Dua Puluh Tiga: Tears

1761 Words

Selama bertahun-tahun mengenal Tama, ini pertama kalinya Ochi melihat sorot mata tajamnya. Tak ada kesan hangat yang biasa diberikannya, dingin dan terselip kemarahan yang sebisa mungkin ia sembunyikan. Ia sempat terdiam saat Tama berani sekali melemparkan tuduhan pada nenek Alwan yang langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dia sebenarnya tak paham apa yang terjadi, ataupun apa yang Tama ketahui. Tapi, tangan Tama yang diam-diam menggengam tangannya di balik punggungnya menandakan kalau pemuda itu masih ada sedikit ketakutan di hatinya. Berhadapan dengan Nyonya besar Kusuma jelas bukan hal yang main-main. Cukup dengan satu bisikan atau jentikkan jari, ia bisa menjatuhkan siapapun dan sebesar apapun kekuasannya. Beliau mungkin bukan di puncak tertinggi keluarga kalangan atas, tapi ia salah s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD