isyarat bahwa hanya Kei yang bisa menenangkan hati Rieki sekarang.
***
"Aneh ya, kenapa Selena gak nolak pertunangan itu?"
Rieki melemparkan kerang kecil yang ia temukan di bibir pantai. Pandangannya tak lepas dari matahari yang sedikit lagi akan tergantikan bulan. Pemandangan yang sungguh indah menurut Kei, namun terasa menusuk karena melihat Rieki dalam keadaan tak tenang.
"Kenapa gak coba gagalin pertunangan dia? Kayak di sinetron-sinetron itu."
Rieki tertawa mendengar ucapan Kei. "Gue gak akan menggagalkan pertunangan dia."
"Bukannya lo cinta mati sama dia?"
"Karena gue cinta sama dia, gue gak akan gagalin pertunangan itu."
"Haa?" Kei semakin mengerutkan kening. "Aneh lo."
Rieki semakin tertawa mendengar ucapan Kei. Tetapi beberapa saat kemudian, sesuatu terlintas di benak Kei. Matanya terbelalak saat menyadari kesimpulan di benaknya. Dia menghadap Rieki, menatapnya penuh kecurigaan. Yang ditatap hanya bisa tersenyum simpul.
"Lo ... Jangan bilang ..." Kei menyipitkan mata.
"Sorry. Tapi gue gak pernah dapetin waktu yang tepat buat jelasin semua."
***