Cahaya mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela. Rena mengucek matanya, lalu tangannya meraba-raba mencari ponsel. Matanya membulat saat melihat jam menunjukkan pukul 09.00 WIB.
"Wooyy! Bangun, bangun, bangun!" Tangan Rena menggoyang-goyang tubuh sahabatnya.
"Apa sih? Diem ah, masih ngantuk!" protes Shofia, tangannya menarik selimut menutupi kepalanya.
"Emang jam berapa sekarang?" tanya Naomi, ia mengambil posisi duduk.
"Udah jam 9! Pokoknya jam sepuluh kita berangkat, yang telat ditinggal!" ucap Rena, ia bergegas menuju kamar mandi.
"Heh, Fia! Buru bangun! Kamu rugi kalo gak ikut. Buruan mumpung Rena lagi banyak duit!" ucap Naomi menggoyang-goyang tubuh Shofia.
"Aaahhh malas!" Shofia semakin menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.
"Ya udah. Jangan nyesel, ya! Kamu bakal kehilangan kesempatan dapetin perona bibir limited edition! Yang merek apa tuh, yang katanya launching hari ini?" imbuh Naomi dengan suara dikeras-keraskan.
"Ah iya! Aku ikut, ikut!" Shofia beranjak dari tempat tidur lalu menyambar handuk Naomi yang tergantung dan bergegas menuju kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya Naomi.
"Mandi lah!" jawab Shofia singkat.
"Tunggu dulu! Di dalam ada Rena," cegah Naomi.
Shofia membuang nafas panjang lalu kembali berbaring di tempat tidur.
"Dasar malas! Awas jangan tidur lagi, nanti kita tinggal tau rasa!" cerca Naomi.
"Iya, Bawel! Harusnya aku tuh di sini dapet ketenangan. Eh sama aja punya Mak Bawel!" oceh Shofia.
"Apa kamu bilang?" Naomi membulatkan matanya menatap tajam.
"Bawel bawel bawel!" ejek Shofia, lidahnya menjulur keluar.
"Dan aku berasa punya adik pemalas banget! Dah ah, aku mau mandi di bawah," imbuh Naomi.
"Eh, iya. Aku pinjam baju kamu boleh, ya!" pinta Shofia menghentikan langkah Naomi.
"Iya boleh, ambil aja di lemari yang itu!" ujar Naomi, tangannya menunjuk lemari tiga pintu yang terletak di sudut kamar.
"Oke siap! Oh ya, tas sama sandalnya juga pinjem! Hehe …." pinta Shofia lagi.
"Ambil aja!" jawab Naomi singkat.
"Uuhhhh sahabat terbaiknya aku!" Shofia beranjak dari tempat tidur memeluk Naomi dari belakang.
"Lepas ah! Bau iler!" ejek Naomi membuat Shofia memonyongkan bibirnya lima senti.
***
Tepat jam sepuluh siang Shofia bersama kedua sahabatnya menuju sebuah pusat perbelanjaan di kota Bandung. Shofia mengenakan dress selutut berwarna denim milik Naomi, tapi tetap cocok dikenakan olehnya seolah baju itu memang miliknya. ia padu padankan dengan high heels dan sling bag berwarna putih. Rambutnya dicepol ke atas dengan poni menutup dahi serta sedikit rambut di depan telinganya. Ah yang pasti, pakaian apa pun jika Shofia yang mengenakannya akan cocok dan terlihat cantik.
Rena mengenakan celana jeans berwarna hitam dipadukan dengan kaos berwarna putih. Rambutnya yang sebahu ia geraikan dengan jepit di atasnya. Sepatu sport dan tas punggung yang kecil melengkapi penampilannya.
Sedangkan Naomi mengenakan dress selutut berwarna cream dipadukan dengan sling bag serta flat shoes berwarna coklat. Rambutnya diikat kebelakang memberi kesan pada lehernya yang panjang.
Ketiga wanita itu akan memikat setiap pandang pria. Namun Shofia, tertu saja yang paling menawan di antara mereka.
***
Dua jam sudah mereka mengelilingi mall. Rena menenteng empat paper bag, sedangkan Naomi dan Shofia masing-masing membawa dua. Wajah-wajahnya memancarkan keceriaan, ada rasa puas tersirat di setiap sorot matanya.
"Makan dulu, yuk!" ajak Rena setelah keluar dari pintu mall.
"Kenapa gak di dalem?" tanya Naomi.
"Biasa. Baso Mang Ipul paling mantap lah!" jawab Shofia.
"Iya, bener bener bener! Seger siang-siang gini," ujar Rena.
Tiba-tiba langkah Naomi terhenti, matanya menatap tajam pada seseorang yang dikenalnya. Rena dan Shofia mengikuti arah tatapan sahabatnya, serempak bola mata tiga remaja itu membulat.
"Itu kan Pak Rico? Wah kesempatan nih!" ujar Shofia beranjak dari tempatnya.
"Pak Rico …," panggilnya kemudian sambil berlari ke arah gurunya itu.
"Dodol tuh anak!" umpat Naomi. "Gak liat apa Pak Rico jalan sama pacarnya!"
Naomi menyusul Shofia diikuti oleh Rena.
"Hehe, Bapak mau belanja juga, ya?" tanya Shofia setelah ia berdiri di depan gurunya.
Naomi yang baru sampai mencubit lengan sahabatnya sambil menyapa gurunya, "Selamat siang, Pak. Belanja juga, ya?"
Rico hanya mengangguk merasa malu dengan panggilan Shofia. Sedangkan Shila sejak tadi terkekeh menertawakan Kakaknya.
"Oh ya, Pak. Liat buku berwarna …."
Belum Shofia menyelesaikan kalimatnya tangan Naomi dengan sigap membungkam mulutnya lalu ia menarik sahabatnya itu untuk menjauh dari Rico. "Dasar Shofia!" bisiknya. Namun masih terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kami duluan, ya, Pak," ucap Rena. Badannya membungkuk hormat, lalu menyusul kedua sahabatnya.
"Oh, jadi itu yang namanya Shofia," ujar Shila tiba-tiba mengejutkan Kakaknya yang sedang melihat ketiga muridnya berlalu.
Rico bergeming, lalu kembali meneruskan langkah kakinya yang sempat terhenti meninggalkan adiknya.
"Cantik juga dia! Wahh, gak nyangka diam-diam suka murid sendiri!" goda Shila, ia menyusul dan menyejajarkan langkah kakaknya itu.
"Berisik!" bentak Rico.
"Cieee … cieee … cieee …," ucap Shila yang terus menggoda kakaknya.
"Ya udah, Abang pulang!" ujar Rico tiba-tiba, ia membalikkan badannya.
"E-eh eh, jangan gitu dong! Iya iya maaf!" bujuk Shila. Ia tarik tangan Kakaknya yang hendak melangkahkan kaki.
***
"Shofia! Rese lu! Kamu gak bisa baca situasi hah?" omel Naomi saat mereka sudah berada dalam taksi.
"Emang salah, ya? Nanyain buku doang?!" bela Shofia merasa tidak bersalah.
"Kamu gak liat apa tadi dia jalan sama siapa?" ujar Naomi dengan gigi mengatup dan mata melotot gemas dengan kelakuan sahabatnya.
Shofia hanya mengedikkan bahunya acuh, tak tahu dan tak mau tahu. Naomi semakin geram dibuatnya.
"Eh, tadi beneran pacarnya, ya?" tanya Rena tiba-tiba.
"Ya terus, siapa lagi kalo bukan pacar?" Naomi balik bertanya.
"Hehe, iya sih. Tapi tadi kulihat sekilas mereka mirip loh!" jawab Rena.
"Itu artinya jodoh!" ungkap Naomi.
"Kok bisa?!" sanggah Shofia.
"Ya, bisa. Kata orang kalo jodoh emang suka mirip," jelas Naomi.
"Apa jangan-jangan mereka udah nikah? Kita kan belum tau status Pak Rico?!" ujar Rena.
"Gak mungkin! Bisa ajakan adik kakak?!" protes Shofia, ia meninggikan suaranya membuat kedua sahabatnya memandang heran kearahnya.
"Ya, ma-maksud aku, kalian jangan gampang menyimpulkan kalau belum tahu yang sebenarnya," imbuh Shofia tiba-tiba menjelaskan tanpa diminta.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Naomi, alisnya bertautan.
"Jangan-jangan … hayo loh …?" goda Rena, mulai mengerti keadaan.
"Bu-bukan gitu! Aku bukannya cemburu!" terang Shofia.
"Shofia, gak ada yang bilang cemburu di antara kita!" jelas Naomi.
"Tanpa kamu sadari kamu telah mengungkapkan yang sebenarnya!" tambah Rena.
Naomi dan Rena sama-sama tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang kini malu karena ulahnya sendiri.