Perpustakaan

1146 Words
Pagi yang cerah mengawali hari Shofia di sekolah. Namun wajah Shofia tak secerah mentari pagi ini. Ia datang dengan wajah yang murung tak bersemangat. Naomi dan Rena merasa heran dengan tingkah sahabatnya yang tak biasa. "Ada apa, pagi-pagi udah manyun gitu?" tanya Naomi setelah Shofia duduk di sampingnya. "Biasalah, aku udah gak betah diem di rumah!" jawab Shofia ia sandarkan kepalanya ke atas meja, rasa lelah menyelimuti jiwa raganya sepagi ini. Rena dan Naomi mendekat, mereka tahu apa yang terjadi. Pertengkaran antara Mama dan Papa Shofia yang membuatnya tertekan saat berada di rumah. Ini juga yang menyebabkan Shofia begitu hobi bersolek, salah satu tempat pelarian selain pada sahabat-sahabatnya. Beruntung, Shofia memiliki sahabat yang baik yang akan menemaninya dan menghiburnya. "Udah gak usah dipikirin. Sekarang yuk, semangat untuk sambut hari-hari yang indah nan cerah ini!" ujar Rena. "Gak indah! Pelajaran pertama kimia," sanggah Shofia. Ia menenggelamkan wajahnya pada lengan tangannya yang dilipat. "Haha, sudahlah. Jalani saja seperti biasanya!" imbuh Naomi. "Gimana kalo nanti istirahat aku traktir baso buat kalian?" usul Rena, berharap bisa membuat Shopia lebih baik. "Iya, aku setuju, setuju banget!" timpal Naomi. "Hmmm, baiklah," jawab Shofia. Ia mengangkat kepalanya. "Senyum dulu dong!" bujuk Rena. Shofia pun menarik sudut bibirnya dengan terpaksa. Naomi mencolek dagu Shofia sambil berseru, "Nah gitu dong! Kan cantik jadinya!" *** Seperti yang sudah direncanakan saat jam istirahat Rena mentraktir dua mangkok bakso untuk Shofia dan Naomi. Kini Keadaan Shofia sudah mulai membaik. Hari ini dilalui seperti biasa tanpa ada drama, hingga bel pulang sekolah berbunyi. "Aku pulang ke rumah kamu, boleh ya!" pinta Shofia pada Naomi. "Iya, boleh. Tapi bilang dulu sama mama kamu!" ujar Naomi. "Ga usah, dia gak bakal peduli, kok!" seru Shofia. "Hmmmm terserah deh," jawab Naomi. Bergegas Shofia membereskan buku dan alat tulisnya. Ia menggendong tas ranselnya lalu beranjak keluar kelas bersama Rena dan Naomi. Saat keluar kelas mereka melihat Rico yang kesusahan membawa setumpuk buku. Naomi segera menghampiri Rico dan membantunya. "Pak, biar saya bantu!" ucap Naomi, tangannya gesit mengambil alih sebagian buku yang dibawa Rico. "Saya juga bantu, ya, Pak!" Rena ikut mendekat dan mengambil alih sebagian buku lainnya. Shofia bergeming di ambang pintu. Melihat teman-temannya yang membantu Rico, terpaksa dia mengikuti. Shofia berjalan di belakang mereka tanpa membawa buku seperti yang lainnya. Rico memasuki perpustakaan diikuti oleh murid-muridnya. "Nah simpan saja di sini!" titah Rico, tangannya menunjuk meja panjang yang ada di sana. Naomi dan Rena menyimpan setumpuk buku yang dibawanya. "Ini, Pak. Kalau gitu kami pamit pulang ya, Pak!" ujar Naomi ia membungkukan badannya. "Eh, tunggu sebentar!" cegah Rico. "Iya, ada apa, Pak?" tanya Naomi. "Mumpung kalian masih di sini sekalian aja deh bawakan buku-buku lainnya yang ada di ruang guru!" pinta Rico. "Ah, baik, Pak!" jawab Naomi. Shofia menatap ke arah Naomi membulatkan matanya tanda tak suka. Sedangkan Naomi acuh dan berlalu begitu saja. Rena mengikuti Naomi terpaksa Shofia pun membuntuti mereka. "Kalian sih pake bantu segala, jadi tambah pekerjaankan!" gerutu Shofia kesal. "Guru kesusahan, ya dibantu lah! Masa ditinggal?!" jawab Naomi. "Lagian ya, bantuin guru itu nanti kita dapat berkahnya biar manfaat ilmunya!" lanjutnya. "Ya, bukannya aku gak mau bantu sih, aku malas aja kalo sama Pak Rico. Sial mulu kalo deket-deket, ada aja ulahku yang bikin dia marah," ucap Shofia. "Ya makanya, kamu jangan ceroboh harus hati-hati. Ya udah, sekarang daripada ngomel-ngomel mending bantu kita," ujar Rena. Shofia bergeming, ia menghembuskan napasnya dengan kasar. Sesampainya di ruang guru mereka terkejut dan saling pandang satu sama lain melihat banyak tumpukan buku yang harus mereka antar ke perpustakaan. "Udah banyak, mana berat lagi! Kapan beresnya?!" Shofia terus mengeluh, sedangkan kedua temannya membiarkan dan fokus bekerja. Buku-buku yang diminta Rico sudah mereka pindahkan ke perpustakaan. Sementara itu, Rico sibuk merapikan dan menyusunnya ke dalam rak. "Sudah semua?" tanya Rico. "Sudah, Pak," jawab Naomi. "Terima kasih, kalian sangat membantu!" puji Rico. "Sekarang kalian boleh pulang!" titahnya kemudian. Rico mengambil setumpuk buku lalu kembali menyusunnya dan di atas meja masih banyak tumpukan buku yang sudah pasti membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merapikannya. "Masa kita mau pergi gitu aja?" tanya Rena matanya menunjuk ke arah tumpukan buku. "Gimana?" tanya Naomi pada Shofia. Ya, karena ia tidak keberatan jika harus kembali membantu. Namun ia memikirkan Shofia yang sedari tadi terus saja mengeluh. "Ya udah deh, kasian juga kalo dia harus ngerjain sendiri," jawab Shofia. Naomi dan Rena tersenyum puas mendapat tanggapan baik dari temannya. "Oke, Pak, kita akan bantu menyusun juga!" ujar Rena. "Eh, gak usah! Biar Bapak kerjakan sendiri," tolak Rico halus. "Bapak yakin nih?" goda Naomi. "Emmm ... terserah deh!" jawab Rico. Mereka terkekeh mendengar jawaban gurunya itu. "Jadi kita simpan buku ini dimana, Pak?" tanya Naomi. "Untuk buku matematika kelas sepuluh simpan di sebelah sana," ucap Rico menunjuk rak paling kanan. "Untuk kelas sebelas dan dua belas sebelah sini," lanjutnya menunjuk ke rak yang berada di tengah. "Oke siap, Pak!" jawab Rena. Shofia mengambil setumpuk buku kelas sepuluh, sedangkan kedua sahabatnya mengambil buku sisanya. Kemudian mereka menyusunnya di rak yang telah ditunjukkan Rico. Hening. Mereka fokus bekerja berharap pekerjaannya segera selesai. "Oh ya, kenapa Bapak mengerjakannya sendiri?" tanya Naomi memecah keheningan. "Karena ini tugas saya," jawab Rico singkat. "Kan bisa, Pak, minta bantuan murid Bapak!" timpal Rena. "Bapak sedang melakukannya," jelas Rico. "Haha ... tapi kalo misal kita tidak menawarkan diri sepertinya Bapak akan tetap mengerjakannya sendiri," imbuh Naomi. "Ya ... mungkin!" Suasana kembali hening. Shofia sibuk sendiri menyusun bukunya di bagian rak paling tinggi. Tiba-tiba satu buku jatuh dari tempatnya. Shofia membungkuk hendak mengambil buku yang jatuh. Namun saat ia membungkuk, buku yang lainnya ikut berjatuhan. Banyak buku yang jatuh tapi Shofia tak merasa kesakitan. Ia menoleh ke belakang, tampak Rico sedang berdiri melindunginya. Shofia tertegun. Untuk beberapa saat mata mereka saling beradu. "Shofia! Kamu baik-baik saja?!" Teriakan Naomi yang tiba-tiba muncul mengejutkan keduanya, hingga kecanggungan memenuhi atmosfer. Shofia segera membereskan buku-buku yang berserakan. Rico kembali ke tempat asalnya. Naomi pun mendekat. "Kamu gak apa-apa?" tanyanya lagi. "Aku baik-baik saja. Justru Pak Rico yang sepertinya tidak baik-baik saja ," jawab Shofia. "Kok bisa sih pada jatoh! Ya udah sini aku bantu beresin lagi," ucap Naomi tangannya gesit menyusun kembali buku yang berjatuhan. "Kamu udah beres?" tanya Shofia. "Udah! Punya Rena tinggal dikit lagi." Sesaat kemudian mereka pun selesai lalu bersama-sama mereka menemui Rico. Rico nampak memutar-mutar persendian lengannya yang terkena benturan banyak buku. Shofia yang melihatnya merasa bersalah. "Maaf, Pak. Bapak tidak apa-apa?" tanya Shofia. "Tidak, tenang saja! Lain kali hati-hati, dasar ceroboh!" omel Rico. "Ah, sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya janji untuk lebih hati-hati lagi," ucap Shofia, badannya membungkuk. "Ya udah, kami pamit pulang ya, Pak!" ujar Rena. "Ya, sekarang kalian boleh pulang!" ucap Rico. "Terima kasih," ucapnya kemudian samar tapi masih dapat didengar. Naomi dan Rena tersenyum. Mereka saling pandang melihat tingkah gurunya, sedangkan Shofia terus merutuki dirinya, "Ceroboh! Ceroboh! Ceroboh!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD