Anna menjatuhkan tangannya masih terpaku pada apa yang terjadi saat ini. Daging kenyal itu mulai bergerak tampak Aldrich semakin memiringkan wajahnya untuk memperdalam ciumannya. Anna menahan napasnya tersadar dan langsung mendorong pria yang sedang menikmati ciuman pertamanya. Anna dengan cepat menutup mulutnya bersandar takut menatap Aldrich. Anna langsung menatap kearah lain tidak ingin menatap Aldrich.
"Aku mau pulang, Sekarang!" ucap Anna seakan tidak ingin di bantah. Aldrich mencoba mengambil tangan Anna tapi gadis itu dengan cepat menepis tangan Aldrich.
"Anna ..."
"Jangan bicara apapun!" Aldrich menghela napasnya kasar menatap Anna meski gadis itu memunggunginya.
"Anna ... tadi aku ..." Aldrich menggantung ucapannya menatap Anna yang terus memunggunginya. Sepertinya menjelaskan apa yang terjadi saat ini percuma saja. Aldrich menghela napasnya panjang lalu menghidupkan mobilnya dan kembali ke toko bunga Anna. Sepanjang perjalanan keduanya tidak saling bicara. Aldrich meremas setirnya sesekali menatap kearah Anna yang tetap memalingkan wajahnya dari Aldrich. Aldrich berhenti di depan toko Anna dan gadis itu langsung keluar tanpa bicara apapun. Aldrich terus menatap Anna hingga masuk ke dalam tokonya. Pria itu menyandarkan kepalanya mengusap wajahnya dan tersenyum kecut. Ia sudah menahannya selama ini dan ia lepas kendali, Aldrich benar-benar penasaran dengan rasa bibir merah muda itu. Aldrich mengacak rambutnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan toko tersebut. Anna langsung masuk ke dalam kamar yang ada ditoko tersebut. Yang biasa mereka gunakan untuk berganti baju atau meletakkan barang-barang pribadinya. Gia ikut masuk ke dalam kamar kecil itu saat pelanggan sudah pergi.
"Ada apa Anna?" Anna terlihat duduk menunduk di sana membuat Gia bingung menatapnya.
"Jangan tanya apapun, bisa tinggalkan aku?" Gia menautkan alisnya bingung.
"Memangnya ada apa? Tadi mobil Aldrich kan? Kamu bertengkar sama dia?" Anna menatap Gia dengan tatapan kesal.
"Bisa tinggalkan aku!" Gia menatap Anna cukup lama, ada yang berbeda dengan temannya itu tapi Gia menahannya untuk tidak bertanya.
"Oke, kalau kamu mau cerita aku siap kapanpun." Anna hanya memalingkan wajahnya sementara Gia keluar dari kamar tersebut. Gia menghela napasnya panjang menatap pintu kamar dengan rasa penasaran.
*
Andrew dan Denisha tengah berada di salah satu hotel menikmati makan siang bersama. Setelah memutuskan masalah bersama mereka memilih untuk membesarkan anak dalam kandungan Denisha tanpa berkomitmen. Denisha menyudahi makanannya karena perutnya bergejolak.
"Kapan kamu bisa temani aku ke dokter?" Andrew menatap Denisha dan menghentikan makannya.
"Aku akan atur jadwal dulu, kamu mau kapan?" Denisha menunduk mengusap tengkuknya mual.
"Aku terserah kamu, kalau bisa secepatnya, aku akan rehat untuk sementara waktu di beberapa event." Andrew mengangguk mengerti.
"Oke tidak masalah, kamu istirahat saja." Denisha mendesah lelah dan mengangguk.
"Aku akan tinggal di apartemen kamu." Andrew menatap Denisha cepat tampak terkejut.
"Kenapa begitu?"
"Sepertinya aku tidak sehat Andrew, aku butuh kamu jika ingin sesuatu, aku tidak mungkin tinggal di rumah orang tuaku, apa yang harus aku katakan pada mereka kalau mereka tahu aku hamil." Andrew menghela napasnya menatap Denisha.
"Aku akan carikan tempat tinggal untukmu." Denisha menggeleng cepat.
"Aku tidak butuh!"
"Tapi Denisha."
"Kenapa? Kamu keberatan?" Andrew menghela napasnya kasar menatap Denisha.
"Kamu tidak bisa tinggal di apartemen aku, kalau Anna tiba-tiba datang bagaimana? Aku tidak ingin dia tahu." Denisha mendengkus menatap Andrew.
"Anna, Anna, Anna, selalu Anna. Aku sedang hamil anak kamu Andrew, kamu benar-benar b******k!" Andrew menahan Denisha yang hendak bangkit.
"Oke! Oke kamu bisa tinggal di apartemen aku, tapi setelah masa awal kehamilan kamu saja bagaimana? Setelah itu aku akan carikan rumah untukmu." Denisha mendengkus marah tidak menjawab. Wanita itu melipat tangannya di d**a tanpa menatap kearah Andrew. Andrew memegang kepalanya pusing menatap makanan yang tidak lagi membuatnya selera. Dari arah pintu masuk terlihat Aldrich berjalan masuk ke dalam resto yang berada di hotel tersebut. Andrew terkejut menatap Aldrich ada disana juga. Ia mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya sulit untuk menghindari Aldrich di sana.
"Denisha!" Denisha yang sedang kesal dan duduk membelakangi pintu masuk tampak santai disana.
"Denisha." Denisha masih tidak ingin menatap Andrew tapi Andrew terus memanggilnya dan menarik tangan Denisha.
"Denisha, disini ada Aldrich." ucap Andrew dengan nada tertahan karena Denisha terus mengabaikannya. Denisha langsung menoleh menatap Andrew.
"Aldrich?" Andrew mengangguk pelan "dimana?" tanya Denisha lagi.
"Ada di belakangmu, apa kamu mau bertemu dengannya sekarang?" Denisha berbalik dan tersenyum saat melihat mantan kekasihnya itu berdiri di pintu masuk berbicara pada seseorang. Tampaknya Aldrich ada miting bersama klien di resto ini.
"Aldrich!" Denisha memanggil Aldrich sementara Andrew mulai memasang wajah santai. Aldrich yang merasa di panggil menoleh mencari sumber suara. Aldrich menatap kearah Denisha dan menatapnya malas, tapi Aldrich menatap seseorang yang ada di hadapan Denisha dengan wajah terkejut. Andrew ada di sini bersama Denisha. Aldrich tersenyum tipis lalu berjalan mendekati mereka. Setelah mengantar Anna ia langsung bergegas ke hotel untuk menemui klien dari luar negeri. Tidak di sangka Aldrich menemukan Andrew dan Denisha disini. Ini pertama kalinya Aldrich melihat Andrew jalan berdua selama mereka bermain api di belakangnya. Aldrich menunjukkan wajah santai saat mendekati meja mereka berdua.
"Andrew!" sapa Aldrich saat ia tiba di meja mereka.
"Hei, kebetulan, kenapa kamu bisa ada disini?" Aldrich mengangkat pundaknya tersenyum.
"Biasa, aku ada sedikit pekerjaan disini." Denisha berdiri menarik tangan Aldrich.
"Kamu sudah makan siang? Sembari menunggu ayo makan siang bersama?" Andrew tersenyum menatap Denisha yang benar-benar memuja seorang Aldrich. Aldrich menepis tangan Denisha lalu menatap Andrew.
"Maaf aku buru-buru sekali, kalian nikmati saja makanannya." ucap Aldrich sembari menatap jam di tangannya.
"Kenapa terburu-buru sekali, ini masih jam makan siang, kamu pasti belum makan, sebentar saja." Andrew ikut mengajak Aldrich duduk.
"Tapi aku benar-benar sudah makan dan buru-buru, jadi kali ini aku tidak bisa ikut. Aku juga tidak ingin mengganggu waktu kalian, nikmatilah." Aldrich tersenyum menepuk pundak Andrew lalu berjalan meninggalkan Denisha dan Andrew disana. Andrew meremas sapu tangan miliknya menatap kepergian Aldrich.
"Mengganggu waktu kalian? Apa maksudnya itu?" Denisha menatap Aldrich sampai menghilang dari pandangannya lalu menatap Andrew di hadapannya.
"Kamu yakin tidak mengatakan tentang hubungan kita?" Denisha menggeleng pelan.
"Enggak pernah, dia juga tidak berminat mengetahuinya. Aldrich benar-benar tidak terbaca." Andrew mengepalkan tangannya menatap kearah Aldrich pergi.
"Sepertinya dia sudah tahu tentang hubungan kita, dia menutupinya." Denisha menatap Andrew terkejut.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin, Aldrich yang saat ini bukan Aldrich yang dulu aku kenal. Dia ramah tapi tidak tersentuh, dia tersenyum dengan tatapan dingin. Aku kira karena aku sudah terlalu lama tidak bertemu, sepertinya aku salah, dia sedang mempermainkan pertemanan ini." Denisha berdecak mendengar cerita Andrew.
"Terserahlah, apapun itu aku tetap ingin menikah dengannya tapi tidak denganmu! Aku pergi sekarang." Denisha bangkit dari duduknya meninggalkan Andrew yang masih berpikir keras di sana.