Aldrich Gila!

1549 Words
Anna berjalan mendekati Gia yang sedang duduk di lobi sambil menatap ponselnya. Gia tersenyum saat melihat Anna berjalan mendekatinya. "Lama banget sih, Non." Protes Gia saat Anna tiba di hadapannya. "Sorry ya, kita balik sekarang yuk?" Gia mengangguk antusias. "Hayuk, An, aku udah laper banget ini." Gia membawa barang-barang mereka meninggalkan lobi berjalan keluar diikuti Anna. "Mau mampir makan siang dulu?" "Iyalah, aku laper banget ini, yuk ahh." Gia bersiap mengambil helm dan mengendarai motor mereka. "Mau makan dimana?" tanya Anna sebelum naik motor. "Nasi Padang aja enak kali, ya?" Gia berbicara sambil mengusap dagunya dan melipat lengannya di perut. "Aku terserah kamu aja deh, Gi. Kamu yang ribet soalnya." Jawab Anna seperlunya. Gia tidak menjawab lagi namun langsung menghidupkan motornya melaju mencari resto rumah makan Padang. Anna dan Gia berhenti di salah satu resto legendaris makanan khas Padang Sumatera Barat. Kedua gadis itu masuk dan memesan beberapa menu makanan di sana. "Segerrnya ... Es teh manis itu memang juaranya minuman dingin, bener gak, An?" Ucap Gia setelah menyeruput teh dingin di hadapannya. Anna yang sibuk dengan ponselnya hanya mengangguk singkat. "Siapa sih? Sampai gue ngomong di kacangin!" timpal Gia lagi saat melihat Anna masih sibuk dengan ponselnya. "Biasa lah, Andrew." Jawab Anna lalu menarik teh bagiannya. "Mau ngedate ya, entar malem?" Goda Gia pada temannya itu. "Enggak sih, Andrew bilang dia bakalan keluar kota, ada acara mendadak. Jadi untuk beberapa hari ini kita enggak bisa bertemu." Gia mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Kalau begitu kamu free akhir pekan ini?" tanya Gia. "Iya, lumayan juga, bisa rebahan di rumah, marathon liat drama kesayangan." "Ck, gak asik ah, kita jalan yuk?" Ajak Gia pada sahabatnya. "Kamu enggak sama Bobby?" "Aman itu, aku lagi bosen sama dia, cuci mata gitu, ke mall, bioskop, atau ke diskotik, perlu juga deh, kayanya." ucap Gia sambi menaik turunkan alisnya menatap Anna. "Haissh, kamu aja deh, ngapain kita main ke tempat begituan?" "Ck, kamu ini, disana itu tempatnya cowok-cowok keren, An." Anna memutar bola matanya jengah. "Keren dan b******k!" Jawab Anna cepat. "Ya elah, punya temen ya begini amat, yuk ahh, kapan lagi kita bisa ketempat-tempat begitu, sebelum kita di iket dengan yang namanya komitmen, pernikahan, menjadi istri, menjadi ibu." Gia menatap Anna dengan tatapan merayu. "Enggak ah, kamu kalau bosen mainnya jelek!" jawab Anna menolak. Makanan mereka tiba membuat Gia menjeda percakapannya. "Ihh .... Kamu An, di sana banyak cowok-cowok sexy loh, kapan lagi kita bisa cuci mata liat cowok-cowok sexy." Anna menatap Gia dengan tatapan gerah. "Udah deh, makan itu usus, enggak usah banyak cerita, habisin makanan loe, kalau enggak habis gue suruh bayar!" ucap Anna kesal dengan sahabatnya. Gia mencebikkan bibirnya mendengar Anna tampak tidak tertarik dengan apa yang ia rencanakan. "Gini amat punya bos, sekali-sekali keluar dari zona nyaman itu perlu, Anna." Anna menatap Gia sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Gia terlihat makan dengan lahab sambil komat-kamit membujuk Anna pergi. "Tapi kamu itu ngajakin aku ke zona darurat. Keluar dari zona nyaman masuk ke zona darurat, sama aja namanya. Cari mati!" ucap Anna kesal. "Anna, ihhh, kamu ngeselin banget!" "Kok aku?" "Ya iyalah, gak asik!" Jawab Gia kesal. "Terima aja sih, mau gimana lagi, gini-gini juga kamu yang selalu rindu aku!" Gia menatap Anna dengan mata melotot lalu menahan tawanya. Begitu juga Anna, gadis itu sedikit merasa lucu mendengar ucapannya sendiri. "Iih ... Apaan sih," Gia mencebikkan bibirnya "By the way kamu tadi gimana di ruangan bos sexy?" Anna mengerutkan dahinya mendengar ucapan Gia. Bos sexy yang mana, batin Anna. "Maksudnya?" "Itu ... Anak tante Nina?" Gia memiringkan wajahnya menatap Anna yang tampak berpikir. "Oh, itu ... Kenapa?" "Ya, gimana? Kamu dapat bayaran berapa? Banyak dong?" Anna seketika teringat dengan wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Aldrich. "Sesuai bayaran biasanya, emangnya berapa?" "Ya kali aja ada bonus buat pacar sahabat." Anna menghela nafasnya, pacar sahabat apanya. Pria gila itu bahkan memintanya untuk bersama ia malam ini. Anna benar-benar tidak bisa bayangkan apa maksud laki-laki itu memintanya untuk menemaninya. "Kok, bengong .... An?" Anna mengerjabkan matanya mendengar Gia bicara. "Eh, enggak," "Kamu mikirin apa? Apa jangan-jangan ... Kamu?" Gia memicingkan matanya menatap Anna. "Apa sih, jangan-jangan apa? Tapi aku heran deh, Aldrich itu punya kekasih tapi kata Tante Nina anaknya enggak punya kekasih." Gia menatap Anna penasaran. "Kamu tahu dari mana dia punya kekasih?" "Tadi waktu aku di ruangan Aldrich, ada cewek cantik masuk ke dalam, aku rasa itu kekasihnya." Gia menautkan alisnya berpikir. "Masa sih? Cantik ya pastinya?" "Cantik, cantik banget," "Udah pasti dong ya, mana mungkin cewek yang deket sama dia sekelas kaya kita gini, yang mau chek out barang mahal mesti liat harga dan ongkirnya dulu." Gia menggelengkan kepalanya memikirkan nasib dirinya yang bukan siapa-siapa untuk sekelas Aldrich. "Bukan ranah kita juga sih, untuk memantaskan diri bersanding dengan pria kayak dia." "Tapi Mamanya suka banget sama kamu." "Cuma sekedar nyambung dalam hal selera dan pelanggan aja, selebihnya menurut aku Tante Nina juga sama kok sama ibu-ibu sosialita lainnya, pastilah mau menantu yang berpendidikan bagus dan punya karier yang mentereng, setara dengan putranya." Ucap Anna membuat Gia mengangguk mengerti. "Ahh, seneng banget sih punya temen seperti kamu, udah cantik, baik, enggak matre lagi, sayangnya kurang agresif doang." Anna menatap Gia dengan melotot dan membuang wajahnya kesal. Gia tertawa lepas melihat ekspresi Anna, keduanya menyelesaikan makannya dan beranjak kembali ke toko. Anna sengaja tidak membuka toko karena cukup lelah dengan pekerjaan hari ini. Gadis itu kembali ke apartemennya sedangkan Gia juga kembali pulang. Anna tiba di apartemennya dan langsung merebus air untuk membuat teh hangat menghilangkan rasa lelah seharian bekerja. Anna memiliki apartemen kecil yang hanya memiliki satu kamar dan ruang tv berhadapan langsung dengan dapur. Apartemen kecil itu cukup rapi dan nyaman untuk Anna. Gadis itu mematikan air rebusan lalu menuangnya ke dalam gelas berisi teh beraroma melati. Anna meninggalkannya di meja kecil dekat dapur dan ia masuk ke dalam kamar mengganti celana jins nya dengan celana pendek sedikit longgar. Anna kembali mengambil teh yang mulai dingin dan berjalan mendekati ruang tv menghidupkan televisi untuk mengisi ruang agar tidak terlalu sepi. Anna menyesap teh hangat di genggamannya sambil menatap acara televisi. Ponselnya berdering membuat Anna menatap ponsel yang berada di meja. Ia mengerutkan dahinya melihat nomor tidak di kenal memanggil di layar ponselnya. Anna hanya menatapnya saja tanpa berniat mengangkat panggilan itu. Hingga panggilan itu kembali berbunyi membuat gadis itu akhirnya meraih ponselnya dan menatap ponsel tersebut cukup lama. Anna tidak suka menerima panggilan tanpa nama, tapi kali ini sepertinya seseorang benar-benar membutuhkan dirinya disana. "Hallo," "Hallo, Anna." Anna menautkan alisnya menjauhkan ponselnya dari telinga, merasa familiar dengan suara disana. "Hallo, ini siapa?" "Anna, ini aku ... Aldrich." Anna seketika terkejut langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap ponselnya dengan lekat, mengapa pria aneh itu bisa menghubunginya. Mengapa Aldrich bisa memiliki nomor teleponnya. Belum selesai pikiran Anna berkelana, ponselnya kembali berdering membuat Anna terkejut. Anna hanya menatap ponselnya seperti takut hendak menjawabnya. Hingga beberapa kali panggilan itu Anna abaikan, Aldrich mengirimkan pesan singkat padanya. "Anna, bisakah aku bicara padamu sebentar saja!" Anna menghela nafasnya saat ponsel itu kembali berdering. Anna akhirnya mengangkat panggilan itu dengan rasa enggan. "Apa?" Jawab Anna datar. "Anna, aku belum selesai bicara, kenapa kamu pergi begitu saja meninggalkan aku." Anna merasa heran mendengar ucapan Aldrich saat ini. "Dasar pria aneh, urusanku denganmu itu sudah selesai, untuk apa lagi aku di sana!" Jawab Anna kesal. "Anna, aku memang aneh, aku juga gila, tapi bisakah kita berteman, ehm ... Setidaknya kita perlu pendekatan lebih dulu sebelum menuju ke jenjang yang lebih serius." Anna hampir tersedak mendengar ucapan Aldrich, mengapa ada pria seperti ini, apa Aldrich selalu melakukan hal ini saat mendekati wanita, benar-benar gila. "Dasar pria gila, kamu pikir kamu siapa, bicara begitu, aduuhh ... Kenapa aku sial banget sih, bertemu pria seperti kamu, bukannya kamu punya kekasih, kenapa bukan dia saja yang kamu ajakin serius, kamu sadar kan, aku ini pacar sahabatmu!" Teriak Anna mulai jengah. "Sahabat? Sahabat yang mana?" Anna mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aldrich. "Entahlah ..." Anna mulai lelah mendengar ucapan Aldrich yang selalu keluar dari jalur pembicaraan, bahkan jalur perkenalan. "Baiklah, dengarkan aku baik-baik, kita akan menghadiri acara pukul 20.00. Temani aku menghadiri acara pertunangan temanku. Bersiap-siaplah!" Anna benar-benar ingin memaki pria di seberang telepon itu, tapi masih tertahan di bibirnya. "Aku tidak bisa! Aku akan pergi dengan Andrew!" Jawab Anna menolak dengan cepat. "Ayolah Anna, Andrew tidak ada di Jakarta!" Ucap Aldrich tegas karena ia tahu Andrew baru saja melakukan penerbangan ke luar kota. "Kamu ...!" Anna menggenggam ponselnya erat merasa geram. "Sudahlah, jangan terlalu banyak bertanya, sekitar satu jam lagi aku akan tiba di sana!" Panggilan telepon itu langsung mati membuat Anna mengumpat sejadi-jadinya. "Dasar Aldrich b******k! Dia pikir dia siapa, apa karena dia kaya dia bisa melakukan apapun! Lihat saja, dia pikir dia bisa melakukan apapun yang dia mau, dasar psycopat gilaaa!" teriak Anna sambil menatap jam sudah menunjukkan enam sore. Anna melempar ponselnya ke arah sofa lalu berjalan menuju kamarnya. Ia tidak perduli, meskipun ponselnya meledak karena Aldrich terus memanggilnya, Anna tetap pada pendiriannya. Tidak akan pergi dengan pria gila yang selalu mengganggunya dengan pikiran, ucapan, dan kemauannya yang sungguh membuat Anna kesal. Anna merebahkan tubuhnya di kasur tidak perduli dengan ucapan Aldrich. Meskipun dia menunggu di luar hingga pagi hari. Anna tidak perduli, ia akan tidur dan istirahat dengan tenang, siapa yang perduli dengan Aldrich pria aneh dan gila itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD