*Edward S
#ddrrrttt#ddrrrttt#ddrrrttt
#ddrrrttt#ddrrrttt#ddrrrttt
Handphone ku terus bergetar, tanda panggilan masuk, namun aku tak mengindahkan nya, karena mata ini tak bisa terbuka dan badan ku tak ingin beranjak hanya untuk sekedar mengangkat panggilan masuk di handphone.
***
#tingtungting#tingtungting
Bel apartment berbunyi terus menerus membuat ku terbangun dari tidur lelap ku. Kulihat jam digital ku diatas nakas, menunjukkan angka 6.30am
"Kenapa maid ku datang, bukan kah ini hari liburnya?" tanya ku dalam hati.
#CKLEK
Pintu terbuka, aku terkejut sekaligus senang melihat kedua orangtua ku muncul disini, dengan senyum mengembang mama memeluk ku erat,
"Edhy.. Mama kangen sama kamu sayang.."
Aku membalas pelukan Mama hangat
"Edhy juga kangen sama Mama dan Papa, ayo masuk ke dalam Mama Papa.." ku persilahkan mereka masuk ke dalam, dan menggiring mereka duduk di sofa.
"Mama, Papa mau minum kopi bareng? Edhy buatin sebentar ya.." aku meninggalkan mereka berdua untuk membuat kopi espresso cangkir.
Sayup-sayup ku dengar suara mereka, sepertinya sedang membahas sesuatu.
"Ini Pa, Ma.. Ngopi dulu, lama banget kita ga ketemu dan ngopi pagi bareng begini kan"
"Terima kasih Edhy.." Papa menyesap kopi nya.
Mama memperhatikan semua yang ada di ruangan ini, lalu beranjak dari tempat duduk nya dan berkeliling melihat lihat apartment ku.
"Papa kangen pergi mancing bareng kamu, Papa kangen camping sama kamu nak.
Maafin Papa ya karena Papa masih sibuk mengurusi perusahaan kita."
"Gak apa Pa, kita kan bisa mancing kapan aja kalau Papa sudah senggang. Oh ya, kapan Papa dan Mama balik ke Osaka.. kasihan Hanami sendiri disana karena Mama Papa kesini, kalau udah mau balik Edhy titip hadiah untuk Hanami ya." kata ku.
"Ah, gadis itu sudah mulai beranjak dewasa, Papa akan mempercayai nya." Papa tersenyum.
"Ayo Pa, cepat kasih tau Edhy." Mama menyela.
Seperti nya aku bisa menebak apa yang akan mereka sampaikan.
"Edhy, Papa kesini mau kasih tau kamu tentang perjodohan yang Papa atur untuk kamu, Papa dan Mama mu ini sudah mulai tua, kami cemas kapan kamu akan menikah dengan usia mu yang juga semakin bertambah. Kamu sudah waktunya menikah nak."
"Iya,Mama juga sudah ingin punya cucu dari kamu Edhy.. Mama harap kamu mau ya sayang, Mama ingin menimang cucu sebelum Mama bertambah tua dan menjadi sangat renta" mata Mama berkaca kaca dan terlihat penuh harap.
Hhahhh.. Aku menghela nafas berat. Mau nolak orangtua tak enak hati, belum lagi sudah di ancam sebelumnya tentang warisan, mengiyakan juga rasanya berat sekali, aku harus bilang apa ini, aku ragu untuk menyetujui sekarang atau menolak sekarang juga.
#hening
Papa membuka obrolan kembali, "Papa tau kamu ragu, tapi Papa tidak akan mungkin menjodohkan mu dengan sembarang gadis.
Teman Papa ini memiliki tiga anak gadis, anak pertama gadis yang mandiri dan workaholic, anak kedua gadis yang supel dan juga seorang model, sedangkan anak ketiga nya masih di bangku kuliah, gadis yang ceria, ramah dan penyayang.
Kamu bisa berkenalan dulu dengan mereka, supaya kamu tau hati mu memilih gadis yang tepat untuk mu. Papa yakin, mereka anak-anak yang baik karena memiliki orangtua yang baik.Papa sudah kenal teman Papa ini sejak kami kuliah bersama." rayu papa.
" Baik Pa, kalau itu keinginan Papa dan Mama, Edhy akan mencari tau tentang mereka, tolong Papa kirim lewat email data tentang mereka ya Pa. " aku menyeraah.. Ini saatnya aku bisa menyenangkan mereka, jika memang keputusan menikah ini dapat membuat mereka bahagia, maka akan ku jalani.
Semoga gadis itu betulan gadis baik-baik , bukan wanita seperti Cintya..
***
Okay aku akan cari alamat yang papa kasih..
Aku akan mengamati seperti apa rupa dan kelakuan gadis gadis ini secara diam-diam.
"Huuh.. Udah berapa blok ini ya.. Yang mana sih rumah nya.." gerutu ku.
#ccciitttttt...........
#gruubyaakkk!
"Haduh, aku nabrak siapa ni?" segera ku turun dari mobil.
"Awww!" dia memekik sakit.
"Kamu ga apa apa?" tanya ku cemas.
Wajah gadis itu menengadah lalu menjawab ku,namun aku seperti tidak mendengar yang dia ucapkan, aku kaget, Gadis yang ku lihat di Mall waktu itu???
Rambut panjang nya tergerai, hitam berkilau dengan sedikit layer, sangat pas dan cocok dengan paras nya yang cantik dan manis.
"Halooo, kenapa bengong, aku ga apa kok." ucapan gadis itu menyadarkan ku.
"Maaf ya, aku ga sengaja nabrak kamu, aku lagi cari alamat." Aku sungguh menyesal menabrak nya..
"Iya, ga apa, aku nya juga salah karena jalan sambil bengong kepikiran sesuatu.. Awww! Sakit!." gadis itu memekik sakit saat mencoba berdiri.
"lutut mu lecet, dan kayaknya pergelangan kaki mu terkilir deh.. Sini aku antar kerumah mu, dimana rumah mu?"
"Rumah ku? Itu di pojok."
"boleh parkir mobil disini gak? Aku Ed.
"Bisa kok, ga apa."
"Maaf, permisi ya Aku gendong."
"Aaaa,gausah ga usah gendong, bopong aja aku sampai rumah,aku bisa,..aargh".
"Tuhkan,ga usah malu, sini aku gendong sampai rumah mu ya, jangan nolak.. Ini Sebagai permintaan maaf ku" ucap ku Ed.
Ooh God! D-a-d-a nya nempel di punggung ku jantung ku jadi berdebar an,rambut nya yang wangi menjuntai ke samping wajah ku. Kenapa jantung ku ini makin ga karuan sih?
"Masuk aja kak, tolong buka pintu nya ya.,nanti dudukin aq di sofa ya kak." ucap nya dengan wajah seperti mengingat sesuatu.
Kenapa gadis ini menatap ku?apa ada yang salah ya di wajah ku ini?
Mata kami bertemu, seakan saling mengingat bahwa kami pernah bertemu di suatu tempat.
" Ehem,kakak mau tolong luka ku ini? "
" Eh iya..permisi ya, kaki nya aku lurusin dulu"
#klak!
"Aargghh.." Dia kesakitan.
"Gimana udah enakan kan Kaki nya?" tanya ku Ed.
"Iya, udah ga sakit lagi."
"Nama ku Bellizar, panggil aja Liza.. Nama kakak siapa?"
Hah, Bellizar? Jangan jangan.. Aku harus cek lagi data yang papa kasih nih, untuk mastiin.
"Nama ku Edward, panggil Ed aja tanpa kakak."
"Hah? Mana bisa panggil nama aja tanpa ada kakak nya, ga nyaman kak."
" Ga apa, kan aku yang ijinin,btw Liza tau ga dimana blok 9 no 18?
" lah, ini dah blok 9 no 18.,rumah ini." jawab Liza.
Pandangan ku berpendar ke sekeliling ruangan. Tampak bersih dan rapi. Juga terasa kehangatan di dalam nya.
Padahal aku ingin mengintai diam diam tapi malah jadi ketemu gini.
"Yang lain pada kemana Liza, kenapa rumah mu sepi?"
"Sibuk masing-masing kak Ed."
"kamu aku tinggal sendiri ga apa?, karena aku harus balik kantor."
"Iya kak ga kenapa, ini kan rumah ku, pasti aman disini. Kak Ed, terima kasih ya kak, dan maaf ga sempat nyuguhin apa apa nih. Hati hati di jalan, yang semangat ya kerja nya." Liza Tersenyum tulus dan nampak indah.
"Iya, makasih Liza." ku balas dengan senyum yang sama.
Jika aku tidak salah menebak, sepertinya Liza anak bungsu di keluarga ini. Berarti benar kata Papa, anak ini anak yg ramah dan ceria. Nampak dari caranya menyemangati ku.
Aku harus cepat sampai kantor, siang ini kan ada meeting penting. Karena handphone ku silent, aku hampir lupa.
***