"Jadi ... Kamu adalah Quenna Selena Lovelia Louis, anak dari Fredick Demando Louis?" Pria di hadapan Selena yang diperkirakan berumur 40 tahunan itu sudah bertanya berulang kali tentang hal tersebut. Membuat Selena mengerang kesal dan lagi-lagi mengangguk. Sembari menyesap minuman dinginnya yang sudah tinggal setengah.
"Iya Pak, saya anak beliau."
Orang di hadapan Selena menutup mata selama beberapa saat sebelum benar-benar menatap gadis itu tepat di manik. "Jadi begini, kakekmu —"
"Aku punya kakek?!" potong Selena tak percaya.
Seberapa banyak yang diketahui orang ini sebenarnya? Sebelumnya, ia menyebutkan nama lengkap yang tidak pernah diizinkan untuk disebut oleh nenek dari pihak ibu. Dan sekarang, ia menyebutkannya secara berulang-ulang. Apalagi ketika nama lengkap mendiang ayahnya dijabarkan. Ah, dia benar-benar rindu dengan ayahnya itu.
"Ya, dia kakek dari pihak ayahmu. Beliau ingin membahas sesuatu dengan Nona," jawab Arnold dengan santai namun mampu membuat Selena seakan mati beku. Ia masih memiliki keluarga? Dia tidak sebatang kara di dunia ini?
"Selama bertahun-tahun—semenjak kecelakaan itu—kami selalu berusaha menemuimu. Kami ingin menjagamu, seperti nenekmu yang selalu berusaha melindungimu. Tetapi sikap keras kepalanya membuat kami kesulitan untuk bertemu denganmu," dia berjeda sebelum kembali menatap Selena. "Kalau saja kami tidak mendapatkan kiriman surat dari nenekmu setelah kepergiannya, mungkin kita takkan berbincang seperti ini sekarang."
Selena mengerjap sekali. Setelah kepergian nenek? Itu artinya, beberapa bulan yang lalu? Nenek mengirimkan surat pada mereka agar bisa menemukannya yang sebatang kara ini?
Tiba-tiba, ia mengeluarkan sebuah foto yang terlihat sangat usang. Selena tercekat. Ia tidak menyangka, pria di hadapannya ini memiliki foto ayah dan ibunya yang masih muda sedang menggendong bayi. Di samping ibunya, ada sosok nenek yang sangat ia rindukan. Selena mengusap sosok orangtuanya lalu beralih ke neneknya. Di dekat ayahnya, ada sosok seorang pria dan wanita yang sepertinya adalah kakek dan neneknya dari pihak ayah.
"Ini kakek?" tanya Selena sembari menyentuh wajah kakek itu. Sebagai jawaban atas pertanyaan Selena, Arnold mengangguk tegas.
"Ke-kenapa sepertinya nenek gak mau aku ketemu dengan kakek dari keluarga ayah?"
"Maaf, tapi kami tidak tahu alasannya."
Selena menghela napas lalu mendongak. "Baiklah ... Jadi, kapan aku bertemu kakek?"
"Saat ini, Nona."
***
Dari balik kaca jendela mobil, Selena menatap gerbang hitam tinggi menjulang dengan ukiran-ukiran sulit di berbagai tempat. Beberapa saat mereka berhenti karena harus melewati konfirmasi tentang kejelasan identitas orang yang akan memasuki rumah. Sebenarnya, ini bisa dikatakan seperti istana yang dihuni oleh para puteri, karena begitu besar dan mewah.
Tepat di tengah-tengah taman ada kolam besar dengan patung wanita yang mengeluarkan air dari tangan kanannya. Di sekitar kolam yang memiliki empat air mancur kecil itu, ada bermacam bunga mawar yang sangat cantik. Mulai dari mawar putih, merah, hitam, bahkan mawar pelangi pun ada. Sungguh, benar-benar mengagumkan.
"Kakek penyuka bunga, ya?" tanya Selena spontan.
"Sebenarnya, mendiang istri beliau yang sangat mencintai bunga mawar," jawab Arnold sopan seraya membenarkan letak dasi. Pakaian pria ini benar-benar rapi. Kemeja putih yang melekat di badannya terbalut jas hitam dan dasi berwarna hitam. Celana bahan yang pas dengan kaki jenjangnya itu menambah kesan tegas.
"Nona Selena," panggilan Arnold membuyarkan lamunan Selena. "Kita sudah sampai. Silahkan turun dari mobil."
Selena mengangguk paham dan segera turun setelah Arnold mempersilahkannya untuk keluar dari mobil. Beberapa saat pria itu hanya terdiam, membuat Selena juga membeku tidak bergerak. Melihat Selena hanya diam seperti patung membuat Arnold mendekatinya.
"Nona, Anda bisa langsung masuk ke dalam," ucapnya sopan.
"Eh-ah, kamu gak ikut masuk?"
Arnold terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan senyuman tipis. "Baiklah, saya akan mengantar Anda."
Setelah pintu utama terbuka secara otomatis, Arnold mempersilahkan Selena untuk berjalan mengikutinya. Baru saja masuk beberapa langkah di ruang utama ini, Selena tercengang. Ruang kosong yang dihiasi dua guci di sisi dua tangga besar melingkar itu terlihat sangat megah. Tangga lebar itu berputar mengelilingi ruangan hingga bertemu di satu titik.
Selena sangat terpesona dengan ini semua. Sebenarnya, sekaya apa keluarga dari pihak ayahnya ini? Ah, memang apa urusannya dengan Selena? Yang penting saat ini, Selena harus bertemu dengan kakeknya. Bertemu dengan satu-satunya keluarga yang dia miliki. Sampai akhirnya Arnold berhenti di sebuah pintu besar di lantai dua, Selena mengerutkan kening.
"Silahkan masuk, Nona. Beliau menunggu Anda di dalam," ujarnya sopan.
"Kamu gak ikut masuk?"
Arnold tersenyum kecil dan menggeleng sebelum menekan kenop pintu berwarna emas itu. Meski Selena tahu orang yang di dalam ini adalah kakeknya, namun tetap saja dia adalah orang asing. Seseorang yang tak pernah ia temui sebelumnya, yang tak ia kenali. Baru saja Selena masuk ke dalam ruangan, ia dengan jelas melihat seorang laki-laki tengah duduk menghadap jendela dengan buku bacaan di pangkuannya. Matanya yang rabun memakai kacamata untuk memperjelas pandangan.
"Se-selamat sore," sapa Selena sopan.
Dan ketika ia berbalik, Selena bisa melihat dengan jelas wajah kakeknya itu. Wajah yang sangat mirip dengan ayahnya. Wajah yang ia impikan akan bertemu dengan anaknya kelak. Namun itu takkan pernah terwujud karena ayahnya telah tiada.
"Kemarilah, Anna ..."
Anna. Panggilan yang hanya didapatnya dari keluarga. Dan tanpa sengaja, Rieki memanggilnya dengan nama itu juga. Mungkin karena panggilan itu lah, Selena berani menceritakan kisah kelamnya pada Rieki. Ah, Rieki. Dia sudah punya tunangan. Selena harus berhenti memikirkannya.
Setelah menyadarkan diri dari lamunan, Selena menghampiri sosok kakeknya yang tak pernah ia temui. Setelah menggenggam erat tangan keriput itu, Selena bertumpu pada kedua lutut agar bisa memandang lekat mata kakeknya yang berbingkai kacamata itu.
Beberapa saat mereka dalam keheningan, dan nyatanya air mata lah yang pertama kali terjatuh di pipi Selena. Dia tak kuat. Memandang kakeknya ini benar-benar seperti melihat mendiang ayahnya. Dia rindu ....
"Kenapa kau menangis, Anna? Tidak senang bertemu dengan Kakek?" tanyanya sendu seraya tersenyum tipis dan mengusap air mata Selena.
Selena menggeleng cepat. "Anna seneng banget bisa ketemu Kakek."
Mereka larut dalam kebahagiaan yang kata-kata pun tak mampu untuk menggambarkan bagaimana perasaan mereka saat ini. Selena memeluk kakeknya erat. Orang tua yang tengah menangis itu balik memeluk Selena sambil mengusap punggung cucu yang sangat ia rindukan.
"Begini, Anna. Ada yang perlu Kakek sampaikan," ujar kakek seraya melepaskan pelukan mereka. Mata Selena mengikuti gerak gerik kakeknya yang seperti enggan untuk membicarakan keinginannya.
"Kalau kakek memintamu untuk tinggal di sini, apa kamu bersedia?"
Selena terdiam di tempat. Tinggal di sini? Jarak rumah ini ke Rainbow Rose Academy bukannya memakan waktu sampai tiga jam? Lalu, bagaimana dengan sekolahnya nanti?
"Kalau kamu keberatan, Kakek tak masalah."
Selena mendongak, menatap manik mata kakeknya dalam-dalam. Keluarga satu-satunya yang dimiliki Selena, saat ini meminta dirinya untuk tinggal bersama. Mungkin dia kesepian tinggal sendirian di rumah sebesar ini?
"Anna mau kok, Kek," ucap Selena akhirnya dengan senyum lebar.
"Benar? Tak apa?"
"Iya."
Kakek menghela napas lega dan mengusap puncak kepala Selena. "Kalau begitu, kamu mau home schooling?"
Selena mendongak. Kakek sepertinya benar-benar ingin Selena menetap di sini. Ah, dia bisa apa? Bukankah ini hal paling membahagiakan yang terjadi padanya? Dia sudah memiliki seseorang saat ini. Seseorang yang takkan meninggalkannya hingga ajal tiba.
"Kamu boleh mengajak teman-temanmu menginap di sini," usul Kakek.
Selena mengangguk setuju dan mulai bangkit ketika Kakek menyuruhnya untuk duduk di sofa panjang empuk berwarna kecoklatan. Pergerakan mata Selena mengikuti Kakek yang melangkah mendekati ruangan kecil di sisi kamar. Selena penasaran tentu saja, tetapi ia memlih untuk duduk diam di tempat dan memperhatikan sekitar.
Ada banyak bingkai foto yang terpajang di atas meja panjang bergaya klasik. Beberapa diantaranya Selena kenal sebagai foto dari masa muda ayahnya hingga menikah dan memiliki anak. Sampai pandangannya tertuju pada foto anak perempuan berumur sekitar empat tahun yang bergandengan tangan dengan laki-laki. Selena yakin itu dirinya. Tapi laki-laki itu ... siapa?
"Anna, apa kamu ingat ini?"
Kakek tiba-tiba datang seraya menyodorkan kotak berukir bunga mawar yang sangat cantik. Selena hanya bisa menerimanya dengan bingung. Ketika ia membukanya, Selena bisa melihat ada kalung berantai platinum yang memiliki leontin semanggi berdaun empat. Tiga daun diantaranya dihiasi batu peridot yang sangat cantik. Berbeda dengan batu zamrud, permata dengan warna hijau olivia ini mudah retak jika terbentur keras. Selena yakin kakek sengaja menyimpan ini di kotak agar kalung ini terlindungi.
"Itu milikmu," ucapan Kakek membuat Selena menganga. "Semanggi berdaun empat ini melambangkan keberuntungan. Kakek selalu berhadap hidupmu dipenuhi keberuntungan."
Kalung seindah ini ... milik Selena?
"Dan juga, itu adalah lambang pertunanganmu."
Tunggu. Apa yang dia bilang?
"Tu-tunangan?!"
"Iya, dengan anak lelaki yang ada di foto itu," Kakek menunjuk foto anak laki-laki yang tadi sempat membuat Selena bertanya-tanya tentang identitasnya.
"Apa aku harus menikahinya meski aku tak mencintainya?" Selena bertanya dengan sangat perlahan. Bukannya menjawab, Kakek justru tersenyum tipis sembari menatap Selena dengan tatapan dalam.
"Kita akan memutuskannya setelah kalian bertemu nanti."
***
"Besok lo bener-bener mulai home schooling?"
Selena hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Audrey. Sahabat satu kamarnya itu benar-benar terlihat sedih. Melihat kesedihan Audrey ini cukup membuat Selena ingin menangis. Namun segera ditahan mati-matian ketika nasi goreng pesanannya telah datang.
"Jangan lupain kita, ya," bisik Lily pelan.
Gadis itu sudah mengambil tisu dan mulai mengusap air mata tak nyata yang mengalir. Alias dia berpura-pura menangis. Dasar Lily, ada-ada saja kelakuannya. Membuat Selena tertawa kecil dan memukul pundak Lily dengan gemas. Tetapi tingkah Lily tidak membuat pandangan Selena terhenti di dirinya. Matannya menatap sekitar, memperhatikan tiap orang yang masuk-keluar kantin.
Ketika tidak menemukan orang yang dicari, tak sengaja ia menghembuskan napas dengan kasar dan mulai menyendokkan nasi goreng.
"Gue tau lo pasti nyariin Rieki," Audrey nyengir lebar melihat tampang Selena yang lesu.
"Sok tahu banget!"
"Kita memang tahu, kok!" sahut Audrey dan Lily berbarengan. Mereka tertawa kecil, membuat Selena mendengus sebal dan mengerucutkan bibir.
"Dia gak masuk sekolah."
Celetukan Audrey membuat Selena mendongak.
"Jangan tanya gue kenapa. Kei gak kasih tahu alasannya."
Selena kembali lemas. Ia kembali mengaduk nasi gorengnya tanpa benar-benar memakannya. Entahlah, ia tak bernapsu. Padahal, ini hari terakhirnya bersekolah. Dan dia tak bisa bertemu dengan Rieki? Padahal dia sangat rindu. Biarlah. Lagipula, Selena sudah tak ada hubungan apa pun dengan Rieki. Ah, lagipula, sejak kapan ia memiliki hubungan dengan Rieki? Mereka kan bukan pacar atau sejenisnya. Hanya sekedar ... teman.
Kemampuan komunikasi mereka meningkat. Selena kini bisa melindungi pikirannya sendiri. Jadi, ia bisa mengatur kapan saja Rieki boleh mendengar atau membaca pikirannya. Begitu pula dengan Rieki. Dia bisa melindungi pikirannya. Namun untuk masalah pemanggilan jarak jauh ... hanya Selena yang bisa melakukannya. Rieki tidak bisa memanggil Selena seperti gadis itu memanggilnya saat tragedi penguncian gudang.
"Halo, Anna. Apa kabar?"
Selena tercekat. Siapa yang memanggilnya dengan sebutan Anna selain keluarganya dan Rieki? Kepala gadis itu berputar dengan cepat. Namun kalah cepat karena ternyata Claudia sudah duduk di sampingnya. Maya dan Sissy sudah berdiri di belakang Selena dengan wajah sangat menyebalkan.
"Kamu pengen apa sekarang?" tanya Selena tajam.
Mendengar nada sinis dari ucapan Selena, Claudia tertawa dan memutar kepalanya. Menatap kedua teman yang selalu mengikuti kemana pun gadis itu pergi. "Dia nanya apa yang gue pengen," Claudia berjeda untuk mendengus. "Jahat banget, ya?"
Maya dan Sissy hanya tertawa mendengar ucapan Claudia. Beberapa saat mereka saling pandang hingga akhirnya tangan Claudia dengan cepat mengambil botol saus dan menumpahkan hampir keseluruhan isinya di makanan Selena. Membuat gadis itu melongo tak percaya akan apa yang dilakukan seniornya ini.
"Lo ngapain sih?!" teriak Lily kesal.
Setelah teriakan Lily, meja mereka sukses menjadi pusat perhatian dari penghuni kantin. Tetapi saat mereka ditatap tajam oleh Sissy dan Maya, mereka membuang pandangan. Berpura-pura tak terjadi apa pun.
"Bukannya udah jelas?" Claudia tersenyum sinis. "Jauhin Rieki."
Bahu Selena melorot mendengarnya. Tanpa diberitahu pun, Selena akan menjauhi Rieki. Sejak saat prom night itu juga, Selena sudah tidak berkomunikasi lagi dengan pemuda itu. Ada yang kurang sih rasanya, namun Selena harus kuat. Lagipula, ia harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan calon tunangannya nanti.
Ah, kenapa di umurnya yang masih sangat muda ini harus ada kata pertunangan? Tak bisakah Selena memilih sendiri calon pemimpinnya di masa depan?
***
Sesampainya di kamar asrama, dengan cekatan Audrey membantu membereskan barang-barang Selena. Meski Kakek berkata Selena tak perlu membawa pakaiannya, namun gadis itu tetap membawanya sebagian besar. Dia memang home schooling, namun entah bagaimana caranya Kakek mengaturnya sedemikian rupa agar Selena tetap terdaftar menjadi siswa sekolah ini. Jadi, selena hanya akan datang ke sekolah ketika ujian tiba.
"Gak mau bawa ini?" Audrey mengangkat kotak lumayan besar.
Ah, Selena ingat isi kotak itu. Gaun dan sepatu pemberian Rieki di prom night. Mengingatnya saja sudah membuat hati Selena sakit. Sebagai jawaban atas pertanyaan Audrey, Selena menggeleng dan kembali mengemas barang-barangnya.
"Boneka? Gimana?" lagi-lagi, Audrey mengingatkan Selena akan barang pemberian Rieki.
Yah, mungkin memang sudah takdirnya dia akan mengingat Rieki selalu. Setelah memberikan barang-barangnya pada Arnold, Selena mendekati Audrey dan mengambil boneka panda tersebut sebelum memeluknya erat.
Benar. Boneka ini, saksi bisu di mana Rieki mengambil ciuman pertama Selena. Ah, begitu banyak kenangan yang ternyata baru terlewati selama beberapa bulan. Setelah menghela napas berkali-kali dan memperhatikan tiap sudut kamar yang pasti akan sangat dirindukannya, ia menggenggam erat tangan Lily dan Audrey.
"Sampai jumpa lagi ya, teman-teman."
***
Sudah beberapa minggu semenjak Selena tinggal bersama dengan kakek. Dan di dalam kamarnya yang bernuansa merah muda, dia belajar dengan metode home schooling. Sebenarnya membosankan, tetapi ia tak bisa berbuat apa pun. Apalagi saat melihat wajah kakeknya dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas. Tak mungkin bukan, ia meminta kakek untuk memulangkannya kembali ke asrama? Bersekolah biasa seperti sebelumnya.
Mana ada seorang cucu yang tega melihat kakeknya bersedih? Apalagi jika kakeknya itu adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki. Sudah dipastikan 100% sang cucu akan menuruti kemauan kakek, demi membahagiakannya.
Hal lain yang membuat Selena nyaman berada tetap di rumah megah ini adalah karena kakeknya senang menceritakan kehidupan orangtuanya. Bahkan kakek tak segan memuji kecantikan yang diwariskan Vivian—Mama Selena pada dirinya. Sekarang dia merasa kehidupannya yang sempat hilang kembali menghampiri.
Kalau jam pelajaran sudah usai, ia terbiasa mengurung diri di ruang kerja ayahnya dulu. Rak-rak besar menjulang tinggi dengan deretan buku tebal tak berdebu yang terawat membuat Selena membayangkan sosok ayahnya yang sedang bekerja. Sayang sekali, hanya bayang-bayang. Seandainya kenyataan, pasti saat ini ia akan lebih bahagia dari sekarang.
Bukan tanpa alasan Selena berdiam lama di tempat ini. Ada ruangan kecil, yang kata kakek adalah tempat favorit ayahnya ketika suntuk. Dan hasilnya? Selena juga menjadikan tempat itu sebagai lokasi favoritnya. Seperti sekarang, duduk terdiam menatap ponsel yang tak berhenti berdering.
Siapa lagi kalau bukan Rieki yang menghubunginya? Semenjak Selena tidak tinggal si asrama, pemuda itu selalu saja menghubunginya setiap hari. Biasanya hanya mengingatkan untuk tidak lupa makan dan beristirahat. Bahkan terkadang, Selena tak perlu menyalakan alarm, karena panggilan telepon di pagi buta dari Rieki selalu berhasil membangunkannya. Yah, meskipun Selena tak pernah mengangkatnya, Rieki tak pernah berhenti. Kenapa pemuda itu terlalu berusaha keras? Membuat Selena terlihat seperti orang jahat karena mengabaikannya.
Dan sekarang, jam dua belas siang. Ponsel Selena terus berdering, menampakkan nama Rieki di layar. Tetapi gadis itu hanya terdiam, sampai akhirnya suara kakek membuatnya terkesiap.
"Kenapa gak diangkat?"
Selena menggeleng. "Bukan telepon penting, Kek."
Kakek berjalan mendekat dan duduk di samping Selena. Menatap pekarangan rumah yang penuh dengan bunga mawar. Selena mengikuti arah pandang kakek sampai ponsel itu berhenti berdering dan memberikan satu pesan masuk. Rieki.
Rieki: Anna! Udah makan siang? Aku kangen kamu.
Selena menghela napas. Ada senyuman tipis yang tersungging sebelum ia kembali meletakkan ponsel tanpa berniat membalas pesan. Di saat ia berusaha untuk menjauh dari Rieki, kenapa pemuda itu tetap mendekat? Ia tak mengerti sama sekali ...
"Anna, apa kamu bahagia tinggal di sini?"
Selena mendongak mendengar pertanyaan seperti itu.
"Kakek tahu, untuk gadis sepertimu, tinggal di rumah besar dan sepi seperti ini, home schooling, pasti terasa sangat berat ...," Kakek tersenyum pahit. "Maaf karena Kakek egois memaksamu tinggal di sini."
Selena bergerak hingga tubuhnya menghadap kakek sepenuhnya. Ia menggeleng dan mengambil tangan kakek yang keriput. Terasa agak kasar, namun hangat.
"Anna bahagia tinggal di sini, Kek."
Ucapan itu tulus diucapkan Selena. Dia benar-benar bahagia tinggal bersama kakeknya. Hal terindah dalam hidup adalah tinggal bersama dengan keluarga, dengan orang yang benar-benar mengasihimu. Begitupula dengan kakek, ia benar-benar bersyukur bisa diketemukan kembali oleh cucunya.
"Apa kamu punya pacar?"
Selena mengerjap sekali, lalu menggeleng.
"Kalau orang yang dicintai?"
Gadis itu tidak bereaksi. Matanya tak berani bersitatap dengan kakek walau hanya sedetik. Jemarinya saling berkaitan dengan gugup. Bingung karena tak tahu harus menjawab apa pertanyaan kakek. Orang yang dicintai? Selena yakin dulu ia menaruh rasa itu pada Rieki. Tapi sekarang ....
"Aku gak punya." Selena akhirnya mengangkat wajah dan menatap kakeknya lurus-lurus.
Kakek tersenyum. Selena tahu betul apa yang akan dibicarakan oleh kakeknya sebentar lagi. Hal yang belakangan ini selalu diselipkan kakek di sela-sela perbincangan mereka.
"Kalau minggu ini Kakek mengatur pertemuanmu dengan dia, apa kamu bersedia?"
Kakek membicarakan dia lagi. Sebenarnya, seperti apa sosok calon tunangannya ini? Masih calon, belum pasti. Karena kakek bilang, semuanya akan diputuskan saat mereka bertemu nanti.
"Anna bersedia, Kek."
Tak ada yang bisa dilakukan Selena selain mengangguk menyetujui permintaan kakeknya. Selena akhirnya menyetujui pertemuan singkat itu. Selang beberapa menit mereka saling bersitatap, ponsel Selena memecahkan keheningan mereka.
Lily: minggu ini kita mau nginep di pantai. Ikut, yuk!
Ah, apa yang harus dilakukannya? Selena menggigiti bibir bawah, ia ingin sekali ikut bersama dengan Lily. Pasti Audrey juga akan ikut. Tetapi, bagaimana dengan pertemuan dengan calonnya nanti? Selena mendongak saat merasakan tangan kakek menepuk pundaknya dengan lembut.
"Pertemuan itu bisa dilakukan lain waktu," ujarnya dengan senyum bijak.
"Anna boleh ikut ke pantai?"
Kakek mengangguk. "Boleh ...," Selena bersorak kegirangan, tetapi perkataan selanjutnya membuat dia bungkam. "Tetapi, Arnold ikut bersamamu."
"Lho, kenapa, Kek?"
"Berbahaya jika kamu pergi sendirian."
Selena semakin bingung. "Aku kan bareng sama temen-temen, gak sendirian."
"Kamu gak tahu, Ann, dunia luar itu berbahaya."
Selena terdiam, tidak menyahuti ucapan kakek sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan ini. Selena menunduk. Memikirkan kakek yang begitu membatasi pergaulannya. Dia tidak melakukan hal buruk, bukan? Selena hanya ingin bersenang-senang dengan teman-temannya. Sebenarnya kalau Arnold ikut pun, tidak terlalu menganggu karena dia pasti hanya memperhatikan dari jauh. Tapi kan tetap saja, Selena merasa risih.
***