10. Mie Ayam kesukaan Halimah

1181 Words
Ruslan sedang santai di depan televisi. Ia menikmati secangkir kopi hitam hangat dan sepiring pisang goreng yang disuguhkan Halimah. Tring! Ponsel Ruslan berbunyi. Ruslan meraih ponsel dan membuka aplikasi hijaunya. Halo Ruslan, apa kabar? Masih ingat aku? Begitu isi pesan dari seseorang. Ruslan mengerutkan kening. Ia memperbesar foto profil orang yang mengiriminya pesan. "Mira?" desis Ruslan pelan. Segera ia membalas pesan Mira. "Ini Mira?" "Rupanya kau masih ingat aku. Aku kaget ternyata kau bekerja di pabrik elektronik milik Om aku."  "Memang Om-nya orang Jepang, ya? Pabrik tempatku bekerja kepunyaan orang Jepang." Iya, tapi Om aku yang diberi kepercayaan penuh mengelola pabrik itu di sini. Senin depan aku juga kerja di sana. Bagian administrasi keuangan. Kudengar, kau ada di bagian produksi?" "Tahu dari mana?" "Dari Budi. Kemarin aku tak sengaja bertemu Budi sedang bersama anak istrinya di mall." "Oh, iya. Aku di bagian produksi." "Oke, baiklah. Sampai bertemu hari senin, ya!" Mira mengakhiri percakapan. Ruslan meletakkan kembali ponselnya. Ia kembali mengingat-ingat tentang Mira. Teman sekelasnya yang selalu tampak berbeda dari yang lainnya. Semua yang ia pakai adalah barang-barang mahal. Tas, sepatu, asesoris rambutnya, bahkan jari tangan kirinya selalu terlihat manis dengan dua cincin emas berkilauan. Gelang dengan rantai bentuk hati menjadi pelengkap penampilannya yang cantik dan berkulit seputih s**u. Tak ada lelaki yang berani mendekatinya. Mira terlampau sempurna. Cantik, kaya juga pintar. Ruslan dan Mira selalu kejar-kejaran prestasi. Peringkat satu dan dua sering bergantian mereka raih. "Abang, kenapa melamun?" Halimah yang memperhatikan Ruslan dari tadi menegurnya. Ruslan sedikit terperanjat. "Oh, tadi ada kawan Abang kirim pesan." "Siapa?" tanya Halimah. "Mira. Kawan Abang semasa SMU. Abang dan dia selalu bergantian meraih juara satu dan dua." "Kenapa dia menghubungi Abang?"  "Rupanya pabrik elektronik tempat Abang kerja itu dikelola penuh oleh Om-nya Mira." Halimah mengangguk-angguk tanpa bertanya apa-apa lagi. "Abang, terima kasih, ya. Kemarin Abang banyak membelikan Limah baju dan kerudung. Nanti kapan-kapan koleksinya ditambah, ya." Halimah menjatuhkan kepalanya di bahu Ruslan. "Mana coba Abang lihat Adek pakai kerudung sekarang," sahut Ruslan. "Sekarang sedang di rumah, Bang. Tak ada siapa-siapa pula. Aku tak pakai baju juga tak apa-apa, bukan?" Halimah mengedipkan sebelah matanya. "Mulai nakalnya, ya. Istri Abang senang sekali menggoda Abang!" Ruslan menjawil ujung hidung Halimah.  "Bang!" Halimah menusuk-nusuk bahu Ruslan dengan telunjuknya. "Hm." "Malam ini kita main badminton, yuk!" pinta Halimah malu-malu. "Abang tak mau. Abang mau main bulutangkis!" sahut Ruslan. "Main apa saja boleh, kok. Judulnya kita main." Halimah tersenyum cerah.  "Dek," panggil Abang lembut. "Iya, Bang." "Abang sebetulnya malu tiap kali kita bermain." Halimah diam, menunggu kelanjutan ucapan Ruslan. "Abang tak bisa mengajakmu ke puncak," lanjut Ruslan lirih. Halimah masih diam. Kepalanya masih ia rebahkan di bahu Ruslan.  "Kok, diam?" tanya Ruslan. "Abang kenapa tak pernah mau minum s**u telur madu jahe? Itu ramuan sederhana tapi banyak khasiat, Bang." "Abang sudah berkali-kali bilang, perut Abang mual minum ramuan seperti itu." Halimah terdiam lagi. "Jujur sama Abang, Dek. Kau sebetulnya tidak bahagia menjadi istri Abang, 'kan?" Ruslan merengkuh kedua bahu Halimah. "Abang tak bosan bertanya seperti itu terus?" "Buktinya kau selalu meminta Abang minum ramuan itu." "Bang, s**u telur madu jahe itu khasiatnya banyak. Abang bisa kuat kerja di pabrik. Tidak mudah lelah. Badan Abang selalu bugar. Apalagi kalau Abang rajin olahraga. Tambah sehat dan kuat badan Abang nanti," jelas Halimah.  Ruslan kembali menyandarkan punggungnya  di sandaran kursi. "Apa sebaiknya Abang pindah kerja, Dek. Melamar di bagian administrasi?"  "Memang ada lowongan di mana?" tanya Halimah. "Nanti Abang cari-cari info. Tapi, sayang juga kalau harus meninggalkan pabrik. Posisi Abang sudah karyawan tetap." Ruslan gamang. "Abang Ruslan yang tampan, mataharinya Limah, bantal gulingnya Limah, tak usah galau. Abang masih kuat kerja di pabrik?" Ruslan mengangguk.  "Sebelum Abang dapat kerja permanen di bagian administrasi, Abang jangan keluar dulu dari pabrik," saran Halimah. "Atau aku berjualan lauk pauk matang saja di depan rumah ya, Bang," usul Halimah lagi. "Tak usah. Nanti kau lelah. Adek cukup mengurusi Abang saja. Adek itu tak punya kewajiban ikut-ikut mencari nafkah. Abang menghargai niat tulusmu membantu perekonomian kita, tapi Abang masih sanggup menghidupimu. Kau tidak merasa kekurangan, bukan?" Halimah tersenyum lembut. Ia memang tidak kekurangan apapun mengenai nafkah lahir. Hanya saja, Ruslan belum mampu memenuhi nafkah batin yang selalu dimimpikannya.  "Bang, Halimah rasa-rasanya ingin makan mie ayam dekat minimarket, Bang. Kesana, yuk!"  Halimah mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau membahas apapun mengenai nafkah batin suaminya. Ia tak ingin Ruslan terus-menerus merasa rendah diri dengan kekurangannya yang satu itu. "Sejam yang lalu kita baru saja makan. Memang kau belum kenyang, Dek?" "Abang, ih. Katanya Abang mau belikan apapun yang aku mau!" Halimah cemberut. "Iya, iya, abang belikan!" Ruslan lekas berdiri. "Aku ikut. Makan di sana saja, Bang!"  "Ya, sudah. Ayo lekas ganti kostum. Pakai kerudung yang rapi. Kau semakin terlihat cantik bila pakai kerudung, Dek!"  Halimah berjinjit, mencium pipi Ruslan lalu bergegas masuk kamar hendak ganti baju. *** Halimah tampak senang melihat semangkuk mie ayam ditambah bakso besar yang tersaji di hadapannya. "Hmmmm, harum sekali aromanya, Bang!" "Ya, sudah. Habiskan. Abang setia menunggu sampai kau habiskan mie ayamnya."  "Abang yakin tak mau pesan?" "Perut Abang kenyang sekali, Dek. Habis makan tadi kau suguhkan pisang goreng. Sudah, kau makan saja. Biar semakin montok istri Abang yang cantik ini," ucap Ruslan pelan. Sebelum Halimah menyentuh sumpit hendak melahap suapan pertama. Nenden dan Surya menghampiri Halimah dan Ruslan. "Apa kita boleh bergabung?" Nenden sudah duduk di hadapan Halimah. "Hei, Rus, apa kabar?" Surya menepuk bahu Ruslan. "Surya? Wah, lama tak dengar kabarmu. Merantau kemana?" tanya Ruslan menyalami Surya. Surya menerima uluran tangan Ruslan. "Cari duit, Rus!" sahut Surya terbahak. "Sudah dapat banyak sepertinya," ucap Ruslan. Surya kembali terbahak. "Cukuplah untuk membahagiakan seseorang!" "Wah, Alhamdulillah. Mau pesan mie ayam juga kalian?" tanya Ruslan. "Pak Juki, mie ayam bakso dua, ya!" Nenden setengah berteriak pada Pak Juki, penjual mie ayam. "Hebat kau berhasil menikahi Halimah, si kembang desa," puji Surya melirik Halimah. Halimah tersipu. Ruslan mengelus punggung Halimah. "Mbak Nenden, Bang Surya, saya boleh makan mie ayamnya lebih dulu?" tanya Halimah. "Oh, silakan!" sahut Surya cepat. Sementara Nenden hanya tersenyum tipis dan sedikit sinis. "Kau tidak pesan?" tanya Surya pada Ruslan. "Sejam sebelum ke sini, aku sudah makan. Hanya saja Halimah hobi makan mie ayam. Jadi mau sekenyang apapun ia, kalau sudah mau mie ayam, tak ada kata kenyang," sahut Ruslan. Surya tergelak. Halimah mencubit paha Ruslan. Halimah makan mie ayam dengan lahap. Surya memandangi Halimah, pujaan hatinya sejak lama. Jadi kau hanya mampu membelikannya mie ayam, Rus? Batin Surya menyepelekan Ruslan. Tak lama, pesanan Nenden dan Surya sudah tersaji. Mereka makan mie ayam diselingi percakapan-percakapan kecil. Namun jauh di lubuk hati Surya, ia teramat menyayangkan mengapa Halimah menikah dengan Ruslan. Seringkali Surya mencuri pandang ke arah Halimah yang tampak sangat menikmati mie ayam yang dimakannya.  Setelah Halimah selesai menikmati mie ayam, keduanya berpamitan pada Nenden dan Surya. Surya sungguh merasa iri melihat Halimah berada di atas motor dan memeluk erat Ruslan dari belakang.  "Kau cemburu, ya!" ujar Nenden. Surya tak menjawab, ia melanjutkan makan mie ayam.  "Kau lihat sendiri, bukan. Halimah terlihat bahagia dan mencintai Ruslan. Yakin kau bisa merebut pujaan hatimu?" tanya Nenden sangsi. "Ah, diam kau! Aku sedang memikirkan sebuah rencana!" tukas Surya kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD