"Semangat jalanin hukumannya," celoteh Naomi.
"Haha. Fighting, Shofia!" tambah Rena.
"Au ah, tuh guru nyebelin! Kalem-kalem taunya masih nyimpan dendam," gerutu Shofia.
"Salah siapa coba?" tanya Rena.
"Udah, buruan samperin dia! Jangan lupa sekalian tanyain buku diary kamu!" ujar Naomi.
"Iya udah diniatin mau gitu, kok! Ya udah, aku ke ruang guru dulu. Bye!" seru Shofia.
***
"Permisi, Pak," ucap Shofia setibanya di ruang guru.
"Ya, silakan duduk!" ujar Rico.
Shofia duduk di depan Rico yang terpisah oleh meja.
"Jadi apa alasan kamu tidak mengerjakan PR?" tanya Rico.
"Saya lupa, Pak," jawab Shofia.
"Kok, bisa? Memangnya kamu tidak belajar semalam?" tanya Rico lagi.
Shofia hanya menggeleng dengan kepala tertunduk.
"Dengar, Shofia. Ujian tinggal empat minggu lagi, kamu gak bisa santai gini terus. Jangan terlalu banyak memikirkan urusan lain, fokus belajar untuk saat ini!" papar Rico.
"Ah, ba-baik, Pak!"
"Untuk hukumannya …." Rico belum menyelesaikan ucapannya tiba-tiba kepala Shofia terangkat dan bertanya, "Hukuman?" Shofia yang kaget dibuatnya tak sadar telah memotong ucapan gurunya itu.
Mata Rico memicing menatap lurus ke arah Shofia.
"Ah, ma-maaf, Pak. Silahkan teruskan," ucap Shofia kemudian salah tingkah.
"Saya akan memikirkan hukuman apa yang pantas untuk orang yang tidak mengerjakan tugas. Saya akan pergi sebentar dan kamu tunggu di sini sampai saya kembali!" ujar Rico terdengar dingin dan menusuk.
"Ba-baik, Pak," jawab Shofia tergagap.
Sementara Rico beranjak keluar ruangan, Shofia mengambil kesempatan mencari buku diary-nya dari tumpukan buku yang tersusun rapi di atas meja Rico. Buku itu tak kunjung ditemukan setelah menggeledah meja bagian atasnya, Shofia pantang menyerah ia cari sampai ke laci-lacinya. Beruntung guru lain tak ada di sana.
Dengan jantung yang berdetak tak karuan Shofia tetap mencari bukunya itu. Sesekali matanya mengawasi sekitar, ia takut jika tiba-tiba seseorang datang. Bersamaan dengan itu suara sepatu yang menyentuh lantai terdengar olehnya. Shofia bergegas kembali duduk lalu diam seolah tak terjadi apa-apa.
Rupanya Rico yang datang, ia kembali duduk sedangkan Shofia menundukkan kepalanya berharap gurunya itu tak tahu apa yang telah dilakukannya.
"Awalnya saya akan memberi hukuman untuk membersihkan halaman sekolah atau toilet sekolah. Tapi sepertinya semua sudah bersih dan rapi, petugas kebersihan kita cukup cekatan juga. Jadi, hukuman yang akan saya berikan kamu harus lari mengelilingi lapangan saat jam istirahat sampai selesai," jelas Rico.
"Hah? Lari, Pak?" Wajah Shofia terangkat menatap guru di depannya.
"Iya, dengan begitu saya harap kamu jera, Shofia!" Rico memalingkan wajahnya setelah beberapa detik pandangan mereka beradu. Shofia bergeming kembali menundukkan kepalanya.
"Jadi, untuk saat ini silakan kamu kembali ke kelas! Saat jam istirahat saya tunggu di lapangan sekolah. Ingat! Jika kamu tak datang, saya gak akan segan untuk memberi hukuman yang lebih dari ini!" sru Rico.
"Baik, Pak," jawab Shofia lesu. Ia beranjak dari tempat duduknya.
"Oh ya, satu lagi," ujar Rico menghentikan langkah muridnya. Shofia membalikan diri.
"Jangan berurusan dengan hal yang tidak menguntungkanmu!"
Dahi Shofia berkerut menerka-nerka apa yang dimaksud gurunya itu. Sedangkan Rico salah tingkah, ia menyibukkan dirinya dengan membaca buku di depannya.
***
"Tumben sebentar?" ujar Rena setelah Shofia masuk dan duduk di bangkunya.
"Hukumnya nanti, pas jam istirahat," jawab Shofia.
"Lagian kamu ini gimana sih, kok bisa lupa?" tanya Naomi.
"Tau, ah!"
"Jadi hukumannya apa?" tanya Rena kemudian.
"Lari!" jawab Shofia singkat.
"Hah lari? Pas istirahat?" Naomi memastikan.
Shofia hanya mengangguk.
"Dia kalo kasih hukuman gak tanggung-tanggung. Iya, gak sih?" tanya Rena sewot.
"Hooh, mentang-mentang guru," timpal Naomi.
"Biarlah. Lagian ini emang salah aku," ujar shofia.
"Iya, sih. Ya udah kamu tenang aja, nanti aku belikan makanan sama minuman buat kamu!" ucap Rena menghibur.
Shofia mengangguk. Tak lama dari itu, guru pelajaran biologi memasuki kelas. Dua jam pelajaran tak terasa berlalu begitu saja. Bel istirahat pun berbunyi. Shofia beranjak dari tempat duduknya penuh semangat.
"Mau dihukum kok semangat gitu?" imbuh Naomi melihat wajah aneh sahabatnya.
"Apa-apa harus dinikmati biar gak terasa capeknya. Jadi aku harus semangat layaknya menyambut pelajaran olahraga," ujar Shofia, kedua sudut bibirnya terangkat, ia menebar senyuman.
Rena dan Naomi saling pandang, lalu mereka mengedikkan bahunya. Memang, kadang ada saja tingkah aneh Shofia yang tak dapat dipahami kedua sahabatnya.
Tiga remaja itu berjalan bersama menuju lapangan. Rena dan Naomi mengantar Shofia sebelum memutuskan pergi ke kantin. Saat mereka tinggal beberapa langkah lagi, tampak guru matematika sudah berdiri di sana menunggu kedatangan Shofia.
"Selamat siang, Pak," sapa Naomi, ia membungkukkan badannya diikuti oleh kedua sahabatnya.
"Siang," jawab Rico singkat.
"Oke, Shofia. Kamu lari mulai dari sekarang sebagai hukumannya sampai bel masuk berbunyi. Itu artinya kamu harus menjalani hukuman selama lima belas menit. Tidak boleh curang! Saya akan mengawasi dari kejauhan," jelas Rico.
"Siap, Pak!" jawab Shofia tegas penuh semangat membuat kedua sahabat serta gurunya keheranan.
"Baik, silahkan mulai!" seru Rico. "Tak perlu cepat-cepat nanti kamu capek!" lanjutnya lirih nyaris tak terdengar.
"Hah? Apa, Pak?" Shofia memastikan.
"Tidak, cepat mulai!" ujar Rico, lalu ia pergi.
Rena dan Naomi yang mendengar ucapan gurunya itu mengulum senyum. Sedangkan Shofia mengambil ancang-ancang untuk mulai lari.
"Semangat, Shofia …!" ucap Naomi berteriak.
"Fighting!" Rena ikut berteriak.
Shofia mengacungkan ibu jarinya sambil berlari. Dari kejauhan Rico mengawasinya, ia mengulum senyum melihat tingkah laku muridnya yang lucu. Ah, lebih tepatnya konyol.
Shofia berlari dengan penuh semangat, ia sungguh-sungguh menjalani hukuman gurunya itu dengan jujur. Tak ada curang, dia benar-benar lari selama jam istirahat. Sesekali ia berhenti untuk beberapa saat mengatur nafasnya, tapi setelah itu ia kembali lari. Rico merasa kagum dibuatnya. Murid yang kelihatannya leha-leha, banyak masalah, tapi ternyata tanggung jawab atas kesalahannya. Tanpa Rico sadari sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
Sepuluh menit berlalu, Shofia mulai tampak kelelahan. Namun pantang menyerah, ia melanjutkan hukuman itu hingga bel masuk berbunyi. Peluh yang membasahi wajahnya memancarkan pantulan sinar matahari, Rico semakin fokus mengawasinya. Tidak, lebih tepatnya memandangnya. Memandang makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa.
Bel masuk pun berbunyi. Shofia berhenti berlari. Karena merasa lelah, ia baringkan tubuhnya beralaskan lapang. Matanya terpejam silau terhadap sinar mentari yang menyorotnya.
Rico beranjak dari tempatnya hendak mendekati Shofia. Namun ia urungkan niatnya saat melihat kedua sahabat Shofia yang telah berdiri di sana membantu Shofia bangun dan memapahnya menuju tepi lapangan.
Ada sesuatu yang berdesir di hati Rico. Tiba-tiba ia merasa bersalah telah memberikan hukuman seberat itu. 'Apa aku keterlaluan?' batinnya.