9. Kedatangan Surya, Kakak Kandung Nenden

1392 Words
"Kenapa kau bisa diantar Alfian kemarin sore? Habis dari mana kalian?" tanya Uak Sanim tajam pada Nenden yang duduk di depannya. Nenden mengaduk-aduk jus alpukat yang tinggal setengah gelas. Sore itu mereka sedang menikmati soto ayam kampung di kios yang tak jauh dari rumah Nenden. "Bu Haji Miftah memberiku oleh-oleh banyak, rumahku jauh. Jadi Alfian menawarkan untuk mengantarku pulang," jawab Nenden santai. "Alfian yang menawarkan atau kau yang meminta?" tanya Uak Sanim sangsi. "Kalau aku yang meminta kenapa? Salah?" tantang Nenden. "Kenapa tidak menelpon aku?" "Kau bukannya sedang sibuk membonceng Halimah kemarin sore?" sahut Nenden santai. Uak Sanim sedikit terkejut. "Apa kau tahu dari mana Halimah kemarin sore? Dia seharian berada di rumah Alfian. Padahal hari minggu suaminya libur. Tapi ditinggalkannya demi menemui Alfian. Entah apa yang dilakukan Halimah seharian di rumah Alfian." Nenden mulai menghasut Uak Sanim. "Halimah seharian di rumah Alfian? Apa yang dilakukannya?" Uak Sanim keheranan. "Aku dan Alfian itu satu angkatan di SMU. Kami sempat dekat tapi Halimah merusak hubungan aku dan Alfian." Nenden mengarang cerita. "Lalu untuk apa kau ke rumah Alfian kemarin? Sengaja ke sana? Menemui dia?" "Aku berpapasan di jalan dengan Alfian lalu dia menawarkan oleh-oleh." "Sedikitpun aku tak percaya padamu!" sahut Uak Sanim. "Kau pernah bilang, dalam sebuah hubungan harus saling percaya. Tidak boleh saling curiga. Kenapa sekarang kau tidak percaya ceritaku?" Uak Sanim hanya diam. Hatinya sama sekali tak mempercayai apapun yang dikatakan Nenden. "Aku melihatmu membonceng Halimah namun dicegat Ruslan di tengah jalan. Mau kau bawa kemana Halimah? Rumah dia dari persimpangan itu belok kanan bukan belok kiri?" tanya Nenden. "Aku mengajaknya makan seblak," sahut Uak Sanim enteng. "Halimah itu sudah bersuami. Apalagi Halimah hanya istri keponakan tirimu. Apa pantas mengajaknya pergi berduaan seperti kemarin? Halimah kenapa juga mau diajak pergi olehmu? Kalian memang sama saja. Sama-sama gatal!" sungut Nenden. "Jaga mulutmu! Kau pikir aku pria macam apa yang menginginkan istri orang?" Uak Sanim geram. Nenden diam. Ia tak peduli dengan kemarahan Uak Sanim. Sudah tua masih saja gatal. Dia pikir aku takut jika dia meninggalkan aku? Silakan saja! Aku sudah punya incaran baru yang lebih muda, tampan dan tentu saja uangnya lebih banyak dari kakek tua ini. Rutuk Nenden dalam hati. *** Halimah dan Ruslan tampak memasuki sebuah swalayan. Halimah menggandeng lengan Ruslan mesra. Saat itu ia mengenakan kerudung warna merah muda, senada dengan warna gamis yang dikenakannya. "Nanti cari baju dan kerudung dengan warna lain juga, ya. Jangan kebanyakan warna merah muda. Nanti orang pikir kau tidak punya baju ganti. Itu-itu terus," ucap Ruslan. "Tapi modelnya beda, Bang. Warna sama modelnya ganti-ganti," jawab Halimah. "Sekali-sekali Abang ingin melihatmu pakai baju dan kerudung warna orange. Warna kesukaan Abang." "Abang, warna orange terlalu terang. Nanti cantiknya Limah bisa makin berkilau. Abang tak khawatir jika nanti Limah banyak yang naksir?" kelit Limah sambil tertawa kecil. "Pandai nian istri Abang ini berkelit, ya!" Ruslan menjawil ujung hidung Halimah. "Abang beli baju juga, ya!" Halimah menarik lengan Ruslan ke area busana pria. Namun Ruslan segera menarik Halimah menuju area busana muslim wanita, agar Halimah segera membeli apa yang menjadi tujuan utama mereka pergi ke swalayan. "Bang, harganya mahal-mahal," bisik Halimah. "Masih jauh lebih mahal istri Abang daripada harga baju-baju ini," sahut Ruslan santai. Pipi Halimah memerah. "Beli baju warna pink, ya?" "Terserah Adek saja, hati istri senang, rezeki suami datang!" sahut Ruslan menggandeng pinggang Halimah makin mesra. "Ayo, pilih saja mana yang Adek mau, Abang jadi pengawal sore ini." Ruslan paham betul saat perempuan berbelanja, sibuk memilih satu dan yang lainnya. Beli barang satu hanya perlu waktu dua menit, pilih-pilihnya hingga satu jam. Halimah semakin bersemangat berbelanja. Ruslan setia mengekori Halimah kebingungan memilih baju mana yang harus dibeli. Di kejauhan, tampak Alfian memperhatikan Halimah dan Ruslan. Ada binar senang sekaligus perih di mata Alfian. Senang karena Halimah terlihat bahagia bersuamikan Ruslan. Perih karena bukan ia yang menjadi suami Halimah. "Fi, kau melihat siapa? Ibu panggil-panggil kau diam saja," tegur Bu Haji Miftah menyerahkan barang belanjaan pada Alfian. Alfian tersentak. "Emh, tadi sepertinya aku lihat Halimah dengan suaminya di area busana muslim. Halimah juga memakai kerudung, Bu." Alfian menerima kantong belanjaan ibunya. "Di mana mereka? Ayo, kita hampiri!" Bu Haji Miftah bergegas menuju area busana muslim. "Bu, Alfian lapar. Kita makan saja, ya!" cegah Alfian. Bu Haji Miftah menyetujui permintaan Alfian dan mengurungkan niatnya menemui Halimah. *** Nenden sedang duduk menonton acara gosip di televisi. Terdengar salam dan ketukan di pintu masuk rumahnya. "Assalamu'alaikum" Nenden mengerutkan kening. "Wa'alaikumussalam". Bergegas Nenden membukakan pintu. "Surya?" Nenden terkejut lalu kembali menutup pintu namun segera dicegah oleh Surya, kakak kandung Nenden. "Tunggu sebentar, aku bawa uang banyak. Akan kubayar semua utangku padamu!" ujar Surya. Nenden tampak berpikir. Surya lantas menurunkan tas berukuran besar dari pundaknya. Membukanya sedikit di depan Nenden. Nenden terbelalak melihat isi tas Surya penuh dengan tumpukan uang. Lekas ia membuka pintu dengan lebar. "Ayo, cepat masuk!" Surya menyeringai. "Dasar perempuan gila uang!" "Kau dapat uang sebanyak itu dari mana?" tanya Nenden sambil menutup pintu. "Aku menang judi," jawab Surya enteng. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi. Menyandarkan punggung dan merentangkan kedua tangannya pada sandaran kursi. "Aku orang kaya sekarang!" "Benar kau menang judi?" tanya Nenden sangsi. "Kau pikir aku menjadi memelihara tuyul? Berapa utangku padamu? Kubayar lunas sekarang juga beserta bunganya!" Surya membuka tas. Mengeluarkan tumpukkan uang dan menatanya di atas meja. "Dua puluh lima juta. Jadi lima puluh juta untuk bunganya," sahut Nenden ketus. "Kau lebih gila dari rentenir, Nden. Aku ini kakak kandungmu, bukan orang lain!" "Karena kau kakak kandungku jadi wajar kau memberiku uang banyak. Lagipula kau belum beristri. Pada siapa lagi kau bagi uang sebanyak itu?" tukas Nenden. "Pada gadis pujaankku!" Nenden mendelik. "Dua tahun kau kemana saja? Perempuan gatal itu sudah diambil orang!" "Heh, jaga mulutmu! Halimah itu perempuan baik-baik. Aku tahu betul siapa dia!" Surya tak terima wanita pujaannya dihina. "Aku heran, apa bagusnya Halimah sampai semua laki-laki di daerah ini tergila-gila padanya? Perempuan munafik, sok cantik, sok suci!" Nenden benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya pada Halimah. "Bagaimana kabar dia? Masih cantik seperti dulu?" Wajah Surya berbinar cerah menanyakan kabar Halimah. "Punya perempuan yang ditaksir itu harusnya dikejar. Salah sendiri menghilang tak jelas rimbanya. Dia sudah menikah dengan Ruslan!" jawab Nenden ketus. "Apa? Sudah menikah dengan...Ruslan? Ruslan keponakan Sanim?" Surya terkejut. "Iya!" Nenden mendelik melihat keterkejutan Surya. "Ah, kenapa Halimah mau dengan si Ruslan!" Surya mengacak-acak rambutnya frustasi. "Aku bawa uang sebanyak ini untuk menikahinya dan dia malah menikah dengan si Ruslan yang loyo itu?" "Loyo bagaimana maksudmu?" Nenden mengerutkan kening. "Lihat saja badannya si Ruslan. Jalan saja dia kurang tegap. Badan kurus kering, kena angin saja langsung rubuh!" "Ah, bilang saja kau cemburu. Badan kurus seperti Ruslan saja Halimah sangat mencintainya. Memangnya tak ada perempuan lain di dunia ini? Halimah lagi Halimah lagi. Bosan aku mendengar nama itu!" sungut Nenden. "Kau ini kenapa? Dari dulu selalu saja membenci Halimah. Salah dia apa padamu?" tanya Surya. "Ah, sudahlah. Cepat mana uangku, beserta bunga yang aku sebutkan tadi!" "Dasar perempuan licik?" Surya mulai menghitung tumpukan uangnya. "Apa yang akan kau lakukan dengan uang sebanyak itu?" tanya Nenden. ""Kurebut Halimah dari si Ruslan!" jawab Surya masih fokus menghitung uang. "Memang perempuan cantik itu hanya Halimah saja? Kau buta atau bagaimana? Sanim, Alfian, Wardi dan masih banyak lagi termasuk denganmu kenapa harus tertarik dengan Halimah?" "Ini namanya cinta, Nden. Cinta!" Surya menyerahkan beberapa gepok uang pada Nenden. "Siapa calon suamimu sekarang? Jangan bilang kau masih cinta mati dengan mantan suamimu itu!" Nenden diam saja tak menjawab pertanyaan Surya. "Rumah ini isinya makin lengkap, baru-baru semua. Aku yakin, kau membeli semua ini bukan dengan uangmu sendiri." Surya mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah Nenden. "Sanim yang membeli semua isi rumah ini," sahut Nenden pelan sambil menimang-nimang gepokkan uang pemberian Surya. "Apa? Sanim? Kau berpacaran dengannya? Dengan si tua Sanim? Yang benar saja, Nenden? Apa di daerah sini kau kekurangan stok laki-laki seusiamu? Kenapa harus berpacaran dengan si Sanim?" Surya terbelalak kaget "Aku tak peduli. Sepanjang uang dia banyak dan hidupku terjamin, kenapa tidak?" Nenden mengedikkan bahu. Surya menyeringai. " Kau itu tidak jelek-jelek amat, Nenden. Carilah laki-laki muda seusiamu!" "Ada, sih. Laki-laki muda, kaya dan baik hati." Nenden tersenyum tipis. "Siapa? Aku kenal dengan laki-laki itu?" tanya Surya antusias. "Ah, sudahlah! Senang sekali mencampuri urusanku!" Nenden berdiri lalu berlalu masuk ke kamarnya. "Nden, apa kau bisa bantu aku mendapatkan Halimah?" teriak Surya serius. Di kamar, Nenden mematung sejenak. Wajahnya pun serius seperti sedang merencanakan sesuatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD