Anna menggunakan sneakers putih dan mengencangkan tali sepatunya bersiap dengan hari yang lelah. Anna hanya menggunakan kaos putih dengan celana jins cutbray berwarna blue light. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda dan tidak lupa dengan riasan make up tipis. Membuat tampilan gadis itu sederhana dan cantik. Ia dan Gia telah menyiapkan beberapa keperluan dan pesanan bunga untuk perusahaan Aldrich. Sebagian bunga sudah di kirim ke alamat perusahaan, ia dan Gia hanya perlu menyusul kesana untuk merangkai dan menyusun bunga yang di pesan langsung oleh bos mereka. Anna dan Gia menuju perusahaan dengan mengendarai motor berdua. Mereka membawa beberapa peralatan yang akan di gunakan di sana. Kedua gadis tersebut tiba di pelataran kantor, Gia langsung memarkirkan motornya di tempat parkir khusus karyawan.
"Wuaahh... gila bener, berapa lantai ini, An?" ucap Gia sambil mendongak menatap gedung bertingkat pencakar langit tersebut. Anna sendiri tengah mengangkat kotak berisi peralatan gunting, pita, lem, dan lain sebagainya untuk mendekor kantor. Anna ikut mendongak menatap ke arah gedung bertingkat tersebut.
"Yang pasti lebih dari sepuluh lantai!" ucap Anna lalu beranjak pergi dari halaman parkir sambil mengangkat kotak berisi peralatan untuk mendekor. Gia langsung berlari mengejar sahabatnya itu yang terlihat bergegas memasuki gedung bertingkat tersebut.
"An, perusahaan keluarga Aldrich ini bergerak di bidang apa sih? Perusahaannya kok segede ini?" Anna menatap Gia yang masih celingukkan menatap kesana kemari.
"Fokus saja dengan pekerjaan kita, aku bukan wartawan yang banyak tahu informasi pengusaha!" jawab Anna ketus. Ia mulai mengambil bunga untuk di rangkai di bagian lobi.
"Hih, ya gue kan penasaran gitu, An." jawab Gia sambil mengerucutkan bibirnya. Anna tidak menggubris ucapan Gia, ia tetap menyibukkan diri dengan bunga-bunga di tangannya. Gia mulai serius dengan pekerjaannya mendekor bunga-bunga segar yang sudah lebih dulu tiba di sana dengan di antar langsung oleh supplier. Cukup lama mereka merangkai bunga di berbagai tempat di area gedung dan kali ini Anna harus mendekor di bagian ruangan Aldrich, ruangan CEO perusahaan ini. Anna berkali-kali menghela nafasnya melihat lift terus berjalan naik mencapai ruangan yang mereka tuju. Anna ingin sekali memberikan tugas ini pada Gia, tapi Aldrich benar-benar menyebalkan dan langsung menyuruh sekretarisnya untuk menjemputnya dan menghias ruangannya secara langsung. Sebagai pekerja profesional Anna akan menservis pelanggannya dengan sepenuh hati. Dan saat ini ia sudah berada di depan pintu ruangan Aldrich. Sekretaris Aldrich mengetuk pintu ruangan itu dan terdengar suara berat yang mempersilahkan masuk. Anna masuk dan tatapan mereka bertemu sejenak, Aldrich langsung memutus pandangannya dan Anna juga melakukan hal yang sama.
"Silahkan, Mbak." ucap sekretaris Aldrich mempersilahkan Anna masuk. Anna mengangguk sambil tersenyum kepada wanita cantik berpakaian rapi dan rok mini tersebut.
"Maaf, Mbak, saya tinggal ya?" ijin wanita itu dengan senyum tipis.
"Oh, iya, enggak apa-apa kok, saya hanya perlu merangkai bunga untuk meja tamu dan meja kerja CEO, kan?" tanya Anna sedikit pelan. Sekretaris itu mengangguk tersenyum.
"Iya, Mbak, kalau sudah selesai, Mbak bisa temui saya, dan selesaikan pembayarannya." Anna mengangguk antusias, itu yang ia harapkan sejak tadi. Ia ingin cepat-cepat kabur dari hadapan pria aneh di ruangan ini.
"Oke, terima kasih!" ucap Anna cepat.
"Saya sudah selesai, Sir, apakah anda butuh sesuatu, lagi?" Anna menatap sekretaris itu yang tampak ramah dan luwes sekali dalam berbicara.
"Tidak." jawab Aldrich tanpa menoleh dari pekerjaannya. Sekretaris itu langsung beranjak pergi dan tinggal Anna saja disana. Anna segera menyelesaikan tugasnya. Ia duduk membelakangi Aldrich dan mulai merangkai beberapa bunga segar kedalam vas bunga. Anna tampak serius memilih berbagai warna bunga untuk di cocokan. Aldrich sesekali menatap punggung gadis tersebut, tersenyum tipis di sudut bibirnya. Pria itu meletakkan tabletnya merenggangkan ototnya, lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah pelan, tidak ingin Anna menyadarinya. Aldrich membungkukkan tubuhnya mendekati Anna yang tengah duduk di sofa ruangan miliknya.
"Jangan terlalu serius, kamu terlihat semakin sexy jika seperti itu!" Anna langsung terkejut saat suara lembut itu menyapu telinganya dengan jarak yang sangat dekat. Ia menoleh ke arah belakang membuat tatapannya bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan hidung mancung Aldrich hampir menyentuh hidung mancung Anna. Anna reflek langsung memberi jarak saat menatap pria itu. Jantung Anna benar-benar ingin lepas saat tatapan mata Aldrich menatap ke arahnya.
"Apa Anda tidak punya pekerjaan, selain mengejutkan saya seperti ini!" Anna merasa kesal dengan sikap Aldrich yang selalu mengejutkannya.
"Tidak ada, jika itu untukmu." jawab Aldrich santai. Anna menautkan alisnya merasa bingung dengan jawaban Aldrich.
"Aku hampir selesai, tidak perlu merasa terganggu, ini akan selesai dalam lima menit." Aldrich terlihat tidak menyukainya. Mengapa Anna secepat itu akan meninggalkannya.
"Oke, aku akan menyiapkan pembayarannya." Anna menatap Aldrich bingung.
"Tidak perlu repot-repot Tuan Aldrich, saya akan minta pada sekretaris, anda!" Aldrich hanya diam dan menjauhi Anna. Pria itu menekan telepon yang langsung terhubung pada sekretarisnya di luar.
"Elea, pembayaran untuk Natural Florist atas nama Nona Anna, sudah saya selesaikan, tidak perlu lagi kamu tangani." Aldrich langsung menutup teleponnya dan menatap ke arah Anna dengan senyum smirk. Anna mengepalkan tangannya menatap pria yang selalu mengganggunya.
"Oke, baiklah, langsung saja, ini nomor bank saya." Anna langsung menunjukkan rekening banknya dari ponselnya dihadapan Aldrich. Aldrich hanya tersenyum lalu duduk di sofa ruangan miliknya.
"Duduklah, kita akan bicarakan pembayarannya, tidak perlu terburu-buru." Anna menghembuskan nafasnya kasar, mengapa Aldrich terus menguji kesabarannya. Anna duduk di samping Aldrich dengan tatapan wajah sedikit kesal. Aldrich memperhatikan wajah natural Anna, yang terlihat cantik tanpa polesan wajah berlebih. Gadis dengan penampilan simpel ini membuat Aldrich begitu penasaran untuk mendekatinya.
"Bagaimana dengan kekasihmu? Apa kamu sudah melihat wajah aslinya?" tanya Aldrich sekedar basa-basi.
"Saya tidak membahas apapun diluar konteks pekerjaan." Aldrich mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar nada ketus Anna yang terus mengabaikan tatapannya.
"Oke, baiklah, Aku akan membayarmu setelah kamu setuju makan malam bersamaku." Anna seketika menatap Aldrich dengan tatapan terkejut.
"Saya tidak bisa!" Jawab Anna tanpa berpikir lagi.
"Kalau kamu setuju, saya akan gandakan pembayarannya tiga kali lipat!" ucap Aldrich tidak main-main. Anna mendengkus kesal mendengar nada percaya diri pria dihadapannya ini. Anna terdengar seperti sedang tawar menawar tentang harga diri.
"Tuan Aldrich terhormat, kamu pikir saya dengan mudah menyetujui hal ini hanya karena kamu menawarkan kekayaan pada saya! Maaf, lebih baik saya sedekah untuk Anda daripada saya harus pergi dengan Anda!" Anna bangkit dari duduknya beranjak akan pergi dari sana mengikhlaskan semua pekerjaannya tanpa imbalan sepeserpun, namun Aldrich menahan tangannya menghentikan langkah Anna.
"Anna!" panggil Aldrich namun Anna mencoba melepaskan pegangan tangan Aldrich pada lengannya.
"Lepas!" bentak Anna mulai marah.
"Aku serius dengan semua ucapanku, Aku ingin kamu pergi bersamaku, kalau kamu tidak ingin imbalan uang, oke, aku hanya ingin minta tolong temani aku satu malam saja!" Anna melotot menatap Aldrich dengan pikiran jauh. Aldrich mengerti dengan tatapan dan pikiran yang Anna maksud.
"Bukan, bukan menemani aku seperti pria kebanyakan!" jelas Aldrich
"Lalu?"
"Begini," belum sempat Aldrich bicara, pintu ruangannya terbuka secara paksa membuat Anna dan Aldrich menatap ke arah pintu dan melihat wanita cantik dengan wajah kesal karena di halangi untuk masuk.
"Maaf, Sir, saya sudah berusaha menghentikan Nona Denisha tapi ia tetap memaksa ingin masuk." ucap sekretaris Aldrich dengan wajah cemas. Aldrich menatap Denisha dengan tatapan tidak suka. Ia melepaskan tangan Anna lalu menatap Denisha di hadapannya.
"Ada apa?" Aldrich berubah seratus delapan puluh derajat, menatap wanita di hadapannya membuat Anna tampak bingung. Pria itu terlihat sangat dingin dan tidak suka menatap wanita yang ada di hadapannya ini.
"Al, please, aku hanya ingin bertemu kamu!" rengek wanita itu tampak mendekati Aldrich yang terlihat tidak menyukainya.
"Untuk apa, tidak ada yang perlu kita bahas." Aldrich mencoba berjalan menjauhi wanita cantik yang tengah mendekatinya itu.
"Honey, please, aku masih mencintaimu!" Anna seketika merasa jadi orang pengganggu disana, membuatnya melangkah keluar dari ruangan itu. Aldrich hanya menatap kepergian Anna, ia sengaja melepas gadis itu, untuk menangani Denisha lebih dulu. Anna keluar dari ruangan Aldrich dan menatap terakhir kalinya pria bertubuh tinggi itu tampak benar-benar tidak menyukai wanita itu dari sorot matanya yang begitu tajam saat menatapnya. Berbeda ketika Aldrich sedang bicara padanya, mengapa pria itu memiliki sifat yang berbeda. Anna berdiri lama di pintu ruangan Aldrich yang sudah tertutup rapat, membuat sekretaris Aldrich mendekatinya.
"Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Anna terkejut melihat Elea ada di belakangnya.
"Hah, oh ya, saya mau mengurus pembayaran dekorasi bunga." Elea menatap Anna bingung.
"Tapi tadi,"
"Tidak jadi," Anna langsung memotong ucapan Elea, "bos kamu membatalkannya." ucap Anna membuat Elea mengangguk. Elea mengajak Anna menuju mejanya dan menyelesaikan pembayaran untuk Anna. Anna langsung bergegas pulang setelah menerima bayarannya dari sekretaris Aldrich. Anna melihat Gia yang tampak santai duduk di lobi menunggu ia selesai. Anna menghela nafasnya lega setelah bisa lepas dari Aldrich pria gila yang terus menemuinya, entah itu sengaja atau tidak disengaja. Yang pasti Anna sudah mendapatkan apa yang ia mau.