Anna keluar dari taksinya dan langsung membayar tarif ongkosnya. Ia menatap rumah besar bercat putih gading itu lalu menarik napasnya panjang. Baru kali ini ia mengunjungi rumah Tante Nina, biasanya ia hanya menyuruh kurir atau Gia yang mengantar pesanannya. Mengapa kali ini Anna bersedia dan merasa ingin mengantarnya secara langsung. Anna menggelengkan kepalanya lalu mendekati pintu pagar yang tingginya melebihi orang dewasa tersebut. Anna menekan bel rumah dan dari pintu kecil tampak seorang satpam menoleh separuh badannya.
"Cari siapa Mbak?" Anna mendekati satpam tersebut dan tersenyum.
"Permisi Pak, saya mau antar pesanan Tante Nina." Satpam itu menatap bawaan Anna dan mengangguk.
"Sebentar ya." Anna mengangguk dan menunggu sebentar. Satpam itu tampak menghubungi seseorang lalu membuka pagar rumah. Anna berjalan masuk dan Satpam itu menunjukkan pintu masuknya.
"Silahkan Mbak, sudah di tunggu." Anna mengangguk sopan lalu berjalan mendekati pintu yang sudah di buka. Seorang asisten rumah tangga menyambut Anna mengambil bunga yang Anna pegang.
"Sebentar ya, Mbak, Nyonya masih di kamar." ucap asisten rumah tangga itu membuat Anna mengangguk. Anna duduk di sofa ruang tamu menunggu ibu Aldrich disana. Tidak lama duduk disana Nina tampak keluar mendekatinya.
"Hallo sayang, lama ya Tante?" Anna bangkit menyambut Nina yang mendekatinya.
"Enggak Tante, Anna baru sampai kok." Nina merangkul Anna dan mengajaknya masuk.
"Ayo kita di sana saja sambil lihat televisi." Nina menggandeng Anna membuat Anna ikut masuk ke dalam bersama wanita tersebut. Nina menyuruh Anna duduk di ruang tengah dan wanita itu tampak berjalan ke belakang.
"Mbak, bawakan jus dan beberapa kue ya." Anna menatap Nina yang berdiri di antara dapur dan ruang tengah. Nina kembali mendekati Anna yang duduk di sofa menatapnya.
"Sebentar ya, kamu pasti haus, jangan langsung pulang, kamu harus makan dulu sebelum pulang, kita makan siang bersama." Anna mengerjabkan matanya mengangguk.
"Tapi toko gak ada yang jaga Tante, saya gak bisa lama-lama." Nina menatap Anna tak suka.
"Kan ada Gia, kamu juga belum pernah main-main kerumah Tante, jangan buru-buru dong, pokonya makan siang bersama Tante ya." Anna tidak bisa menolak permintaan ibu satu ini. Ia akhirnya mengangguk dan patuh pada Nina di hadapannya.
"Oh iya, bunganya sudah di bayar?" Anna mengangguk cepat.
"Sudah Tante, Aldrich sudah membayarnya." Nina menghela napasnya tersenyum.
"Anak itu, bukannya berikan Mamanya menantu, malah kasih bunga terus, bunga juga Tante bisa beli, kalau menantu beli kemana?" Anna menahan tawanya melihat ekspresi wajah ibu Aldrich.
"Bukannya Aldrich punya kekasih?" Nina tampak terkejut mendengar ucapan Anna.
"Benarkah?" Anna mendadak bingung karena ekspresi Nina juga tidak tahu.
"Anna juga tidak tahu Tante, Anna pikir Aldrich ada kekasih." Nina menghela napasnya bersandar membayangkan putranya yang tidak nikah-nikah.
"Ck, setahu Tante tidak ada, setelah Denisha." Anna mengerutkan dahinya mengingat nama itu. Bukankah itu wanita yang menerobos ke ruangan Aldrich saat itu.
"Denisha?"
"Iya, Denisha, hampir bertunangan, sebenarnya Tante tidak begitu suka, tapi jika itu pilihan Aldrich Tante hanya bisa mendukungnya. Tapi takdir berkata lain, tampaknya Aldrich yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pertunangan mereka." Anna menatap penasaran kearah Nina.
"Kenapa dia membatalkannya?" Nina menggeleng kepalanya tidak tahu.
"Entahlah, Tante tidak tahu apa yang terjadi, saat itu Aldrich sedang berada di LA. Denisha kembali ke Indonesia sendiri da membatalkannya begitu saja." Anna mengangguk mengerti.
"Mereka tidak berhubungan lagi?" Nina menggeleng pelan.
"Sepertinya tidak, Aldrich tidak pernah pergi, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Eh, bagaimana dengan hubungan kamu dan Andrew? Tante penasaran?" Anna menarik napasnya dalam dan tersenyum.
"Baik Tante." Nina melipat tangannya di d**a menatap Anna penasaran.
"Dia tidak ingin serius padamu?" Anna tertawa melihat sikap ibu Aldrich tersebut.
"Dia bilang akan mengajakku berkenalan dengan orang tuanya." Nina membulatkan bibirnya tak percaya.
"Benarkah?" tanya Nina dengan wajah berbinar.
"Iya, Tante." balas Anna tak kalah senang.
"Aduh Tante senang banget, pasti Mira senang sekali punya menantu cantik seperti kamu. Tante gak sabar menanti Aldrich bawa kekasihnya kerumah, sudah tiga puluh dua tahun tidak ada pacar, rasanya Tante umur segitu sudah punya Aldrich." Anna tersenyum tipis mendengar keluhan Nina sejak tadi.
"Secepatnya pasti ada Tante." Nina mengangguk tersenyum.
"Semoga saja, ayo kita makan siang dulu, kamu jangan malu-malu dong sama Tante." Anna menggeleng pelan.
"Enggak kok Tante." Keduanya berdiri melangkah kearah dapur. Dari arah depan langkah seseorang terdengar membuat Nina dan Anna menoleh melihat siapa yang datang.
"Aldrich." Anna menatap pria menyebalkan tadi pagi dengan mata tajam. Aldrich mencium ibunya lalu memainkan matanya menatap Anna.
"Kamu bilang tadi mau makan siang di kantor saja?" Aldrich menggandeng ibunya dan menarik kursi untuk Nina dan begitu juga untuk Anna. Anna tampak terkejut dan canggung tapi tetap duduk di kursi yang Aldrich berikan.
"Tadi Al tiba-tiba rindu sama Mama, jadi Al temenin Mama makan saja." Aldrich melirik Anna dan mengedipkan matanya kembali kearah Anna. Anna menaikkan sudut bibirnya jengah melihat sikap genit Aldrich padanya.
"Alasan, padahal tadi Mama sudah bilang sama kamu Mama kesepian kamu tetap gak mau pulang." Aldrich hanya tersenyum pada ibunya lalu menatap Anna lagi.
"Papa tidak pulang?" Nina menghela napasnya menatap makanan di atas meja.
"Paling juga makan siang sekaligus dengan teman-temannya." jawab Nina dengan rasa kesal.
"Kenapa Mama gak ikut main golf aja sih, kan itung-itung olahraga bareng Papa, Ma." Nina menghela napasnya panjang tidak berminat.
"Lagi males Al, sudah jangan ngomong terus, ayo makan, kasihan Anna belum makan." Aldrich menatap Anna dan memberikan potongan daging ke piringnya.
"Makan yang banyak biar gemukan." ucap Aldrich saat memberikan potongan daging ke piring Anna.
"Oh iya, Al, Andrew dan Anna akan segera bertunangan."
Uhuk uhuk huk...
Aldrich yang tengah menenggak air langsung tersedak karena ucapan ibunya.
"Tunangan?" Nina mengangguk cepat sementara Anna menggeleng cepat.
"Bukan." jawab Anna cepat, Nina mengerutkan dahinya menatap Anna.
"Tadi kamu bilang sama Tante?" Aldrich menatap Anna seolah menuntut penjelasan. Anna membalas tatapan Aldrich seolah berkata tidak. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Benarkah?"
"Bukan, maksudnya cuma berkenalan Tante, Anna tidak ada bilang bertunangan!" Aldrich memicingkan matanya menatap Anna.
"Tetap saja, kalau sudah kenal sama orang tua pasti ujung-ujungnya disuruh nikah, Anna. Orang tua mana yang mau anaknya buat dosa terus." Anna menenggak air mendengar ucapan Nina. Menatap kearah Aldrich yang tampak kesal karena hanya mengaduk-aduk nasinya di atas piring.
"Buat dosa?" tanya Anna bingung. Aldrich tampak diam memakan makanannya dan tidak tertarik ikut membahas masalah Anna.
"Iyalah, kamu kaya gak tahu aja pacaran anak jaman sekarang gimana, Tante tuh ya, sudah siap lahir batin kalau tiba-tiba ada wanita yang datang dan bilang kalau mengandung anak Aldrich. Gak apa-apa deh asal punya cucu, dari pada diam-diam begini tahu-tahu sukanya sama yang ganteng, kan makin pusing." Nina mengetuk meja lalu mengetuk dahinya amit-amit. Aldrich berdecak menatap Mamanya.
"Mama kenapa mikirnya sampai kesana sih, Aldrich masih doyan perempuan, Ma." Nina melirik putranya kesal lalu memakan makanannya.
"Makanya punya pacar!" Anna menatap ibu dan anak itu yang tampak pernah dingin.
"Aldrich sudah selesai, Anna kebetulan aku balik kantor lewat toko kamu, ayo aku antar, aku tunggu di luar, gak usah buru-buru. Aldrich langsung balik ya Ma." Aldrich bangkit mencium ibunya dan meninggalkan meja makan dengan suasana sedikit berbeda. Tanpa menunggu jawaban Anna setuju atau tidak Aldrich langsung pergi begitu saja. Anna menyiapkan makannya menatap Nina di hadapannya.
"Tante, aku sudah selesai, aku pulang sekarang ya, gak enak sama Aldrich sudah nunggu." Nina menatap Anna tersenyum.
"Iya sayang, lain kali kalau ada waktu main-main lagi ya kesini, Tante bosan gak ada temennya." Anna tersenyum lebar.
"Iya Tante, Anna usahain ya." Nina mengangguk lalu mencium Anna dan membiarkannya pergi. Anna berjalan keluar melihat Aldrich sudah menunggu di depan mobilnya membuat Anna menghela napasnya kasar dan mendekati pria itu.
"Ayo." Aldrich melirik Anna lalu ikut masuk ke dalam mobil. Anna sesekali mencuri pandang pria yang biasanya terlihat tidak serius, tapi kali ini ia melihat Aldrich diam lebih lama dan tidak banyak bicara. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah tapi pria itu masih betah mengunci mulutnya dan tidak berbicara. Anna sedikit lega karena Aldrich tidak seperti biasanya. Anna sibuk menatap jalanan, namun dahinya berkerut saat mobil memilih jalan berbeda dari biasanya.
"Kita mau kemana?" Aldrich tidak menjawab membuat Anna takut dan langsung membuka tasnya mengambil ponselnya. Aldrich menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu mengambil ponsel Anna dan menyimpannya ke dalam sakunya.
"Aldrich!"
"Katakan padaku, apa kamu benar-benar yakin akan menikah dengan Andrew?" Pria itu menghadap Anna dengan kedua tangan mengurungnya cepat. Anna menatap mata Aldrich terlihat pria itu benar-benar berbeda. Aldrich biasanya tidak seperti ini, masih memiliki sisi hangat di matanya meski Anna selalu kesal padanya.
"Dia hanya ingin mengenalkan ku pada orang tuanya, apa itu salah?" Aldrich menatap Anna tanpa jeda membuat Anna memalingkan wajannya.
"Salah!" Anna mendesis kesal menatap Aldrich.
"Dia kekasihku, dimana letak kesalahannya?" Aldrich kembali duduk dan bersandar di kursinya.
"Aku tidak akan mengijinkan kamu bersamanya." Anna mendengkus mendengar ucapan Aldrich.
"Aku tidak perlu ijinmu." ucap Anna tegas. Aldrich terkekeh mendengarnya.
"Dia bukan pria baik-baik." Anna memejamkan matanya mendengar penilaian itu lagi.
"Lalu kamu baik?" Aldrich menatap Anna yang juga menatapnya.
"Setidaknya aku lebih baik darinya." Anna tertawa mendengar ucapan Aldrich.
"Sombong sekali."
"Anna ... Aku mengatakan yang sebenarnya!" ucap Aldrich prustasi.
"Aku tahu apa yang terbaik untuk hidupku!" Aldrich menggeleng cepat.
"Tidak, kamu tidak tahu!"
"Cukup Al, berhenti ikut campur urusanku!" Aldrich menatap Anna yang tampak ingin keluar dari mobilnya.
"Kamu pikir kamu bisa menghindari ku?" Anna menepis tangan Aldrich yang menghalanginya. Pintu mobil langsung Aldrich kunci membuat Anna tidak bisa keluar.
"Buka pintunya!"
"Enggak!" Anna memejamkan matanya menatap Aldrich.
"Dasar gila, pria gak waras, berhenti mempermainkanku!" Teriak Anna mulai marah karena Aldrich terus mengganggunya.
"Anna aku tidak pernah sedikitpun mempermainkanmu, aku hanya tidak ingin Andrew menikahimu!" Anna menatap jengah kearah Aldrich dan melayangkan pukulan di wajahnya.
Plak!
Anna menampar Aldrich karena habis kesabaran. Aldrich hanya diam menatap Anna, sementara Anna menatap tangannya yang gemetar.
"Aku ..."
Aldrich mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup bibir Anna tanpa aba-aba, tanpa kesiapan Anna. Anna melotot terkejut saat Aldrich mengambil ciuman pertamanya, merasakan daging kenyal itu mulai bergerak melumat bibirnya perlahan. Anna membeku, ia tidak bisa bergerak, kenapa Aldrich membuatnya terpaku setiap kali ia menyentuhnya.