Suasana hening diantara Aldrich dan Anna, keduanya saling menatap dan Aldrich memalingkan wajahnya tidak ingin membahas Denisha.
"Darimana kamu kenal Denisha?" Anna mengerutkan dahinya menatap Aldrich.
"Jawab pertanyaanku dulu!" Aldrich menggelengkan kepalanya.
"Jawab pertanyaanku dulu!" Anna mendesis kesal menatap Aldrich.
"Aku melihatnya saat berada di perusahaan kamu." Aldrich mengerutkan dahinya berpikir.
"Kapan?"
"Waktu menyusun dekorasi bunga." Aldrich mengangguk ingat.
"Oh itu, tapi bukan berarti kamu kenal disana." Anna menghela napasnya panjang.
"Ya, aku bertemu dia tadi di apartemen Andrew." Aldrich menatap Anna terkejut.
"Di apartemen Andrew?" Anna mengangguk pelan.
"Iya!"
"Bersama Andrew?" Anna menggeleng pelan.
"Tidak, dia sendiri di apartemen itu, aku juga tidak tahu kenapa dia ada disana sendirian." Aldrich menahan tawanya mendengar gerutu Anna. "Kenapa kamu tertawa?" Aldrich mengangkat pundaknya.
"Tidak, aku hanya merasa lucu saja." Anna menatap Aldrich kesal.
"Dimana letak lucunya?" Tanya Anna dengan tatapan tajam.
"Kamu!" Anna menaikkan sudut bibirnya menyeringai aneh.
"Aku? Lucu? Kok bisa?"
"Karena kamu terlalu polos untuk menjadi pacar seorang Andrew." Anna memutar bola matanya jengah.
"Kamu mulai lagi!" ucap Anna kesal.
"Aku bicara serius!" Aldrich merubah mimik wajahnya seketika serius membuat Anna bingung.
"Tapi kamu tertawa!" Aldrich menggeleng pelan. Ia mengambil tangan Anna dan menggenggamnya erat.
"Kamu tidak curiga kenapa Denisha ada di apartemen Andrew sendiri?" Anna menggeleng pelan.
"Enggak! Aku percaya pada Andrew. Jangan mencoba meracuni pikiranku, kamu berusaha mendoktrin aku." Aldrich tertawa menatap Anna.
"Emangnya orang dewasa seperti kamu bisa di doktrin?" Anna berdecak kesal menarik tangannya tapi Aldrich menahannya.
"Terus ini apa? Kamu coba menghasut aku untuk membenci Andrew?" Aldrich mengangkat pundaknya menatap Anna.
"Bukan, tapi menyelamatkanmu, aku tidak pernah main-main!" Aldrich mengangkat satu tangannya merapikan rambut Anna yang tertiup angin menutupi wajahnya. Anna mengerjabkan matanya merasakan sentuhan Aldrich. Entah kenapa Anna suka, semua perlakuan Aldrich sangat alami dan murni. Anna merasakan ketulusan itu, tapi Anna sadar ia kekasih Andrew dan tidak ingin menjadi wanita jahat. Anna juga tidak bisa menghindari, Aldrich terlalu manis untuk di hindari dan Anna merasa nyaman dengan semua ini apakah ini dosa. Anna menarik tangannya cepat lalu memalingkan wajahnya takut jika Aldrich melihat wajahnya yang bersemu merah.
"Sekarang jawab pertanyaanku!" Aldrich menghela napasnya mendengar tuntutan Anna. Sepertinya Anna mulai tertarik padanya dan ingin menilai bagaimana Aldrich saat ini.
"Denisha selingkuh dengan sahabatku!" ucap Aldrich seketika Anna menoleh kearah Aldrich.
"Sahabat?" Aldrich mengangguk.
"Ya,"
"Sahabat kamu..."
"Andrew!" Anna menghela napasnya kasar memejamkan matanya.
"Kamu bohong!" Aldrich tertawa lalu merangkul Anna.
"Terserahlah, kamu mau percaya atau tidak, aku tidak perduli, jangan di bahas lagi!" Anna terdiam memikirkan hal itu, mungkinkah Aldrich benar, atau berbohong. Mengapa hatinya ingin mempercayai ucapan Aldrich. Mengapa Anna tidak pernah melihat celah dari sikap buruk Andrew.
"Bagaimana kamu tahu mereka selingkuh?" Aldrich tersenyum menatap luas kearah lampu kota yang menyajikan pemandangan indah di malam hari.
"Aku melihatnya!" Anna menautkan alisnya menatap Aldrich.
"Kamu melihatnya?" Aldrich melepas rangkulannya menatap Anna.
"Iya, kenapa?" Anna mengerjabkan matanya menatap Aldrich.
"Kamu bohong!" Aldrich tertawa menggelengkan kepalanya gemas menatap Anna.
"Oke, aku bohong, kamu tidak perlu percaya padaku, kita akhiri pembahasan ini!" Anna menatap Aldrich yang terlihat tidak memiliki sakit hati sama sekali. Pria itu tampak terlalu santai untuk ukuran orang yang di khianati. Bagaimana Anna bisa percaya pada Aldrich. Tapi naluri Anna memaksanya untuk percaya, mengapa Aldrich terlihat tidak berbohong.
"Kamu bisa tunjukkan bukti padaku?" Aldrich menatap Anna dengan alis terangkat.
"Kenapa kamu menuntut terlalu jauh? Kamu mulai menyukaiku?" Aldrich menarik turunkan alisnya. Anna memukul Aldrich lalu berpaling menatap kearah lain.
"Ya udah kalau gak mau, aku anggap kamu bohong!" jawab Anna tanpa menatap Aldrich. Aldrich terkekeh lalu mendekatkan wajahnya di telinga Anna.
"Kalau aku punya bukti kamu harus putus dengan Andrew!" Anna membalik wajahnya dan tatapan itu bertemu, hidung Anna dan Aldrich sudah saling bersentuhan. Anna mengerjabkan matanya menatap mata Aldrich. Ia berharap Aldrich tidak mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang. Bunyi ponsel berdering membuat Anna dengan cepat menjauh dari Aldrich dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Anna menatap nama kekasihnya disana. Aldrich bersandar di kursi menatap kearah lain. Anna melirik Aldrich lalu menerima panggilan Andrew.
"Sayang, kamu sudah sampai?" Suara Andrew terdengar dan Anna langsung menjauh dari Aldrich. Untung saja suasana rooftop itu sunyi tidak membuat Anna kesulitan berbohong.
"Sudah, aku baru saja sampai, aku belum pegang handphone jadi belum sempat memberi kabar!" Anna melirik ke Aldrich yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Baiklah sayang, istirahat yang cukup, aku juga mau istirahat." Anna mengangguk pelan.
"Oke, bye!"
"Bye, sayang!" panggilan tertutup dan Anna kembali ke kursinya. Anna menyimpan ponselnya begitu juga Aldrich.
"Ayo kita pulang!" Aldrich mengangguk dan bangkit.
"Ayo." Anna menatap Aldrich yang hanya diam tidak lagi menanggapi ucapannya. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara begitu juga Aldrich. Anna sampai di apartemennya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya berkelana mengingat ucapan Aldrich.
"Kalau aku punya bukti kamu harus putus dengan Andrew!" Anna memejamkan matanya menghembuskannya pelan. Sepertinya Aldrich bukan tipe pria pembohong. Tapi apakah Andrew seperti yang Aldrich katakan. Anna memejamkan matanya dilema, mengapa kata hatinya lebih percaya pada Aldrich. Sepertinya Anna sudah termakan oleh pesona pria bule itu. Anna memukul kepalanya merasa malu dengan dirinya sendiri.
**
Hari pemotretan tiba, setelah Aldrich konfirmasi dengan Richard, pihak Andrew setuju dan merubah jadwal kerja Andrew. Kali ini Andrew pergi bersama Anna karena pria itu mau Anna ikut dengannya. Andrew juga berjanji akan membawa Anna kerumah orang tuanya setelah acara selesai. Andrew dan Anna pergi selama tiga hari karena acara yang diadakan cukup padat dan di kejar waktu. Mereka membuat iklan dan pemotretan serta fashion show sekaligus selama tiga hari semua pekerjaan itu harus selesai. Acara yang di adakan di Bandung itu membuat Anna harus membawa beberapa perlengkapan yang harus ia bawa.
"Kamu pergi berdua dengan Andrew?" Anna yang sedang sibuk memasukkan baju ke dalam koper menoleh menatap Gia.
"Iya, padahal aku gak berminat sama sekali." Anna duduk menatap Gia yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Tinggal bilang kan, kenapa gak bisa?" Anna menghela napasnya menatap Gia.
"Sudah, tapi Andrew memaksa. Dia bilang katanya setelah event ini selesai dia mau ajakin ketemu ibunya!" Gia mendekati Anna lalu duduk di samping Anna.
"Kamu bahagia gak?"
"Kok Bahagia sih yang kamu tanyain?" Gia memutar bola matanya malas.
"Maksud aku kamu bahagia gak, mau diajak ke rumah ibunya?" Anna mengerjabkan matanya menggaruk kepalanya bingung.
"Ya gitu deh!"
"Tunggu dulu, sebentar, Lo mau di ajak ketemu calon mertua gimana menurut Lo, kerasa gak antusiasnya, kamu semangat gak, kamu happy gak?" Anna bangkit lalu kembali memasukkan barangnya.
"Biasa aja sih!"
"Kalau kerumah Tante Nina gimana?" Anna menoleh cepat menatap Gia.
"Apa sihhh!" ucap Anna menatap Gia kesal. Gia tertawa membuat Anna mendengkus.
"Kamu suka sama Aldrich gak sih, aku suka liat kamu sama dia!"
"Giaaa!"
"An, kenapa sih, kan kita belum merried, wajarlah kalau pilih-pilih, menurut aku Andrew gak gitu cinta sama kamu!" Anna menatap sahabatnya jengah.
"Terus kamu kira Aldrich cinta sama aku!"
"Iya!" Anna melempar bantal kearah Gia.
"Gak mungkin!"
"Enggak cinta sih, tapi kayanya dia tertarik sama Lo!" Anna menghela napasnya menatap Gia.
"Kamu percaya gak kalau kekasih Aldrich selingkuh sama Andrew?" Gia menatap Anna bingung.
"Maksudnya?"
"Aldrich bilang dia putus dari pacarnya karena Andrew, menurutmu dia bohong gak?" Gia terdiam berpikir.
"Bisa jadi ya bisa jadi enggak, tapi mungkin aja ya, kita gak tahu bagaimana ceritanya, coba deh kamu hati-hati mulia sekarang, jangan terlalu percaya sama Andrew, coba kamu cari tahu dari orang-orang terdekatnya, tentunya bukan Aldrich, mungkin sesama teman kerjanya. Kebetulan kamu mau ikut dia kerja, pasti acara fashion show itu banyak model yang satu agensi sama dia. Coba aja tanya-tanya cari tahu." Anna menghela napasnya mendengar ucapan Gia.
"Kok gue males ya, udalah nanti juga ketahuan siapa yang bener, aku pergi dulu, kamu jaga toko dengan baik ya, kalau udah sampai aku kabarin kamu." Gia mengangguk.
"Aldrich tahu kamu ikut pergi?" Anna menghentikan gerakannya menatap Gia.
"Enggak!"
"Kamu gak bilang ke dia kamu ikut?" Anna mengerutkan dahinya menatap Gia.
"Untuk apa? Dia bukan siapa-siapa aku Gi, ngapain juga ngubungi dia." Gia mengangguk tersenyum.
"Oh iya, ya udah terserah Lo deh! Hati-hati ya, awas di cium Andrew!" Anna berdecak menatap sahabatnya lalu keluar menggeret kopernya.