[ 02 ] Cinta Pandangan Pertama, Katanya

1275 Words
2 Oktober 1992, 21.30 WIB   Malam itu, Ayla dan Adena sedang terombang-ambing dalam kapal roro menuju pelabuhan Merak. Ibu dan anak itu duduk bersisian. Hanya ada satu tas di samping Adena karena ia memutuskan pergi dengan terburu-buru setelah bertengkar hebat dengan Pranajaya–suaminya.   Wanita itu menggeliat, lalu menegur Ayla, yang sedang terpaku menatap deburan ombak dalam gelap. "Gak tidur Ay? Masih lama loh sandarnya," katanya sambil mengelus lembut rambut pendek anak bungsunya. Gadis itu pun menggeleng, lalu kembali menatap riak laut yang samar. Masih tak mengerti, mengapa mereka harus meninggalkan rumah, akan ke mana mama membawaku? Mengapa papa tidak mengantar?   Bosan dengan pemandangan gelap, Ayla mengalihkan pandangan. Menatap iris mata Adena yang kelam, lalu ke sudut matanya di mana sudah ada keriput di sana, kemudian turun ke kantung mata gelap. Wajah wanita yang dikasihinya itu tampak begitu kuyu. "Ma," lirih Ayla. Adena menatap dengan sayang. "Ya," jawabnya lembut. "Kita nanti tinggal di mana? Sama siapa?" tanya gadis berusia 12 tahun itu, ingin tahu. "Mama sudah mengontrak rumah di Tanjung Priok, kita akan tinggal bertiga dengan Kak Okta. Kenapa? Kamu gak suka?" "Di sana gak ada Fitri dan Vera. Belum-belum, Ay udah kangen sama mereka." "Nanti di sana juga bakal ketemu teman baru." "Apakah, orang Jakarta baik-baik?" "Iya dong, sama baiknya dengan di kota kita." "Tidak semuanya baik, aku gak suka Bunga dan Yuni, mereka sering mengerjaiku," cetus Ayla. "Di sekolah baru nanti, kalo ada yang nakalin kamu, ngomong sama Mama, nanti Abah Sani akan datangi sekolahmu," ujar Adena menenangkan. "Abah Sani yang marinir itu?" "Iya. Oya, katanya nanti, Bisma dan Dino akan ajak kamu keliling kota." "Bisma dan Bang Dino, yang anak Abah Sani?" "Iya, sepupu kamu. Lupa ya? " "Enggak kok. Terus bisa liat Monas? Ke Ancol, keliling Taman Mini?" sahut gadis itu antusias. Adena mengangguk, senyum Ayla terbentuk. Ada begitu banyak tempat wisata di sana, tentu saja aku akan senang, ya 'kan? tanyanya pada diri sendiri.   Sudah hampir dua tahun, setelah perjalanan malam itu. Gadis itu telah menjelajahi sepertiga kota besar ini. Adena memang tak pernah menjanjikan hidup yang mewah baginya, kehidupan di sini berbalik 180 derajat dibandingkan sebelumnya.   Mereka selalu tinggal berpindah-pindah, dari area rawa yang rawan banjir–entah itu di musim penghujan atau terang bulan hingga rumah susun, pernah mereka tempati. Maklum saja, Adena hanya mengandalkan kemampuannya menjahit demi menghidupi kedua anaknya. Perempuan itu tak lagi mau berharap pada Pranajaya.   Bagi Ayla, kehidupan mewah memang menyenangkan, ia tidak pernah merasa kekurangan sebelumnya. Akan tetapi, di sini Ayla lebih merasa bebas, tak terkekang dengan kondisi mencekam rumah besarnya dulu. Gadis kecil yang awalnya introver itu akhirnya mulai dapat bergaul setelah mengenal Meilia Pamungkas, Darmawangsa, Tami Susanti, dan banyak teman lainnya.   Ia menjadi tak bisa diam dan sangat aktif, sampai-sampai mengikuti beberapa ekstrakurikuler sekaligus, yaitu PMR, Basket, dan Paduan Suara. Ayla benar-benar menikmati masa sekolah dengan berbagai macam warnanya.   Sekarang sedang memasuki masa Ujian Akhir Semester di SMP Anggrek. Setiap anak didudukkan seorang diri, kelas bergerak maju hingga empat kelas. Ayla, Mei, dan ketua kelas terpaksa harus mengambil beberapa perlengkapan di kelas sebelumnya. Kebetulan kelas I-H sudah diisi dengan sebagian anak kelas I-F, mereka yang kelas sebelumnya berada tepat di bawah kelas mereka sekarang menempatinya.   Gerombolan anak laki-laki tengah berkumpul di pojokan, segera saja memberikan suitan tidak jelas dengan maksud menggoda. Roma Ayla bergidik, merasakan tatapan tajam seseorang yang mengikuti setiap gerak-geriknya sejak masuk kelas. Mata dan perasaannya tergerak untuk melihat ke arah gerombolan yang sedari tadi berisik itu. Dua pasang mata pun bertemu, Ayla terheran dengan lekatnya pandangan itu, membuat dirinya jengah. Apa dia mengenalku? pikir Ayla. Setelah selesai mengambil perlengkapan kelas, mereka bertiga beranjak dengan membawa berbagai macam barang, tangan Ayla penuh, dan kewalahan. Ups. Sekotak kapur terjatuh, isinya berantakan. Ayla berhenti untuk memungut, ia menggerutu sebab Mei dan ketua kelas terus berjalan dan meninggalkannya begitu saja.   Sepasang kaki mendekat, gadis itu tertegun memandang dari sepatu Warrior, lalu kaki jenjangnya–yang menandakan tinggi badannya. Juga tubuhnya yang kurus terbalut kemeja sekolah yang gedombrongan. "Mau dibantu?" tanyanya, tanpa menunggu jawaban ia langsung mengambilkan kapur yang tercecer. Jari kami bergantian tak sengaja saling menyentuh, saat meletakkan kapur-kapur yang terserak ke dalam kotaknya. Ayla yang merasa rikuh, segera mempercepat gerakan agar dapat segera pergi dari situ. Setelah selesai memasukkan semua kapur, ia meraih kotak, jari mereka kembali bertemu, denyut jantung tiba-tiba meronta. "Gue bantu bawain." Lagi-lagi ia tak menunggu jawaban, melainkan langsung berjalan di depan Ayla dengan kotak kapur di tangannya. gadis itu pun terpaksa mengikutinya. Sahutan dan suitan langsung berkobar, kelas itu bagai pecah ketika menonton drama ini. "Woy! Yudha, mau ke mana?" tanya salah satu temannya. "Shhtt, jangan berisik! Mau anter pujaan hati ke kelasnya dulu," jawab Yudha dengan cengiran tersungging di bibirnya. "Huuuuu!" seru mereka kompak dari balik jendela. "Eh! Gak usah, terima kasih, biar gue aja," kata Ayla, masih merasa tak enak, ia berusaha mengambil kotak kapur. "Kelas lo di mana jadinya?" tanyanya tak mempedulikan. "Itu, di sudut." Ayla menunjuk kelas paling ujung. Tanpa permisi Yudha mengambil penghapus, dan vas bunga dari tangan Ayla. "Lo, Ayla 'kan?" tanyanya lagi. "Kok tau?" Ayla balik bertanya. "Tau dong. Boleh kenalan?" "Tadi ... bukannya udah tau nama gue?" "Maksudnya mau kenal lebih deket, boleh?"   Ayla hanya diam, tak tahu harus bagaimana menghadapi cowok tengil di sampingnya itu. Untungnya mereka berjalan cukup cepat sehingga empat kelas dilewati begitu saja. "Eh, udah nyampe, terima kasih ya," kata Ayla pada Yudha, berusaha mengambil barang dalam genggamannya.   Yudha mengacuhkan gadis yang hanya setinggi bahunya itu. Ia masuk ke dalam kelas, meletakkan barang-barang di atas meja guru, lalu kembali mendekati Ayla. Mengulurkan tangannya dengan cuek. "Yudha Turangga, panggil aja Yudha, lo udah punya pacar?" Ayla pun menerima uluran tangannya. "Ayla Kosha Hammam, terima kasih sekali lagi." "Kok gak dijawab?" "Apanya?" "Pertanyaan gue? Lo udah punya pacar?" "Udah." "Sayang, kalo gitu, gue tunggu lo sampe putusan." "Hah? Maksud—" Belum selesai Ayla bicara, Yudha melepaskan genggaman tangannya, berbalik lalu pergi. Gadis itu bingung termangu di depan kelas, sampai Mei menghampiri. "Siapa Ay?" tanyanya. "Yudha, anak kelas I-F, lo gak kenal?" sahut gadis itu, masih melamun. "Oh, teman sekelas Tami ya?" Ayla menggedikkan bahu, masih memandang bahu lebar Yudha, tanpa tahu suatu hari nanti akan bersandar di bahu itu, menumpahkan berbagai macam rasa padanya.   *** Sore berganti malam, kamar khas laki-laki dengan cat berwarna biru muda itu tampak berantakan. Maklum saja, kamar itu milik seorang berzodiak Gemini yang dikenal kreatif tapi gak pernah bisa rapi. Yudha sedang mencorat-coret di buku gambar, wajahnya dihiasi senyuman.   Saking sibuknya, suara ketukan di pintu tak digubris, ia sedang fokus saat ini. Tami memasuki kamar, sangat tahu kelakuan sahabatnya itu. Jarang menyahut jika sedang ada yang dikerjakannya. "Ngapain Yud," tanyanya sambil melongokkan kepala di pintu. Yudha mengalihkan pandangan, lalu kembali berkutat pada gambarnya. "Eh, lo Tam. Lagi buat vignette." Tami masuk dan menutup pintu, mendekat karena penasaran pada gambarnya. "Cie ... gambar cewek, siapa tuh?" "Gadis manis bermata indah bak bola ping-pong," jawabnya. "Cewek lo?" "Calon." "Huh! Mimpi aja kali lo." "Liat aja ntar, dia bakal jadi milik gue, suatu hari nanti," kata Yudha, pandangannya menerawang. "Emang lo udah pedekate?" tanya Tami penasaran, sahabatnya itu memang jarang bisa dekat dengan perempuan. "Belom, baru juga kenalan. Beda kelas sih, bingung gue deketinnya." "Gue doain, lo sekelas ama dia kelas dua nanti." "Aamiin ...." Yudha menengadahkan tangan lalu mengusap wajahnya. "Eh bentar, emang lo naek kelas?" tanya Tami, senyum jahil terukir di sudut bibirnya. Yudha melempar pensil yang di pegangnya ke arah Tami, sambil mengomel, "Sial lo Tam, biar selalu jadi juru kunci, gue pasti naek dong." Tawa mereka pun pecah.   = = = = = = = = = = = = = = =
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD