87. Delapan Puluh Tujuh

1522 Words

Anisa melihat Ruslan dan Halimah bergantian. "Bisa tolong jelaskan kenapa Nisa harus bersaing dengan Mbak Halimah?" tanya Anisa. "Jangan dengarkan Abangmu, Nis. Suka ngelantur kalau bicara," sahut Halimah tetap fokus membersihkan kompor dari minyak bekas memasak. Ruslan terkekeh. "Kau tahu kalau Mbakmu itu primadona di desa ini? Nah, Surya salah satu pengagum berat Mbakmu," tutur Ruslan. Anisa terbelalak lalu tertawa. "Wah, benar apa kata Abang. Saingan Anisa berat sekali. Tidak tanggung-tanggung, Kakak ipar sendiri saingannya? Mbak, akan aku buktikan aku bisa mengalahkanmu merebut simpati Bang Surya!" ucap Anisa masih dengan sisa tawanya. "Kau ini, Nis. Masa iya Mbak jadi sainganmu, Mbak itu sudah punya Bang Ruslan!" sahut Halimah pelan. "Kau sudah punya siapa, Dek?" tanya Rusl

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD