MIMPI itu DIA

825 Words
*Liza* Sore ini sepedaan dulu ah menikmati indahnya lingkungan kompleks perumahan ku.. Ada sungai yang dalam dengan bebatuan besar, suara gemericik air yang menenangkan, di tambah kicauan burung entah lewat atau memang tinggal disekitar sini.. Ini kalau aku gelar tikar ala-ala picnic pasti seru.. Bisa ketiduran juga nih saking damai nya suasana ini, aku suka banget suasana ini, sangat nyaman.. Masuk wish list deh +picnic di area kompleks rumah, lebih tepatnya pinggir sungai bareng pasangan hidup+ done! (nyatat nya dalam hati, dilarang protes) Jeilah pasangan hidup,, calon gebetan aje kaga punya..Hahahaha (dialog dengan diri dalam kepala)  #ccciitttttt........... #gruubyaakkk! "Awww!" Aku memekik sakit. "sorry sorry.. Kamu gak apa-apa?"  "Aduuuhhh.. Gapapa gimana, sakit tauk jatuh ketiban sepeda gini..,lagian gimana sih, masa aku ga keliatan?" Protes ku sambil memegang siku tangan yang terasa perih. "Sorry banget, aku ga liat kamu karena aku lagi cari alamat rumah orang, maaf banget ya.. Sini aku bantu. " DIA mengulurkan tangan nya pada ku. "Awww! Sakit bgt, kaki ku sakit ga bisa berdiri." aku meraba bagian kaki ku yang sakit. "Waduh, kaki mu kayak nya ga bisa jalan nih." wajah nya panik.  "Rumah kamu sekitar sini? Aku antar kamu pulang ya, sepeda mu titip aja dulu disini,ga akan hilang kan?" tanya Dia dengan wajah serius.  "InsyaaAllah ga hilang, aman disini ketat penjagaan., rumah ku di blok ini kok, itu yang di ujung." aku menunjuk arah utara. "Oke deh sini naik aku antar sampe rumah kamu." Dia bersiap untuk gendong aku di punggung nya. "Yakin nih? Aku berat loh." aku tutup wajah maluuu. Sebenarnya malu pake banget naik di punggung orang asing, tapi kalo di tolak entar aku pulangnya gimana.. Aaahh auk ah.. Yang penting aku sampai dirumah dulu.. "Udah naik aja, ga usah malu-malu gitu.. Kaki mu biar cepet di kompres,buruan naik." perintah nya. Duuhh Lizaa.. Apaan sih mau-mau nya di gendong punggung (drama dalam kepala) Ooh wow.. Kenapa nih jantung ku dag dig dug serasa mau ujian, ga tau malu banget lagi di gendong orang ini woii.. Loh loh aroma ini, ini kan aroma shampoo limited edition ituh, aku aja kebagian 1 doang.. Yaampun, wangi banget ni cowok, bersih rapi pula dan (ragu-ragu) tampan.. Kalau di Ingat ingat cowok ini wajah nya tampan kan, akan ku pastikan saat aku turun nanti..  *** Lihat sekeliling banyak tanaman indah, sambil di gendong begini rupanya membawa nuansa yang tidak dapat ku ungkapkan, karena aku pun baru pertama kali ini merasakan hal seperti ini. "Yak, stop.. Kita udah sampai.." Aku menyuruh nya berhenti.  "Blok 9 No. 18." gumam nya. "Masuk aja, tolong turunin aku di dalam ya." Pinta ku. "Assalamualaikum Mama, Mama.. Mama kemana ya, geser aja pintunya ga apa.." kata ku. #sreeekkk Pintu terbuka lebar dan kami masuk.  "Tolong turunin aku di sofa ya" Pinta ku #bukk " Aah akhirnya aku duduk di sofa empuk. " ku terenyum lega,dia duduk di sebelah ku.  Dia seperti berpikir sesuatu.. Mikir apaan sih dia.  Kalau sedekat ini aku bisa menelusuri sisi wajahnya yang terlihat dengan jelas, satu kata yang pasti, tampan! Kulit nya putih s**u, glowing, sekilas wajahnya mirip Japanese.  "Ehemm.. Makasih ya udah antar aku kerumah." Dia ga merespon, masih ngelamun sesuatu. "Hallooo." aku berusaha membuyarkan lamunan nya. "Ah iya.. Kenapa?" Dia tergagap. "Aku bilang, makasih udah antar aku sampai rumah.. Kamu lagi mikir apa sih kok ngelamun gitu?" "Ini alamat rumah yang aku cari, Perum Pesona Lembayung blok 9 No. 18,ini kan rumahnya?" "Hah? Iya alamat rumahku yang kamu sebutin itu..,emang kamu cari siapa? Oh ya nama ku Liza.. Salken ya.." Aku mengulurkan tangan ku. "Salken juga Liza, aku Edward Sanjaya, panggil aja Ed" dia menyambut uluran tangan ku dengan hangat. Ooh namanya Edward Sanjaya, padahal lebih cocok kalau namanya Edogawa atau Ogawa gitu karena wajah nya Japanese banget..  "Maaf ya Ed aku gak bisa siapin minuman buat kamu, kaki ku.. Aw!" Aku memekik sakit.  "Oh iya sini aku yang siapin kompres nya, kasih tau aja dimana letak nya, kamu duduk aja disini" Ucap nya sungguh-sungguh.  Aku memberitahukan nya dimana letak kompres dan lain-lain untuk pertolongan pertama. Dia sangat sigap dan mengerti apa yang ku ucapkan.  "Ooh dingin banget Ed.." keluh ku. Ed menatap ku, mata ku pun menatap nya.kami saling berpandangan dalam diam, degup jantung ku tak karuan, kebiasaan kalau lihat cowok ganteng, tapi kenapa ini rasanya beda ya.. Tiba-tiba... "Liza, Liz.. Lizaaaa..." mama berteriak merdu.. Saking merdu nya aku sampai kaget.. "Kamu ini kuliah gak sih hari ini, dari tadi mama bangunin, kemarin kamu bilang sama mama hari ini kamu harus berangkat awal kan, ayo bangun" mama menggoyang-goyang kan paha ku. "Mama, kaki ku kan sakit ma, bukan nya tadi Liza di sofa kok sekarang di kamar, udah pagi pula.." aku kebingungan. "Liza kamu demam? Ayo bangun, mimpi kamu tuh.. Ayo cepet mama mau ikut kamu berangkat, anterin mama kepasar ya Liz." kata mama. "Iya.." jawab ku sambil garuk-garuk kepala. "Aneh, rasanya kayak bukan mimpi, kayak nyata banget, lah ternyata mimpi.. Ya sudah lah.." berkata pada diriku sendiri sembari bersiap untuk mandi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD