"Makan yang banyak." Ochi mengangguk, tak melawan lagi ketika Tama menambah jumlah bakso Ochi dengan miliknya. Sehabis dia pingsan di sekolah hari itu, ditambah rujukan dari Bu Dinar bahwa ia harus ke psikiater maka Ochi menurutinya. Orang tuanya jelas tak ingin dia berkubang terlalu lama dalam pemikiran negatif yang bisa menyakiti mentalnya lebih dalam. Selain itu ketika orang tuanya tidak menyalahkannya akan tindakan bodoh itu, Ochi semakin merasa bersalah. Bagaimana bisa dia bersikap egois untuk memenuhi ekspektasi orang-orang yang bahkan tak menyayanginya? Sementara orang-orang yang menyayanginya justru tak memaksakan apapun, asal ia bahagia mereka tetap mendukung. Psikiaternya memintanya mengubah pola pikir, Tama juga ikut menolong dengan membeli sebuah novel yang kisahnya hampir mi

