Baik Tapi Palsu!

1413 Words
Aldrich menutup laptopnya lalu melirik ponselnya. Ia menghela napasnya mencari kontak Anna di sana. Kebetulan Andrew akan sibuk dengan acara produk baru tantenya ia akan menghabiskan waktu dengan Anna. Aldrich tersenyum sengit berselancar di ponselnya. Ia memanggil Anna tapi panggilannya tidak juga di angkat. Aldrich melirik jam tangannya hampir menunjukkan jam empat sore. Pekerjaannya sudah selesai rasanya ingin mampir ke toko bunga Anna tapi mengapa gadis itu tidak mengangkat panggilannya. Pintu ruangan Aldrich terbuka menunjukkan Richard masuk ke ruangannya. "Hei, sudah selesai bekerja?" Aldrich menatap Richard yang tiba-tiba ada di hadapannya. "Sudah, kenapa kamu ada disini?" Richard duduk di depan Aldrich menghela napasnya panjang. "Tante nyuruh aku ajakin kamu ke Bandung, kebetulan gue sendiri, ayo kita pergi bareng." Aldrich menghela napasnya panjang menggeleng pelan. "Aku gak ikut, kamu pergi sendiri aja!" Richard berdecak menatap Aldrich. "Tante sudah pergi bersama Mama gue, Lo gak mau ikut lihat event ini, sekalian kita liburan." Aldrich tidak berminat ia menyimpan ponselnya lalu bangkit dari duduknya. "Kalian aja, ada gua atau gak acara tetap berjalan, lagian Mama cuma ingin lihat koleksi terbaru adiknya, wajar aja kalau dia ikut menyaksikan acara, gue titip salam aja sama Mami Lo!" Richard menghela napasnya mengacak rambutnya. "Padahal Tante nyuruh gue ajakin Lo supaya bisa lihat cewek-cewek cakep, tapi Lo nya nolak, ya udah gue pergi sendiri nih?" Aldrich menatap Richard mengangguk. "Iya pergi aja, gue ada urusan lain!" Aldrich lalu keluar dari ruangannya meninggalkan Richard di sana. Richard menggelengkan kepalanya tidak percaya Aldrich mengabaikannya. Aldrich melaju menuju toko bunga Anna. Ia ingin mengajak Anna makan malam bersama. Aldrich berhenti di depan toko bunga Anna dan langsung masuk ke toko. Gia terlihat sedang merangkai bunga di sana saat Aldrich masuk. Bunyi lonceng dari pintu membuat Gia menoleh melihat siapa yang datang. Gia cukup terkejut melihat Aldrich di sana. "Mas Aldrich, mau cari sesuatu?" Aldrich melirik kearah lain mencari Anna tapi tidak ada disana. "Anna sedang keluar?" Gia membasahi bibirnya tersenyum. "Enggak, Anna sedang tidak ada di toko!" Aldrich mendekati. "Anna pergi?" Gia mengangguk tersenyum. "Ya, Anna pergi pagi-pagi sekali bersama Andrew ke Bandung. Mungkin sudah sampai dari tadi." Aldrich mengangguk mengerti dan tersenyum pada Gia. "Terima kasih Gia, saya pergi dulu!" Gia mengangguk menatap Aldrich keluar dari toko. Aldrich langsung masuk ke dalam mobilnya dan langsung menghubungi Richard. Anna berdiri di hotel menatap pemandangan hijau dari balkon hotel. Setelah menghabiskan perjalanan cukup lelah ia baru saja terbangun dari istirahatnya. Anna meregangkan tubuhnya menguap ngantuk. Bunyi bel kamarnya membuat Anna menoleh melihat kearah pintu. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya. Ternyata layanan kamar membawa makan siang untuknya. Anna mempersilahkan pelayan itu masuk dan meletakkan makanannya. Anna menatap makanan di hadapannya dan melihat ponselnya. Andrew mengirimnya pesan dan menyuruhnya untuk menghabiskan makanan tersebut. Anna tersenyum karena Andrew tetap perhatian meski jadwalnya yang padat. Anna melirik jam sudah sore hari, ia menatap makanan di hadapannya memang benar-benar lapar. Anna duduk di balkon menikmati makan siangnya yang sudah terlewat dengan angin sejuk di sana. Ponsel Anna berdering menunjukkan Aldrich yang menelponnya. Anna mendengkus menatapnya tidak berminat mengangkatnya. Ponsel kembali berdering meski Anna tidak mengangkatnya membuat Anna terganggu dan mengumpat kesal. "Dasar sinting, tidak terlihat tetap saja mengganggu." Anna menggeser panggilannya dengan wajah malas. "Apa?" "Kenapa kamu pergi?" Anna menjauhkan ponselnya menatap horor. "Memangnya kenapa? Kamu kangen?" Aldrich terdengar menghela napasnya. "Anna, kamu juga mau jadi model?" Anna menghela napasnya panjang. "Enggak, tapi Andrew memaksa aku untuk ikut!" "Kamu di hotel mana sekarang?" Anna mengerutkan dahinya menatap sekeliling hotel, takut Aldrich tiba-tiba muncul di hadapannya. "Memangnya kenapa?" tanya Anna heran. "Aku biar bilang Mama kalau kamu juga ada di sana, kamu di mana sekarang?" Anna mengerutkan dahinya mendnegar ucapan Aldrich. "Tante Nina disini?" "Iya, Mama juga ikut." Anna mengangguk senang. "Oh gitu, nanti aku hubungi Tante aja." ucap Anna membuat Aldrich terdiam. "Oke, baiklah kalau begitu aku tutup." ucap Aldrich membuat Anna mengangguk. "Oke." Anna menatap ponselnya bingung dengan sikap Aldrich, mengapa pria itu aneh sekali. Anna kembali melanjutkan makannya tidak ingin pusing dengan Aldrich di Jakarta. * Anna berada disebuah gedung dimana ia sedang melihat beberapa model sedang berpose untuk mengambil potret produk yang akan di pasarkan. Sebelumnya Anna memang hanya di hotel saja, tapi Andrew menyarankan jika bosan ia boleh datang dan melihat-lihat. Permintaan Andrew untuk model berpasangan padanya tidak di ACC oleh pemilik brand. Mereka ingin model profesional yang membawakan brand miliknya mereka. Anna bersyukur karena pekerjaan ini memang bukan pekerjaan main-main. Akhirnya Anna hanya melihat-lihat saja disana. Saat Anna duduk di belakang stage ia terkejut saat seseorang memegang pundaknya. Ya itu Denisha, dia ada disana tapi tidak untuk bekerja, ia hanya ikut menyaksikan pemotretan itu. "Kamu." "Hai, kita ketemu lagi!" Denisha menarik kursi lalu duduk di samping Anna. "Kamu ikut event ini?" Denisha menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya melihat-lihat saja." Anna mengangguk lalu diam. "Tumben sekali kamu ikut dengan Andrew." Anna menoleh tersenyum. "Andrew yang memaksa untuk ikut, gimana lagi." Anna mengangkat pundaknya tersenyum. "Sepertinya dia terlalu cinta sama kamu." Anna tersenyum bangga. "Tentu saja, itu harus, mereka harus memiliki cinta yang lebih besar dari kita, biar pria yang berjuang, kita harus di perjuangkan, bukankah begitu?" Denisha tersenyum tidak suka menatap Anna. Anna menautkan alisnya menatap ekspresi Denisha yang seketika berubah. "Tapi jangan terlalu merasa diri kita tinggi, takutnya mereka malah pergi karena lelah terlalu lama berjuang." Anna tersenyum menatap Denisha, wanita itu sepertinya tidak menyukai dirinya. "Kalau dia cinta dia tidak akan pergi, sesimpel itu!" Anna menaikkan alisnya tersenyum. Sementara Denisha mengangguk pelan. "Ya, kamu benar, karena kamu belum merasakannya." ucap Denisha pelan hampir tidak terdengar. Anna mendekatkan dirinya pada Denisha. "Kamu bilang apa?" "Anna ...." Panggil seseorang dari jauh membuat Anna seketika menoleh ke atas suara. Ibu Aldrich berjalan mendekati Anna yang tengah berbicara dengan Denisha. Anna seketika menoleh dan tersenyum pada Nina yang mendekatinya. "Anna, Tante senang sekali kamu ikut dengan Andrew!" Nina langsung memeluk Anna di sana dan terkejut saat melihat Denisha ada di samping Anna. Nina tampak berubah seketika melihat Denisha yang duduk di sebelah Anna. "Denisha." ucap Nina menatap kearah Denisha. Denisha langsung menyalin tangan Nina lalu memeluk wanita itu. Anna berdiri menjauh agar Denisha memiliki ruang. "Kamu disini juga?" Denisha mengangguk menatap ibu Aldrich. "Iya Tante, tapi bukan bekerja, hanya melihat-lihat saja." Nina mengangguk tersenyum lalu melirik Anna. "Kalian sudah saling kenal?" Anna mengangguk "Sudah Tante," jawab Anna cepat. "Senang sekali, ayo kita ke dalam saja, jangan disini, disini panas banyak orang." Nina membawa dua wanita itu masuk ke dalam ruangan lebih privat. "Kalian sudah makan?" Nina menatap dia wanita itu dan keduanya mengangguk. "Syukurlah, sebentar lagi adik Tante kesini, kita tunggu disini saja ya," Anna mengangguk begitu juga Denisha. "Tante sendiri kesini?" tanya Anna membuat Nina tersenyum. "Enggak, sebenarnya sama adik Tante tapi dia lagi ada urusan sebentar, Tante sebenarnya tadi bosen banget, tapi pas ingat Aldrich bilang kamu ada disini jadi Tante buruan kesini, ternyata ada Denisha juga." Nina tersenyum kearah Denisha. "Tante sudah makan?" tanya Anna lagi, Denisha melirik Anna tidak suka karena terlalu ramah dan terkesan mencari muka. "Belum, nanti kamu temani Tante makan ya, mau kan?" Anna tersenyum mengangguk. "Iya Tante, beres." Denisha mendengkus menatap Anna karena bersikap sok dekat. "Denisha ikut juga ya." Denisha tersenyum pada Nina. "Maaf Tante tapi Denisha sedang enggak enak badan, jadi gak bisa." Nina terdiam tersenyum tidak masalah. "Oh begitu, jadi kesini tidak ikut bekerja jadi model?" Denisha menggeleng pelan. "Tidak Tante, sekarang lagi istirahat dulu." Nina mengangguk mengerti. "Oh begitu, jangan terlalu capek, kamu perempuan gak perlu cari uang terlalu keras." Denisha mengangguk tersenyum. "Iya Tante, Oh iya, ku balik duluan ya Tante, ada keperluan yang lain." Nina menatap Denisha dan mengangguk. "Oh gitu, ya sudah hati-hati ya." Denisha berdiri dan mencium Nina sebelum pergi. Nina menatap kepergian Denisha hingga menghilang dari pandangannya. "Kamu percaya?" Anna menatap Nina bingung. "Ya Tante, kenapa?" "Kamu percaya dia gak enak badan?" Anna menoleh kearah Denisha pergi lalu tersenyum canggung. "Ehhm Gak tahu Tante." "Masak gak enak badan bisa sampai Bandung, gimana sih!" ucap Nina sembari menatap kesal kearah Denisha yang sudah pergi menghilang, Anna menutup mulutnya melihat ibu Aldrich yang baru kali ini terlihat julid. "Kamu tahu kan dia siapa?" ucap Nina lagi membuat Anna mengangguk. "Iya Tante," "Itu mantan kekasih Aldrich, Tante gak begitu suka karena ya begitu, anaknya gak terlihat tulus, palsu, tapi Tante gak tahu apa yang palsu di dirinya, gak sampai aja gitu sama Tante." Anna tersenyum menatap kearah Nina, tapi yang Anna rasakan juga begitu, Denisha terlihat baik tapi tidak sampai kehati. Apa wanita itu memang memiliki topeng, entahlah hanya dia yang tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD