8. Permintaan Ruslan

1241 Words
Saat Halimah berada di boncengan motor Uak Sanim, terdengar bunyi klakson berkali-kali dari arah belakang. Tampak Ruslan sedang mengejar motor Uak Sanim.  "Uak, berhenti. Di belakang ada Bang Ruslan. Mungkin tadi mau menyusul saya ke rumah Bu Haji Miftah." Uak Sanim mengendurkan gas motor. Ia menengok ke belakang. Benar saja Ruslan sudah berhasil menyusul motornya dan sekarang sudah menjejeri posisinya. "Mau kemana bawa Halimah, Uak?" tanya Ruslan. Uak Sanim menghentikan motor. "Tadi Uak melihat Halimah di persimpangan jalan sedang membawa dua kantong besar. Uak mau antar pulang tapi Uak ingin membelikan dulu istrimu seblak," jawab Uak Sanim santai. Halimah bergegas turun dan langsung naik ke motor suaminya. "Ya, sudah. Biar Halimah sama saya. Tolong, Uak. Itu kantong punya Halimah?" Ruslan meminta dua kantong besar yang ada di depan motor Uak Sanim.  Setengah enggan Uak Sanim menyerahkan kantong oleh-oleh milik Halimah. "Mari, Uak!" Ruslan langsung tancap gas berbalik arah meninggalkan Uak Sanim yang merasa geram karena gagal mengajak Halimah menikmati seblak berdua. "Dek, mulai sekarang kau jangan pernah ke rumah Uak Sanim apapun itu urusannya!" ucap Ruslan menenangkan hatinya yang bergemuruh melihat Halimah di bonceng oleh uaknya. "Aku tadi sudah menolak di antar Uak pulang, Bang. Tapi Uak memaksa bahkan kantong aku dia rebut," sahut Halimah setengah terisak. "Abang sudah mencium gelagat yang kurang baik dari Uak Sanim. Jangan berjalan sendirian di tempat sepi. Kalau mau main sama tetangga tak apa-apa. Di warung Bu Sumi selalu ramai, kan? Jangan keluar dari rumah kalau tidak ada kepentingan yang mendesak!" pesan Ruslan. ""Iya, Bang!" "Abang minta maaf, belum bisa sepenuhnya membahagiakanmu, Dek. Kemana-mana kau lebih sering sendiri. Besok-besok, kemanapun kau pergi jauh, mau ke rumah Ibu Miftah yang dekat sekalipun, Abang antar jemput." "Iya, Bang!" Halimah memeluk erat Ruslan dari belakang. Ia bersyukur Ruslan menjemput dirinya dan melihatnya dibawa Uak Sanim tadi. Mereka sampai di rumah. Ruslan membawa kantong besar oleh-oleh dari Ibu Haji Miftah. "Banyak sekali oleh-olehnya, Dek. Apa saja ini isinya?" tanya Ruslan. "Aku belum tahu, Bang. Halimah pikir tadi Bu Haji menelpon mau minta dibantu masak lagi. Tapi malah diajak ngobrol lalu dikasih oleh-oleh ini. Ayo, dibawa masuk saja dulu, Bang!" Halimah membuka kunci pintu masuk rumahnya. "Kau duduklah dulu, Abang ambilkan minum untukmu!" perintah Ruslan. Halimah tersenyum, ia senang jika Ruslan terkadang memberi perhatian-perhatian kecil seperti mengambilkan minum, mencarikannya remote tv, membukakan bungkus bakso jika kebetulan membeli bakso dan memakannya di rumah. Nampak kecil dan sederhana namun membuat Halimah merasa nyaman dan dipedulikan. "Terimakasih, Bang!" sahut Halimah lembut. Ruslan bergegas mengambilkan Halimah air minum. Ia lalu duduk di sebelah Halimah. Menyandarkan bahu dan sama-sama terdiam.  "Abang tidak minum?" tanya Halimah. Ruslan menggeleng. Ia menarik napas dalam. Halimah membaui tubuh Ruslan. "Iiih, Abang pasti belum mandi, ya!" Tadi sepulangnya Budi dari sini Abang langsung menjemputmu ke rumah Bu Haji Miftah. Tapi dari kejauhan Abang melihatmu dibonceng Uak Sanim. Untung saja Abang tadi tidak mandi dulu, Dek!" "Mandi dulu, sana! Sudah setengah enam. Sebentar lagi mau magrib. Tadi Abang salat Ashar tidak mandi. Abang ini mentang-mentang libur, ya. Semua serba libur!" Halimah mendorong bahu Ruslan agar segera mandi. "Mandi berdua, yuk!" ajak Ruslan nakal. Pipi Halimah bersemu merah. "Halimah kapok mandi berdua Abang. Bukannya mandi malah mainan sabun. Sayang sabunnya, Bang!" Halimah memilin-milin ujung kemejanya yang berlengan panjang.  "Duh, cantiknya istri Abang kalau sudah tersipu malu begini." Ruslan menjawil pipi montok Halimah. "Ayo, mandi berdua!" Ruslan memeluk pinggang Halimah mesra. "Tidak mau, ah! Halimah sudah mandi, Bang!" sahut Halimah pura-pura tidak mau. "Ya, sudah. Abang mandi sendiri tapi bukain baju Abang, ya!" Ruslan mengacungkan kedua tangannya ke atas. "Abang, iiiihh. Buka baju sendiri sana, ah! Limah mau buka oleh-oleh dari Bu Haji Miftah!" Halimah menggelitik kedua pinggang Ruslan. Ruslan merasa geli. Ia membalas dengan menggelitik pinggang Halimah. Keduanya berguling di atas sofa. Halimah berteriak-teriak karena geli. "Abang, awww!" "Ssstt, jangan berisik. Nanti didengar orang lewat!" Ruslan membekap mulut Halimah pelan.  Halimah menepis tangan Ruslan di mulutnya. "Ya, Abang nakal, sih! Ayo cepat mandi, Abang sayang, Abang ganteng, bantal gulingnya Limah, mataharinya Limah!" rayu Halimah menusuk-nusuk kedua pipi Ruslan dengan telunjuknya.  Ruslan mengecup kening Halimah dengan sayang. "Baiklah, Abang mandi. Nanti selepas salat Isya, kita main bulutangkis, ya!" rajuk Ruslan. "Abang ikut-ikutan Bu Joko pakai istilah main bulutangkis," ujar Halimah. "Bukan dari Bu Joko, tapi dari Budi!" ralat Ruslan mengecup bibir Halimah. Kemudian ia bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. Halimah merapikan rambutnya yang acak-acakkan. Ia lalu membuka satu-satu isi kantong pemberian Ibu Haji Miftah.  "Ya Allah, banyak sekali ini oleh-olehnya. Alhamdulillah, semoga keluarga Bu Haji diberikan lagi rezeki yang berlebih," doa Halimah sendirian sambil mengeluarkan isi kantong. Azan Maghrib berkumandang. Halimah membereskan semua oleh-olehnya lalu ditata rapi di atas meja makan. Ia segera mengambil air wudhu di keran khusus untuk berwudhu di sebelah kamar mandi. Halimah masuk kamar, menggelar sajadah lalu meletakkan sarung dan kopiah Ruslan di atas tempat tidur. Ia memakai mukena lalu duduk di tepi tempat tidur menunggu Ruslan. Ruslan selesai mandi, keduanya salat Maghrib berjamaah. Hati Halimah selalu merasa tenang mendengar lantunan ayat-ayat suci dari bibir Ruslan. Meski sekarang Ruslan sudah jarang salat berjamaah di masjid, ia selalu berjamaah menjadi imam salatnya di rumah. Setiap selesai salat, biasanya Ruslan memegang tasbih dan berzikir. Kali ini, ia letakkan tasbih di saku baju kokonya. Masih mengenakan pakaian salat, Ruslan duduk menghadap Halimah. "Dek, Abang punya permintaan. Adek mau mengabulkan permintaan Abang?" ucap Ruslan serius. "Permintaan apa Bang?"  Ruslan membelai kepala Halimah yang masih mengenakan mukena. Menyentuh kedua pipi halimah lalu mengecup keningnya. "Halimah istri Abang yang cantik dan soleha, Abang beruntung sekali mendapatkan istri secantik dan sebaik Limah. Abang sangat bahagia. Tapi Abang akan lebih sangat berbahagia jika Adek mau memakai kerudung." Ruslan menghentikan ucapannya. Kedua mata Halimah mengerjap. "Kerudung, Bang?" Ruslan mengangguk. Halimah tersenyum lalu mengangguk. "Tapi Abang maunya Adek memakai kerudung sungguhan. Bukan hanya saat Adek keluar rumah saja hendak pergi-pergian. Pakailah kerudungmu meski hanya ke warung Bu Sumi beli terasi. Pakai kerudungmu juga meski kau menjemur baju di halaman depan. Bahkan saat ada tamu yang bukan muhrim, Adek harus memakai kerudung," papar Ruslan lembut. Halimah memeluk Ruslan. Ia merebahkan kepalanya di bahu Ruslan. Meski bahu Ruslan tidak sekekar bahu pria-pria di luar sana. Tapi bahu Ruslan adalah tempat paling nyaman untuk bersandar. Ruslan membelai bahu dan punggung Halimah. "Sebetulnya Abang ingin mengutarakan hal ini jauh sebelum kita menikah. Kau mau mengabulkan permintaan Abang?" tanya Ruslan menunduk, mencium kepala Halimah. Halimah tak menjawab. Ia mengangguk berulang-ulang. "Jawab Abang, Adek sayang!"  "Iya, Bang. Halimah mau. Tapi Limah minta uang, ya. Besok pagi Limah mau ke pasar. Mau menambah koleksi kerudung Limah," rajuk Halimah manja. "Jangan ke pasar sendirian. Besok sore sepulang Abang kerja kita ke swalayan terdekat. Abang belikan gamis dan kerudung apapun yang kau mau. Bagaimana?"  "Nanti kita beli mie ayam yang dekat minimarket ujung jalan itu ya, Bang!" "Iya, kau mau berapa porsi mie ayam, Abang belikan!" Halimah senang jika Ruslan mengajaknya berbelanja. Semua ingin dibeli. Meski keinginan berbelanja Halimah selalu sederhana tapi binar kegembiraan di mata Halimah terpancar nyata. Hal itu membuat Ruslan bahagia. "Bukannya sekarang kita mau jalan-jalan, ya? Abang yang mengajak Halimah tadi sebelum ada Bang Budi ke sini." "Mau jalan-jalan atau mau main bulutangkis?" ujar Ruslan. Halimah tersipu. "Terserah Abang saja. Asal jangan dua-duanya. Besok hari senin, Abang harus kerja lagi." "Jalan-jalannya besok saja, malam ini kita main bulutangkis saja, ya!" tawar Ruslan. "Badminton, Bang. Bukan bulutangkis," ralat Halimah. "Abang maunya bulutangkis." "Limah maunya badminton." Keduanya tergelak bahagia. Halimah dan Ruslan berpelukan erat, merasakan indahnya cinta yang tertanam kuat di hati mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD