Andrew duduk di sofa yang berada di toko bunga Anna. Anna membuat segelas kopi untuk Andrew karena menunggunya disana.
"Kamu dari bandara langsung kesini?" Anna menatap Andrew yang menyambutnya dengan senang hati.
"Tentu saja sayang, aku sudah merindukanmu, beberapa hari tidak bertemu rasanya benar-benar menyiksa." Anna tersenyum tipis mengapa Andrew terdengar berlebihan di telinganya.
"Sayang, aku masih punya beberapa pesanan, aku tinggal dulu tidak masalah?" Andrew tampak kecewa karena Anna mengabaikannya.
"Duduklah sebentar saja." Anna mengikuti permintaan Andrew dan duduk di sampingnya. Andrew langsung mengambil tangan Anna menatap kekasihnya dengan senyum menawan.
"Aku ingin kita ke jenjang yang lebih serius." Anna mengerjabkan matanya menatap Andrew merasa tidak percaya.
"Kamu serius?" Andrew tersenyum meyakinkan.
"Tentu saja, apa aku terlihat bercanda?" Anna menggeleng pelan.
"Tidak, hanya saja kenapa tiba-tiba sekali?" Andrew menghela napasnya menatap Anna.
"Karena aku takut kehilangan kamu, aku sangat mencintai kamu, apa kamu punya waktu? Dalam waktu dekat aku ingin ajak kamu bertemu dengan orang tuaku!" Anna menahan napasnya tak percaya Andrew mengatakan ini.
"Benarkah? Aku akan luangkan waktu untuk pergi." Andrew menatap Anna tersenyum.
"Mama pasti menyukaimu." Anna tersenyum tipis dan menatap kearah luar. Andrew menyesap kopi yang Anna buatkan.
"Aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu!" Andrew mengangguk mengerti. Anna beranjak dari sofa dan Andrew mengaktifkan ponselnya yang sejak tadi ia matikan di pesawat. Andrew menautkan alisnya melihat begitu banyak panggilan telepon dari Denisha dan beberapa pesan singkat.
"Aku ingin bertemu."
"Temui aku di tempat biasa."
"Ada yang ingin aku bicarakan, ini penting!" Andrew berpikir sejenak apa yang ingin Denisha katakan. Denisha bukan tipe wanita yang berisik jika ia pergi kemanapun.
"Bertemu di tempat biasa." Andrew langsung menjawab pesan Denisha meski centang satu. Andrew menyimpan ponselnya dan bangkit mendekati Anna yang terlihat sedang merakit bunga. Anna terlihat serius merakit beberapa pesanan pelanggan termasuk bunga milik ibu Aldrich. Andrew memeluk tubuh Anna dari belakang membuat Anna terkejut dan seketika menegang.
"Benar-benar cantik sekali." Andrew melingkarkan tangannya di pinggang Anna membuat Anna menahan napasnya menatap gerakan tangan Andrew. Mengapa Anna tidak merasakan jantungnya berdebar, mengapa ia hanya merasa tidak nyaman saat Andrew memeluknya.
"Sayang, tidak enak jika ada yang melihat." Anna mencoba melepas pelukan Andrew dari perutnya. Tapi Andrew terlihat menolak.
"Sebentar saja, aku sedang merindukanmu!" Anna menahan napasnya canggung dan kembali merakit bunga meski pikirannya berada pada tangan Andrew yang tengah memeluk pinggangnya.
Bunyi lonceng terdengar membuat Anna dengan cepat melepas pelukan Andrew dan melihat Gia masuk ke dalam toko.
"Sorry, sepertinya aku mengganggu kalian." Anna tersenyum bersyukur karena Gia selalu menyelamatkannya.
"Enggak kok, kamu kenapa lama sekali?" Anna tampak senang menyambut kedatangan Gia. Sementara Andrew tampak tidak suka dan duduk kembali di Sofanya. Gia mendekati Anna yang terlihat kembali merangkai bunga.
"Ciyee yang lagi pacaran." goda Gia yang sudah berdiri di samping Anna.
"Apa sih!"
"Gak peka banget, lihat wajah kekasih Lo itu." Anna melirik Andrew dan berdecak lalu kembali menyibukkan diri.
"Ini punya siapa saja, mau di kirim sekarang?" Anna mengangguk menatap bunga yang sudah ia rangkai.
"Sebentar aku tulis kartu ucapannya dulu, kamu kirim dua buket ini ke alamat ini ya." Anna memberikan dua kartu nama kepada Gia.
"Oke, itu satu lagi kemana?" Gia kembali bertanya melihat Anna masih merangkai satu bunga lagi.
"Ini biar aku saja yang antar." Gia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kemana?"
"Kerumah Tante Nina." Gia menautkan alisnya menatap Anna.
"Kerumah Aldrich dong?" Anna menatap Gia lalu melirik Andrew di sofa.
"Iya."
"Biar aku aja." Anna menepis tangan Gia membuat Gia menaikkan sudut bibirnya.
"Biar aku saja, Aldrich menyuruhku." Gia mengulum senyumnya menatap Anna dengan tatapan memicing.
"Oke deh, okee..." Gia tersenyum penuh arti membuat Anna menatapnya sinis.
"Biasa aja," Gia mencebikkan bibirnya mendekati Anna.
"Perasaan aku udah biasa aja." Anna mendengkus dan meletakkan bunga segar kesukaan ibu Aldrich.
"Mata Lo!"
"Iya-iya, inget loh capernya sama calon mertua bukan sama yang lain." Anna mendesis kesal ingin melempar Gia tapi Gia sudah menjauh sembari menjulurkan lidahnya mengejek.
Andrew tampak bangkit dari duduknya setelah menghabiskan kopinya. Ia mendekati Anna yang terlihat masih sibuk.
"Sayang, aku pulang sekarang ya." Anna langsung menatap Andrew yang berpamitan.
"Kamu mau pulang? Enggak makan siang dulu?" Andrew menggeleng sembari meraih tangan Anna.
"Lain waktu saja, kamu juga masih sibuk, aku mau balik dulu istirahat, soalnya ngantuk." Anna mengangguk.
"Oh begitu, maaf karena terlalu sibuk dan membiarkanmu sejak tadi." Andrew tersenyum menggeleng tidak masalah.
"Tidak apa-apa, aku paham memang ini jam kerja kamu, kalau begitu aku balik sekarang ya." Anna mengangguk dan Andrew langsung mendaratkan kecupan singkat di pipi Anna. Gadis itu hanya diam menatap Andrew yang berjalan menjauhinya. Anna menghela napasnya kasar dan Gia langsung mendekati sahabatnya itu.
"Ah salam perpisahan apaan itu? Gak seru!" Anna mendesis menatap Gia di dekatnya.
"Sibuk banget Lo, udah sana anterin pesanan." usir Anna membuat Gia berdecak menatap Anna.
"Iya-iya."
"Oh iya, nanti bawa kunci toko ya, soalnya aku juga mau pergi anter bunga ke rumah Tante Nina." Gia mendekati Anna yang terlihat membungkus bunganya.
"Toko kamu tutup?" Anna mengangguk.
"Iya, siapa yang mau jaga, ayo pergi." ajak Anna yang sudah bersiap, Gia mengangguk dan menenteng bunga yang Anna bungkus tadi, keduanya menaiki taksi terpisah dan jalan menuju alamat yang mereka tuju.
**
Andrew tiba di apartemennya dan langsung membersihkan tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya sembari menatap ponselnya di tangan. Andrew mengambil kaosnya lalu keluar mendekati dapur. Ia mengambil air di dalam lemari es lalu menenggaknya cepat. Andrew menatap sekelilingnya merasa lapar dan berselancar di ponsel memesan makanan. Bunyi pasword apartemen terdengar membuat Andrew melirik kearah pintu. Denisha terlihat menggeret kopernya karena ia baru tiba dari bandara dan langsung ke apartemen Andrew.
"Ada apa?" Denisha menatap marah kearah Andrew dan terus menggeret kopernya dan berhenti di depan sofa lalu duduk di sana. Andrew mengikuti Denisha dan duduk di sofa bersama.
"Aku hamil!" Andrew terdiam mendengar apa yang Denisha katakan.
"Kamu bercanda?" Denisha menunduk menutup wajahnya.
"Apa aku terlihat bercanda?" Andrew menatap Denisha frustasi.
"Aku selalu menggunakan pengaman, kamu menipuku?" Denisha menatap tajam kearah Andrew.
"Apa maksudmu? Kamu jangan mengelak Andrew, aku tidak pernah melakukan pada orang lain." Andrew berdiri mengusap wajahnya gelisah.
"Kamu sudah yakin dengan hasilnya?" Denisha menunduk memejamkan matanya.
"Aku sudah memastikannya, aku hamil, anak kamu." Andrew kembali duduk menatap Denisha, merangkul wanita itu.
"Baiklah, begini saja, bagaimana kalau kamu minum obat saja." Denisha mengangkat wajahnya menatap Andrew.
"Obat? Obat apa?"
"Obat ... Obat untuk menggugurkan kandunganmu." Denisha mendorong Andrew kesal karena ucapannya.
"Apa tidak ada solusi lain, kenapa kamu tega?" Andrew mengacak rambutnya prustasi berjalan kesana kemari.
"Lalu bagaimana? Aku tidak mungkin menikahimu!" Denisha menatap Andrew tak percaya.
"Tidak mungkin?" Andrew menutup mulutnya menatap Denisha.
"Maksudku kita tidak mungkin menikah, kamu dan aku tidak saling mencintai." Denisha bangkit menatap marah Andrew.
"Tapi kamu membuatku hamil! Kenapa kita tidak mungkin menikah?" tanya Denisha marah.
"Ayolah Denisha, ibuku tidak akan merestui hubungan ini, dia tahu kamu adalah mantan Aldrich." Denisha mengepalkan tangannya marah.
"Baiklah, jika kamu tidak bisa menemukan solusinya aku akan katakan kepada Anna jika aku hamil anak kamu." Denisha beranjak pergi tapi Andrew menahannya agar tidak pergi.
"Denisha tunggu," Denisha terus berjalan dan Andrew terus menghentikannya.
"Denisha!" bentak Andrew marah karena Denisha tidak mendengarkannya.
"Jangan pernah coba-coba mengatakan ini pada Anna." ucap Andrew marah menatap Denisha tajam.
"Aku kesini hanya ingin minta solusi bukan untuk menggugurkan kandunganku." Andrew menarik napasnya panjang dan menghembuskannya kasar.
"Jadi kamu mau bagaimana, aku baru saja ingin melamar Anna, bagaimana bisa aku menikahimu!" Denisha memejamkan matanya memegang dahinya lelah.
"Aku takut, aku takut berdosa, jangan membawaku lebih berdosa dengan membunuh janin ini." Andre menunduk pusing menatap Denisha.
"Baiklah, kamu mau gimana?"
"Aku mau melahirkannya, tapi kamu harus selalu ada di dekatku, penuhi semua kebutuhannya." Andrew menatap Denisha dan mengangguk cepat.
"Oke, itu persoal mudah."
"Tapi aku mau semuanya di sembunyikan." Andrew mengangguk setuju, ia juga ingin semuanya tersembunyi karena ia tidak ingin Anna tahu.
"Aku setuju, kamu boleh melakukan apapun, aku akan menanggung semuanya, tapi jangan pernah katakan pada siapapun tentang anak ini!" Denisha mengangguk lalu memeluk Andrew erat. Andrew membalas pelukan Denisha dan mencium kepala Denisha lega.