VILMA POV
Brady yang ku kenal sangat jauh berbeda dari yang dulu. Brady sekarang tampak jauh lebih dewasa meskipun keusilannya tidak pernah berubah.
" Vilma, aku rasa kau semakin cantik. Pasti banyak pria yang menyukaimu"
" Begitulah"
" Apa kau sekarang memiliki kekasih?"
" Tidak, aku terlalu sibuk mengurus pekerjaanku sehingga aku tidak sempat memikirkan diriku sendiri"
" Maukah kau jadi kekasihku?"
Saat itu juga aku langsung tersedak dan Brady langsung menepuk pundakku lalu memberiku minum.
" Minumlah sayang"
Setelah selesai minum, aku berusaha menjaga jarak dengan Brady agar ia tidak mendekatiku
" Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah sudah baikan?"
" Sudah, sepertinya aku harus segera pulang"
" Kau belum menghabiskan makananmu"
" Aku sudah kenyang jadi aku ingin pulang"
" Baiklah, ku antar kau pulang"
" Tidak usah, biar aku pulang naik taksi saja"
" Biar aku saja yang mengantar"
Akhirnya dengan terpaksa aku memperbolehkan Brady mengantarku pulang ke rumah. Rasanya duduk berdekatan dengan Brady membuat jantungku berdebar kencang.
" Vilma, kenapa kau diam saja? Apakah kau sakit?"
" Aku tidak apa - apa"
Tidak beberapa lama kami sampai di rumahku. Aku berusaha menjaga jarak saat Brady berusaha mendekatiku.
" Brady, sebaiknya kau cepat pulang"
" Kenapa kau seperti memusuhiku? memangnya ada yang salah denganku?"
" Tidak ada yang salah denganmu. Aku hanya ingin istirahat"
" Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu"
Aku berusaha keras untuk tidak menoleh ke belakang karena aku tidak ingin tergoda untuk memanggil Brady Tiba - tiba Brady memelukku dari belakang dan rasanya aku tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya.
" Aku harap kau tidak menyesal meluangkan waktumu untuk bersamaku"
Tiba - tiba ada seseorang yang mengejutkan kami dan ternyata orang itu adalah Vincent.
" Ternyata ini yang kau lakukan saat aku berada di Moscow"
Brady terlihat sangat terkejut saat melihat Vincent yang menarikku darinya dan Brady terlihat sangat emosi saat Vincent menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah.
" Vilma, sebaiknya kau segera masuk ke dalam rumah!"
" Hei! kau jangan berkata kasar padanya!"
" Apa urusanmu?! Asal kau tahu, aku dan Vilma sudah bertunangan!"
" Aku tidak percaya dengan ucapanmu!"
" Tanyakan saja pada Vilma jika kau tidak percaya padaku"
" Vilma! apakah benar yang dikatakan pria ini?!"
Aku hanya mengangguk tanpa berani menatap mata Brady.
" Baiklah! Aku tidak akan mengganggumu lagi! selamat malam!"
Tidak beberapa lama Brady pergi dari rumahku dan rasanya aku merasa bersalah karena tidak memberitahu yang sebenarnya tentang pertunanganku dengan Vincent.
***
VINCENT POV
Rasanya sangat menyakitkan ketika mengetahui Vilma sudah bertunangan dengan pria lain. Aku memutuskan malam ini menghabiskan waktu di club malam dengan ditemani wanita penghibur yang tidak ada habisnya untuk menggodaku
" Sayang, aku temani ya. Pasti malam ini kau butuh seseorang untuk menghangatkan ranjangmu"
" Siapa namamu?"
" Aku Vero, kau siapa?"
" Berapa semalam?"
" Hanya dua juta saja, sayang."
" Terlalu murah untuk wanita secantik dirimu. Bagaimana kalau ku bayar sepuluh juta?"
" Benarkah sayang? Tentu saja aku mau"
" Tetapi kau tidak perlu tidur denganku. Kau hanya cukup menjalankan tugas dariku"
" Maksudmu tugas apa?"
" Sebaiknya kau ikut denganku sekarang"
" kau mau membawaku kemana?"
" ke apartemenku"
Aku membawa wanita itu ke apartemenku dan ia terperangah saat melihat isi apartemenku
" Wah, sangat luas dan mewah. Kau pasti sangat kaya raya"
" Aku mau mulai besok kau harus melaksanakan tugas yang aku berikan padamu"
" Baiklah sayang, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan"
Rasanya aku tidak sabar ingin balas dendam terhadap pria yang merebut Vilma dariku
***
VERO POV
Hari ini aku ditugaskan Brady untuk mendekati Vincent Marciano, seorang pria yang merebut wanita yang sangat disukai Brady. Aku mulai berdandan dan memakai make up andalanku yang pasti membuat semua pria terpikat.
Brady memberiku uang muka sebesar sepuluh juta, sisanya akan ia berikan jika aku berhasil membuat Vincent meninggalkan Vilma. Aku hari ini mengikuti Vincent kemanapun ia pergi sampai ia masuk ke dalam sebuah Coffee Shop. Aku berusaha mendekatinya dan duduk di depannya.
" Bolehkah aku duduk disini?"
Vincent mulai mengalihkan tatapannya ke arahku dan sepertinya ia tergoda dengan penampilanku yang sangat sexy.
" Tentu saja sayang. Silakan duduk. Tidak ada yang melarangmu untuk duduk di depanku"
Akhirnya aku memulai pembicaraan sambil aku menggodanya
" Vero, maukah nanti malam kau menemaniku untuk menghangatkan ranjangku?"
" Oooh, tentu saja sayang. Dengan senang hati aku bersedia menjadi teman tidurmu"
Vincent tersenyum sensual dan aku sangat senang karena sebentar lagi rencanaku akan berhasil untuk menaklukan Vincent.
***
VILMA POV
Setelah mengajar anak - anak, aku beristirahat sejenak di studioku. Tiba - tiba Brady datang menghampiriku dan rasanya aku tidak bisa menyuruhnya untuk pergi meninggalkanku.
" Vilma, maaf aku mengejutkanmu. Aku kesini hanya ingin minta maaf padamu atas kejadian tempo lalu"
" Tidak apa - apa. Itu semua bukan kesalahanmu"
Aku sangat terkejut ketika Brady memelukku sangat erat dan rasanya aku tidak ingin melepas pelukan Brady dari tubuhku.
" Brady..."
" Tolong, biarkan aku sejenak untuk memelukmu"
Aku beranikan diri untuk menatap mata Brady dan ia terlihat sangat merindukanku. Tiba - tiba Brady mencium bibirku dengan lembut dan aku terbuai oleh ciumannya yang memabukkan.
" Aku tahu kau memiliki perasaan yang lebih terhadapku"
" Brady, aku kira kau salah mengira tentang semua ini"
Aku langsung pergi meninggalkan studio dan tidak menghiraukan Brady yang berteriak memanggilku.
***
ISABELLA POV
Saat aku keluar dari salon, aku melihat Brady yang habis berteriak memanggil seseorang. Aku datang menghampirinya dan ia sangat terkejut dengan keberadaanku.
" Bella !"
" Maaf aku mengejutkanmu. Tadi aku melihatmu berteriak memanggil seseorang"
" Ah, iya. kau sendirian? dimana mamamu?"
" Mama tadi sedang berbelanja bersama temannya dan aku memutuskan untuk pergi ke salon"
" oh, begitu. Setelah ini kau mau kemana?"
"Sepertinya aku ingin pulang ke rumah"
" Bagaimana jika aku mengantarmu pulang ke rumah?"
" Baiklah kalau begitu "
Entah rasanya aku sangat senang saat Brady menawarkan untuk mengantarku pulang ke rumah. Sudah lama kami tidak berdua seperti ini dan aku sangat merindukan saat bersamanya.
" Brady, bagaimana kondisi papamu?"
" Kondisi papa mulai membaik"
" Syukurlah kalau begitu"
" Bagaimana kabarmu?"
" Aku baik - baik saja"
" Baguslah. Sebaiknya kau segera mencari pasangan. Usiamu sudah sangat cukup untuk berumah tangga lagi"
Aku terdiam mendengar perkataan Brady. Rasanya harapan ku untuk kembali bersamanya sangat kecil dan ia mengharapkanku untuk mendapat pasangan.
***
DAISY POV
Aku sangat lega karena sudah putus dengan Max. Aku lebih memilih untuk tinggal di Jakarta dan berusaha mendekati Brady agar ia mau kembali ke New York bersamaku. Aku berusaha mendatangi rumah orang tua Brady dan tidak beberapa lama aku melihat Brady keluar dari mobilnya dan saat itu juga aku langsung menghampirinya.
" Brady sayang"
" Daisy! Darimana kau tahu rumah orang tuaku?!"
" Itu tidak penting sayang, yang jelas aku kesini ingin mengajakmu kembali ke New York"
" Aku tidak akan kembali kesana dan sebaiknya kau pergi dari hidupku!"
Rasanya aku sangat murka mendengar Brady mengusirku. Saat itu aku berjanji tidak akan berhenti untuk mendapatkan Brady kembali ke sisiku