Batas

1262 Words
Desisan suara-suara aneh itu seolah berbicara dan memanggil Lettasya agar mendekat. Persis ketika tangan itu telah siap membuka pintu di depannya untuk memastikan, ada tangan lain yang terulur dari belakang melewati sisi wajahnya sehingga mendorong kembali pintu tersebut. Lettasya menoleh dan mendapati mata Antares tengah menatapnya tajam, rahangnya mengeras. Antares kembali mengambil satu langkah mendekat, memangkas jarak hingga wajah keduanya nyaris bersentuhan. Lettasya harus menahan napas karena terkurung di bawah tatapan tajam lelaki itu, sambil berusaha mengabaikan suara-suara yang masih menggelitik telinganya. “Jangan melewati batas!” Itu jelas peringatan, Lettasya tidak mampu menjawab seolah lidahnya tergigit kucing sehingga hanya mengangguk pelan. Antares tidak takut jika harus mematahkan leher Lettasya. Baginya membunuh bukan perkara sulit, terlebih jika lawannya hanya mahluk lemah berwujud perempuan seperti ini. Namun, jika Antares melakukannya, kelak ketika anak kecil itu sadar. Dia pasti akan menanyakan  keberadaan ibunya. “Bersyukurlah karena kau memiliki seorang anak. Jika tidak … mungkin kau sudah tidak bernyawa sekarang. Aku tidak suka orang yang terlalu ingin tahu.” Kalimat ancaman itu akan tercatat di otak Lettasya. Keduanya pun kembali dengan tanaman yang dibutuhkan. Antares mengiring Lettasya menuju sebuah ruangan khusus, di mana tanaman tersebut bisa diolah menjadi ramuan. “Bisakah aku mempercayakanmu di sini?” tanya Antares. Lettasya mengangguk pelan. “Baik, Tuan.” Kali ini Lettasya akan lebih berhati-hati serta sadar diri. Dia tidak ingin mendapat hukuman lebih cepat atau pun bertambah lebih banyak hanya karena kecerobohannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengobati bocah tersebut. Anak itu harus segera sadar dan sehat, agar setidaknya Lettasya mampu membawanya kabur dari sini. Setelah lebih dari satu jam, Lettasya membuat dua ramuan, yang satu obat balur dan satu lagi berupa minuman. Hal itu karena segala hal yang dibutuhkan tersedia lengkap di sana baik peralatan maupun bahan tambahan lain. Mula-mula, Lettasya membalurkan hasil tumbukan ke beberapa titik yang lebam. Anak itu tampak mengernyit dalam alam bawah sadarnya. “Siapa yang memukulinya?” Lettasya menoleh terkejut karena Antares yang secara tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Lelaki itu mendekat untuk meunjuk area lebam keunguan. “Yang ini tampaknya sudah lama, sedangkan yang ini….” Antares menujuk pada lebam merah. “Ini tampak masih baru.” Kemudian Antares melipat kedua tangannya di d**a seraya menatap Lettasya dengan pandangan menuduh. “Apa kau memukuli anakmu?” “Tidak! Tentu saja tidak.” Lettasya mengibaskan kedua tangannya dengan gencar. Tidak terima dengan tuduhan tersebut. “Lantas siapa yang menganiayanya? Tidak mungkin ini perbuatan bangsawan tadi.” Teramat besar keinginan Lettasya untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada. Untuk sesaat bahkan Lettasya tidak peduli seandainya ia akan dibunuh karena tidak memilik hubungan dengan bocah ini. Lettasya hanya tidak terima jika ia dituding sebagai manusia yang melukai seorang anak kecil. Namun, penjelasan itu terasa berat untuk dikeluarkan, hingga kemudian terdengar ketukan pintu serta suara seseorang yang memanggil nama pemilik rumah dengan keras. “Tunggu di sini,” perintah Antares pada Lettasya. Meski tidak menjawab melalui mulut, wanitu itu mendengus jengkel dalam hati karena merasa Antares terlalu percaya diri sedangkan Lettasya sama sekali tidak tertarik dengan urusan lelaki itu. ***** “Ada apa, Mud?” tanya Antares saat membuka pintu dan mendapati seorang yang bertugas khusus membawa pesan berdiri di depan pintu. Patsy Mudler merupakan satu dari beberapa orang pilihannya yang memang ditugaskan sebagai pembawa pesan karena keahlian mereka dalam mendapatkan informasi penting, sekali pun rahasia yang hanya didengar segelintir orang. Serta kecepatan mereka dalam mengendarai kuda sehingga berita bisa sampai di telinganya sebelum angin utara membawa helai daun pohon pum gugur ke tanah. Sosok dengan pakaian tertutup yang mengenakan kain panjang cokelat untuk menutupi sebagian wajahnya itu berbalik. “Bisakah setidaknya kau menawarkanku masuk dan minum lebih dulu?” Begitu kain tersebut diturunkan, tampak lah wajah cantik dengan senyum manis menatap Antares. Selain seorang pembawa pesan, Pasty juga seorang teman lama Antares. Mereka sudah saling mengenal dalam kurun waktu hampr separuh usia Antares saat ini. “Dan bisakah kau lebih professional ketika memberiku berita?” “Oh, ayolah….” Patsy melewati Antares begitu saja. “Santai sedikit. Aku membawa kabar yang baik.” Antares menghalangi langkah Pasty yang hendak masuk lebih dalam. “Apakah kau sudah menemukan gadis yang dicari oleh Yang Mulia Orion?” Di luar dugaan Pasty menggeleng. “Bukan kabar itu.” “Mudler!” Seketika wajah gembira Pasty surut. Perempuan itu menghela napas dalam sebelum kemudian nada bicaranya juga berubah tidak sesantai sebelumnya. “Bangsawan Costword sudah berada diambang kematian. Para Balian sudah menyerah dan meminta Tuan Costword untuk mengirim utusan. Meminta bantuan pada Rhizmist.” Balian merupakan sebutan untuk para muda-mudi yang paham pengobatan, sedangkan Rhizmist lebih khusus untuk orang-orang yang ahli dalam membuat racun serta penawarnya. Jika Balian memiliki tempat yang telah disediakan oleh kerajaan juga terbuka untuk umum, baik yang ingin berobat mau pun yang ingin menjadi bagian dari anggota tersebut, maka Rhizmist sebaliknya. Tidak ada yang tahu di mana pusat perkumpulan meraka, ditambah keberadaan Rhizmist tidak menetap di satu tempat dalam waktu yang lama. Terakhir, tidak ada yang mengetahui berapa jumlah Rhizmist. Untuk sesaat Antares tampak terdiam. “Hanya itu?” “Baiklah, saya pergi. Tuan Antares,” sindir Pasty. Sementara Antares seakan tak peduli dan membiarkan kawan lamanya itu pergi. Segera sesudah itu Antares kembali ke kamar, melihat Lettasya masih mengobati anaknya. Dihampirinya wanita tersebut. “Apa yang sudah kau lakukan kepada Tuan Costword?” Lettasya menoleh bingung. “Anda bertanya pada saya?” Antares memiringkan kepala dengan mata melebar. “Saya tidak tahu siapa itu Tuan Costword. Jadi bagaimana saya bisa melakukan sesuatu pada orang yang bahkan tidak saya kenal.” “Tuan Costword adalah bangsawan yang bertikai denganmu sebelumnya.” “Ah, Tuan berperut buncit itu,” ujar Lettasya tanpa ragu. Sedikit mengejutkan mendengar seorang wanita berkata kasar pada seorang bangsawan seperti itu, tapi Antares bisa memakluminya. Bukan itu yang terpenting sekarang. “Dia sedang berada diambang kematian sekarang.” “Kupikir dia sudah melewati pintu neraka,” gumam Lettasya pelan. Sangat pelan hingga ia yakin hanya semut yang mendengarnya. “Apa?” tanya Antares. Lettasya merapatkan mulut dan menggeleng. “Memangnya apa yang terjadi?” Pertanyaan itu berasal dari Lettasya, tidak terdengar seperti seseorang yang benar-benar ingin mengetahui keadaan korban. “Kau yakin tidak melakukan apa pun?” “Apa yang harus saya lakukan agar Tuan percaya?” Kedua pasang mata itu saling beradu. Yang satu menatap dengan sorot menantang, sementara satu lainnya masih menaruh curiga. Aksi pandang mereka baru terputus ketika lagi-lagi pintu rumah Antares diketuk. Lelaki itu bahkan mengerang jengkel seakan kalah dari sebuah kompetisi. Langkah kaki Antares bergerak cepat, teramat ingin meluapkan emosi pada seseorang di balik pintu yang ia duga masih orang yang sama dengan sebelumnya. “Mudler, sudah kubilang….” Seorang prajurit dengan peralatan lengkap membungkuk hormat. “Tuan.” “Katakan!” “Saya diperintahkan Yang Mulia Raja untuk menyampaikan bahwa Anda telah ditunggu untuk menghadap.” “Ada perlu apa?” Seingat Antares, Orion telah memintanya memantau pencarian di jalur masuk timur. Dua hari kemudian barulah Antares berganti ke arah selatan. Perintah utama yang harus dilakukannya adalah sesegera mungkin menemukan gadis yang dicari. “Ini mengenai tanda khusus,” ujar prajurit tersebut. “Baiklah, kalian bisa kembali ke istana lebih dulu. Aku akan menyusul setelah berganti pakaian.”  Antares bergerak menuju ruangan ganti, tapi sebelumnya ia melewati  kamar di mana Lettasya masih terlihat merawat anaknya dengan telaten. Raut wajah khawatir wanita itu memang tidak dibuat-buat seperti ketika mempertanyakan keadaan Tuan Costword. Namun, Antares akan tetap mencari tahu bagaimana wanita itu memperlakukan anaknya sehingga bocah tersebut mendapat begitu banyak lebam. *****   To Be Continue Don’t forget to  tap love dan coment! Thank you for reading.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD