11. Puncak Asmara

1084 Words
"Apa rencanamu merebut Halimah?" tanya Nenden. "Besok antar aku ke mall!" jawab Surya. "Belanja kita?" Nenden sumringah. "Iya, aku mau belikan Halimah kerudung dan gamis-gamis mahal. Lihat saja tadi pakaian yang dikenakan Halimah. Sederhana sekali. Tapi dia tetap terlihat cantik, semakin cantik memakai kerudung." Surya terkekeh. "Kau mengajakku berbelanja untuk keperluan Halimah? Pergi saja sendiri! Malas aku berlelah-lelah membelanjakan perempuan gatal itu!" Nenden kesal. "Hei, sudah kubilang jangan kau hina-hina Halimah!" Surya emosi. "Ya, memang kenyataannya, kok!" "Kenyataannya itu para lelaki memang menyukai dia yang baik dan santun. Sekali lagi kau hina dia, lihat saja!" "Apa? Lihat apa? Kau mau apa? Bela saja terus perempuan lain. Bukannya bela adik sendiri!" "Memang kau disakiti Halimah? Dia berbuat jahat apa denganmu, heh?" Nenden tak berselera meneruskan makan mie ayam. "Ah, aku tak suka karena dia cantik, aku tak suka karena banyak pria yang menyukai dia. Puas?" Nenden berdiri dan menendang kursi dengan kesal. Ia menelpon Uak Sanim untuk menjemput dirinya. "Sana kau pulang sendiri. Jangan campuri urusanku!" ujar Nenden pada Surya yang masih menikmati mie ayam tanpa peduli dengan kemarahan Nenden. "Siapa yang peduli dengan urusanmu?" sahut Surya. Nenden makin kesal dengan sikap Surya yang benar-benar tak mempedulikan perasaannya. Tak menunggu lama, Uak Sanim muncul dengan motornya untuk menjemput Nenden. "Cepat sekali, dari mana?" tanya Nenden. "Habis dari warung kopi. Itu Surya?" Uak Sanim hendak menegur Surya. "Sudah, jangan kau pedulikan dia. Ayo, cepat pergi!" Nenden segera duduk di boncengan. Surya hanya melirik sekilas ke arah Uak Sanim tanpa berniat menegurnya. Ia kembali menikmati mie ayamnya. "Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Uak Sanim. "Jangan tanya apapun. Bawa aku ke mana saja, aku mau dihibur!" sahut Nenden kesal. "Ya, kalau mau dihibur kita ke hotel saja, bagaimana?" Uak Sanim terkekeh. "Pokoknya ajak aku belanja!" sungut Nenden. "Iya kita belanja, habis belanja kita ke hotel, ya. Aku sedang punya uang banyak. Seminggu di hotel kita bisa puas berduaan." "Kau bilang sedang berhemat untuk biaya pernikahan kita. Dapat uang dari mana?" "Ada yang jual tokek dan ayam cemani. Aku perantaranya," jawab Uak Sanim. Nenden diam. Ia tahu betul jika Uak Sanim berhasil menjadi perantara jual beli tokek atau ayam cemani, itu berarti brankas uang di rumah Uak Sanim penuh dengan uang. *** "Alhamdulillah, Limah kenyang sekali, Bang!" Halimah menjatuhkan dirinya di kursi ruang tamu. Ruslan menaruh kunci motor di atas nakas dan membuka jaket. Ia duduk di sebelah Halimah. "Adek cantik kalau pakai kerudung," puji Ruslan sambil menatap lekat Halimah. "Jadi tanpa kerudung, aku tidak cantik?" Halimah mengerucutkan bibirnya. "Cantik, Dek. Pakai kerudung tambah cantik. Abang juga tenang karena auratmu terjaga. Terbalut sempurna dengan gamis longgar dan kerudung sebatas perutmu ini." "Ini gamis pilihan Abang, bukan pilihan Limah," sahut Halimah masih dengan bibir mengerucut. "Ya, Adek pilih gamis yang terlalu pas dengan bentuk badan. Percuma pakai gamis dan kerudung jika masih memperlihatkan lekuk tubuh." "Tapi ini terlalu lebar gamisnya, kerudungnya juga terlalu sederhana. Aku gerah, Bang!" gerutu Halimah. "Ssstt, jangan pernah Adek katakan gerah dengan kerudung yang Adek pakai. Itu belum apa-apa dibanding panas neraka. Menutup aurat sudah kewajiban bagi wanita muslim." "Pakai celana kulot dipadu tunik juga bisa pakai kerudung, Bang!" Halimah masih bersikeras. "Gamis saja ya, Dek!" sahut Ruslan lembut. Ia menatap Halimah penuh cinta, membelai kepala Halimah lalu mengecup keningnya. Halimah luluh dengan kelembutan Ruslan. "Malam ini kita main, ya!" ajak Halimah tersipu sambil menusuk-nusuk ujung hidung Ruslan dengan telunjuknya. "Main apa? Congklak?" goda Ruslan. "Abang, ih. Aku mau main, Bang!" rajuk Halimah. "Adek pasti mau datang bulan," ujar Ruslan. Halimah membuka kerudungnya. Ia memeluk Ruslan dan mengecup bibir Ruslan berkali-kali. Namun Ruslan melepaskan pelukan Halimah. "Sabar, Dek. Abang ke kamar mandi dulu, ya. Tunggu Abang di kamar, pakai lingerie yang Abang belikan kemarin," ucap Ruslan lembut. Halimah menghela napas tertahan. "Jangan lama-lama di kamar mandinya!" Halimah segera meraih kerudung di atas meja lalu masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Halimah sudah berganti kostum. Ia mematut-matut dirinya di depan cermin dengan lingerie warna ungu yang dibelikan Ruslan kemarin. Wajahnya berbinar. Ia memainkan rambutnya. Membelai tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Ruslan masuk ke dalam kamar. Melihat Halimah yang merentangkan kedua tangan padanya. Betapa rasa bersalah selalu menggelayut di hati Ruslan. Libido Halimah begitu menggebu sementara ia tak mampu membuat Halimah menuju puncak. Segera ia menghampiri Halimah, memeluknya erat lalu menggendongnya ke atas tempat tidur. Malam itu mereka memadu kasih, meliuk-liuk menikmati kehangatan yang sama-sama mereka rindukan. Halimah tak tahu jika malam itu Ruslan memakai tisu magic dari Budi. Ruslan ingin mencoba sekali, ia ingin melihat Halimah menangis di puncak kebahagiaan. Tekad Ruslan yang begitu kuat membuahkan hasil. Untuk kali pertama sepanjang usia pernikahan mereka. Halimah merasakan apa itu surga dunia. Halimah terbang ke angkasa, mengepakkan sayap berdua dengan Ruslan. "Abang, Limah mau lagi!" Halimah memohon. Ruslan melempar dirinya ke sisi tempat tidur. "Maafkan Abang, Abang lelah," sahut Ruslan. Ia lantas membelai kening istrinya yang berkeringat. "Lagi, Bang!" rajuk Halimah. Ruslan mengatur napasnya. "Besok lagi, sayang!" Halimah terdiam, sama-sama menenangkan napas. "Dek!" panggil Ruslan. "Hm." Halimah bergelung di ketiak Ruslan. "Baru pertama, tak apa-apa, bukan?" Halimah tak menjawab, ia hanya mengangguk. Halimah ingin merasakan lagi betapa ringan perasaannya saat ia terbang ke angkasa. Indah dan menakjubkan. Halimah meminta sekali lagi namun Ruslan tak sanggup memenuhi keinginannya. Ia merasa kesal lalu terdiam beberapa saat. Namun kilasan-kilasan kelembutan dan perhatian Ruslan selama ini bermunculan di benak Halimah. Ia mengucap istighfar dalam hati. Lalu menarik napas dalam. "Abang, terima kasih. Sudah membawa Halimah menuju indahnya puncak kebahagiaan." Halimah berbisik di telinga Ruslan yang sudah terpejam. "Hmmm." Ruslan tersenyum lalu merengkuh bahu Halimah penuh kasih. Malam itu, Ruslan dan Halimah tidur dengan posisi yang sama hingga azan Subuh berkumandang. "Bang, sudah azan. Bangun!" Halimah mencolek-colek hidung Ruslan. "Bang!" panggil Limah sekali lagi. "Iya, Dek. Abang sudah bangun, kok!" sahut Ruslan namun dengan matanya yang masih terpejam. "Bangun, ih! Cepat mandi, sudah azan Subuh." "Mandi sama-sama, yuk!" Ruslan membuka matanya. "Aku tak mau, nanti mainan sabun lagi. Waktu salat Subuh itu sebentar, Bang." "Lalu kapan kita mandi sama-sama?" "Nanti sore sepulang Abang kerja," sahut Halimah mencoba melepaskan pelukan Ruslan di pinggangnya. "Ayo, ah!" Halimah menarik lengan kanan Ruslan. Ruslan sebetulnya masih ingin tidur beberapa menit lagi. Namun ajakkan salat berjamaah Halimah tak bisa ia tolak. "Iya, Abang bangun. Adek mandi dulu saja." "Nanti Abang tidur lagi, susah lagi. Aku mandinya sebentar." "Abang sayang, bantal gulingnya Limah. Ayo, kalau mau mandi sama-sama!" Halimah mengalah. Ruslan bangun secepat kilat lalu menggendong Halimah menuju kamar mandi. "Jangan mainan sabun, ya. Ini sudah jam lima. Nanti salat Subuhnya kesiangan!" "Iya, sayang!" sahut Ruslan tersenyum bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD