Hari Sial

1043 Words
"Naomi … Rena …," teriak Shofia yang baru masuk ke kelas. "Apa sih? Pagi-pagi dah rempong!" protes Naomi. "Buru ah, antar aku ke perpus mumpung bel belum bunyi!" Shofia menarik kedua sahabatnya itu. "Males ah! Nanti istirahat aja!" jawab Rena. "Aku semalaman gak bisa tidur tau! Kepikiran terus!" keluh Shofia. "Iya, iya. Yuk, sama aku aja!" ajak Naomi. "Huhu makasih." Shofia bergegas menyimpan tasnya lalu keluar bersama Naomi menuju perpustakaan. Lima meter menuju perpustakaan langkah Naomi tiba-tiba berhenti. Alasannya, seseorang yang tak diharapkan kehadirannya ada di dalam perpustakaan. "Balik lagi, yuk!" ajak Naomi. "Tanggung lah! Tinggal beberapa langkah lagi!" cegah Shofia yang belum menyadari. "Nanti balik lagi aja!" paksa Naomi. "Emang kena …." Tiba-tiba seseorang berdiri di antara mereka menghentikan ucapan Shofia. " … pa?" lanjutnya nyaris tanpa suara. "Heh, lo gak usah sok kecantikan ya, kalo di depan Danish!" ucap Jessica, si ketua cheerleaders dengan suara lantang. Tangannya menyentuh bahu Shofia. "Maksud lo siapa? Gue?" tanya Shofia tak kalah lantang. Ia tepis tangan Jessica dari bahunya. "Iya! Menurut lo emang siapa lagi? Cewek ganjen yang hobinya godain cowok! Gak tanggung-tanggung guru baru aja lo godain!" oceh Jessica. "Heh! Tutup mulut lo! Jangan asal ngomong, ya!" teriak Shofia, amarahnya mulai meluap-luap. "Gue gak asal ngomong!" timpal Jessica. Naomi segera menarik tangan Shofia. "Udah yuk, ke kelas aja!" ajaknya. Tapi Shofia malah menepis tangan sahabatnya. Ia tak mau mengalah begitu saja. Tiba-tiba Rico datang mendekati tiga murid yang sedang berdiri di perpustakaan. "Sedang apa kalian?" ucap Rico. Shofia bergeming, Naomi kebingungan sedangkan Jessica mendelik lalu beranjak pergi meninggalkan mereka. "Maaf, Pak. Bukan apa-apa!" Naomi segera membuka mulut. "Ya sudah. Sekarang cepat masuk ke kelas, sebentar lagi bel masuk berbunyi!" titah Rico pada muridnya. "Baik, Pak. Kami permisi," ucap Naomi membungkukan badannya lalu menarik lengan Shofia. Tanpa sepatah kata pun Shofia mengikuti langkah sahabatnya. "Ah, sebel banget dah! Tuh orang bener-bener ngajak gelut!" geram Shofia saat ia sudah kembali ke kelas. "Kenapa? Datang-datang marah-marah!" ujar Rena. "Cewek yang waktu itu, buat ulah lagi," jawab Naomi. "Siapa? Si ketua cheerleader itu?" tanya Rena. "Iya," jawab Naomi singkat. "Kenapa lagi dia?" tanya Rena penasaran. "Ngeselin banget iiihhhhhh … pengen ku bejek tuh mulut!" oceh Shofia, wajahnya berubah merah padam dan tangannya terkepal kuat. "Dah lah, gak usah dipikirin!" imbuh Naomi. "Emang tadi kenapa sih?" tanya Rena lagi, ia semakin penasaran. "Gitu deh, dia marah-marah sama Shofia bilang jangan kecentilan di depan Danish," jelas Naomi. "Hah? Dia gak liat apa justru si Danish itu yang suka caper sama kamu, Fia?!" caci Rena, ia marah mendengar penjelasan Naomi. "Udah lah mulai sekarang kamu jangan ladenin lagi tuh si Danish!" tambah Naomi. "Gak apa-apa biarin aja. Aku gak mau ngalah karena aku gak salah!" jawab Shofia. "Cari aman napa sih?" timpal Naomi. "Iya, dari pada ribut!" tambah Rena. "Ogah! Kurang menantang!" jawab Shofia. "Terserah deh! Kalo gitu ngapain kamu marah-marah?" jawab Naomi. "Kesel aja!" "Dasar aneh!" umpat Rena. *** Rico menatap ke arah Shofia hingga bayangannya hilang saat di tikungan. Buku diary biru yang ia pegang sedari tadi kembali ia masukkan ke dalam tasnya. Rico kembali ke ruang guru. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, itu artinya Rico akan mulai mengajar di kelas Shofia. Ya, hari ini merupakan pertemuan keduanya di kelas Shofia. Ia menimbang-nimbang untuk memberikan buku tersebut atau menunggu Shofia yang menanyakannya. Bukunya terus diputar-putar, dalam hati ada rasa penasaran ingin membukanya. Namun ia tak berani karena tak ada hak baginya. Lima menit kemudian bel berbunyi. Rico membawa beberapa buku di atas mejanya serta lembaran soal untuk nanti dibagikan. Ia beranjak keluar lalu berjalan gontai menuju kelas bagiannya. Semua murid berdiri memberi hormat begitu Rico masuk. Pandangan Rico tertuju pada Shofia sesaat sebelum ia memutuskan untuk duduk. Sedangkan Shofia tak menyadari, wajahnya ditekuk tampak masih marah dengan kejadian tadi. "Hmmm, oke. Sebelum pelajaran dimulai, tugas minggu kemarin silakan untuk dikumpulkan," ujar Rico. "Siapa ketua murid kelas ini?" tanyanya kemudian. "Saya, Pak!" ucap Doni yang merupakan ketua murid kelas XII IPA 2. "Tolong bantu saya mengumpulkan tugas minggu kemarin," Titah Rico. "Baik, Pak!" jawab Doni. "Tugas? Emang ada tugas?" bisik Shofia pada Naomi. "Ada. Kamu pasti gak ngerjain!" jawab Naomi dengan berbisik juga. "Kenapa kamu gak kasih tahu?!" "Lah, kirain kamu tahu makanya gak nanya," ujar Naomi. "Mana aku tahu. Tadi pagi juga kenapa gak bilang? Biasanya kan kamu yang paling cerewet ngingetin?!" desak Shofia. "Kamu tadi rusuh ngajak ke perpus sih, jadi aku juga lupa nanyain," elak Naomi. "Terus sekarang gimana nasibku?" "Entah?!" Shofia menarik nafas panjang melihat Doni yang sedang mengumpulkan satu per satu buku mulai mendekat. "Mana punya kamu, Shofia?" tanya Doni yang kini sudah berada di depan bangku Shofia. "Aku lupa, gak ngerjain!" jawab Shofia enteng tanpa dosa. "Hahhh … kamu kebiasaan! Kok, bisa lupa?" tanya Doni geram. "Ya bisa. Namanya lupa, ya lupa!" jawab Shofia dengan suara tinggi membuat seisi kelas menatapnya termasuk Rico. "Ada apa, Doni?" tanya Rico melihat kegaduhan di bangku Shofia. "Bukan apa-apa, Pak. Ini Shofia gak bawa tugas," jawab Doni. "Ya sudah, biar saja. Kumpulkan saja yang lainnya," ujar Rico, lalu ia kembali mempelajari materi yang akan disampaikan sambil menunggu Doni mengumpulkan tugas. Sedangkan Shofia membulatkan mata, mulutnya terbuka membentuk huruf o, tak percaya dengan tanggapan gurunya itu yang biasa saja. "Kamu beruntung, Shofia. Awas jika terulang lagi!" omel Doni, ia beranjak mengambil tugas dari siswa lain. "Kamu jangan seneng dulu, perjalanan masih panjang!" imbuh Naomi. "Dia lagi baik!" "Belum tentu, bisa saja dia menghukummu setelah pelajaran selesai seperti sebelumnya," ujar Naomi. "Semoga nasib baik datang padaku, hihi." Naomi menggelengkan kepala, tak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini. Rico memulai pelajaran dengan tenang, semua murid fokus memperhatikan. Suasana tak setegang sebelumnya bahkan Rico beberapa kali menyelipkan candaan membuat atmosfer kelas terasa hangat bersahabat hingga tak terasa bel pergantian pelajaran berbunyi. "Tuh kan kata aku apa, Pak Rico lagi baik," bisik Shofia pada Naomi. Baru saja Shofia merasa tenang tiba-tiba Rico berkata, "Shofia ikut saya ke ruang guru!" "Eh, saya, Pak?" tanya Shofia salah tingkah. "Iya, memangnya siapa lagi di sini yang bernama Shofia selain kamu?" jawab Rico datar. "Tapi ada apa, Pak?" "Bukankah kamu tidak mengumpulkan tugas? Pokoknya saya tunggu di ruang guru!" "Hah?" Rico berlalu meninggalkan kelas. "Ha ha ha, rasain!" ejek Naomi sambil menjulurkan lidahnya. "Haaaahhhhh …." Shofia membuang nafas panjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD