Alfian termenung sendiri di dapur sambil mengupas bawang merah. Bibirnya sesekali membentuk sebuah senyuman. Bu Haji Miftah memperhatikan tingkah anaknya pagi itu. "Fi, biasanya orang yang mengupas bawang itu menangis, kau malah senyum-senyum terus dari tadi. Apa yang kau bayangkan?" tanya Bu Haji Miftah. Alifian menoleh pada Bu Haji Miftah. "Ma, kenapa senang sekali membuat bawang goreng sendiri? Beli yang yang sudah jadi saja banyak orang jual," sahut Alfian tidak sesuai jawaban dengan pertanyaan Bu Haji Miftah. "Beli dan buat sendiri itu beda rasanya," jawab Bu Haji Miftah. "Kau senyum-senyum kenapa?" Alfian mesem. "Lucu saja melihat Mama, Halimah dan Nenden kemarin berbelanja. Entah kenapa Alfian senang sekali mengekori kalian kesana kemari." Bu Haji Miftah menghentikan aktivit

