Calon Istriku!

1277 Words
Anna terbangun dari tidurnya dan melihat langit sudah berubah gelap. Ia menggeliat dan duduk mengumpulkan nyawa, jam berapa ini, mungkinkah sudah lewat waktu magrib, batin Anna berbicara. Ia mendekati jendela kamar dan menutupnya karena udara malam mulai terasa dingin. Ia melihat jam dinding ternyata sudah menunjukkan hampir setengah delapan malam. Anna teringat dengan Aldrich, apa pria itu beneran sudah ada di bawah menunggunya. Anna berjalan keluar kamar mengambil ponselnya dan benar saja panggilan dari Aldrich begitu banyak. Ia juga menatapnya malas, lalu berjalan mendekati dapur. Anna mengambil air menuangnya di dalam gelas lalu menenggaknya hingga tandas. Anna berjalan kembali ke kamar hendak membersihkan tubuhnya, namun ponselnya berdering di dalam genggamannya. Anna menatap layar ponsel yang menunjukkan panggilan tidak bernama itu. Anna yakin ini pasti pria aneh itu. Anna mengabaikannya lalu mengambil handuknya masuk ke dalam kamar mandi. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kecil dekat dapur. Sementara itu, Aldrich sudah seperti orang aneh hampir satu jam menunggu di bawah apartemen Anna. Apartemen ini memang tidak seluas apartemen yang biasa Aldrich kunjungi. Hanya beberapa tingkat saja, Aldrich tidak bisa masuk ke sana karena ia takut mengganggu kenyamanan pemilik yang lain. Aldrich juga sejak tadi sudah di tegur oleh satpam yang berjaga di pintu masuk. "Anna, kenapa kamu keras kepala sekali sih." Aldrich merasa frustasi disana. Sementara Anna baru selesai membersihkan dirinya. Ia melihat kembali panggilan dari nomor yang sama. Anna hanya melihat pesan singkat dari Aldrich. "Anna, aku sudah seperti orang gila disini, apa kamu mau aku di tangkap satpam apartemen karena seperti orang penguntit!" Anna hanya terkekeh melihatnya lalu berlalu ke dalam kamar. Gadis itu menggunakan celana panjang berbahan kain dan menggunakan kaos putih lalu mengambil hoodie dan keluar apartemen. Ia ingin menemui Aldrich di bawah, kasian juga jika orang kaya seperti Aldrich harus terlantar menunggunya di sana. Anna hanya menggunakan bedak tabur untuk memoles wajahnya dan menggulung rambutnya berjalan santai keluar apartemen. Aldrich terlihat duduk di dalam mobil dengan ponsel di tangannya. Anna menatapnya sambil mendengkus keras. Ia menyapa satpam yang berjaga lalu mendekati mobil Aldrich. Anna mengetuk kaca mobil membuat pria blasteran Perancis itu menoleh terkejut. Anna memberikan isyarat agar Aldrich keluar dari mobilnya. "Anna..." Panggil Aldrich terlihat lelah. "Aku sudah bilang, aku tidak mau, kenapa kamu ngeyel banget sih jadi pria, kamu biasa maksa seperti ini ya pada wanita?" Omel Anna membuat Aldrich mendekatinya. "Anna, apa salahnya membantu teman yang sedang jomblo." Anna menatap Aldrich aneh. "Jangan berbohong, kamu punya kekasih, kenapa tidak bawa saja dia!" Anna menatap sinis Aldrich. "Ayolah, aku tidak punya wanita manapun, aku sedang berusaha saat ini." Anna mengerutkan dahinya. "Berusaha?" "Berusaha mendekatimu." Anna ternganga mendengar pria yang terlalu pede di hadapannya ini. "Kenapa kau selalu percaya diri? Apa kekayaan membuatmu tidak punya rasa malu?" Aldrich hanya menghedikkan bahunya tidak perduli. "Ayolah, cepat bersiap kita hampir terlambat!" bujuk Aldrich lagi. "Ahh ... Aku paham, kamu tidak mengerti bahasa Indonesia." ucap Anna merasa kesal. "Ayolah, Anna!" "Aku tidak bisa, Aldrich ... apa kamu tidak paham, aku tidak mau Andrew salah paham jika aku pergi denganmu." Aldrich berdecak merasa tidak suka. "Tidak akan!" "Bagaimana kamu tahu dia tidak akan marah?" Tanya Anna. "Katakan saja jika kamu membantuku karena aku teman Andrew!" Anna mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aldirch. "Kamu memang teman Andrew, tapi kita bukan teman!" Aldrich tersenyum mendengarnya. "Baiklah, kita tidak perlu berteman, kita memang tidak cocok untuk berteman, kita hanya cocok jika menjadi pasangan kekasih." Anna hampir tersedak mendengar ucapan Aldrich, pria gila. "Dasar gila!" Lirih Anna namun masih bisa di dengar Aldrich. "Sudahlah, ayo cepat bersiap, kita sudah terlambat!" Anna semakin terkejut mendengar ucapan Aldrich. "Sudahlah, aku tidak punya gaun untuk di gunakan, percuma saja kamu menungguku di sini, aku tidak bisa pergi!" Aldrich menatap Anna tidak percaya. "Ck, bagaimama bisa wanita tidak memiliki gaun di lemarinya, kamu wanita seperti apa?" Anna mencebikkan bibirnya mendengar ejekan Aldrich. "Untuk apa aku menggunakan gaun, aku tidak pernah menghadiri acara-acara resmi, aku hanya pemilik toko bunga. Sudahlah, pergi sana!" Usir Anna dan hendak berbalik meninggalkan Aldrich. Aldrich menarik Anna dan menggeretnya cepat masuk ke dalam mobil Aldrich. Anna tidak sempat berteriak dan sudah duduk di bangku mobil Aldrich. "Kau, mau membawaku kemana?" Bentak Anna saat mengetahui Aldrich menghidupkan mobilnya. "Sudah kamu diam saja!" Aldrich menggunakan seatbelt untuk Anna dan dirinya. "Dasar sinting!" Teriak Anna marah. "Oke, aku memang sinting!" Anna tidak habis pikir dengan pria aneh ini. "Kamu menculikku!" Teriak Anna saat mobil melaju meninggalkan apartemannya. "Ya, sedang aku lakukan!" "Aku akan beritahu Andrew, kalau temannya gila!" Anna mencari nomor kekasihnya untuk di panggil. Aldrich dengan cepat meraih ponsel Anna agar tidak menghubungi Andrew. "ALDRICH!!" Teriak Anna frustasi karena ponselnya kini dalam genggaman Aldrich. *** Menghabiskam waktu satu jam untuk mengcover Anna, kini Anna dan Aldrich sudah berada di acara pertunangan sahabat Aldrich dari LA. Pria keturunan Los Angesl itu terlihat bahagia mempersunting wanita Indonesia di sampingnya. Karena keterlambatan Aldrich akibat bertengkar dulu dengan Anna. Mereka melewatkan momen pertukaran cincin pemilik acara. "Aldrich, aku kecewa padamu, mengapa kamu baru tiba sekarang?" Diaz berbicara kecewa di hadapan Aldrich saat mereka baru saja tiba. Anna hanya diam memperhatikan sekelilingnya. "Maafkan aku, ada masalah sedikit, yang penting aku tetap hadir bro." Diaz mengangguk senang, menepuk pundak sahabatnya lalu memperkenalkan tunangannya pada Anna. "Siapa wanita cantik ini?" Diaz merangkul kekasihnya sambil menatap Anna. "Calon istriku!" "Heuh!" Anna menunjukkan wajah cengo menatap Aldrich mendengar ucapannya. Bagaimana bisa ia menjadi calon istrinya, bahkan ia datang dengan cara di culik. "Wow, aku tidak sabar menunggunya, perkenalkan ... Ini Tifany calon istriku." Anna tersenyum pada wanita di hadapannya lalu mengucapkan selamat untuk keduanya. "Aku Anna, selamat atas pertunangan kalian berdua!" Senyum manis terukir di wajah Anna. Anna meralat ucapan Aldrich dengan cepat. "Tapi ada kesalahan di sini, aku bukan calon istrinya!" Ucap Anna sambil menatap Aldrich dengan tatapan mengejek. "Apa? Ayolah brother, apa yang Anna katakan!" Diaz menatap Aldrich dengan tatapan bertanya. "Seperti itulah kami ... Kami tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya, kami seperti teman yang suka bercanda. Bukan begitu sayang?" Aldrich menarik pinggang ramping Anna dengan erat membuat gadis itu berdiri tidak nyaman di samping Aldrich. "Hei, pria gila, lepaskan tanganmu dari tubuhku! Atau kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya memiliki tangan lagi!" Ucap Anna lirih dan terdengar marah. "Huh ... Aku tidak sabar! Kamu terdengar menyeramkan, dan aku takut!" Bisik Aldrich di telinga Anna. "Lihat saja nanti!" jawab Anna lagi dengan nada berbisik "Oke, aku sangat menantinya!" Balas Aldrich lagi, Anna merasa sangat tidak suka, namun ia tidak menyadari rasa nyaman pada dirinya sendiri terhadap Aldrich. "Tidak-tidak, mungkin kamu harus percaya padaku, jangan percaya ucapannya, aku bahkan di culik untuk ada disini!" Anna mencoba menjelaskan pada Diaz sambil menganggukkan kepalanya menatap Aldrich yang terus menatapnya geram. Diaz dan Tifany tampak bingung di buat pasangan satu ini. "Wow, apa itu benar, Al?" Tanya Diaz lagi. "Ya, benar, percaya saja pada wanitaku!" Anna mendecih mendengar ucapan Aldrich. Apa itu? Wanitanya, heuh, mengapa Anna merasa geli mendengarnya. Tanpa Anna sadari, ia merasa nyaman dengan rangkulan Aldrich sejak tadi. "Kalian memang berbeda dari pasangan yang aku temui, semoga kalian selalu bersama, kalian tahu, pasangan seperti kalian bahkan sangat cocok dan serasi, bahkan tidak baik jika sebuah pasangan tidak memiliki masalah atau pertengkaran, semoga hubungan kalian bertahan sampai ke jenjang pernikahan!" Anna menatap Tifany yang sedang berbicara tulus di hadapannya. Demi Tuhan, wanita itu tidak akan tahu, jika mereka bersama, pasti akan ada pertengkaran setiap harinya, oh tidak, bahkan setiap detik, menit, dan jam yang berlalu. "Amin!" Anna mendadak terkejut saat mendengar Aldrich bicara cukup keras mengaminkan ucapan Tifany. Anna menatap Aldrich dengan tatapan permusuhan, sedangkan Aldrich menatapnya dengan tatapan penuh syukur. Apa-apaan ini, mengapa Anna bisa terjebak dengan pria aneh seperti Aldrich, demi Tuhan ia akan kabur setelah ini bagaimanapun caranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD