BRADY POV
Hari ini aku sangat bersyukur karena kondisi papa mulai membaik. Dokter membolehkan papa untuk di rawat di rumah. Mama terlihat sangat senang karena tidak perlu berlama - lama di rumah sakit.
" Bapak Nyoto sudah diperbolehkan untuk pulang. Meskipun begitu beliau harus tetap dipantau kesehatannya"
" Terima kasih dokter atas bantuannya terhadap suami saya"
" Sama - sama Ibu Felicia. Kalau begitu saya permisi dulu"
Mama memelukku sangat erat dan aku bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari mata mama.
" Mama sangat senang papamu diperbolehkan pulang ke rumah. Mama tidak tahan berlama - lama di rumah sakit"
" Aku juga ma, yang penting papa sekarang sudah boleh di rawat di rumah"
" Ya sudah, sekarang kita bawa papa pulang ke rumah"
Akhirnya aku dan mama membawa papa pulang ke rumah.
***
DAISY POV
Aku sangat senang karena rencanaku berjalan dengan lancar. Max tidak bisa berhenti memandangku dan aku merasa risih dibuatnya.
" Kenapa kau melihatku seperti itu?"
" Kau terlihat sangat cantik, sayang. Aku tidak pernah bosan memandangmu"
" Aku lapar, sebaiknya kita mencari makanan"
Saat Max membawaku ke sebuah restoran, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria dan aku sangat terkejut ketika melihat pria itu adalah Brady.
" Brady!"
" Daisy, sedang apa kau disini?"
" Aku sengaja jauh - jauh datang kesini untuk mencarimu"
" Sebaiknya kau kembali saja ke New York. Aku disini banyak urusan"
" kenapa kau mengusirku seperti itu? Apa kau tidak kasihan melihatku?"
Tiba - tiba Max datang menghampiriku dan ia terlihat sangat cemburu saat melihatku bersama Brady.
" Ayo kita pergi dari sini!"
Max menarik tanganku dengan kasar dan aku berusaha memberontak untuk dilepaskan tetapi ia tidak mau mendengarkanku.
" Max! lepaskan tanganku! kau menyakitiku!"
" Siapa pria tadi?! kenapa kau terlihat akrab dengannya?!"
" Dia bukan siapa - siapa! kenapa kau sangat kasar padaku?!"
" Karena aku tidak mau melihatmu bersama pria lain! Kau hanya milikku!"
Rasanya aku sangat ingin menyingkirkan Max dari hidupku tetapi untuk saat ini aku masih membutuhkannya untuk melanjutkan rencanaku terhadap Brady.
***
BRADY POV
Aku tidak menyangka Daisy akan senekat itu mengejarku sampai ke Jakarta. Rasanya aku tidak ingin bertemu dengannya karena yang aku inginkan adalah ketenangan selama aku berada di Jakarta. Tiba - tiba aku teringat dengan Vilma dan aku mencoba menghubunginya.
" Halo Vilma"
" Brady, ada apa kau menelfonku?"
" Apakah malam ini kau ada acara?"
" Mmm, tidak ada"
" Bisakah aku mengajakmu makan malam?"
Vilma terdiam sejenak sampai akhirnya ia menjawab ajakanku
" Baiklah, aku mau makan malam bersamamu"
" Oke, kirimkan alamatmu, nanti malam aku jemput kau jam tujuh"
Rasanya aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Vilma setelah sekian lama tidak berjumpa dengannya.
***
VILMA POV
Aku sangat terkejut ketika Brady menghubungiku. Dia ingin mengajakku makan malam dan aku dengan bodohnya mengiyakan ajakannya. Entah kenapa aku tidak pernah bisa melupakan perasaanku pada Brady padahal sudah belasan tahun aku tidak berjumpa dengannya.
" Hei, kamu kok melamun aja? ada yang dipikirin ya?"
" Gak ada kok."
" Yakin nih gak ada yang disembunyiin?"
" Iyalah, kamu kok gak percaya sama aku?"
" Percaya kok, ayo kita makan siang deh"
Aku bersyukur memiliki teman sebaik Kate. Ia merupakan sahabat terbaikku selama aku berada di Jakarta. Rasanya aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Brady. Aku berharap bisa menampilkan yang terbaik saat bertemu dia nanti malam
***
ISABELLA POV
Akhirnya aku tiba di Jakarta setelah sekian lama aku tidak pernah menginjakkan kakiku disini. Rasanya aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Brady setelah aku mendapat kabar jika papanya sempat mengalami serangan jantung.
" Apakah kau siap bertemu Brady lagi?"
" Tentu saja aku siap"
" Mama tidak ingin melihatmu kecewa karena terlalu mengharapkan pria yang tidak pernah mencintaimu"
" Mama tenang saja, aku tidak akan pernah mengharapkan Brady kembali ke sisiku"
" Baguslah nak kalau begitu. Sudah saatnya kamu mulai membuka lembaran baru bersama pria lain"
Aku terdiam mendengar perkataan mama. Rasanya sampai saat ini aku belum bisa melupakan perasaanku terhadap Brady. Semakin aku mencoba melupakan perasaanku terhadapnya, semakinn batinku tersiksa karenanya.
Saat aku tiba di rumah orang tua Brady, mama Felicia menyambut kedatanganku dengan sukacita.
" Bella sayang, akhirnya kamu tiba di Jakarta. Mama sangat senang dengan kedatanganmu kemari bersama mamamu"
" Bagaimana keadaan papa sekarang?"
" Kondisi papa sekarang sudah membaik. Sekarang papa sedang beristirahat di kamar"
Tiba - tiba aku melihat Brady turun dari lantai dua dan ia terlihat terkejut melihat kedatanganku bersama mama.
" Mama, Bella, sejak kapan kalian datang?"
" Mama dan Bella baru saja tiba di rumah mu"
" Maaf tidak bisa menemani mengobrol karena aku ada urusan penting"
Rasanya aku tidak berani menatap Brady karena aku tidak sanggup menatap matanya yang membuatku terhipnotis. Saat Brady pergi, rasanya aku ingin sekali mengikutinya karena tujuan awalku kesini untuk bertemu dengannya.
***
BRADY POV
Aku tidak menyangka jika Bella dan mantan mertuaku datang ke rumah untuk menjenguk papa. Rasanya sudah seminggu kami tidak bertemu setelah perceraian kami. Aku tahu jika Bella masih mencintaiku dari caranya memperhatikanku. Meskipun begitu, aku daridulu menganggap Bella seperti adikku sendiri dan aku tidak pernah memiliki perasaan istimewa terhadapnya
Saat aku tiba di rumah Vilma, aku sangat terkejut melihat penampilan Vilma yang sangat elegan dan menawan. Seketika itu juga aku mulai tertarik padanya.
" Kau sangat cantik, Vilma"
" Terima kasih Brady"
" Ayo kita berangkat"
Aku mengajak Vilma masuk ke dalam mobilku dan ia terlihat sangat gugup saat duduk berdekatan denganku.
" Vilma, kau tidak usah gugup seperti itu. Lagipula aku tidak akan menggigitmu"
" Ternyata kau tidak pernah berubah"
" Hahaha, ternyata kau masih ingat kebiasaanku"
" Tentu saja Brady, kita berteman sejak taman kanak - kanak"
" Vilma, apakah kau saat ini memiliki kekasih?"
Tiba - tiba Vilma terdiam cukup lama sampai ia menjawab pertanyaanku
" Aku tidak memiliki kekasih. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
" Aku hanya ingin tahu saja. Maaf jika pertanyaanku menyinggung perasaanmu"
" Tidak apa - apa"
Tidak beberapa lama, kami tiba di restoran yang sudah aku pesan. Vilma terlihat sangat senang melihat pemandangan di restoran itu.
" Kau senang dengan tempatnya?"
" Tentu saja, darimana kau tahu restoran seindah ini?"
" Aku mencari di internet dan menemukan restoran ini lalu aku memesannya untuk kita berdua"
" Terima kasih Brady"
Tidak beberapa lama pelayan datang membawakan buku menu dan aku menyuruh Vilma untuk memesan makanan.
" Pesanlah makanan yang kau suka"
" Aku ingin memesan spaghetti dan salad saja"
" Mengapa kau memesan sedikit? Memangnya kau sedang diet?"
" Aku rasa itu bukan urusanmu"
" Oh oh oh, kenapa kau jadi sewot begitu? aku hanya bercanda sayang"
Tidak beberapa lama pelayan datang membawakan pesanan kami dan Vilma langsung menyantap makanan tanpa menghiraukan perkataanku sama sekali. Rasanya menyenangkan bisa menggodanya seperti dulu