Ketakutan Denisha

1675 Words
Denisha mengusap tengkuknya dengan lelah, ia berjalan ke dalam ruang ganti khusus para model dengan langkah lelah. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa tubuhnya tidak bersahabat. Terasa cepat lelah bahkan ia sering merasa ngantuk, Denisha duduk di kursi meraih tasnya lalu mengeluarkan sebotol obat berisi vitamin. Ia mengeluarkannya dan langsung meminumnya saat menemukan air didekatnya. Denisha mengusap wajanya lelah. Hari ini benar-benar melelahkan. Ia baru saja bisa duduk santai sejak pagi tadi. Denisha mengusap kakinya yang terasa pegal, ia menidurkan kepalanya di depan meja rias merasa kantuknya tidak tertahan. Suara ketukan heels menggema mendekatinya membuat Denisha mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang. Wanita yang sama profesinya seperti dia, Tania, teman sepermodelan dengannya. Tania mendekati Denisha melihat Denisha tampak tidak bersemangat. "Ada apa Denis, kamu sakit?" Tania mengusap punggung Denisha lembut. "Enggak, tidak ada apa-apa, hanya ngantuk saja!" Balas Denisha sambil mengangkat tubuhnya dan tersenyum. "Kamu enggak ikut?" Denisha mengerutkan dahinya bertanya. "Kemana?" "Party, karena acara ini sukses besar meraih keuntungan." Denisha terlihat malas mendengarnya, ia hanya ingin kembali ke hotel dan beristirahat. "Apa Andrew juga ada disana?" Tania mengangguk. "Tentu saja, kamu tidak ingin bergabung?" Denisha menggeleng pelan. "Katakan saja pada mereka, aku tidak ikut, aku kembali ke hotel!" "Oke," jawab Tania cepat, ia beranjak pergi setelah mengambil tas dan keperluan lainnya. Denisha sendiri keluar dari ruangan tersebut setelah mengganti pakaiannya lalu merapikan barang-barangnya dan keluar dari gedung tersebut. Denisha berdiri di depan lobi menunggu taksi dan saat itu Andrew mendekatinya. "Hei, kamu tidak pergi?" Denisha menatap Andrew yang tiba-tiba muncul di dekatnya, lalu menggeleng pelan. "Tidak, aku lelah sekali, aku ingin berendam dengan air hangat lalu tidur dengan nyenyak. Rasanya aku sedang memikul sekarung beras di pundakku, An. Ini sungguh melelahkan." Jelas Denisha merasa lelah saat ini. "Oke baiklah, aku antar sampai hotel ya?" Tawar Andrew membuat Denisha tidak bisa menolaknya. Setelah menunggu Andrew mengambil mobil temannya, Denisha akhirnya naik dan masuk ke mobil yang andrew kendarai. Denisha langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk hotel ternama di salah satu kota yang mereka kunjungi. Denisha langsung membiarkan Andrew pergi saat mereka tiba di hotel. Denisha benar-benar lelah dan akhirnya tertidur dengan nyenyak tanpa membersihkan tubuhnya. Denisha terbangun saat hari menjelang pagi, perutnya terasa benar-benar keroncongan. Denisha melirik jam tangan di tangannya melihat jam berapa saat ini. Masih terlalu pagi untuk memulai sarapan, tapi perutnya benar-benar keroncongan. Ia bangkit dari tidurnya dan merasa kepalanya benar-benar pusing. Mengapa beberapa hari ini tubuhnya tidak bekerja sama dengan baik. Ia memesan beberapa menu makanan di hotel lalu Denisha masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya ia hanya menunggu beberapa saat dan pesanan tiba di dalam kamar. Denisha benar-benar kelaparan, ia menyuapkan makanan dengan lahab dan tanpa berpikir panjang lagi. Mungkin ia bisa diet untuk mengurangi berat badannya nanti. Denisha lalu menyesap teh yang ia pesan juga, namun sekian detik berlalu, perutnya terasa bergejolak dan akhirnya ia berhambur ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Denisha duduk bersandar di pinggir ranjang, merasa kepalanya semakin pusing. Wanita itu melihat ponselnya, tidak ada yang menghubungi sama sekali, mengapa Andrew tidak menghubunginya. Denisha seketika terpikir dengan satu hal yang membuat jantungnya berdebar kencang. "s**t! Ini tanggal berapa, kenapa gue bisa lupa!" Maki Denisha saat mengingat sesuatu dan berlalu keluar hotel dengan menggunakan jaket mencari apotik yang sudah buka di pagi hari. Denisha kembali ke hotel dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia menatap hasil tes kehamilan yang ada di tangannya. Denisha mengusap wajahnya tidak percaya, ia sedang mengandung dan hasilnya positif meskipun Denisha memeriksanya beberapa kali. Sudah jelas ini adalah anak Andrew, Denisha keluar dari kamar mandi langsung meraih ponselnya. "b******k, Andrew, mengapa di saat seperti ini hp loe mati!" Teriak Denisha prustasi saat Andrew tidak bisa dihubungi. Denisha mengganti bajunya berniat mengunjungi Andrew di penginapannya. Tidak butuh waktu lama, Denisha tiba di salah satu tempat yang di huni Andrew selama berada di kota tersebut. Denisha tidak menemukannya disana. "Denisha?" Denisha yang berdiri mencari seseorang menoleh saat namanya di panggil. "Tania, kamu disini?" Tanya Denisha tidak percaya, karena mereka sama-sama berada di hotel yang sama, namun Tania ada di tempat ini saat masih pagi hari. Denisha tidak melanjutkan rasa penasarannya, ia hanya ingin menemui Andrew di sana. "Ya ... Aku terlalu banyak minum tadi malam, sampai lupa kembali ke hotel!" Jawab Tania dengan senyum manisnya, Denisha hanya tersenyum mendengarnya. "Kamu melihat Andrew?" Tanya Denisha pada intinya. "Andrew? Kamu tidak tahu?" Denisha menaikkan alisnya sedikit bingung. "Tidak tahu apa?" "Andrew sudah kembali ke Jakarta dengan penerbangan pertama pagi ini." Denisha meremas tas yang ia bawa namun wajahnya tetap tersenyum pada Tania. "Oh ... Begitu, dia tidak mengatakan apapun padaku, mungkin dia terburu-buru karena pekerjaan." Tania hanya tersenyum mendengarnya. "Mungkin, aku mau kembali ke hotel, apa kamu mau pergi bersama?" Tawar Tania membuat Denisha langsung menolaknya. "Tidak, aku masih ingin jalan-jalan, mencari udara segar!" Tania mengangguk mengerti. "Oke, baiklah, aku pergi!" Ucap Tania sebelum benar-benar meninggalkan Denisha di sana. Denisha meraih ponselnya menggenggamnya dengan erat merasa kesal. Andrew bahkan tidak perduli padanya, pria itu hanya datang di saat butuh pada dirinya saja. Denisa meremas rambutnya merasa prustasi. Ia menghentikan taksi yang lewat di dekatnya lalu masuk ke dalam untuk kembali ke hotel. Ia akan susul Andrew ke Jakarta, dan meminta solusi atas anak yang ada di dalam kandungannya, karena sejujurnya Denisha tidak menginginkan Andrew menjadi suaminya. *** Anna masih di sibukkan dengan rangkaian bunga pesanan pelanggan saat bunyi lonceng dari pintu masuk terdengar. Anna menoleh dengan senyuman manis menyambut pelanggan datang, namun senyumnya seketika pudar saat melihat Aldrich yang masuk ke dalam toko bunganya. Anna seakan merasa bosan menatap pria blasteran itu yang terus muncul di hadapannya. "Apa kamu tidak berniat melayani pelanggan?" Aldrich mendekati Anna dengan setelan jas yang sudah rapi. Pria itu memang selalu menggunakan jas rapi saat mampir ke toko bunganya, mungkin ia hanya ingin mampir sebelum tiba di kantornya. "Ada yang anda butuhkan?" Aldrich tersenyum senang mendengar pertanyaan Anna. "Tentu saja!" Jawab Aldrich cepat. "Mau memesan bunga seperti apa?" Aldrich tampak mengusap-usap dagunya berpikir. "Buatkan satu yang biasa Mama pesan padamu." Anna mengangguk paham dan berjalan mengambil bunga yang akan ia rangkai. Aldrich masih terus memperhatikannya, Ia mendekati Anna saat gadis itu sibuk memilih bunga dengan warna yang berbeda. "Kamu marah padaku?" Suara Aldrich terdengar sangat dekat membuat Anna terkejut dan langsung berbalik arah menatap Aldrich. "Kenapa kamu selalu mengejutkanku, kamu bisa duduk dulu sebelum pesanan selesai!" Ucap Anna dengan wajah kesal. "Kamu belum menjawab pertanyaanku." Aldrich masih mengikuti Anna yang sejak tadi sibuk kesana kemari. "Aku rasa siapapun wanitanya pasti akan marah!" Jawab Anna ketus. "Oh ya, aku belum pernah mendapat penolakan!" Anna memutar bola matanya jengah mendengar nada sok dari seorang Aldrich. "Kalau begitu kamu harus merasakannya lebih sering. Agar tahu cara berusaha dan menghargai apa yang kamu punya!" Aldrich tersenyum mendengar ucapan Anna dan lalu mendekati gadis itu. "Tetap saja, aku tidak menerima penolakan, apapun keadaannya!" Aldrich berbisik dari belakang Anna yang sedang berdiri di dekat meja. Anna merasakan tubuhnya meremang, ia menarik nafasnya dalam karena Aldrich tampak mendekati dirinya dari arah belakang. Anna mencoba mundur beberapa langkah agar Aldrich menghindarinya namun kali ini pria itu tidak bergerak sama sekali dan tetap berdiri di belakangnya membuat Anna menjadi semakin rapat menyentuh tubuh Aldrich. Anna terkejut dan berniat menjauh tapi Aldrich menahan pinggang Anna agar tidak bergerak. Aldrich hanya diam, pria itu sejak tadi ingin mencium rambut hitam panjang milik Anna, terasa wangi segar dan menarik keinginannya. Anna sendiri membeku saat Aldrich tampak mencoba melecehkannya. "Lepaskan aku, atau aku akan teriak!" Ucap Anna geram. Aldrich tidak perduli dengan ucapan Anna, pria itu malah semakin membenamkan wajahnya kedalam geraian rambut Anna. "ALDRICH!" Teriak Anna marah, demi Tuhan Anna menyesal mengapa ia tidak mengikat rambut itu. Aldrich berhenti di pundak Anna, dan berbisik. "Ini terlalu manis, dan ini membuatku gila!" Aldrich melangkah mundur menjauhi Anna yang sejak tadi mematung. Anna merasakan kakinya seketika lemas lalu memegang meja di dekatnya untuk menahan tubuhnya yang masih terasa syok. "Dasar pria gila! Apa yang kau lakukan! Pergilah dari sini!" Teriak Anna mengusir Aldrich merasa kesal karena ia selalu diam dan tidak bisa berbuat apapun ketika Aldrich menyentuhnya. "Oke, jangan lupa kirimkan pesananku untuk Mama!" Aldrich mengedipkan matanya lalu pergi dari toko tersebut. Anna menarik kursi single di dekatnya dan duduk mengusap wajahnya, lalu memejamkan matanya. Mengapa ia seperti menyukai sentuhan Aldrich. Ia bisa dengan mudah menolak apapun yang Andrew lakukan, tapi mengapa ia selalu membeku kerika Aldrich menyentuhnya. Apa tubuhnya menginginkan Aldrich? Anna memukul kepalanya beberapa kali mencoba menghilangkan pikiran itu. Bunyi lonceng pintu toko membuat Anna berdiri marah karena Aldrich belum juga pergi dari sana. "Pergilah, apa yang mau kamu lakukan lagi!" Bentak Anna kesal saat melihat ke arah pintu, namun Andrew yang berdiri di sana dengan bucket bunga di tangannya, dan menggeret koper mendekati Anna. "Sayang, ada apa? Kamu marah padaku?" Anna langsung mengerjabkan matanya menatap Andrew yang ada di sana. "Kamu ... Sudah kembali?" Tanya Anna masih merasa bingung karena Andrew ada di sana secara tiba-tiba. "Ya ... Tapi kamu kenapa? Apa kamu ada masalah? Dimana Gia? Kenapa kamu sendiri di toko?" Anna tersenyum tipis mencoba menyadarkan dirinya. "Gia sedang pergi mengantar pesanan, aku tidak apa-apa. Maaf ... Aku hanya sedikit lelah saja!" Ucap Anna beralasan. "Istirahatlah, aku tidak suka kamu terlalu banyak bekerja." Anna mengangguk tersenyum, Andrew mendekati Anna dan memeluk kekasihnya itu. Anna membalas pelukan Andrew, namun mengapa ia memikirkan Aldrich. Anna menghela nafasnya kasar, mengapa pikirannya tidak sejalan dengan hatinya. Di seberang toko Aldrich masih berada di sana saat Andrew keluar dari taksi. Aldrich tampak mengeratkan pegangannya pada setir mobilnya saat Andrew memeluk Anna. Ia merasa marah dengan sahabatnya yang sedang memeluk kekasihnya sendiri. Lebih tepatnya, Aldrich tidak suka, mengapa Anna harus di peluk Andrew, mengapa Andrew dengan mudah menyentuh Anna. Mengapa ia tidak biasa, hanya karena Andrew memiliki komitmen dengan Anna, dan Aldrich tidak. Bisakah semua ini berbalik dan Andrew yang harus berusaha untuk bisa mendapatkan Anna. Sementara Anna milik Aldrich seorang, tanpa harus dimiliki orang seperti ini. Aldrich menyandarkan kepalanya menghela nafasnya kasar merasa semua ini tidak adil. Aldrich menjalankan mobilnya dengan perasaan kesal. Menjauhi toko bunga milik Anna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD