Buku Diary

1083 Words
"Besok kan sabtu, nonton yuk!" ajak Rena saat mereka dalam perjalanan pulang. "Gak ah, aku lagi gak mood. Mau rebahan aja di rumah Naomi." Shofia menimpali. "Eh, gimana kalo kamu juga ikut nginep di rumahku?" tawar Naomi pada Rena. "Hmmm … boleh juga! Oke nanti sore aku ke rumah kamu," jawab Rena. Shofia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah Naomi. Ia rebahkan tubuhnya sesampainya di sana. Tiba-tiba kejadian di perpustakaan tadi terbayang olehnya, saat Pak Rico tiba-tiba datang dan melindungi serta saat mereka saling pandang. Sudut bibirnya tertarik ke atas tanpa ia sadari. "Hayo … lagi mikirin apa?!" imbuh Naomi mengejutkan Shofia. "Ng-nggak! Bu-bukan apa-apa, kok!" jawab Shofia tergagap karena rasa kagetnya. "Kalo kamu jawabnya gitu berarti emang ada yang lagi dipikirin. Ya 'kan?" ujar Naomi. "Nggak! Serius!" jawab Shofia tegas. "Jangan-jangan kamu lagi mikirin Pak Rico." Naomi tak berhenti menggoda sahabatnya. "Ih … apa sih kamu?! Sok tau banget!" timpal Shofia dengan suara tinggi. "Ha ha ha … kalo emang nggak, gak usah nyolot gitu kali!" Lagi-lagi Naomi menggoda Shofia. "Tau ah!" Shofia mengambil posisi duduk lalu membuka tasnya. Ia mencari-cari sesuatu di dalamnya tapi tak kunjung ditemukan. Lalu Shofia mengeluarkan seluruh isi tasnya berharap apa yang ia cari akan didapati. "Nyari apa sih?" tanya Naomi heran. "Buku," jawab Shofia singkat. Ia masih sibuk mencari. "Buku apa?" tanya Naomi kemudian. "Buku diary." Lagi-lagi Shofia menjawabnya singkat. "Bukannya tadi kamu bawa dari semenjak keluar kelas?" ujar Naomi tampak mengingat-ingat. "Sebentar. Tadi gak aku masukin tas, ya?" tanya Shofia memastikan. "Nggak tuh. Aku liat kamu pegangin tadi," jelas Naomi. "Ya ampun, kayaknya ketinggalan di perpustakaan deh," ucap Shofia. "Ah, iya. Aku liat kamu simpan di atas meja pas tadi mau ke ruang guru," tambah Naomi. "Duh, gawat! Semoga Pak Rico gak nemu. Berabe kalo sampe dia nemu terus baca isinya," ujar Shofia. "Emang kenapa?" "Di sana ada curhatan aku yang kesel banget sama dia. Malu lah kalau sampai ketahuan." "Gini nih kalau punya sifat ceroboh! Hayo loh nanti dia hukum kamu lagi gara-gara jelek-jelekin dia. Hahaha," ucap Naomi usil. "Aku gak ceroboh. Cuma lupa!" tegas Shofia. "Sama aja, Dodol! Coba kalau tadi kamu masukin tas, gak usah dibawa-bawa gitu. Pastikan gak bakal segala ketinggalan!" cerca Naomi. "Iya deh. Kamu bener!" "Ya, emang bener 'kan?!" "Terus gimana dong?" "Gimana apanya?" "Nasib buku aku gimana?" "Ya udah nanti cari lagi aja ke perpus. kalau gak ada, berarti diambil sama Pak Rico." "Janganlah. Jangan sampai diambil Pak Rico!" "Ya, mana aku tahu! Itukan cuma perkiraanku doang." "Besok, antar aku cari ke sekolah, yuk!" "Ogah! Ngapain? Senin kan bisa?!" "Ngambil buku lah!" "Ambil aja sendiri!" "Ah elah, kamu tega, Mimi!" "Stop! Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Geli dengernya, langsung inget sama mimi peri!" "Hahaha … iya, Mimi. Aku gak bakal panggil lagi Mimi!" "SHOFIA!!" teriak Naomi. Naomi melempar Shofia dengan bantal. Shofia pun membalasnya. Saat itu pula terjadilah perang bantal di antara mereka. Bersamaan dengan itu Rena datang. Karena sudah terbiasa, ia masuk layaknya seperti di rumah sendiri. "Kalian ngapain sih? Kayak anak kecil!" ujar Rena begitu masuk ke dalam kamar mendapati dua sahabatnya yang saling lempar bantal. Shofia dan Naomi saling melirik lalu tersenyum jahil. Dua buah bantal dilempar ke arah Rena secara bersamaan. Namun gerakan Rena lebih cepat dari bantal, sehingga ia bisa menghindar. "Udah ah! Aku punya kabar baik nih!" ucap Rena, ia menghampiri kedua temannya lalu duduk bersama mereka. "Apa?" tanya Naomi mendekati. "Mamaku kemarin dapet arisan, jadi aku dikasi bagian. So, besok kita harus nge-mall!" seru Rena, Ia beranjak dari tempat duduknya bersemangat. "Wah! Asyik … emang ya, kamu tuh sahabat terbaik!" ujar Naomi, ia ikut berdiri lalu memeluk Rena. Mereka berdua berlompat-lompatan layaknya anak kecil yang dipenuhi permintaannya. Sedangkan Shofia masih duduk di tempat tidur. Wajahnya muram, menyiratkan kebingungan. Rena menunjuk Shofia dengan bola matanya, alisnya terangkat bertanya-tanya. Naomi mengangkat bahunya, acuh tak mau tahu. "Ke sekolah aja, yuk!" Shofia merengek pada kedua sahabatnya. "Hah? Sekolah? Ngapain?" tanya Rena. "Tau tuh! Dia keukeuh pengen ngambil buku diary-nya yang ketinggalan," jawab Naomi. "Kan bisa nanti pas masuk aja?" tambah Rena. "Takut diambil Pak Rico," keluh Shofia. "Biarpun iya diambil, pasti udah diambil lah! Terus nanti kamu ngapain ke sana?" cerca Naomi. "Aahhh … aku galau!" ucap Shofia. "Lupakan sejenak tentang buku. Pokoknya besok kita nge-mall! Aku yang traktir!" ujar Rena. Shofia mengangguk dengan bibir yang dimanyunkan lima senti. Sok imut banget! *** Setelah semua buku selesai dirapikan dan setelah anak muridnya pamit pulang, Rico memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Ia edarkan bola matanya sebelum keluar untuk memastikan bahwa tak ada benda yang tertinggal. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah buku berukuran sedang berwarna biru yang tergeletak di atas meja. Rico berjalan ke arah meja, lalu ia mengambil buku tersebut. Buku berwarna biru dengan corak bunga menunjukkan buku ini bukan buku sekolah. Tertulis nama di atasnya "Shofia". "Ceroboh!" gumamnya. Rico membolak-balik buku tersebut, lalu hendak membuka. Namun ia urungkan niatnya. Kemudian ia menyimpan buku tersebut ke dalam tas. *** "Abang!" teriak Shila yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu mengejutkan Rico yang sedang duduk melamun. "Lagi apa? Pagi-pagi udah melamun aja!" ucapnya kemudian. Rico hanya melirik ke arah adiknya tanpa mengucap sepatah kata pun. "Keluar, yuk! Anter aku ke mall, Bang! Aku mau beli skincare nih, punyaku udah pada habis!" Shila tak berhenti bicara. "Abang banyak kerjaan hari ini," jawabnya datar. "Ayolah, Bang. Ini weekend, gak capek apa kerja mulu? Lagian emang guru sebanyak itu, ya, kerjaannya?" Shila mendekati meja kerja Rico. Matanya menyapu benda-benda yang ada di atasnya. Lalu tangannya mengambil sebuah buku yang menarik perhatiannya. "Shofia." Shila membaca nama yang tertulis di atasnya. Rico menyambar buku yang dipegang adiknya itu dan menyimpannya ke dalam laci meja. "Hayoo … siapa Shofia?" goda Shila. "Bukan siapa-siapa!" jawab Rico salah tingkah. "Masa?! Gak percaya tuh!" "Terserah! Dah lah, sana keluar! Abang mau kelarin kerjaan!" "Aaabaaaang … ayolah anter aku! Masa aku jalan sendiri? Malu lah, keliatan banget tau jomblonya." "Bodo amat!" "Aku traktir ayam goreng, gimana?" Rico mengangkat kedua alisnya, "Ah, paling kamu bohong lagi!" selorohnya, sambil menjulurkan lidah meledek. "Ihhh … kali ini serius. Janji!" ucap Shila meyakinkan. Rico berdiri dari tempat duduk lalu membereskan buku-buku di atas mejanya. Kemudian mengambil jaket kulit yang tergantung tak jauh dari tempatnua berdiri. "Jadi gimana, Bang?" tanya Shila lagi. "Sepuluh menit dari sekarang, gak pake lama! Abang tunggu di bawah!" "Asyiikk. Oke siap, Bang!" Shila bergegas pergi segera bersiap. "Lambat satu detik aja, batal!" teriak Rico. "Iya, Abang ganteng!" balas Shila dengan teriakan juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD