Uak Sanim hilir mudik di dalam rumahnya. Ia geram sekali dengan Nenden. Baru saja kemarin berhasil menundukkan Nenden, hari ini teleponnya tak diangkat sekalipun. "Kemana si Nenden ini? Susah sekali dihubungi?" rutuk Uak Sanim. Pesannya pun tak dibalas oleh Nenden. Hanya centang dua warna biru. "Maunya apa itu perempuan? Diiming-imingi uang biasanya dia seperti ulat bulu, nempel terus padaku. Sejak ada Surya Nenden mulai berubah. Surya membawa pengaruh buruk untuk Nenden, huh!" umpatnya. Uak Sanim duduk, ia lelah mondar-mandir tak karuan sejak tadi. Keningnya mengkerut, memikirkan Surya yang kini punya banyak uang. Uang dari mana? Kalau menang judi, apa mungkin sebanyak itu? Merasa penasaran, ia bergegas keluar. Mengunci pintu lalu menghidupkan mesin motor. Uak Sanim hendak menuju rum

