Teman Masa Kecil

1132 Words
Bella Pov Memang tidak mudah merintis sesuatu dari awal. Toko kue yang dibuat Bella memang sudah mulai ada pembeli, tapi tidak selalu habis terjual semua. Tapi Bella masih selalu optimis bahwa ini yang terbaik. Meski rasa rindunya pada suaminya begitu besar. Namun demi anak-anak, dia harus kuat. Dia ingin suaminya membuka matanya bahwa mami Risa tidak selalu benar. Kehidupan serba mewah, gengsi yang terlalu tinggi, membuat keluarga mas Yoga serasa jauh dari Bella. Mas Yoga memang anak tunggal, dan dia mengemban semua usaha keluarganya, semua berat memang, tapi saat meninggalkannya, Bella sudah yakin. Meski setelah dia pergi dan kembali suatu hari nanti, dan menemukan mas Yoga memilih orang lain, dia bisa terima. Tapi sampai hari ini, dalam hati kecilnya dia masih yakin mas Yoga masih mencintai dia dan tidak akan mengkhianati dia. [Siang bu, bapak berantem dengan Nyonya kembali.] Terlihat sebuah pesan masuk di ponsel Bella. Bella menarik nafas lega membacanya. Setidaknya kepergiannya memberi dampak baik buat suaminya. Dia berharap kalau suaminya akan bisa mengambil keputusan tanpa campur tangan ibunya. Bella memang mwnempatkan seseorang di sekitar Yoga untuk tahu bagaimana keadaan Yoga. Tiba- tiba pintu toko terbuka dan pegawai Bella sudah tersenyum menyambut tamu itu. Setelah memilih, dia hendak membayar dan Bella yang berdiri di kasir pun sudah tersenyum menyambutnya. "Jadi berapa bu bos?", Bella mengernyitkan dahinya. Meski tangannya tetap bekerja memasukan semua pesanan pelanggan yang baru masuk ini. "Seratus tiga puluh lima ribu." "Masih tidak ingat siapa saya?", kata orang itu sambil menyerahkan dua lembar seratus ribu. "Maaf?" "Bener kata Indra, kamu pasti lupa siapa saya." "Maaf aku kenal bapak?" "Buset setua itu aku dipanggil bapak?" Bella mengernyitkan dahinya lagi. "Gery, kamu ingat?" "Gery? Kak Gery? Temen kak Indra yang gendut itu?", tapi Bella tersadar dan menutup mulutnya. "Sorry." Gery tertawa, "Jadi yang diingat, Gery si gendut?" Bella hanya tersenyum. "Beda banget kak.", karena yang di hadapan Bella saat ini, Gery dengan badan tegap, terlihat badan yang terawat dan pastinya selalu olahraga. Rahang yang tegas dan terlihat bulu tipis di bagian dagunya. "Kamu dan aku ketemu terakhir ada kali dua puluh tahun lalu, Bel.", mereka duduk di sofa toko dengan segelas minuman di hadapan mereka. "Jadi kamu kembali? Aku kaget denger dari Indra kemarin." "Iya kak." "Kamu nggak banyak berubah Bel." "Kakak yang berubah banyak ya?", kata Bella sambil terkekeh. "Iya, iya, dari si gendut tukang makan jadi si jelek tukang pukul.", tawa Gery. "Aku nggak bilang gitu loh." "Sadar diri Bel.", ucap Gery. "Nggak kok. Pasti banyak cewek yang naksir kak Gery." "Kamu juga?" "Kecuali aku.", ucap Bella memeletkan lidahnya. Gery memang teman main kak Indra waktu kecil, dan mereka selalu bermain di rumah kak Indra. Setiap Bella kesana pasti bertemu dengan Gery. Sehingga mereka jadi kenal dan sering main bareng. "Kamu sudah menikah Bel?", Bella mengangguk. "Lalu bercerai?" "Nggak kak. Aku hanya kabur sementara." "Kabur?" "Panjang ceritanya kak. Kapan- kapan aku cerita." "Oke. Selama disini, kamu bisa minta bantuan aku. Curcol juga boleh.", Gery tersenyum pada Bella. Untung Bella sudah jatuh cinta pada mas Yoga. Kalau nggak melihat senyum Gery, bisa klepek- klepek kaya ikan yang diangkat dari air. "Kak Gery belum menikah?" "Belum." "Masa?" "Masa aku bohong. Tanya Indra aja kalau nggak percaya." "Memang di kota ini nggak ada wanita yang deket sama kak Gery?" "Deket banyak, tapi nggak ada yang secantik kamu Bel." "Ih apaan sih kak Gery. Aku mah upik abu. Mana level sama kegantengan kak Gery.", tawa Bella. "Nggak boleh gitu Bel. Upik abu bisa punya anak dua, cantik- cantik lagi." "Kok kak Gery tahu?" "Aku follow medsos kamu. Tapi kamu malah nggak follow aku." "Masa?" "Tuh kan nggak tahu.", Gery kembali tertawa melihat wanita di depannya melongo. "Tapi yah kan kak Gery berubah, ini nggak ada si kak Gery si pipi tembem loh " "Ya ya ya." Bella tertawa melihat Gery membalas dengan pasrah. "Lalu kenapa meninggalkan suami kamu Bel? Kamu terlihat bahagia dengan suami kamu." "Aku bahagia dengan mas Yoga, tapi tidak dengan keluarganya." "Oh. Karena itu kamu kabur?", Gery memberi tanda petik di kata kabur. Bella tertawa melihat tanda petik yang Gery berikan. "Iyah bisa dibilang begitu. Aku mau suami aku ngerti apa yang aku dan anak- anak harapkan dari dia." "Semoga suami kamu cepet sadar, kalau nggak, aku rela antri paling depan buat jadi pengganti dia." "Becanda aja kak Gery." Mereka tampak akrab ngobrol berdua. Meski sudah lama tak bertemu, tapi kecanggungan itu sirna dengan sikap konyol Gery yang membuat Bella tertawa lepas. Melupakan masalah yang seringkali membuat dia menangis di tengah malam. "Kalau gitu aku pamit dulu. Oh ya boleh minta nomor kamu dong?" "Boleh kak. Sebentar." "Udah ribet amet, mana ponsel kamu?" Bella menyerahkan ponselnya. Dan terlihat Gery memencet layar ponsel tersebut lalu tersenyum mengangkat ponselnya. "Kalau ada apa- apa telepon aku aja, aku siap bantu kamu kok Bel." "Makasih ya kak." "Belum bantu apa- apa udah makasih aja." "Yah makasih mau jadi temen aku yang siap kalau diminta bantuan.", ucap Bella tersenyum. "Kamu ya. Iya, pokoknya ada apa hubungin aku aja. Apalagi kalau si bos lagi sibuk, nggak bisa digangguin." "Si bos?", Bella mengeryitkan dahinya. "Bos indra.", Gery tertawa menjawab Bella. "Oh kak Indra." "Sebut aja terus nama gw. Sampe gatel denger nama gw disebut terus.", tiba- tiba kak Indra sudah berdiri disamping Bella. "Tumben bisa keluar kantor." "Bisalah. Kalau jengguk adik gw satu ini, pasti bisa. Apalagi radar gw mendeteksi ada perjaka tua yang ngegodain adik gw." "Sialan lu! Perjaka tua mana ada yang ganteng kaya gw.", ucap Gery yang mengempit leher Indra. Bella tertawa melihat kedekatan mereka. Memang dari kecil, Gery dan Indra dekat dan menjadi sahabat. Bahkan sampai sekarangpun mereka tetap bersama. "Jadi udah borong roti Bella?" "Udah dong. Nih lu liat gw udah beli ya, dan mungkin akan jadi pembeli setia disini." "Bagus. Kalau perlu lu borong aja semua ya." "Iyah sekalian yang punya ya?", ucap Gery. "Nih bogem mau?", ucap Indra mengepalkan tangannya ke udara tepat didepan muka Gery. "Udah ah! Gw mau balik dulu. Gw ada rapat nanti siangan." "Yaudah gih pergi jauh- jauh!" "Males gw ketemu lu juga.", Gery mengalihkan pandangannya ke Bella. "Aku balik dulu ya" "Iya, makasih ya kak Gery. Sering- sering main kesini ya kak." "Pasti Bel. Kalau perlu kakak yang borong.", ucapnya seraya keluar dari toko. Namun di kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari tadi. Mata yang memandang dengan pandangan sedih dan marah. "Rame Bel?" "Lumayan sih kak," "Percaya nanti pasti banyak. Beberapa temen kakak yang beli muji enak loh." "Bener kak?", kak Indra mengangguk mantap. "Santi aja tadi telepon minta kakak beli roti kamu. Dia suka banget." "Kalau kak Santi mah ambil aja, ngapain beli." "Nggak boleh gitu Bel. Kamu usaha bukan lagi donasi makanan. Jadi kakak tetap harus bayar. Oke?" Bella akhirnya mengangguk. Biasa memang Bella memberikan kepada karyawannya untuk bisa bawa pulang sisa roti yang ada. Sayang bila tidak dimakan juga. *zezil*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD