Pagi hari Anna berjalan membuka toko bunga miliknya. Anna melakukan rutinitas seperti biasa membuka toko dan membersihkan toko tersebut sebelum pelanggan datang. Sahabatnya itu pagi-pagi sekali kembali ke rumahnya karena perlengkapan bekerja Gia ada di rumah, masalah baju Anna sudah menyuruhnya untuk menggunakan pakaian dirinya, namun Gia tetap ngotot ingin kembali pulang. Akhirnya Anna lebih dulu ke toko bunga dan Gia selalu datang terakhir setelah Anna, yah memang toko bunga ini milik Anna sepenuhnya dengan bermodal kecil-kecilan di bantu Gia yang sukarela membantunya melayani tamu yang datang. Gia juga gadis yang terlahir di kalangan keluarga sederhana seperti Anna. Mereka bertemu saat berada di universitas dan berteman baik hingga sekarang. Berbeda dengan Anna, keluarganya berada di Semarang, dan Anna tinggal di Jakarta sejak kuliah. Sesekali Anna kembali mengunjungi orang tuanya, sedangkan Gia tinggal bersama kedua orang tuanya di kota Jakarta ini. Anna yang sibuk membersikan meja kaca di hadapannya tidak menghiraukan bunyi lonceng di pintu masuk.
"Gia, bisa ambilkan kain lap yang ada di kamar mandi?" ucap Anna tanpa menoleh ke arah Gia. Anna membuang beberapa daun bunga yang mulai menguning. Tiba-tiba seseorang menyodorkan kain yang Anna minta. Anna menoleh dan langsung menerima kain tersebut.
"Terima kasih, Gi.." Anna menggantung ucapannya saat melihat sepatu mengkilap di bawah lantai dan mengangkat kepalanya menoleh menatap siapa yang datang. Anna terkejut melihat sosok tinggi menjulang di hadapannya dengan senyum yang bisa Anna lihat senyum nakal dan menawan, menurut para wanita kebanyakan, tapi tidak termasuk Anna.
Suasana toko bunga Anna menjadi kikuk saat Anna melihat Aldrich yang berdiri di belakangnya memberikan lap yang ia minta. Bukan Gia ternyata, tapi pria yang selalu membuatnya kesal dan emosinya memuncak.
"Maaf, kamu cari sesuatu?" Anna meletakkan alat-alat pembersihnya untuk melayani Aldrich lebih dulu.
"Ya, saya menginginkan bunga segar dan indah untuk di pandang." Aldrich berdiri tepat di hadapan Anna menatap Anna lekat seolah mengatakan ialah bunga segarnya Anna mengerjabkan matanya gugup karena jarak berdiri keduanya cukup dekat.
"Bunga seperti apa?" tanya Anna bingung karena jarak mereka terlalu dekat. "Untuk acara apa?" tanya Anna lagi kali ini dengan nada gugup. Aldrich tersenyum smirk tanpa Anna ketahui, pria itu berjalan maju membuat Anna mundur selangkah, Aldrich menahan tawanya lalu berjalan melewati Anna melihat dan mengelilingi bunga-bunga di dalam toko tersebut. Aldrich bisa mencium wangi lembut dari rambut hitam panjang Anna, terlalu segar, bahkan Aldrich ingin mendekatinya mencoba menghirupnya, menikmati kesegaran itu. Namun semua itu hanya bisa Aldrich rasakan, ia tidak ingin Anna lari dan mengatakan ia adalah pria m***m dan gila. Cukup malam itu ia bersikap gila melamar dan membujuk Anna menjadi kekasihnya. Anna dengan setia menemaninya, sesekali Anna melirik jam tangannya menunggu kedatangan Gia, mengapa sahabatnya itu lama sekali.
"Kirimkan satu rangkaian bunga untuk orang terkasih?" Anna mengangguk patuh mendengar ucapan Aldrich. Aldrich menghentikan langkahnya membuat Anna seketika berhenti berjalan di belakang pria itu.
"Sekarang?" tanya Anna membuat Aldrich mengangguk.
"Ya, dan beberapa rangkaian bunga untuk jumlah besar, ada acara di kantor saya peringatan hari jadi perusahaan keluarga saya, saya beri satu minggu untuk mempersiapkannya tema dan warna yang cocok, kamu pasti lebih tahu itu, saya serahkan semuanya kepada kamu." Anna mengangguk kembali.
"Ada lagi?" Aldrich tampak berpikir lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada," jawab Aldrich dengan wajah cool nya.
"Baiklah, tunggu sebentar Mas, saya siapkan bunga yang Mas minta untuk orang terkasih." Aldrich mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum tipis. Anna beranjak merangkai bunga sementara Aldrich duduk di sofa tunggu tanpa mengalihkan tatapannya dari Anna. Setengah jam berlalu Anna mendekati Aldrich dengan membawa mawar merah berukuran sedang yang sudah ia rangkai rapi dan cantik membuat Aldrich tersenyum.
"Sudah selesai?" tanya Aldrich membuat Anna tersenyum ke arah Aldrich tanpa sadar.
"Iya, ini Mas." Anna menyodorkan bunganya kepada Aldrich lalu berjalan ke bagian kasir. Aldrich mengikutinya dan menunggu Anna menyelesaikan sistem pembayaran.
"Untuk pemesanan dalam jumlah banyak, kami biasanya menerima bayaran setelah pekerjaan selesai. Jadi, Mas hanya perlu bayar pesanan yang kecil saja." Aldrich mengerti maksud Anna, pria itu mengangguk paham.
"Baiklah, akan saya serahkan semuanya dengan sekertaris saya, dia yang akan urus semuanya." Anna mengangguk mengerti, ia juga tidak tahu mengapa bisa bos yang memesan bunga untuk dekorasi perusahaan bukannya ia memiliki karyawan yang bisa ia perintahkan dengan mudah. Yang pasti Anna senang menerima pesanan dalam jumlah besar ini, karena keuntungannya juga lumayan besar.
"Terima kasih, Mas."
"Bagaimana menurut kamu bunga ini?" Aldrich bertanya mengenai mawar merah yang Anna rangkai barusan.
"Bagus, Mas, indah." jawab Anna dengan senyum cantik, Aldrich tidak melewatkan hal itu, ia menatap gadis cantik itu dengan seksama.
"Kamu suka?" tanya Aldrich membuat Anna mengerutkan dahinya.
"S-Suka, semua wanita pasti suka di beri bunga mawar, apalagi pemberian dari orang terkasih." jawab Anna membuat Aldrich tersenyum tipis.
"Kalau begitu, ini buat kamu saja."
"Hah, gimana..?" tanya Anna bingung. Aldrich menahan tawanya melihat ekspresi wajah Anna yg tampak kebingungan.
"Ya untuk kamu, anggap saja ini imbalan sebagai bentuk terima kasih saya sudah mau mengatur semua dekorasi perusahaan." Anna masih terdiam bingung mendengar ucapan Aldrich. Bukanya dekorasi yang di pesan akan di bayar dengan uang, untuk apa pria aneh ini memberikan imbalan bunga.
"Sepertinya ada kekeliruan di sini." Aldrich mencoba menjawab namun Gia terlihat masuk ke dalam toko membuat kedua orang itu menatap ke arahnya. Gia membalas tatapan keduanya dengan tatapan bingung, lebih kepada tatapan bertanya, mengapa Anna tampak menatapnya lekat, mungkinkah ia meminta pertolongannya.
"Morningggg..." sapa Gia ceria sambil menatap bingung ke arah Anna dan Aldrich bergantian. "Keliarannya toko kita udah kedatangan tamu penting sepagi ini." goda Gia sambil mendekati mereka berdua.
"Aku rasa kamu sudah mengerti bagaimana kelanjutannya, aku pergi sekarang." ucap Aldrich berlalu tersenyum menatap Anna dan Gia. Gia semakin bingung dengan sikap ini, ia menatap Anna dengan tatapan memicing.
"Kelanjutan apa?" tanya Gia penasaran.
"Pesanan bungalah, apa lagi? jawab Anna sekenanya. Ia meletakkan bunga mawar merah pemberian Aldrich di atas meja kasir.
"Serius? Kapan?" tanya Gia lagi sambil meletakkan barang bawaannya.
"Satu minggu lagi." jawab Anna sambil sibuk kembali membersihkan toko. Gia mengangguk-anggukan kepalanya dan melihat rangkaian bunga di meja kasir.
"Ini pesanan klien?" tanya Gia sambil mengangkat bucket bunga di tangannya.
"Oh.. itu," Anna sedikit gugup untuk menjawabnya.
"Pesanan orang!" jawab Anna singkat dan berbohong.
"Sepagi ini?" tanya Gia aneh. Anna hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Bisa-bisa Gia heboh jika tahu itu bunga dari Aldrich untuknya. Anna mencoba mengubah topik pembicaraan dan berjalan mendekati kamar mandi, menyimpan semua peralatan pembersih di sana karena ia telah selelsai membersihkan toko.
***
Andrew mengerang tertahan saat merasakan sesuatu yang menggelitik dirinya. Andrew tersenyum dalam pejamnya saat tahu Denisha sedang merayunya dengan menyentuh d**a bidangnya dan sesekali mencium telinganya membuat sesuatu yang sejak tadi terbangun kini semakin mengeras.
"Denis, aku harus ke kantor pagi ini," tolak Andrew dengan nada khas orang bangun tidur. Denisha malah memeluk tubuh Andrew agar tidak bangkit meninggalkannya.
"Apa kabar itu benar?" bisik Denisha membuat Andrew membuka matanya.
"Apa?" Andrew menatap Denisha dengan dahi berkerut.
"Kamu akan menikahi kekasihmu itu?" Andrew bangkit dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang.
"Aku sedang memikirkannya." Denisha ikut bersandar di kepala ranjang dan merebahkan kepalanya di pundak Andrew dengan manja.
"Apa istimewanya dia? Selama ini aku yang memenuhi kebutuhan kamu, An?" ucap Denisha dengan nada cemburu.
"Bukannya kamu juga menikmatinya?" jawab Andrew dengan wajah merayu.
"Sialan, aku putus dengan Aldrich itu semua karena kamu, An. Bahkan kamu masih bisa berteman baik dengan pria itu!" ucap Denisha dengan wajah kesal.
"Itu kesalahanmu!" Andrew menggeser tubuhnya menggunakan bokser nya lalu berjalan menuju kursi yang ada di dalam kamarnya.
"Tapi ini semua terjadi juga karena kamu, lihat saja kalau kamu berani macam-macam denganku, aku akan katakan yang sebenarnya kepada Aldrich kalau kamu yang sudah merusak tunangannya." Andrew terkekeh mendengar ancaman dari mulut Denisha.
"Silahkan, aku rasa Aldrich lebih percaya padaku, sahabatnya." Denisha meremas kasur menatap Andrew geram.
"Brengseek!" maki Denisha akhirnya.
"Aku mau bersiap, kamu mau langsung pergi atau mandi dulu?" Denisha merasa benar-benar tidak lagi bernilai di mata pria ini, seperti sebuah tebu yang sudah di peras habis sarinya, kini Denisha seakan tidak berguna dan hanya seonggok sampah.
"Kenapa kamu tidak menikahiku saja!" Andrew yang sedang menghisap rokok di tangannya hanya menunjukkan senyum miring mendengar ucapan Denisha.
"Jangan bercanda!" ucap Andrew sambil membuang asap rokok ke arah Denisha.
"Aku tidak bercanda, An. Kamu yang tahu dan mengerti bagaimana keadaanku saat ini, kamu yang merubahnya semua." Andrew tertawa kecil mendengar ucapan Denisha.
"Aku kira kita hanya berteman dan bersenang-senang saja." jawab Andrew santai.
"Kamu benar-benar b******k, An. Aku seperti ini karena kamu!" ucap Denisha mulai meninggikan nada bicaranya.
"Sudahlah, jangan membuang-buang waktu dengan membahas masa lalu. Aku akan terlambat, pergilah." ucap Andrew berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Aku akan temui Anna." Andrew seketika menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Denisha, gadis cantik dengan body sexy, namun tidak membuat Andrew menyukainya.
"Jangan main-main denganku, jangan mendekatinya." Denisha tersenyum miring lalu turun dari ranjang mendekati Andrew.
"Kenapa? Kamu takut?"
"Anna tidak tahu apapun, aku benar-benar menyayanginya, jangan ganggu kekasihku." ucap Andrew terdengar memohon.
"Aku tidak perduli!" bisik Denisha di telinga Andrew.
"Lebih baik habiskan waktumu dengan mantan tunanganmu, Al ada di Indonesia." Denisha mundur selangkah menatap wajah Andrew mencari kebenaran di mata pria itu.
"Kamu bohong!"
"Serius, dia bahkan sudah hampir dua minggu di Indonesia." raut wajah Denisha seketika berubah ceria.
"Tidak mungkin, aku tidak pernah bertemu dengannya."
"Dia sedikit berbeda sekarang, Aldrich lebih banyak diam dan bicara seperlunya saat bertemu denganku." ucap Andrew sambil berpikir.
"Aku akan berusaha mendekatinya kembali, ini kesempatanku, Mama dan Papa pasti senang kalau tahu Aldrich ada di sini." Andrew mengangguk-anggukan kepalanya tampak tidak suka mendengar hal itu.
"Ya, terserah kamu saja, aku lihat dia masih sendiri, tidak pernah membawa wanita, semoga rencanamu berhasil." Andrew berjalan menjauhi Denisha lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Denisha terduduk di ranjang dengan wajah penuh senyuman, siapa yang tidak ingin menjadi istri Aldrich. Pria itu memang tidak pernah bisa di tebak dan di mengerti.