Aku Ikut Kamu!

1157 Words
Anna duduk di samping Andrew tanpa menatap wajah Aldrich. Berbeda dengan Aldrich, pria itu terus menatap Anna hingga Andrew berdehem singkat. "Oh iya Al, aku mau kasih kabar baik, aku berencana melamar Anna setelah bertemu orang tuaku!" Aldrich yang sejak tadi fokus pada Anna kini menatap Andrew. "Melamar?" Andrew mengangguk merangkul pinggang Anna. Tatapan mata Aldrich jatuh pada tangan Aldrich yang dengan santai mendarat di pinggang ramping Anna. Aldrich mengepalkan tangannya merasa terganggu dengan tangan Andrew seakan Anna adalah miliknya. "Ya, mungkin setelah aku menyelesaikan beberapa pekerjaan aku akan membawanya bertemu dengan ibuku, bagaimana menurutmu?" Aldrich memiringkan kepalanya, tangannya sibuk memainkan telinganya sembari berpikir. "Sudah semakin itu?" Andrew tersenyum menatap Aldrich. "Untuk Anna aku selalu yakin." Andrew menoleh menatap Anna dengan jarak yang begitu dekat, Anna juga membalas tatapan Andrew dengan senyumnya itu membuat Aldrich tidak suka. "Kamu yakin akan melepas masa lajangmu?" Aldrich bertanya menatap Andrew lalu menatap Anna yang juga menatap kearahnya. Anna langsung menunduk dari pandangan Aldrich. "Tentu saja, kita sudah tidak lagi muda Al, kamu kapan berencana menikah, ayolah, jangan sendiri terus." Aldrich tersenyum miring menatap Anna. "Aku nunggu Anna putus denganmu!" Anna melotot terkejut mendengar ucapan Aldrich. Sedangkan Andrew terdiam menatap Aldrich dengan wajah bingung. Andrew menatap kekasihnya lalu menatap Aldrich lagi. "Hahahhaha, ada-ada saja kamu, gak lucu ahh!" Andrew tertawa menatap Aldrich dan Anna yang terlihat hanya diam. Disana Andrew merasa hanya dia yang menganggap ucapan itu lelucon. "Memang gak lucu, Kamu tahu gue gak berbakat ngelucu!" Andrew terdiam lalu mengambil tangan Anna menggenggamnya erat. Anna menghembuskan napasnya kasar tidak nyaman berada lama diantara Andrew dan Aldrich. "Ya kamu benar, baiklah kita tidak usah membahas ini lagi, Oh ya sayang, kamu mau ikut aku pemotretan produk?" Anna menoleh menatap Andrew. "Kapan?" "Nanti Aldrich kabari waktunya. Oh iya bagaimana dengan model wanitanya?" tanya Andrew pada Aldrich. "Tante aku maunya kamu aja yang urus siapa yang mau jadi pasangan kamu, tapi kamu cocok dengan Denis ..." "Kamu mau sayang?" ucapan Aldrich di potong Andrew karena hak model di serahkan padanya. Aldrich terkejut saat Andrew bertanya pada Anna. "Aku?" Anna mengerjabkan matanya saat Andrew menawarinya. "Iya, kamu, sepertinya bagus, kamu lihat beberapa model pakaian ini. Ini juga cocok si kaki jenjang kamu. Bagaimana?" Anna mengerjabkan matanya gugup, gadis itu malah menatap Aldrich yang menatapnya tajam. "Tapi aku tidak punya pengalaman menjadi model, kayanya gak bisa!" Tolak Anna dengan cara halus. Andrew menggeleng tersenyum. "Tenang aja sayang, aku akan menemani kamu, cuma berpose dengan beberapa gaya kamu pasti cocok sekali." Anna menggigit bibirnya menatap Aldrich. Aldrich tampak malas mendnegar apa yang Andrew katakan. "Kenapa tidak Denisha saja, dia juga sudah profesional, kamu dan dia cocok!" ucap Aldrich membuat Andrew menatap Aldrich. "Denisha? Yang benar saja, dia lebih cocok denganmu, Al." Aldrich tersenyum mengangguk. Sementara Anna memperhatikan raut wajah Aldrich yang tengah membahas Denisha. "Sepertinya benar yang di katakan Aldrich, kenapa tidak Denisha saja, dia sudah profesional, kamu juga mengenalnya dan satu pekerjaan." Andrew menghela napasnya menatap Anna. "Apa salahnya mencoba?" Aldrich mendengkus tanpa menatap keduanya. Sepertinya ia tidak bisa terlalu lama diantara mereka. "Bagaimana pekerjaanku, aku juga tidak ingin mengecewakan klien kamu Andrew!" Andrew menatap Anna tidak suka karena terus menolak. Anna memperhatikan wajah Andrew yang sudah berubah. "Oke baiklah, jika kamu tidak mau bersedia." Aldrich menatap kedua kekasih itu yang berakhir berdebat. "Sudahlah jangan memaksanya, ini belum di putuskan, aku akan hubungi Richard lalu konfirmasi ke kamu besok. Siapa tahu Mama Richard mau wajah Denisha, tidak bisa memaksa Anna untuk melakukannya An, ini bukan pekerjaan main-main." Andrew mengangkat tangannya mengangguk. "Oke baiklah, kita masih punya waktu." Aldrich bangkit dari duduknya menatap Anna dan Andrew. "Kalau begitu aku pulang sekarang. Terima kasih minumannya." Aldrich mengangkat minuman kalengnya kearah Andrew. "Baiklah, maaf jika aku tidak memperhatikanmu." Aldrich hanya tersenyum menatap ke arah Anna. "Tidak apa-apa, aku kembali sekarang." Aldrich pamitan memutar tubuhnya berjalan kearah pintu. Anna ikut berdiri berlari ke arah dapur dan mengambil tas yang ia bawa tadi. "Sayang aku balik bareng Aldrich saja ya?" Aldrich menghentikan langkahnya saat hampir tiba di pintu berbalik menatap Andrew dan Anna yang ada di belakangnya. Andrew yang ingin mengantar Aldrich sampai ke pintu langsung menatap kekasihnya. "Aku bisa antar kamu." ucap Andrew menatap Anna yang sudah berdiri menenteng tasnya. "Kamu istirahat saja, kamu pasti capek setelah kembali dari luar kota, kebetulan juga Aldrich mau pulang, aku sama dia aja." Andrew menatap Aldrich lalu menatap Anna. Ia tidak setuju tapi tidak bisa menolak permintaan Anna. "Kamu mau langsung pulang?" Anna mengangguk cepat. "Iya, aku pulang sekarang aja ya, soalnya udah malam juga, kamu istirahat saja biar Aldrich yang antar aku." Andrew mengerjabkan matanya menatap Anna. "Aku tidak ingin merepotkan sahabatku, biar sama aku saja, bersiaplah kita pulang sekarang." Aldrich tersenyum tipis menatap Andrew. "Aku tidak merasa di repotkan!" jawab Aldrich santai, ia juga senang jika Anna ikut dengannya. Andrew menatap Aldrich dengan wajah bingung karena ia tidak suka kekasihnya harus bersama Aldrich. "Aku lagi santai Al, gak perlu kok, biar Anna sama aku saja." Anna mendekati Andrew merangkul tangan kekasihnya. "Sayang kamu istirahat saja, aku pulang sama Aldrich, jangan bicara lagi, sampai jumpa lagi besok, dadaaah!" Anna berjalan menjauhi Andrew membuka pintu apartemen lebih dulu diikuti Aldrich yang masih tidak mengerti dengan Anna. "Tapi, Ann..." Pintu apartemen tertutup menyisakan Andrew yang menggantug ucapannya disana. Aldrich berjalan mengikuti Anna yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Keduanya berdiri di depan lift menunggu lift terbuka. Tidak ada pembicaraan diantaranya hingga lift terbuka dan Anna masuk lebih dulu. Aldrich masih diam di dalam lift membuat Anna sedikit canggung. "Jangan besar kepala hanya karena aku ingin pulang denganmu?" ucap Anna tanpa menatap kearah Aldrich yang berdiri di belakangnya. Anna mengerutkan dahinya karena Aldrich tidak menjawab ucapannya. Gadis itu melirik tajam dengan ekor matanya tapi hanya bisa melihat ujung sepatu Aldrich. Anna mendengkus karena pria itu mengabaikannya. "Dasar aneh!" gumam Anna menoleh menatap Aldrich dan pria itu juga menatapnya. Aldrich tersenyum lalu merangkul Anna agar mendekat padanya membuat Anna melotot terkejut. "Lepas!" Anna mendorong tubuh Aldrich yang merangkulnya erat. "Jujur saja, kamu tertarik padaku?" Aldrich melipat kedua tangannya lalu bersandar di dinding lift. Anna menganga tak percaya melihat wajah percaya diri Aldrich. "Kamu pikir aku mau ikut denganmu karena aku tertarik? Kau salah besar!" Aldrich mengulum senyumnya meski Anna menunjukkan wajah judesnya. "Lalu karena apa?" Anna menatap Aldrich naik turun dengan tatapan kesal. "Karena ..." lidah Anna keluh ia tidak bisa mengatakannya karena apa, ia hanya tidak mau berdua saja dengan Andrew dan harus berakhir siap untuk bermesraan. Hanya Aldrich jalan utama untuk kabur dari Andrew setelah makan malamnya meski Aldrich juga sama saja. "Karena, karena aku mau pulang!" Aldrich menunduk memijit pelipisnya dan tersenyum. "Ya sudah, terserahlah karena apa, yang penting sekarang kamu ada disini!" Aldrich menarik kembali Anna dan memeluk pundaknya erat. Anna bergoyang mencoba menjauhkan Aldrich. Lift terbuka dan Aldrich langsung mengambil tangan Anna menggeret gadis itu keluar menuju tempat parkir. Ia langsung membuka pintu mobilnya dan menyuruh Anna masuk ke dalam.Aldrich dengan cepat memutari mobilnya dan melaju meninggalkan Apartemen Andrew.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD