Manusia Aneh!

1206 Words
Andrew tengah sibuk menatap masakan di hadapannya karena malam ini Anna dan dirinya akan makan malam bersama. Anna menyusun meja dan peralatan makan dan tidak lupa menuang jus ke dalam gelas keduanya. "Apa yang kamu masak?" Anna mendekati Andrew yang sibuk mengaduk ke dalam telponnya. Andrew membuat nasi goreng di sana membuat Anna tersenyum. "Kamu pintar masak?" Andrew tertawa tipis menatap Anna. "Tidak juga, yang penting kamu tidak kelaparan saat bersamaku." Anna memutar bola matanya kembali duduk di meja makan. Menunggu Andrew menyiapkan makanannya. Andrew membuka lemari es lalu meletakkan dua potong ayam goreng ke dalam piring dan memasukkan ke dalam microwave untuk di panaskan. Anna menatap ponselnya yang bergetar dan melihat nama Aldrich disana. Anna melirik Andrew yang masih sibuk menyiapkan nasi gorengnya. Anna membalik ponselnya tidak berniat mengangkat panggilan dari Aldrich. Anna duduk menopang kepalanya memainkan jemarinya di atas meja lalu membuka kembali ponselnya melihat panggilan itu sudah berakhir. Aldrich menulis pesan pada Anna dan... "Aku di bawah, cepat keluar?" Anna sedikit terkejut terdiam sesaat mencerna pesan itu. Di bawah, di bawah mana? Apa di bawah apartemen miliknya, atau di bawah apartemen Andrew. "Hah!" Anna menutup mulutnya yang seketika terkejut karena pikirannya sendiri. Andrew menatap kekasihnya dan mengerutkan dahinya. "Kamu kenapa?" tanya Andrew membuat Anna menggeleng cepat. "Enggak apa-apa, tadi terkejut liat vidio di handphone." Andrew mengangguk lalu mengangkat dua piring nasi goreng ke hadapan Anna. Andrew membuka lemari es dan mengambil dua sosis ukuran besar memotong bagiannya agar berbentuk lalu memanggangnya di atas pan melumurinya dengan saus dan mentega. Hanya sebentar lalu Andrew meletakkan sosis dan ayam goreng di hadapan Anna. "Ayo dimakan?" Anna menatap berselera makanan di hadapannya. "Kayanya lezat." Andrew tersenyum menggeleng. "Ayo cobain." Anna langsung menyendokkan suapan pertama ke dalam mulutnya dan mengangguk semangat. "Enak banget, paket komplit ada telor ceplok, sosis dan ayam goreng. Kayanya aku gak perlu masakin kamu tiap hari." Andrew tersenyum memegang pipi Anna dengan punggung tangannya. "Yang penting kamu bahagia." Anna tertawa dan seketika terkejut melihat ponselnya bergetar kembali. Dengan cepat Anna membalik ponselnya agar Andrew tidak melihatnya. "Siapa? Kok gak diangkat?" Anna menggeleng cepat tampak gugup. "Biar saja, itu orang gak jelas, aku juga gak tahu." Andrew mengambil ponsel Anna membuat gadis itu terkejut. "Kenapa gak di blokir aja." Andrew menatap ponsel yang bergetar dengan nama kontak Manusia Aneh. "Siapa ini?" Andrew menunjukkan ponselnya kearah Anna. Anna menggeleng gugup. "Gak tahu." "Tapi tersimpan, kenapa gak di blokir saja?" "Jangan!" Anna mengambil kembali ponselnya dan langsung mematikan panggilan itu. "Kenapa?" Andrew tampak bingung karena Anna bersikap aneh. "Bukan apa-apa, ayo kita makan lagi." Andrew menatap kearah ponsel Anna lalu kembali makan dan mengobrol hingga selesai makan. Di sisi lain Aldrich berada di depan apartemen Anna, ia menunggu disana dengan berjuta-juta panggilan telepon yang di tolak oleh Anna. Aldrich mengusap bibirnya menatap lurus tetap setia disana. Ia menatap Apartemen Anna tapi lampunya tidak menyala. "Apa dia tidak ada di apartemennya?" gumam Aldrich menatap kearah apartemen itu lagi. Aldrich mencari kontak Andrew lalu memanggil temannya itu. Andrew yang sedang makan malam menatap ponselnya yang berbunyi. Aldrich memanggilnya membuat ia terkejut, karena selama ia di Indonesia Aldrich tidak pernah menghubunginya. "Hallo," "Hallo, An, kamu sibuk?" Andrew menatap Anna di hadapannya dan menggeleng. "Tidak, aku lagi santai, sedang makan malam dengan Anna.Ada apa?" Aldrich meremas ponselnya kesal. "Oh begitu, berarti aku menganggu waktu kalian?" Andrew menggeleng pelan. "Tidak juga, kami hanya makan malam biasa di apartemenku, kebetulan Anna mampir, ada apa kamu menelpon, tumben sekali." Aldrich menatap sekelilingnya apa yang bisa ia buat alasan untuk menemui Andrew. Aldrich terhenti saat melihat katalog yang Richard berikan padanya tadi. "Ada pekerjaan yang ingin ku bahas denganmu, tapi jika kamu sibuk lain kali saja." Andrew mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aldrich. "Pekerjaan?" "Ya, tapi lain kali juga gak apa-apa!" Andrew terdiam menatap Anna berpikir. "Datang saja ke apartemenku, aku sedang santai kok." Aldrich tersenyum miring mendnegarnya. "Baiklah." Ia menutup panggilannya lalu menghidupkan mobilnya menuju apartemen Andrew. Andrew meletakkan ponselnya lalu kembali menikmati nasi goreng miliknya. "Siapa?" Andrew menatap Anna yang bertanya padanya. "Aldrich!" Uhuk Uhuk Uhuk... Anna seketika tersedak saat Andrew mengatakan Aldrich yang barusan saja menelpon. Andrew langsung mengambil segelas air putih dan memberikan pada Anna. "Anna .... Pelan-pelan saja makannya." Anna langsung menenggak air itu cepat merasakan tenggorokannya terbakar karena menikmati sosis panggang milik Andrew. "Maaf." "Gak apa-apa." "Ada apa dengan Aldrich?" Andrew tersenyum lalu kembali makan. "Ada yang mau di bahas soal pekerjaan." Anna mengerutkan dahinya menatap Andrew. "Kapan?" "Sebentar lagi, mungkin dia sudah di jalan." Anna melotot mendengar ucapan Andrew. "Aldrich mau kesini?" Andrew mengangguk santai. "Iya." "APA!!" teriak Anna panik karena Aldrich akan datang. Andrew menatap kekasihnya bingung karena Anna terlihat tidak tenang. "Ada apa?" Anna seketika tersadar dan mencoba tenang. "Hah, eh, enggak, cuma tanya aja." Anna menunduk menggaruk kepalanya memikirkan bagaimana caranya ia pulang sebelum Aldrich tiba. Anna menatap makanan Andrew belum habis ia menatap piringnya dan Anna baru menghabiskan tiga sendok. Anna kembali mengunyah nasi gorengnya dengan cepat sebelum Aldrich tiba di apartemen Andrew. Aldrich masuk ke area gedung apartemen Andrew dan langsung memarkirkan mobilnya. Ia keluar sembari membawa katalog itu lalu menekan lift menuju apartemen Andrew. Anna semakin tidak tenang saat Andrew baru saja menyelesaikan makanannya. Dan Anna langsung bangkit membersihkan piring-piring di atas meja. "Sayang, kalau aku pulang sekarang boleh?" Andrew yang tengah membantu Anna menatapnya terkejut. "Sayang, aku tidak bisa antar kamu, Aldrich pasti hampir tiba, tunggu sebentar ya, setelah menemui Aldrich aku antar kamu balik." Anna menggigit bibirnya panik karena ia tidak mau bertemu Aldrich bahkan menatap wajah pria itu, Anna malu, entah kenapa ia tidak sanggup bertatapan muka dengan pria itu. Anna malu meski Aldrich yang menciumnya. Anna berdiri tidak tenang hingga bunyi bel apartemen mengejutkannya. Andrew menoleh kearah pintu lalu menatap Anna. "Benarkan, dia sudah sampai." Andrew berjalan membuka pintu untuk Aldrich sementara Anna ia memilih untuk menyibukkan diri mencuci piring bekas makanan mereka. Aldrich masuk dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sejak tadi ingin ia temui. Anna membelakanginya saat Aldrich masuk dan sibuk mencuci piring. "Kalian berdua saja?" Aldrich bertanya membuat Andrew mengangguk. "Iya, tadi ada Denisha disini tapi dia sudah balik duluan." Aldrich tidak menanggapi ucapan itu dan langsung duduk di sofa. "Kamu mau minum apa?" Aldrich menatap kearah dapur lalu menatap Andrew. "Apa saja terserah." jawab pria itu dan meletakkan katalog yang ia bawa. Andrew membuka lemari es mengambil minuman bersoda dan meletakkannya di hadapan Aldrich. "Ada apa ini, tumben sekali malam-malam mau membahas pekerjaan?" Aldrich tersenyum tipis lalu memberikan katalog yang ia bawa. "Ada tawaran pekerjaan, jadi model iklan, pemotretan, sekaligus foto majalah, ini milik Tante gue." Andrew mengangguk dan melihat beberapa hasil produk yang ada didalam katalog itu. "Aku tidak masalah, selagi aku ada waktu aku ACC saja." ucap Andrew meletakkan katalog itu. "Mereka sudah menghubungi manajemen kamu tapi kamu ada jadwal di tanggal yang sama, bagaimana?" Andrew mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aldrich. "Oh ya, tanggal berapa?" tanya Andrew membuat Aldrich mengerutkan dahinya. "Ahh ya, aku belum bertanya pada Richard, kapan waktu tepatnya, nanti aku kabari kamu." Andrew mengangguk lalu menatap Anna yang duduk di meja makan. Aldrich menatap kearah Andrew memandang, Anna terlihat sudah selesai menyibukkan diri. "Sayang kemarilah." panggil Andrew membuat Anna membeku. Ia sengaja tidak mau mendekati mereka malah Andrew memanggilnya. Aldrich menatap Anna yang berjalan mendekati mereka dengan wajah menunduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD