Andrew menatap Denisha dan wanita itu memainkan matanya melirik kearah Anna. Andrew menatap Anna dan tersenyum lalu tersadar berjalan mendekati dua wanita itu.
"Anna sayang, kamu kenapa tidak hubungi aku dulu mau kemari?" Denisha mendengkus memutar bola matanya lalu bangkit menjauh dari Andrew dan Anna. Anna menatap Denisha yang menjauhi mereka dan duduk di sofa.
"Aku kira kamu masih istirahat di apartemen jadi aku gak mau ganggu kamu." Andrew mengerti dan mengangguk merangkul Anna lalu mengecup dahi Anna cepat.
"Maaf ya, aku tadi keluar ada sedikit urusan." Andrew mengajak Anna duduk bersama Denisha. Andrew menatap Denisha berbicara lewat tatapan matanya menyuruh Denisha pergi. Denisha malah menunjukkan wajah tidak perduli lalu mendekati Anna.
"Anna, kamu dan Andrew sudah lama berpacaran?" Anna melirik Andrew lalu menatap Denisha.
"Ya lumayan, hampir satu tahun." Denisha membulatkan bibirnya tak percaya.
"Andrew memang tipe pria setia, pasti dia sangat menyayangimu." Anna tersenyum malu sementara Denisha menatap kearah Andrew yang menatapnya tajam.
"Denisha, kamu ada keperluan apa kesini?" Denisha menatap Andrew begitu juga Anna. Denisha menaikkan alisnya menatap Andrew yang bersikap formal padanya.
"Kamu kaya gak tahu aja!" Andrew melotot menatap Denisha yang berbicara asal padanya. Anna ikut menatap Denisha karena bersikap aneh.
"A-apa? Aku beneran gak tahu." Denisha menatap wajah tegang Andrew dan Anna yang terlihat bingung. Tawa Denisha pecah membuat Andrew menghembuskan napasnya panjang.
"Hahahaha, soal pekerjaan, apa lagi?" Denisha menatap Anna yang juga menatapnya.
"Oh itu, kita bahas saja besok, sekarang kamu kembalilah, besok kita bertemu lagi." Denisha langsung berubah menatap Andrew yang mengusirnya secara tidak langsung.
"Kamu mengusirku?" Andrew terkejut mendengar ucapan Denisha.
"Tidak, aku tidak mengusirmu Denisha. Aku ingin bicara berdua dengan Anna, bis berikan kami privasi?" Denisha melirik Anna dan Andrew dengan wajah malas.
"Baiklah, aku tunggu saja di kamar kamu gimana? Soalnya aku kesini naik taksi, jadi aku lagi gak mood aja mau balik sekarang." Anna menatap terkejut mendengar ucapan Denisha.
"Denisha!" ucap Andrew dengan nada tertahan marah. Denisha tertawa menunduk menutup mulutnya sementara Anna masih tidak percaya mengapa wanita di hadapannya merasa ucapannya barusan adalah lelucon. Anna bangkit dari duduknya dan lngsung Andrew hentikan.
"Anna, aku bisa jelasin." Anna mengerutkan dahinya menatap Andrew.
"Jelasin?" Denisha menatap Anna dan Andrew membuat tawanya seketika terhenti.
"Iya, aku bisa jelasin, ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan." Anna memiringkan kepalanya menatap Andrew.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" Andrew terdiam, bingung dengan ucapannya sendiri.
"Maksud aku, aku dan Denisha tidak ada hubungan." Anna melepas pegangan tangan Andrew menatap Andrew bingung.
"Aku tidak ada bertanya." jawab Anna datar membuat Andrew tersadar dengan ketakutannya sendiri. Ia berdiri menggaruk dahinya.
"Ahh, iya, kamu tidak bertanya tapi aku mau kamu tidak salah paham, Sayang." Anna menggeleng pelan.
"Aku hanya ingin memberikan ruang untuk kalian bicara, aku tunggu di sana." Anna menunjuk meja makan karena ia memang ingin menjauhi Denisha dan Andrew yang sedang berbicara.
"Oh begitu, kamu tidak marah?" Anna mengerutkan dahinya menatap Andrew.
"Marah? Kenapa marah?" Denisha mendesis kesal mendengar ucapan Anna. Ia bangkit mengambil tasnya lalu berjalan mendekati kedua kekasih itu.
"Baiklah, Andrew, aku saja yang pergi, aku takut menggangguku waktu berpacaran kalian." Denisha menekankan kata pacaran di wajah Andrew lalu berjalan melewati Andrew dan Anna yang berdiri menatap Denisha pergi. Denisha keluar dari apartemen Andrew membuat Anna menghela napasnya kasar lalu kembali duduk di sofa. Andrew mengikuti Anna yang duduk di sana.
"Kamu mau minum?" Anna mengangkat tangannya cepat.
"Gak usah, aku tadi udah minum." Andrew kembali duduk di dekat Anna.
"Maafkan Denisha ya, dia memang begitu, jangan di ambil serius." Anna mendengkus kesal melihat sikap Denisha.
"Aku tidak suka wanita itu!" ucap Anna terus terang membuat Andrew tersenyum.
"Oke, kau mengerti."
"Jauhi dia, kalau memang ada urusan pekerjaan, buatlah jarak antara pekerjaan dan personal, kenapa dia bisa ada di apartemen kamu sendiri, kamu sebebas itu sama rekan kerja kamu?" Andrew mengerjabkan matanya menatap Anna.
"Tidak sayang, kebetulan Denisha tahu karena dulu kami dekat, dia pacar Aldrich, hampir bertunangan dan sering sekali menghabiskan waktunya disini saat sedih ketika bertengkar dengan Aldrich. Aku hanya menjadi teman baik untuk Denisha. Mungkin dia sudah nyaman dan menganggapku seperti saudara." Anna menghela napasnya mendnegar ucapan Andrew.
"Ya, terserahlah, intinya aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan wanita seperti dia." Andrew tersenyum lalu merangkul Anna.
"Iya sayang, aku tahu, akan aku lakukan sebisanya." Andrew meremas jemarinya kesal dengan sikap Denisha hari ini.
*
Aldrich menatap jam di tangannya hampir mendekati sore hari. Setelah menyelesaikan rapatnya di salah satu hotel ia melaju meninggalkan hotel kembali ke kantor. Aldrich tiba di kantor di sambut Richard yang tengah duduk di ruangannya menikmati segelas jus dan beberapa macam kue kering. Richard meletakkan kuenya saat melihat Aldrich masuk ke dalam ruangannya.
"Aldrich sepupu tampanku!" Aldrich hanya melirik Richard yang ada di ruangannya.
"Tumben kesini, ada apa?" Richard menghela napasnya menatap Aldrich.
"Kamu dari mana saja, aku butuh bantuan darimu." Aldrich menautkan alisnya menatap Richard.
"Ada apa?"
"Kamu bisa pertemukan Mamaku dengan temanmu, Andrew?" Aldrich mengerutkan dahinya menatap Richard.
"Kenapa dengan Tante?"
"Dia ngotot minta pakai model Andrew untuk katalog terbarunya, katanya Andrew cocok membawakan pakaian musim panas ini. Ayolah, Mama terus-terusan memaksaku untuk menyuruhmu." Aldrich menghela napasnya menatap Richard.
"Aku berikan kontak pribadinya kamu tanya saja padanya." Richard menggeleng cepat menolak pemberian Aldrich.
"Aku tidak mau, bantu aku untuk bujukin Andrew agar mau memakai produk Mama aku." Aldrich memijit pelipisnya lelah menghadapi Richard di tengah pikirannya yang sedang kalut memikirkan Anna.
"Aku tidak punya waktu!"
"Ayolah, Al, apa perlu Mama yang kesini memohon padamu!" Aldrich melotot menatap Richard.
"Jangan lakukan itu!"
"Maka dari itu ayolah bantu aku!" Aldrich menghela napasnya panjang.
"Kenapa kalian tidak hubungi manajemennya saja?" Richard menarik kursi di hadapannya lalu duduk di depan Aldrich.
"Kami sudah melakukannya, tapi jadwal Andrew di hari itu sudah penuh, siapa tahu kamu bisa membantu merubah jadwal Andrew." Aldrich menatap Richard tajam membuat sepupunya itu tertawa.
"Kalau jadwal dia padat berarti kalian harus mengundur waktu pemotretannya , mengapa memaksaku untuk merubah jadwal Andrew, aku bukan agensinya." Richard menepuk dahinya menunduk lelah.
"Aku sudah katakan itu pada Mama, tapi dia bilang sudah tidak terkejar, jadwal pemotretan produk harus di lakukan di tanggal itu, tapi dia kekeh memakai model Andrew." Aldrich menghela napasnya panjang.
"Kamu bawa katalognya?" Andrew mengangguk dan memberikan contoh produk yang akan di gunakan. Aldrich menatap beberapa model pakaian wanita dan pria.
"Untuk model wanitanya?" Richard menggeleng pelan.
"Belum ada, maksud Mama biar Andrew yang menentukan model wanitanya. Aldrich menutup katalog itu dan mengangguk.
"Nanti aku coba bicara pada Andrew. Sekarang pergilah, aku sedang tidak ingin di ganggu." Richard berdiri menatap Aldrich lalu memberikan ciuman terbang pada sepupunya itu membuat Aldrich menatapnya jijik.
"Terima kasih Bos, kamu memang paling bisa di andalkan, aku tunggu kabar baiknya, jangan sampai dia menolak. Aku berhutang banyak padamu!" Aldrich menatap Richard yang belum juga keluar dari ruangannya.
"Iya sudahlah, pergi sekarang juga!" Aldrich mengangkat tangannya mengusir Richard yang semakin membuat kepalanya pusing.
"Kau memang terbaik, aku pergi dulu!" Richard keluar dari ruangan Aldrich dengan langkah semangat.