Hal Penting Menurutku!

1037 Words
Mobil Aldrich melesat cepat memasuki jalanan kota. Anna menikmati jalanan menatap lalu lalang kendaraan dari dalam mobil. Aldrich sesekali menatap kearah Anna yang terlihat lebih bersahabat. "Kamu sudah tidak marah padaku?" Anna menoleh menatap Aldrich, menaikkan alisnya sebelah. "Marah?" "Iya, tentang itu ..." Aldrich menggerakkan tangannya menatap Anna membuat Anna bingung. "Apa?" Aldrich menggaruk kepalanya tersenyum. "Itu ..." Aldrich menyentuh bibirnya memberi isyarat. Gadis itu terdiam menatap Aldrich lalu terkejut dan menutup mulutnya. "Stop! Jangan di bahas!" Anna memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Aldrich. Aldrich terkekeh melihat perubahan sikap Anna. "Kenapa?" Anna hanya mendengkus melirik Aldrich sekilas lalu kembali menatap kearah lain. "Gak penting!" Aldrich mengangguk mengulum senyumnya. "Tapi menurutku itu penting!" Anna menatap marah kearah Aldrich yang masih membahas hal itu. "Udahlah jangan bahas itu kenapa sih, bikin gak mood aja!" ucap Anna kesal. "Kamu gak marah kan?" Anna melirik tajam kearah Aldrich. "Tentu saja marah, kamu jangan seenaknya begitu, kamu pikir aku cewek apa an?" Aldrich menatap jalanan tersenyum mendengarkan omelan Anna padanya. "Tentu saja cewek baik-baik, makanya Mama suka sama kamu!" Anna menatap Aldrich seketika wajahnya berubah bangga. Entahlah, ia merasa suka karena ibu Aldrich menyukainya. "Ya udahlah gak ada bekasnya juga, yang penting Andrew jangan sampai tahu. Kamu juga stop, jangan kurang ajar sama gue!" ucap Anna melotot mengangkat tangannya menunjuk wajah Aldrich. Aldrich mendekatkan wajahnya pada telunjuk Anna dan membuka mulutnya berniat menggigit jari Anna. Anna lngsung menarik tangannya menatap horor kearah Aldrich. "Kalau gak ada bekasnya bisa dong kita ulang lagi!" Anna menatap sengit kearah Aldrich. "Dasar Gila!" Aldrich tertawa tidak perduli. "Aku tergila-gila karenamu!" Anna menyeringai menatap Aldrich yang tidak habis mencari celah. "Udahlah gak usah di bahas, ayo pulang sekarang." Aldrich mengangguk dan melaju kecepatan penuh. Sepuluh menit berkendara mobil Aldrich berhenti di salah satu resto mewah di Jakarta Selatan. Anna benar-benar tidak akan mempercayai Aldrich lagi, pria itu benar-benar tidak bisa di tebak. Anna duduk menatap malas kearah resto tersebut. "Ayo kita makan dulu!" "Aku sudah makan!" Jawab Anna cepat tidak ingin turun dari mobil. "Kalau begitu temani aku makan!" Anna melirik tajam kearah Aldrich. "Gak mau!" "Mau aku gendong atau jalan sendiri?" Anna melotot menatap Aldrich di dalam mobil. "Dasar gila, kamu ini aneh banget tahu gak, kenapa kita mampir kesini lagi, aku mau pulang!" Aldrich melirik jam di tangannya lalu menatap Anna. "Karena aku lapar Anna, aku belum makan apapun dari siang, aku bahkan belum kembali ke rumah. Apa kamu tidak kasihan padaku?" Anna menatap kearah Aldrich yang masih menggunakan jas kantoran. Anna menghela napasnya menatap Aldrich. "Kenapa kamu belum makan selarut ini, menyusahkan saja!" Anna keluar dari mobil tanpa Aldrich suruh membuat Aldrich tersenyum. Pria itu mengikuti Anna keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam resto. Aldrich memesan meja privat berada di paling atas lantai gedung tersebut. Hanya meja dengan kapasitas dua orang. Anna berjalan menatap lampu kota yang bercahaya indah di malam hari. Angin berhembus kencang membuat rambut Anna tertiup angin. Mereka berada di paling atas balkon dengan pembatas pagar kaca di bagian pinggir bangunan. Aldrich mendekati Anna yang tengah berdiri di sana menikmati angin yang menyapu lembut kulit tubuhnya. Anna terkejut saat jas kerja itu bersandar di pundak Anna membuat Anna menoleh kearah siapa yang melakukannya. Aldrich disana berdiri di sampingnya dengan wajah tersenyum lebar. Entah kenapa, meski Aldrich terlihat dingin di saat bersama keluarga dan temannya, Anna merasa Aldrich adalah pria yang lucu, perhatian, dan peka. Anna menunduk memejamkan matanya mengapa ia malah memikirkan sikap Aldrich padanya. "Disini dingin sekali, ayo kita kesana." Aldrich mengajak Anna duduk di kursi yang Aldrich pesan. Rooftop itu tidak ada siapapun, hanya mereka berdua disana membuat Anna tampak tidak nyaman. Mereka bukan sepasang kekasih tapi suasana ini sangat mendukung sekali. Anna duduk menghela napasnya kasar, memikirkan hal ini ia sepertinya sangat jahat pada Andrew kekasihnya sendiri. "Kamu mau apa?" Aldrich bertanya membuat Anna menoleh. "Aku gak mau, kamu saja." ucap Anna menghela napasnya. "Pesan saja, apapun, aku tidak mau terlihat miskin di hadapanmu!" Anna memutar bola matanya mendengar ucapan Aldrich. Anna tidak pernah berpikir begitu, ia sangat tahu dan paham jika Aldrich adalah pria mampu dalam segala hal. "Oke, segelas kopi saja." Aldrich memesan satu gelas kopi yang terbaik untuk Anna. Pesanan mereka tiba dan Aldrich terlihat menikmati makanannya. Anna mengedarkan pandangannya masih belum ada satupun orang yang datang ke atas sini. Anna mengerutkan dahinya menatap Aldrich. "Kenapa tidak ada orang lain di sini?" Aldrich ikut menatap kemana arah pandang Anna. Aldrich tersenyum tipis lalu menatap Anna. "Aku sudah membayarnya full, jadi nikmatilah." Anna melotot terkejut mendengar hal itu. Ia tidak menyangka Aldrich membuang-buang uang semudah itu. "Kamu ... bayar semua meja ini?" Aldrich mengangkat pundaknya acuh membuat Anna memukul jidatnya sendiri merasa benar-benar gila. Kenapa Aldrich melakukan ini. "Buang-buang uang saja!" ucap Anna sedikit kesal. "Aku bisa melakukannya, kenapa enggak?" Anna kembali menatap Aldrich dengan tatapan tak percaya. "Apa setiap anak orang kaya seperti ini?" ucap Anna sedikit kesal. Rasanya ia mau pergi saja dan mengambil uang yang Aldrich buang secara cuma-cuma. Anna menyesap kopinya menatap kearah Aldrich yang sedang menikmati makannya tampak santai sesekali menatap kearah Anna. Anna menghela napasnya panjang setidaknya ia harus nikmati malam ini secara gratis dan cuma-cuma. Anna menatap Aldrich lalu tersenyum tipis. "Kenapa tersenyum?" Anna langsung merubah mimik wajahnya saat Aldrich bertanya. "Hah? Tidak!" Aldrich tertawa dan menyelesaikan makanannya. Sejak tadi ia hanya menatap Anna di hadapannya, bagaimana Aldrich tidak tahu. "Apa Andrew tahu aku sedang mendekatimu?" Anna mengerjabkan matanya menatap Aldrich. Tentu saja tidak, bagimana Anna mengatakan pada Andrew jika dirinya sedang di dekati pria lain. "Tidak!" Aldrich mengangguk mengerti. Anna menghela napasnya panjang mengapa ia seperti wanita yang berniat selingkuh. Anna menghembuskan napasnya kasar. Ia menatap Aldrich lalu menghela napasnya. "Apa aku boleh tanya sesuatu?" Aldrich menoleh cepat tidak percaya Anna bicara padanya. "Apa? Katakan saja." "Kenapa kamu putus dengan Denisha?" Aldrich menatap Anna terkejut. Mengapa ia tahu tentang Denisha. "Denisha?" Anna mengangguk cepat. "Ya, dia mantan kekasihmu bukan?" Aldrich tersenyum kecut menatap kearah Anna. Mengapa begitu banyak pertanyaan Anna menanyakan hal itu. "Aku yakin kamu tidak akan percaya, jadi percuma saja aku mengatakannya." Anna mengerutkan dahinya menatap Aldrich. "Memangnya kenapa?" Aldrich menatap Anna dan menghela napasnya panjang. "Kenapa harus membahas hal tidak penting!" "Itu penting menurutku!" Aldrich menautkan alisnya menatap Anna yang begitu cepat membalas ucapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD