73. Tujuh Puluh Tiga

1458 Words

Nenden telah usai menikmati hidangan spesial yang dipesan Uak Sanim. Ia bersandar menikmati sejuknya kolam ikan di bawah mereka. Restoran lesehan itu memang dibangun di atas kolam ikan yang cukup besar. Siang itu cuaca pun tidak terlalu menyengat, malah sedikit mendung. Semilir angin sepoi-sepoi membuat Nenden merasa sejuk. Ia terdiam, memandangi air kolam yang tersapu angin. Uak Sanim masih belum berani membuka percakapan kembali. "Aku lelah," lirih suara Nenden. Uak Sanim masih diam, menunggu kelanjutan ucapan Nenden. "Aku ingin istirahat sejenak dan menjauh dari sebuah hubungan asmara." Mata Nenden menerawang. "Aku akan menunggumu, Nden. Istirahatlah!" tukas Uak Sanim. Nenden tersenyum tipis. "Kau lanjutkan saja hidupmu, jangan menungguku!" sahut Nenden. "Tidak, aku akan tet

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD