Hai, nama ku Bellizar Wijaya
Anak terakhir dari tiga bersaudari. Ya semua kakak ku perempuan.
Aku sangat minder merasa rendah diri bila kami duduk bersama dalam ruang keluarga,
seperti saat ini kami sedang minum teh bersama,
sebuah ritual rutin seminggu sekali dalam keluarga kami.
"Liza, gimana kuliah mu, lancar?" Callista Wijaya, kakak pertama ku membuka obrolan.
Mama yang sedang menuang teh menoleh ke arah ku, seakan menanti jawaban ku.
"Lancar kok kak.. Kak Lista sendiri gimana di kantor kak, apa menyenangkan? Tanya sekena ku.
" Lancar gimana, paling dia pusing tuh Liz.. Liat aja tuh wajah nya mulai keriput" Vellisya Wijaya kakak kedua ku menimpali sambil duduk di sofa.
"Kamu tu ya, paling seneng bikin kakak mu sebel". Mama mencubit pipi Kak Lisya gemas.
"Aduh mamaaa.. Jangan cubit pipi ku dong ma, nanti klo hilang imut ku gimana?" Protes kak Lisya.
"Ishh.. Sok imut lu". kak Lista membalas sambil menoyor jidat kak Lisya.
"hahahaha hahahaha". Kami tertawa bersama.
Callista Wijaya tinggi badan 177cm,
memiliki postur tubuh ideal, berparas cantik dan smart.
Tentu saja itu yang membuat nya bisa bekerja di salah satu perusahaan ternama yang katanya persaingan sangat ketat untuk bisa diterima.
Vellisya Wijaya, model cantik dan terkenal. Tinggi badannya nyaris mencapai 180cm,
Majalah, brand kosmetik bergengsi di tanah air rela mengantri untuk bekerja sama dengan seorang Vellisya Wijaya.
Aku hampir tak percaya memiliki kakak kakak yang sangat hebat, sekarang kalian mengerti kan, kenapa aku minder.
Sedang kan aku masih kuliah, belum bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.
"Liza, apa impian mu di masa depan?" mama bertanya pada ku sambil menyesap teh nya.
"Tidak banyak ma, mimpi Liza, hidup nyaman, memiliki suami tampan, keluarga bahagia,hidup sejahtera". Aku menguraikan impian ku dengan mata berbinar.
"Liza, kak Lista pun punya mimpi yang sama dengan mu,tapi bagaimana cara mu mendapatkan itu?" kak Lista terlihat serius.
"Aku akan mengikuti mimpi ku kak, siapa tau akan kenyataan". Aku senyum-senyum sendiri.
"Well, apapun mimpi mu, ku doakan yang terbaik untuk mu adik ku sayang". Ucap kk Lisya tulus, dibarengi pelukan lebay nya.
Mama dan kk Lista tersenyum melihat kami.
Tentang mimpi yang membuat ku tersenyum sendiri, awal nya mimpi itu hanya lewat begitu saja.
Lama lama aku selalu mengharapkan mimpi itu datang setiap malam dalam lelap ku.