Jerman adalah negara dimana Jenna memulai karirnya. Dia mengikuti sebuah program Ausbildung di salah satu hotel ternama di daerah Kühlungsborn. Sebuah hotel dengan arsitektur eropa klasik yang berjarak sangat dekat dengan bibir pantai. Bahkan hanya perlu waktu 5 menit untuk berjalan kaki menuju Kühlungsborn Pier, sebuah dermaga yang bisa juga menjadi objek wisata.
Program ini mewajibkan Jenna untuk tiga hari bekerja dan dua hari menjalani studi. Semacam melanjutkan perkuliahan namun juga sekaligus bisa mendapatkan uang. Sangat menguntungkan bukan?
Namun sayang, angan-angan dan khayalan Jenna melambung terlalu tinggi. Hal yang Jenna pikir akan mudah dan menyenangkan justru yang terjadi adalah sebaliknya.
Bulan pertama di tempat ia bekerja terasa sangat berat. Selain dia harus beradaptasi dengan banyak hal baru, Jenna juga harus diuji dengan satu masalah yang cukup besar. Divisi pertama yang Jenna ambil adalah bagian housekeeping. Disanalah pusat segala masalah hidupnya dimulai.
Sore itu, Jenna bertugas di bagian laundry. Pengalaman yang minim, pikiran yang sedang kacau, dan tubuhnya yang sudah lelah membuat Jenna melakukan satu kesalahan kecil yang berdampak fatal. Jenna memasukkan sepasang lingerie merk La Perla yang seharga lebih dari dua belas juta ke dalam mesin pencuci. Hasilnya? Rusak, sudah pasti.
Berdasarkan keputusan dari pihak manajemen, Jenna harus menggantinya saat itu juga. Mereka terbilang sangat tegas, memang. Tidak mentolerir sebuah kesalahan apapun alasannya.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, Jenna masih berkutat dengan ponselnya. Menelepon beberapa teman dan saudara demi bisa meminjam uang. Sialnya, tak ada satupun di antara mereka yang memiliki uang sebanyak itu, apalagi harus ada malam ini.
"Ya Tuhan, mana aku sendirian di negeri orang," keluh Jenna seorang diri.
Panggilan dan keluhan ke kesian yang terdengar menggunakan Bahasa Indonesia cukup menarik perhatian seorang lelaki. Jenna duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat dimana lelaki itu berdiri. Tanpa Jenna sadari, dia terus mengamati Jenna seraya berdiri di sebelah mobil mewahnya.
Gerak-gerik Jenna yang terdengar seperti sedang membutuhkan pertolongan membuat lelaki itu berkeinginan untuk memberinya bantuan. Dia berjalan mendekat hingga wanita di hadapannya menyadari kehadirannya.
"Hai, maaf mengganggu. Indonesia?" tanya lelaki itu.
Jenna cukup terkejut, namun ia juga mengangguk. Dia seperti ada di alam mimpi. Lelaki tampan yang wajahnya eropa sekali sedang berdiri dan menyapanya menggunakan bahasa Indonesia.
"Aku Nick," ucap lelaki itu seraya menyodorkan tangan kanan.
"Jenna," jawabnya seraya menyambut uluran tangan dari Nick.
Keduanya sempat sejenak berbasa-basi. Katanya, ayah Nick tinggal di Indonesia. Itulah mengapa ia sedikit banyak bisa paham walau belum terlalu fasih. Jenna membalas setiap percakapan dengan sangat ramah. Kesan pertama baginya adalah, Nick orang yang sangat menyenangkan.
"Anggep aja aku juga orang Indonesia. Dan sebagai sama-sama orang Indonesia di tanah Eropa, kita bisa berteman kan?"
"Sure," jawab Jenna.
Tak lama kemudian, Jenna mulai menceritakan sekilas tentang pekerjaan dan juga mengenai masalah yang sedang dia alami. Hingga pada akhirnya, Nick pun menawarkan jalan keluar. Menerima bantuan dari lelaki asing adalah tindakan yang sangat bodoh, memang. Namun saat ini Jenna tidak lagi punya pilihan. Lagi pula, lelaki itu terlihat baik. Dan juga …. eemmmm tampan. Sangat tampan.
"Udah seharusnya sesama teman saling membantu," ucap Nick saat itu.
Hanya dalam hitungan detik, nominal uang di rekening Jenna sudah bertambah £1.000. Sedikit lebih banyak dari nominal yang Jenna butuhkan. Semudah itu. Sungguh hal yang seperti diluar nalar, namun benar-benar nyata terjadi.
"Aku bakal cicil mulai awal bulan saat aku gajian," ucap Jenna.
"Ok. Tapi untuk sekarang, boleh aku minta bantuanmu juga?"
Sudah Jenna duga. Semua yang dia dapatkan sudah pasti tidak gratis. Walau berat, mau tak mau Jenna menganggukkan kepalanya. Dalam hati, dia berdoa, semoga saja lelaki ini tidak meminta macam-macam. Semoga saja, nyawanya tidak terancam.
Diam-diam, Jenna berpikir tentang perdagangan manusia yang belakangan ini marak terjadi. Jangan-jangan dia akan dijual. Atau organ dalamnya akan diambil untuk dijadikan donor untuk seseorang yang sedang membutuhkan.
Ya Tuhan, tolong jangan, ucap Jenna dalam hati.
Nick sedikit tersenyum geli melihat Jenna terbengong sambil terus menggelengkan kepalanya. Dia bisa menebak bahwa Jenna pasti sedang berpikiran yang tidak-tidak.
"Jangan mikir aneh-aneh," ucap Nick.
Jenna hanya meringis. Masih diam dengan mata yang terus menatap lurus ke arah wajah Nick. Melihat Nick menarik napas, Jenna latas merapatkan kedua bibirnya, menunggu kata selanjutnya yang akan Nick ucapkan.
"Tolong berpura-pura jadi pacarku sebentar aja, pinta Nick.
"What?!" jawab Jenna yang tak bisa menutupi keterkejutannya.
Sedari awal Nick sudah menduga akan mendapatkan respon seperti ini dari Jenna. Permintaannya memang terdengar aneh. Namun jujur saja, Nick sedang sangat terdesak. Kali sekarang, hanya hal inilah yang terlintas di kepalanya.
"Keluargaku mau ngenalin aku sama seorang wanita. Aku nggak suka sama dia. Kalo wanita itu tau kalo aku udah punya pacar, dia pasti mundur dengan sendirinya," terang Nick.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Jenna.
Dia mulai was-was. Dia lebih baik menolak dan akan mengembalikan uang £1.000 itu jika Nick meminta hal yang diluar nalar. Menjadi kekasih bayaran saja sudah tergolong sesuatu yang tidak masuk akal. Jangan sampai Jenna semakin terperosok pada hal yang lebih tidak masuk akal.
"Nggak ada. Cukup berdiri disini sama aku sampai wanita itu datang."
Tidak sulit, pikir Jenna.
Semoga benar hanya ini yang lelaki itu pinta. Walau masih sedikit ragu, namun Jenna tetap menuruti permintaannya. Lagi pula, wanita yang Nick maksud katanya akan datang kurang dari sepuluh menit lagi. Tidak akan lama.
Sambil sedikit berbincang, Nick mulai bisa mencairkan suasana. Jika dihitung mungkin hanya sekitar lima menit saja. Hingga pada akhirnya, sudut matanya menangkap kehadiran seseorang seseorang. Saat inilah sandiwara harus mereka jalankan.
"Maaf, bukan bukan maksud mau lancang. Tapi aku pengen lebih meyakinkan aja kalo kita pacaran," ucap Nick seraya melilitkan lengan mengitari sebagian tubuh Jenna.
Jenna memaksakan sebuah senyuman. Menahan geli sekaligus risih. Namun lagi-lagi dia mencoba menguatkan diri. Lagipula, ini hanya pura-pura.
Dan benar saja. Semua berjalan sesuai rencana. Seorang wanita Jerman datang dengan raut wajah masam. Melihat dirinya berada dalam rengkuhan tangan Nick, membuat wanita itu naik pitam. Dia mengumpat ke arah Nick, menamparnya satu kali, kemudian langsung berlalu pergi.
Sepeninggal wanita itu, Nick sontak tertawa. Cukup lama hingga ia memegangi bagian perutnya. Entahlah. Mungkin baginya memang selucu ini bermain-main dengan perasaan seseorang.
"Makasih, Jenna. Semoga masalahmu cepat selesai," ucap Nick sebelum ia lenyap dibalik mobil mewahnya.
Jenna menanggapi sekedarnya kemudian melepas kepergian Nick perantara sebuah lambaian tangan. Sudah? Hanya seperti ini? Mudah sekali, batin Jenna.
Setelah itu, Jenna sungguh tidak menyangka bahwa ia benar-benar dibiarkan bebas. Dia bisa membayar ganti rugi lingerie mahal itu, program magangnya tetap berjalan lancar, dan dia juga bisa tidur nyenyak.
Hingga tiba pada bulan berikutnya, Jenna menepati janji untuk membayar sedikit demi sedikit uang yang ia pinjam. Tidak memberatkan. Dia hanya perlu transfer £100 tiap gajian selama sepuluh bulan. Tentunya tanpa bunga.
Sungguh saat itu Jenna merasa Nick adalah malaikat tanpa sayap. Seorang sosok manusia sempurna yang selalu ia puji tiap hari sebelum matanya memejam. Walau selama sepuluh bulan mereka tidak bertemu, Jenna selalu berpikir betapa beruntung dirinya dipertemukan dengan lelaki seperti Nick.
Namun semua itu tidaklah lama. Bulan terakhir saat Jenna berniat membayar £100 terakhir, Nick memintanya untuk bersua. Jenna tidak menolak tentu saja. Sayangnya pertemuan yang Jenna kira akan menjadi indah, akhirnya berujung musibah.
Jenna menumpahkan segelas minuman di atas laptop Nick yang katanya berisi banyak file pekerjaan. Belum selesai dengan itu, dengan ceroboh Jenna tidak sengaja menjatuhkannya dari atas meja. Niat hati ingin mengambil tisu demi menyeka air dari atas keyboard, sikunya justru berulah dan membuat laptop Nick terjun bebas.
Moment yang tepat, pikir Nick.
Dia sedang bingung mencari alasan untuk kembali menolak perjodohan. Keluarga Nick sudah menyiapkan puluhan kandidat yang akan dijadikan sebagai pasangan. Jika satu tidak cocok, maka akan dihadirkan wanita selanjutnya.
Masalah yang bagi Nick tidak ada habisnya ini, membuat otak Nick memunculkan ide cemerlang. Jenna dulu pernah membantunya satu kali, dan berhasil. Kini Nick berpikir, bahwa untuk menggagalkan pertemuan-pertemuan selanjutnya, sepertinya Jenna bisa ia manfaatkan.
"Disini ada banyak file kerjasama yang jika diuangkan akan seharga dengan ribuan saham perusahaan. Kamu harus bayar mahal," ucap Nick dengan raut wajah yang dia ubah menjadi sedingin mungkin.
Wajah Jenna berubah pias. Dia tidak menyangka bahwa dampak kecerobohannya akan sefatal ini. Di matanya, Nick benar-benar memunculkan aura yang mengerikan. Tidak seperti Nick yang dulu awal pertama kali mereka bertemu.
Berbanding terbalik dengan Jenna yang sedang ketakutan, dalam hati Nick justru tengah bersorak girang. Semua ini tentu saja hanya alibi. File perusahaan tersimpan aman di kantornya. Kerusakan laptop juga tidak seberapa. Uang Nick bahkan cukup untuk membeli laptop sekaligus beserta tokonya.
Namun, Nick memang sedang melancarkan rencananya. Dia sengaja tidak membiarkan Jenna lepas begitu saja. Baginya, Jenna kali ini bisa menjadi aset yang sangat berharga.
Pertemuan mereka pada sore itu berakhir dengan luapan kemarahan Nick yang hanya pura-pura. Bahkan satu minggu setelah pertemuan itu, Nick sengaja berbohong kepada Jenna. Dia bercerita bahwa perusahaannya mengalami banyak kerugian akibat diputusnya kerja sama secara sepihak. Nick mengarang cerita tentang file presentasi yang hilang sehingga meeting dengan klien berujung berantakan. Bodohnya, saat itu Jenna percaya begitu saja.
Sejak kejadian itu, Nick berubah menyebalkan. Dia semakin sering meminta Jenna menjadi pacar bayaran, dan terkadang menemani sebagai asisten pribadi.
Walau semakin lama Jenna sadar bahwa dia hanya dimanfaatkan, namun dirinya tak bisa berbuat banyak. Nick mengancam untuk membuat pihak hotel tempat ia bekerja tidak mengeluarkan sertifikat tamat Ausbildung jika Jenna tidak menurut. Sialnya, hotel itu adalah salah satu milik perusahaan Schneider. Lagi-lagi Jenna dilemahkan karena kekuasaan.
Puncak masalah terjadi saat Jenna menyelesaikan tahun ke tiga program Ausbildungnya. Tepatnya, sekitar dua bulan yang lalu. Saat itu, Nick memaksanya tinggal bersama di penthouse miliknya. Tujuannya lagi-lagi adalah untuk membuat wanita pilihan keluarganya mengira bahwa Nick telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Beruntung, saat itu sertifikat sudah Jenna dapat. Keberuntungan selanjutnya, pada hari ke tiga mereka tinggal bersama, Jenna berhasil kabur dari penthouse milik Nick. Dan keberuntungan ketiga adalah Jenna berhasil pulang ke Indonesia dan terlepas dari jeratan setan lelaki Jerman.
Sayangnya, malam ini Jenna mendapat kesialan yang berkali lipat lebih besar dari sebelumnya. Pesta pernikahan salah seorang teman membawanya pada Nick yang kembali dengan tawaran yang lebih gila.
Pernikahan.
Tidak waras bukan? Yang benar saja.
***
"Aku harus pulang, Nick. Besok kita bisa bicarakan tentang gimana caranya aku bisa ganti rugi. Please," pinta Jenna setelah keduanya memasuki apartemen Nick yang ada di pinggiran kota.
"Dan membiarkanmu kabur seperti dua bulan yang lalu? Aku tidak sebodoh itu, sayang."
"Aku pergi karena aku harus cari kerja. Gimana aku dapet uang buat bayar kamu kalo aku nggak kerja?"
"Aku kasih kamu pekerjaan."
Jenna tidak tertarik sama sekali dengan tawaran Nick. Lelaki satu ini selalu licik. Jenna sudah paham betul.
"Kali ini aku serius. Kita tulis di atas kertas, jadi kamu bisa tuntut aku kalo aja aku sampe melanggar perjanjian. Hanya satu tahun. Setelah itu, kamu bisa pergi dan aku nggak akan usik hidup kamu lagi," lanjut Nick.
Jenna yang semula membuang wajah, kini mulai tertarik dan menatap mata Nick. Mencari sebuah kejujuran dan juga kesungguhan.
"Setelah satu tahun, kita lupakan soal ganti rugi. Semuanya aku anggap lunas. Selain itu, kamu juga akan aku bayar berapapun yang kamu mau," ucap Nick lagi seraya mengulurkan sebuah cek yang masih kosong.
"Kerja apa?" tanya Jenna.
"Kerja sama aku. 24 jam sama aku."
"Sebagai?"
"Istriku."