Yoga Pov
Yoga duduk di bar dengan memegang segelas wine di tangannya. Dia benar- benar bingung dimana istrinya saat ini. Hampir seluruh Jakarta telah dicari tapi dia tidak menemukan Bella. Semua rute penerbangan, semua rute kereta api, semua rute bis bahkan sampai kapal laut dia cek. Namun dia tidak menemukan nama istrinya.
Masih ingat di ingatannya, saat dia baru pulang dari Bandung malam itu. Andai dia tidak menuruti maminya untuk ikut undangan ke Bandung, andai dia menolak mungkin saat ini Bella masih ada disisinya. Hari itu memang hari ulangtahun pernikahan mereka. Ternyata Bella telah menyiapkan makanan, dan kejutan untuknya. Namun terlewat karena dia bermalam di Bandung atas perintah maminya.
Yoga mengeram, mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah sangat sering Bella memintanya menolak kepada maminya, namun seringkali dia hanya menjelaskan pada Bella. Namun hari itu, batas kesabaran Bella telah habis.
Yoga pulang hanya menemukan meja makan penuh dengan makanan dan sebuah kue bertahta happy anniversary. Bahkan Bella telah membeli kado diletakan diatas meja makan, seolah meninggalkan untuk Yoga tahu, kamu menyia- nyiakan aku mas.
Surat terakhir Bella letakan di bawah kado, hanya tulisan terima kasih dan jangan cari aku.
"Minum boleh tapi jangan setiap hari Yoga.", seorang wanita dengan rambut sebahu, wajah cantik dan tubuh semampai menghampiri Yoga.
"Siapa yang kasih tahu gue disini?", tatap Yoga sinis.
"Aku selalu tahu apa yang terjadi dalam hidup kamu. Perkara mudah untuk menemukan dimana kamu. ", Yoga hanya diam tidak menanggapi wanita itu.
"Yo, lupakan istri kamu yang meninggalkan kamu itu. Kamu berhak bahagia."
"Nggak usah berharap semua keinginan mami akan terjadi. Aku akan tetap nunggu Bella pulang. Sampai kapanpun.", desis Yoga.
"Yoga, sadarlah. Bella sudah pergi. Buat apa sih kamu merusak diri kamu kayak gini."
"Nggak usah ikut campur!!!", Yoga menatap wanita yang duduk disebelahnya dengan tatapan marah. "Lu tahu gue bahagia bersama dia. Kalau bukan obsesi mami yang mau menceraikan dia dari gue. Bella masih disamping gue."
"Yoga, kenapa kamu nggak pernah sekalipun melihat aku? Kalau dia sayang sama kamu, haruanya dia bersama kamu, disamping kamu, apapun yang terjadi."
"Asal lu tahu, selama ini dia bertahan dengan sikap mami, itu nggak mudah. Ditambah dengan bumbu yang lu masukan kedalam otak mami. Please Angel kalau kamu masih mau jadi temen gue. Pergi jauh- jauh dari gue, lupakan perasaan lu itu dulu. Gue akan terima lu kembali sebagai sahabat gue."
"Tapi aku sayang kamu yo.", Angel bangkit dan berusaha memeluk Yoga. Namun Yoga menepisnya.
"Angel, lupain gue. Gue tetap akan mencintai Bella sekarang, nanti dan selamanya. Jadi gue harap buang semua harapan lu untuk bisa sama gue. Jangan rusak kenangan masa kecil kita dengan hal- hal aneh. Gue cuma anggap lu sebagai sahabat gue. Nggak lebih."
"Yoga, please kenapa lu harus milih orang yang udah ninggalin lu. Buka mata lu Yo."
"Dia pergi karena gue, dan gue akan jemput dia pulang."
"Yo,", Angel kembali berupaya memeluk Yoga. Namun kembali Yoga menolak pelukan itu.
"Udah ngel, lu mending pulang. Jangan rusak nama keluarga lu dengan duduk bersama pria beristri."
"Yo,"
"Gue aja yang pulang kalau gitu.", Yoga meninggalkan Angel yanh masih terpaku pada punggung Yoga.
Angel sahabat dari kecilnya, yang selalu ada buat dirinya. Bahkan tak pernah terpikir oleh Yoga kalau Angel akan menyukainya. Masih ingat dalam benak Yoga, saat dia jatuh cinta pada Bella, dia menceritakan kepada Angel. Senyum samar masih terlihat saat itu. Namun semenjak Yoga memutuskan menikahi Bella, Angel berubah menjadi wanita yang seolah- olah perebut suami orang.
Hampir setiap hari Yoga mendengar ibunya celoteh soal Angel kepadanya. Terlebih setelah kepergian Bella.
Yoga masih berharap Bella akan pulang, dia akan kembali. Meski seluruh upaya sudah Yoga lakukan untuk mencari istri dan anaknya, tetap di tidak menemukan Bella dan kedua putrinya.
Yoga memasuki parkiran rumahnya. Dia masih terbawa suasana hatinya. Yoga enggan masuk, dia menyenderkan kepalanya pada stir mobil. Hatinya begitu sepi, bahkan untuk masuk ke kamarnya pun sekarang begitu berat. Karena setiap sudut ruangan itu mengingatkannya pada belahan jiwanya. Dirinya begitu merindukan Bella, merindukan sentuhannya, merindukan semua yang ada pada istrinya.
*zezil*
Bella Pov
[Bapak minum lagi bu. Ada ibu Angel datang, tapi bapak tinggalin nggak lama setelah ibu Angel datang. Sepertinya ibu Angel merayu bapak tapi bapak nolak bu. ]
Bella menatap layar ponselnya. Ada video yang direkam oleh mata- matanya. Terlihat Yoga yang lebih tirus. Bella menatap kejadian itu. Dia menghela nafas panjang. Dia yakin suaminya masih bisa dipercaya.
[Terima kasih. Terus kabari saya.]
[Baik bu]
Bella membuka cctv rumah Yoga. Dia melihat mobil Yoga memasuki parkiran. Bella menghela nafas, setidaknya mas Yoga pulang dengn selamat. Bella menunggu hingga sepuluh menit Yoga tidak keluar dari mobil. Bella menekan ponselnya.
"Bik, minta tolong mas Yoga ada di mobil. Bawa ke kamar ya. Minta mang Somo bantuin bibik ya."
"Ini non Bella? Bener non Bella kan?", suara bik Mirna terdengar senang mendengar suara Bella.
"Iyah bik."
"Non kapan pulang? Semua kangen sama non. Terlebih den Yoga."
"Nanti saya pasti pulang ya bik."
"Kasian den Yoga non, tiap hari pasti mabok non. Pulang malam, makan nggak teratur, den terlihat kurus non.", bik Mirna, pembatu keluarga mas Yoga yang sudah lama bekerja disana. Bik Mirna juga yang membantu Bella, mengurus rumah bahkan anak- anak juga.
"Minta tolong bibik jaga mas Yoga ya selama aku nggak ada."
"Iyah non. Bibik pasti jaga den, den udah kayak anak bibik. Cuma den Yoga rindu sama non, sama anak- anak. Non baik- baik aja kan? Non Cassie dan non Cathie juga sehat kan non?"
"Iyah bik. Kami sehat, kami baik- baik aja."
"Syukurlah non. Den Yoga sudah kaya orang gila nyariin non sama anak- anak. Den Yoga sayang sama non."
"Iyah bik saya tahu, tapi saya mau mas Yoga juga tahu kalau setiap orang punya hak untuk bersuara, punya hak untuk memilih. Bukan nurut sama mami begitu aja."
"Tapi non pasti pulang kan?"
"Iyah bik. Saya pasti pulang."
"Baik non. Bibik juga kangen sama non non."
"Iyah bik. Kalau sudah waktunya, saya pasti pulang. Oh iya bik, besok pagi masakin bubur ya bik. Satu lagi bik, jangan kasih tahu mas Yoga ya kalau saya telepon. Dan kalau ada apa- apa kabari saya bik."
"Baik non."
Telepon pun terputus.
Bella bisa melihat bik Minah tergopoh gopoh berlari ke pos depan memanggil mang Somo. Lalu mereka memapah mas Yoga masuk ke kamar. Setelah beberapa menit mereka kembali keluar.
Bella menghela nafas, tanpa sadar airmatanya menetes. Dadanya terasa sakit, sesak melihat keadaan suaminya.
Sabar mas. Aku pasti pulang, tapi kamu harus bisa tunjukin kalau kamu akan bisa memberi kesempatan aku untuk bersuara. Aku mau kita bahagia seperti dulu mas. Tanpa memikirkan mami akan marah, mami akan sedih.
***