Clear and Understand

1905 Words
Selena berbaring di ranjang bersamaan dengan Audrey yang sedang membaca majalah di kasur seberangnya. Tangan Selena sejak tadi menyentuh bibir berulang kali. Selena benar-benar tidak menyangka, dia dicium Rieki beberapa hari yang lalu. Astaga. Mengingat hal itu saja membuat pipinya bersemu merah. "Kenapa sih lo? Aneh banget," ucap Audrey. Selena menggeleng keras. Apa? Bagaimana bisa ia memberitahu cerita memalukan itu pada Audrey? Ah! Rieki benar-benar membuatnya hilang kendali. Gadis itu bahkan sudah memunggungi Audrey dan menutup wajah dengan bantal. Merasa ada yang mencurigakan, Audrey bangkit dari kasur dan menggoyangkan pundak Selena dengan keras. "Selena! Cerita! Ada apaan? Gue penasaran abis sumpah." Beberapa saat mereka saling bergulat di kasur. Sampai akhirnya Audrey menggelitiki Selena tanpa ampun, gadis itu masih juga tidak mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Hingga sepuluh menit dalam keadaan tertawa sampai menangis, Selena menyerah. Audrey juga sudah lelah menggelitiki Selena. "A-aku ..." "Aku?" "Dicium ..." "Dicium?" Audrey mulai penasaran dan memukul wajah Selena dengan bantal. Merasa gemas karena Selena memutus kalimatnya per kata. "Cepetan! Jangan lama-lama!" "AkudiciumsamaRieki!" Audrey mengerjap beberapa kali. Tunggu. Apa yang dikatakan Selena? "Pake spasi kalau ngomong tuh!" lagi-lagi karena gemas, Audrey memukul wajah Selena dengan bantal. "Aku dicium sama Rieki," ucap gadis itu sebelum menutup wajahnya karena malu. "APAA?! GUE KEDULUAN!" Audrey mengerang kesal, ia duduk lemas di pinggir ranjang Selena dengan bibir mengerucut ke bawah. Selena yang melihat tingkah tak wajar dari Audrey lantas menepuk pundak sahabatnya. "Maksudnya apaan?" "Gue sama Kei pacaran. Tapi kita belum pernah ... ciuman." Selena menaikkan sebelah alis. "Pacaran kan gak harus ciuman." "Iya sih, tapi kan tetep aja ..." gerutu Audrey. "Jadi, kalian pacaran, kan?" "Apa? Aku sama Rie? Enggak. Kita masih temenan." Mata Audrey membesar seketika. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Selena mencium seseorang yang jelas-jelas bukan pacar dia? Mata Audrey menyipit, memperhatikan sahabatnya yang sebenarnya pintar atau bodoh? Baru saja pertanyaan lainnya akan meluncur dari bibir Audrey, terdengar suara seseorang meneriakkan kata 'paket' dari balik pintu. Ketika dibuka, ada satu kotak yang lumayan besar ditujukan untuk Selena. Setelah berterima kasih pada orang yang mengantarkan paket, Audrey dan Selena segera membukanya. Tetapi baru saja akan merobek kertas cokelat itu, ponsel Selena berdering. Dari Rieki ternyata. "Udah dapet paketnya belum?" tanya Rieki cepat sesaat sambungannya diangkat. "Paket? Eh? Dari kamu?" "Iya, buat nemenin aku prom night nanti. Inget kan kamu? Jangan bilang kalau lupa ..." Mata selena melebar seketika. Apalagi ketika Audrey mengeluarkan dress selutut berwarna putih cantik. Belum lagi high heels yang terlihat sangat menggiurkan dengan sparkle yang membalutnya. Astaga. Rieki benar-benar memberikan ini untuknya? Hanya untuk prom night nanti? "Selena? Udah dapet kan paketnya?" suara Rieki mengembalikan Selena ke alam sadar. Dengan cepat ia mengangguk tetapi tidak mengeluarkan suara apapun karena tangannya kini sudah menyentuh gaun dan heels pemberian Rieki. "Astaga ... Rieki bener-bener cinta mati sama lo ya!" Audrey berteriak keras saat melihat nama pengirim yang tercantum jelas di sana. Rieki yang tak sengaja mendengar ucapan Audrey lantas tertawa di sana. "Iya, gue emang cinta mati sama Selena, Audrey!" teriak Rieki tak kalah besar. Bukannya Audrey yang kaget akan ucapan Rieki barusan. Namun Selena-lah yang hampir saja terkena serangan jantung saking kagetnya. Jantungnya berdetak tak karuan, dan wajahnya langsung merona merah. "Selena? Kamu masih di sana gak sih?" Rieki mencoba berbicara dengan Selena, namun gadis itu masih menunduk dalam diam sambil menyentuh pipinya yang terasa sangat panas. Melihat Selena yang seperti itu membuat Audrey menarik ponsel gadis itu. Menggantikan posisi Selena yang sebelumnya berbicara dengan Rieki. "Gile anak orang lo apain tuh sampe mukanya kayak kepiting rebus?" "Hah? Kayak kepiting rebus?" "Iya! Hahahaha kalian romantisnya melebihi orang pacaran!" Ada secuil perasaan iri yang terbentuk melihat keromantisan Selena dan Rieki. Meskipun mereka tidak memiliki status, namun sikap mereka menunjukkan rasa kepedulian satu sama lain. Berbeda dengan dirinya dan Kei yang berpacaran namun terkesan seperti teman. 。 ღ 。 ღ 。 ღ 。 Pletak. "Buruan mandi! Jangan main game terus!" tegur Audrey ketika melihat Selena masih asik main dengan game di ponselnya. "Iya-iya, galak banget sih," gerutu Selena sambil mengusap kepalanya yang kena jitak oleh Audrey. Sudah hampir jam enam sore, dan Selena sama sekali belum siap-siap untuk prom nanti. Berbeda di sekolah lainnya yang mengadakan prom di akhir sekolah, Rainbow Rose Academy menyelenggarakan prom di malam setelah ujian akhir semester satu di kelas sebelas. Jadi, sebelum kenaikan kelas mereka bersenang-senang sepuasnya. Karena jika sudah kelas dua belas nanti, mereka harus benar-benar fokus untuk ujian kelulusan. Berhubung Selena, Audrey, dan Lily diajak oleh pasangan masing-masing yang kebetulan kelas sebelas, jadi ketiga gadis ini mengikuti acara senior mereka. Sembari menunggu Selena mandi, Audrey membuka lemari pakaian dan mengeluarkan dress sepanjang mata kaki berwarna putih polos dengan hiasan bunga di d**a sebelah kanannya. Gaun yang dipilih oleh Kei ini terlihat sangat mempesona di mata Audrey. Entah mengapa, di mata Audrey gaun ini terlihat seperti gaun pengantin. "Aku udah mandi!" teriak Selena tepat setelah gadis itu membuka pintu kamar mandi dengan keras. Audrey terkesiap dan mengelus dadanya berulang kali. Astaga. Terkadang, tingkah Selena itu seperti anak kecil. Dengan senyuman lebar, Audrey berputar dan tersenyum pada Selena. "Ayo, gue dandanin elo." 。*** Rieki hanya bisa terdiam menatap Selena yang baru saja keluar dari asrama putri. Rambut ikal Selena dikepang kecil lalu diikatkan ke belakang. Beberapa helai yang terjatuh di pundak gadis itu membuatnya terlihat sangat cantik. Gaun pilihan Mama Rieki memang tidak ada duanya. Ah, Rieki meminta bantuan Mama-nya untuk memilihkan gaun untuk Selena. Tetapi tentu saja, Rieki tidak memberitahukan identitas Selena meski Mama-nya sudah memohon. Audrey dan Selena sama-sama memakai gaun berwarna putih. Tentu saja, karena tema mereka malam ini adalah black and white. Di belakang keduanya, Lily tampak berjalan agak kikuk. Terlihat tidak nyaman dengan terusan panjang milik kakaknya yang sengaja dipinjam untuk acara ini. "Cewek-cewek kita emang mantep banget," gumam Satoki sambil manggut-manggut antusias. Kei pun tak bisa melepaskan pandangannya dari Audrey. Si kutu buku itu terlihat sangat berbeda malam ini. Begitu .... cantik. "Kenapa pada diem aja?" tegur Audrey ketika melihat tiga orang yang berdiri di hadapan mereka hanya terdiam tanpa berkata atau bergerak sedikit pun. Kei berdehem dan mulai menggandeng tangan Audrey setelah memuji gadis itu dengan kata 'cantik'. Satoki sendiri sudah tersenyum lebar seraya bertolak pinggang, meminta Lily untuk mengaitkan tangannya. Ketika dua pasang itu sudah berjalan agak jauh, Selena melirik Rieki yang masih tampak membeku. "Kita jadi ke prom night gak nih?" "Eh-ah, jadi." Rieki mengangguk kikuk dan mengambil tangan Selena. Beberapa saat mereka dalam keheningan hingga akhirnya Selena merasa agak kesal karena tak ada komentar apa pun tentang penampilannya hari ini. Apa dia tidak cantik? Ah, Rieki menyebalkan. 'Kamu cantik, banget. Sampe aku bingung mau bilang apa.' Selena terkesiap dengan apa yang terngiang di benaknya barusan. Ia hanya menunduk dalam diam, memperhatikan jalanan yag ditakutkan akan mengakibatkannya terjatuh karena baru pertama kalinya memakai high heels setinggi ini. 'Terima kasih,' balas Selena akhirnya. Selena akhirnya mengangkat wajah ketika sudah hampir sampai di aula. Sebenarnya tadi ia berada di belakang Audrey dan Lily, namun mereka sekarang ke mana? Apalagi ketika ia masuk ke dalam ruangan, musik berdentum keras. Menyebabkan hatinya seperti dipukul-pukul. Jujur saja, Selena kurang suka dengan suasana seperti ini. Oleh karena itu, ia meminta izin pada Rieki untuk mengambil minuman yang berada di pinggir ruangan. Sebenarnya sih bukan ingin minum, ia hanya ingin agak menjauh dari hingar-bingar. "Mau ke halaman aja?" "Ah-iya, boleh." Selena mengangguk mengerti. Namun saat matanya menangkap Lily yang melambaikan tangan padanya, Selena berbisik pada Rieki. "Lily manggil aku. Kamu duluan aja ke halamannya. Nanti aku nyusul." Rieki mengangguk mengerti. Mereka pun segera berpisah ke tempat tujuan masing-masing. Namun ketika Rieki sampai di pintu dekat halaman, ia bersenggolan dengan seseorang yang memakai topeng. Ini kan bukan pesta topeng? Dan kenapa pemuda bertopeng itu tersenyum padanya? Ah, Rieki tak peduli. Saat ini keinginannya adalah keluar dari suasana berisik yang mengganggu pendengarannya. Tetapi siapa sangka? Baru saja ia tiba di halaman belakang, dirinya dikejutkan oleh seseorang. "Lo ngapain di sini?" "Ah, jahatnya ..." gadis itu mengerang sebal lalu berjalan mendekati Rieki. Rieki yakin sekali, suara Claudia yang cempreng bisa terdengar sampai pintu masuk aula. "Aku baru pulang dari luar negeri lho. Kamu gak kangen sama tunanganmu?" "Lo bukan tunangan gue," desis Rieki. Claudia mendorong tubuh Rieki hingga ia mundur beberapa langkah. Api amarah terlihat menggebu di mata gadis itu. Rasanya ia ingin sekali menjambak rambut Rieki hingga habis tak bersisa. Marah, tentu saja. Dia yang selama ini selalu bersama Rieki. Dia yang selama ini selalu mencintai Rieki. Tapi kenapa pemuda bodoh itu memikirkan gadis yang tidak jelas keberadaannya? "Dia udah mati. Sampe kapan lo anggep dia masih hidup?" desis Claudia. "Bukan urusan lo." Claudia bukanlah gadis yang memiliki emosi stabil. Dia mudah sekali marah dan terbawa oleh perasaan. Mungkin hanya saudaranya yang masih bisa tahan atas perilakunya yang emosional. Saat mata tajam Claudia menangkap dua sosok yang berjalan memasuki halaman, dengan cepat tangannya menarik Rieki hingga bibir mereka bertabrakan. Rieki menghindar sebisa mungkin, namun ia tidak bisa bersikap kasar pada seorang wanita. Jadi dia mendorong tubuh Claudia dengan setengah kekuatan miliknya hingga gadis itu menjauh. "Lo gila!" teriak Rieki sambil mengusap bekas lipstik merah Claudia. Sedangkan yang dimaki hanya tersenyum dan melenggang pergi meninggalkan Rieki yang amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Kenapa Claudia seperti itu padanya? Dalam keadaan yang teramat panas baik hati maupun kepalanya, suara panggilan Audrey membuatnya menoleh. "Selena ke mana?" "Hah? Bukannya dia sama Lily di dalem ruangan?" tanya Rieki balik. "Enggak," Audrey menggeleng. "Tadi dia ke halaman belakang barengan sama cowok bertopeng gitu. Terus gue gak liat lagi deh dia ada di mana." Pemuda bertopeng? Jangan-jangan dia yang tadi dilihat Rieki sebelumnya? Siapa pemuda itu sebenarnya? Tunggu. Selena ke halaman? Berarti dia melihat kejadian saat Claudia menciumnya? Gila. Ini benar-benar tak terduga. 。 ღ 。 ღ 。 ღ 。 Selena berjalan dengan lunglai sambil menenteng heels di tangan kanannya. Kakinya terasa sakit karena memakai benda yang belum pernah dia kenakan sebelumnya. Wajah lesu serta jejak air mata yang sudah mengering seperti pelengkap kesedihan gadis itu. Tak jauh dari belakang Selena, pemuda yang topengnya sudah dilepaskan pun tidak mampu melihat wajah sedih Selena. Ia hanya menunduk dalam diam. Tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya tak lepas dari Selena yang sesekali berhenti demi menatap langit malam tak berbintang. "Makasih," ucapan pertama yang dilontarkan Selena untuk Justin. "Kalo kamu gak kasih tahu aku, sampai mati pun aku bakalan jadi pengganggu hubungan Rieki dan Claudia," bisik Selena lirih. "Kalo dari awal aku tahu mereka tunangan, aku gak akan deket sama Rieki. Seandainya aja aku dengerin ucapan orang-orang disekitarku ..." "Lo kan gak tau," Justin menelan ludah dengan berat. "Jadi lo bukan pengganggu." "Tapi tetep aja ...," Selena tersenyum getir. "Mereka udah bertunangan dan aku dengan jelas ganggu hubungan mereka." Justin tak tahu harus berkata apa lagi untuk menghibur Selena. Jadi yang dilakukannya hanyalah menyampirkan jas miliknya di bahu Selena. Tak hanya itu, ketika air mata Selena mulai mengalir lagi, topeng yang sebelumnya dipakai Justin kini sudah dipasangkan di wajah Selena. "Lo bisa nangis sepuasnya tanpa malu diliatin orang-orang," jawab Justin saat dipandang bertanya oleh Selena. "Sekali lagi, makasih." Tatapan kesedihan itu bukan hanya ditunjukkan oleh Selena. Justin pun, memandang Selena pedih sampai gadis itu benar-benar masuk ke dalam gedung asrama. Pikirannya sempat melayang ke masa lalu, saat di mana mereka belum mengenal kata cinta atau pun dendam. Cinta yang membuat segalanya indah, namun ia jugalah yang bertanggung jawab atas luka perih yang tersisa. Setelah menatap getir langit malam, Justin memutuskan untuk berputar arah. Menaiki mobil hitam yang sejak tadi mengikuti dia dan Selena. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD